Santri Nurbin

Hot

Post Top Ad

LightBlog

Sunday, November 1, 2026

Kajian Edukatif Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna': Guru Ideal: Tulus Mendidik, Membimbing, dan Mengajar (Pertemuan ke-2)

November 01, 2026 0

 


Pertemuan ke-2

Guru Ideal: Tulus Mendidik, Membimbing, dan Mengajar

 

يَا بُنَيَّ، إِنْ كُنْتَ تَقْبَلُ نَصِيحَةَ نَاصِحٍ فَأَنَا أَحَقُّ مَنْ تَقْبَلُ نَصِيحَتَهُ. أَنَا أُسْتَاذُكَ وَمُعَلِّمُكَ وَمُرْشِدُ رُوحِكَ (وَمُرَبِّي رُوحِكَ)، لَا تَجِدُ أَحَدًا أَحْرَصَ عَلَى مَنْفَعَتِكَ وَصَلَاحِكَ مِنِّي.

Terjemah

Wahai anakku (muridku), jika engkau bersedia menerima nasihat dari seseorang, maka akulah orang yang paling berhak untuk engkau terima nasihatnya. Aku adalah gurumu, pengajarmu, sekaligus pembimbing jiwamu (pendidik batinmu). Engkau tidak akan menemukan seseorang yang lebih menginginkan kemanfaatan dan kebaikan dirimu daripada aku.

 

Kandungan Nasihat dan Relevansi Pendidikan

Nasihat ini mengajarkan bahwa hubungan guru dan murid tidak semestinya hanya dibangun di atas kewajiban mengajar dan belajar, tetapi juga ketulusan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap kebaikan murid.

1. Kedekatan emosional sebagai pintu pendidikan

Panggilan يَا بُنَيَّ (Wahai anakku) bukan sekadar sapaan, melainkan ungkapan kasih sayang dan kedekatan emosional. Secara kebahasaan, بُنَيَّ merupakan bentuk tashghir (diminutif) dari اِبْنٌ (anak). Dalam konteks ini, bentuk tersebut mengandung nuansa kelembutan dan kasih sayang, bukan mengecilkan secara fisik.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, kedekatan emosional membuat murid merasa diterima, dihargai, dan diperhatikan. Ketika anak merasa disayangi, ia cenderung lebih terbuka untuk menerima arahan, nasihat, bahkan teguran dari gurunya.

2. Nasihat sebagai wujud ketulusan dan kepedulian

Kata نَصِيحَةٌ (nasihat) tidak sekadar berarti memberikan saran. Di dalamnya terkandung ketulusan dan keinginan mendatangkan kebaikan bagi orang yang dinasihati (iradatul khair). Karena itu, guru menasihati bukan untuk menunjukkan kekuasaan atau sekadar menuntut kepatuhan, melainkan karena sungguh-sungguh menginginkan muridnya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Nasihat yang lahir dari ketulusan tentu berbeda dengan teguran yang hanya didorong oleh kemarahan.

3. Tanggung jawab guru tidak hanya mengajar

Syekh Muhammad Syakir menyebut tiga peran guru, yaitu أُسْتَاذُكَ، وَمُعَلِّمُكَ، وَمُرْشِدُ رُوحِكَ (gurumu, pengajarmu, dan pembimbing jiwamu). Dalam redaksi lain disebut وَمُرَبِّي رُوحِكَ (pendidik jiwamu).

Ketiganya menggambarkan dimensi tanggung jawab seorang pendidik: mengajar dan mengembangkan pengetahuan, membimbing pengamalan ilmu, serta menanamkan nilai dan membentuk akhlak. Dengan demikian, pendidikan tidak cukup hanya menyentuh kecerdasan, tetapi juga harus membina perilaku dan kepribadian.

Ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa tugas guru tidak berhenti pada penyampaian ilmu, tetapi juga mencakup pembimbingan amal dan pembentukan akhlak. Dengan kata lain, pendidikan harus menyentuh tiga ranah sekaligus: ilmu, amal, dan akhlak. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا.

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai seorang yang suka memberatkan ataupun gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Akan tetapi, Dia mengutusku sebagai seorang pengajar yang memberikan kemudahan.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa guru tidak sepatutnya membebani murid dengan tuntutan yang melampaui kemampuannya (mu‘annit), ataupun gemar mencari-cari kesalahan dan mempersulitnya (muta‘annit). Mendidik memang membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan harus disertai kebijaksanaan dan kasih sayang.

4. Keberhasilan guru bukan hanya pada ilmu, tetapi juga akhlak

Dalam perspektif pendidikan, terdapat perbedaan penekanan antara fungsi teacher (pengajar) dan educator (pendidik). Pengajar berfokus pada proses penyampaian ilmu dan pemahaman materi, sedangkan pendidik juga memperhatikan bagaimana ilmu tersebut membentuk sikap, perilaku, dan kepribadian murid.

Seorang pengajar mungkin bertanya, “Apakah kamu sudah memahami pelajaran?” Sementara itu, seorang pendidik juga akan bertanya, “Apakah ilmu yang kamu pelajari telah menjadikan dirimu lebih baik?”

Karena itu, keberhasilan guru tidak cukup diukur dari seberapa banyak materi yang telah disampaikan atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh murid, tetapi juga dari perubahan positif dalam perilaku dan akhlaknya.

5. Ketulusan menumbuhkan keterbukaan

Murid lebih mudah menerima teguran ketika ia percaya bahwa gurunya menginginkan kebaikan bagi dirinya. Sebaliknya, jika teguran dianggap sebagai kebencian atau penghinaan, murid bisa bersikap defensif: menolak, mencari pembenaran, menyembunyikan kesalahan, atau sekadar patuh tanpa kesadaran.

Oleh karena itu, ketegasan dalam mendidik perlu disertai kasih sayang dan penjelasan yang baik. Murid hendaknya memahami bahwa teguran bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab pendidikan.

 

Implementasi dalam Keluarga dan Sekolah

  • Dalam keluarga: Orang tua membangun komunikasi yang hangat, menasihati tanpa merendahkan, mengoreksi kesalahan dengan kasih sayang, serta memberikan teladan dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.
  • Di sekolah: Guru membangun kedekatan positif dengan murid, menyampaikan teguran secara bijaksana, tidak mempermalukan murid di hadapan teman-temannya, serta mengarahkan pembelajaran agar tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku.
  • Sinergi keluarga dan sekolah: Orang tua dan guru perlu menyatukan orientasi pendidikan. Keduanya bukan sekadar menuntut anak untuk patuh, tetapi membantu mereka memahami kebaikan di balik setiap nasihat dan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

 

Refleksi untuk Orang Tua dan Guru

1.     Sudahkah anak merasakan bahwa nasihat dan teguran kita lahir dari kasih sayang dan ketulusan?

2.     Ketika anak berbuat salah, apakah kita lebih mengutamakan kemarahan atau membimbingnya agar sadar dan mau memperbaiki diri?

3.     Apakah selama ini kita hanya mengajarkan ilmu, atau juga membimbing pengamalannya dan membentuk akhlaknya?

 

Anak mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi dia akan selalu ingat bagaimana kita memperlakukan. Karena itu, didiklah mereka dengan kasih sayang, sebab mereka lebih membutuhkan ketulusan daripada sekadar tuntutan.

 

*) Disampaikan dalam kajian edukatif kitab Washaya  al-Aba’ li al-Abna’  wali murid MI Ma’arif Pijenan pada Ahad Pahing, 27 September 2026.

 

Read More

Kajian Edukatif Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna': Nasihat Guru kepada Muridnya (Pertemuan ke-1)

November 01, 2026 0


Pertemuan Ke-1

مُقَدِّمَةٌ

Pendahuluan

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَبَعْدُ: فَهَذِهِ دُرُوسٌ أَوَّلِيَّةٌ فِي الْأَخْلَاقِ الْمَرْضِيَّةِ وَضَعْتُهَا لِطَلَبَةِ الْعُلُومِ الدِّينِيَّةِ، وَقَدْ ضَمَّنْتُهَا مِنَ الْأَخْلَاقِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ طَالِبُ الْعِلْمِ فِي بِدَايَةِ أَمْرِهِ، حَتَّى إِذَا وَفَّقَهُ اللَّهُ لِلتَّحَلِّي بِهَا كَانَ مَرْجُوًّا أَنْ يَنْفَعَهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ، وَأَنْ يَنْفَعَ بِهِ كَثِيرًا مِنْ خَلْقِهِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ الرَّشَادِ وَالْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ.

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, pemimpin para nabi dan rasul, serta kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba‘du

Ini adalah pelajaran-pelajaran dasar mengenai akhlak yang terpuji. Aku menyusunnya untuk para penuntut ilmu agama. Di dalamnya aku memuat berbagai akhlak yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu pada awal perjalanannya. Dengan demikian, apabila Allah memberikan taufik kepadanya untuk menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak tersebut, diharapkan Allah menjadikan ilmunya bermanfaat baginya dan menjadikan ilmu itu bermanfaat melalui dirinya bagi banyak makhluk-Nya. Allah adalah pemberi petunjuk menuju kebenaran dan pembimbing menuju jalan yang lurus.

 

الدَّرْسُ الْأَوَّلُ: نَصِيحَةُ الْأُسْتَاذِ لِتِلْمِيذِهِ

Nasihat Guru kepada Muridnya

 

يَا بُنَيَّ: أَرْشَدَكَ اللَّهُ وَوَفَّقَكَ لِصَالِحِ الْأَعْمَالِ، إِنَّكَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ الْوَلَدِ مِنْ أَبِيهِ، يَسُرُّنِي أَنْ أَرَاكَ صَحِيحَ الْبِنْيَةِ، قَوِيَّ الْإِدْرَاكِ، زَكِيَّ الْقَلْبِ، مُهَذَّبَ الْأَخْلَاقِ، مُحَافِظًا عَلَى الْآدَابِ، بَعِيدًا عَنِ الْفُحْشِ فِي الْقَوْلِ، لَطِيفَ الْمُعَاشَرَةِ، مَحْبُوبًا مِنْ إِخْوَانِكَ، تُوَاسِي الْفُقَرَاءَ وَتُشْفِقُ عَلَى الضُّعَفَاءِ، تَغْفِرُ الزَّلَّاتِ وَتَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ، وَلَا تُفَرِّطُ فِي صَلَاتِكَ، وَلَا تُهْمِلُ فِي عِبَادَةِ رَبِّكَ.

Terjemah

Wahai anakku, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan taufik kepadamu untuk melakukan amal-amal saleh. Sesungguhnya kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan seorang anak di sisi ayahnya. Aku senang melihatmu tumbuh dengan tubuh yang sehat, daya pemahaman yang kuat, hati yang bersih, dan akhlak yang terpuji. Aku berharap engkau senantiasa menjaga adab, menjauhi perkataan keji, santun dalam pergaulan, serta disenangi oleh teman-temanmu. Jadilah pribadi yang gemar membantu orang-orang fakir, menyayangi kaum lemah, dan lapang hati dalam memaafkan kesalahan orang lain. Jangan meremehkan shalat dan jangan pula melalaikan ibadah kepada Tuhanmu.

 

Kandungan Nasihat dan Relevansi Pendidikan

Ungkapan pembuka يَا بُنَيَّ    (Wahai anakku) mengandung pesan pedagogis yang mendalam. Sebelum menyampaikan nasihat dan instruksi, guru terlebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan murid. Pendidikan tidak cukup bertumpu pada otoritas guru, tetapi perlu dilandasi kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan terhadap peserta didik.

Gagasan ini memiliki titik temu dengan konsep pendidikan modern, seperti teacher-student relationship (hubungan positif guru dan murid) serta emotional safety (rasa aman secara emosional). Murid yang merasa diterima dan dihargai akan lebih mudah membangun kepercayaan serta mengembangkan potensinya.

Selain itu, rangkaian nasihat Syekh Muhammad Syakir memperlihatkan pandangan pendidikan yang holistik. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga mencakup kesehatan fisik, kebersihan hati, kematangan emosional, kemampuan sosial, kemuliaan akhlak, dan keteguhan spiritual. Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan anak yang pandai secara akademik, melainkan membentuk manusia yang berkembang secara utuh dan seimbang.

 

Implementasi dalam Keluarga dan Sekolah

  • Dalam keluarga: Orang tua membangun komunikasi yang hangat, memberikan keteladanan dalam beribadah dan berakhlak, mendampingi anak belajar, menjaga kesehatan mereka, serta membiasakan sikap peduli, berbagi, dan saling memaafkan.
  • Di sekolah: Guru membangun hubungan yang positif dengan murid, menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas, serta membiasakan adab, kedisiplinan, ibadah, dan kepedulian sosial.
  • Sinergi Antara Orang Tua dan Guru Orang tua dan guru perlu menjalin komunikasi serta menyelaraskan pola pendidikan agar nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di sekolah diperkuat di rumah, demikian pula sebaliknya.

 

Refleksi untuk Orang Tua dan Guru

Ada beberapa pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:

1.     Sudahkah kita membangun hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang dengan anak atau murid?

2.     Apakah kita lebih mengutamakan prestasi akademik daripada kesehatan, perkembangan emosi, dan pembentukan akhlak mereka?

3.     Sudahkah kita memberikan keteladanan dalam beribadah, berbicara santun, dan memperlakukan orang lain dengan baik?

 

Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa tinggi prestasi akademik anak, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan membentuk kepribadian, akhlak, dan perilakunya. Jangan sampai kita berhasil mendidik anak menjadi cerdas, tetapi lupa membimbingnya menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama.

 

*) Disampaikan dalam kajian rutin wali murid MI Ma’arif Pijenan pada Ahad Pahing, 2 Agustus 2026.

 


Read More

Sunday, October 25, 2026

Menolehkan Wajah Ketika Shalat, Haram?

October 25, 2026 0

 


وَيُكْرَهُ الِالْتِفَاتُ بِوَجْهِهِ اِلَّا لِحَاجَةٍ


"Makruh hukumnya menoleh atau memalingkan wajah (saat shalat), kecuali ada keperluan."


Maksud dari menoleh di sini adalah memalingkan wajah tanpa memutar dada atau memalingkannya dari arah kiblat. Menoleh dengan cara seperti ini hukumnya makruh. Akan tetapi, jika dadanya ikut berpaling dari arah kiblat maka batal shalatnya. Begitu pula batal shalatnya apabila menoleh dengan tujuan untuk bermain-main.

Rasulullah bersabda: «اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ»

“(Menoleh) itu merupakan sesuatu yang dicuri setan dari shalat seorang hamba.” (HR. al-Bukhari dari Sayyidah Aisyah)

Maksud dari “dicuri setan” adalah setan memanfaatkan kelengahan orang yang shalat untuk mengurangi kesempurnaan dan kekhusyukannya.

Hukum asal menoleh memang makruh, walaupun ada pula sebagian ulama yang berpendapat haram. Dalam madzhab Syafi'i, salah satunya adalah al-Imam al-Adzra'i. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, terkadang menoleh justru disunahkan, seperti menoleh kepada seseorang yang dikhawatirkan keselamatannya. Misalnya, seseorang sedang shalat lalu melihat anak kecil yang dikhawatirkan dalam keadaan bahaya.

Rasulullah juga pernah menolehkan wajah saat shalat ke arah celah pegunungan. Beliau melakukan itu karena ada hajat (keperluan), yaitu menjaga dan mewaspadai kemungkinan datangnya musuh.

Dari Sahal bin al-Hanzhaliyyah, dia meriwayatkan:


ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، يَعْنِي صَلَاةَ الصُّبْحِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي وَهُوَ يَلْتَفِتُ إِلَى الشِّعْبِ.

        

Artinya, “Seruan iqamah untuk shalat—yakni shalat Subuh—telah dikumandangkan. Rasulullah pun shalat sambil menoleh ke arah celah di antara pegunungan.” (HR. Abu Dawud no. 916).

Abu Dawud memberikan komentar terhadap hadits tersebut:


وَكَانَ أَرْسَلَ فَارِسًا إِلَى الشِّعْبِ مِنَ اللَّيْلِ يَحْرُسُ

“Beliau telah mengutus seorang penunggang kuda ke celah pegunungan itu sejak malam untuk berjaga.”

Rasulullah menoleh ke arah tersebut bukan tanpa hajat, melainkan karena ada hajat/keperluan menunnggu kabar dari penjaga yang ditugaskan mengawasi jalur pegunungan. Karena ada kemungkinan ancaman dari arah tersebut, beliau menoleh untuk memastikan keadaan.

 Adapun melirikkan mata tanpa memalingkan wajah, hukumnya tidak apa-apa; tidak makruh.


Referensi: al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhal al-Hadhromi (w. 918 H) beserta beberapa syarah-nya dan Mughnil Muhtaj karya Syekh Khatib asy-Syirbini .



Read More

Friday, October 23, 2026

Ternyata, Zaman Dahulu, Biji Gandum Seukuran Telur Burung Unta!

October 23, 2026 0


 

(فَائِدَةٌ) نَقَلَ الشَّرْقَاوِيُّ عَنِ الْأَجْهُورِيِّ أَنَّ الْحَبَّةَ مِنَ الْقَمْحِ حِينَ نَزَلَتْ مِنَ الْجَنَّةِ كَانَتْ قَدْرَ بَيْضَةِ النَّعَامَةِ، وَأَلْيَنَ مِنَ الزُّبْدِ بِضَمِّ الزَّايِ وَسُكُونِ الْيَاءِ، وَهُوَ مَا يُسْتَخْرَجُ بِوَضْعِ الْمَاءِ وَالتَّحْرِيكِ مِنْ لَبَنِ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ، وَأَطْيَبَ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ.

ثُمَّ صَغُرَتْ فِي زَمَانِ فِرْعَوْنَ، فَصَارَتِ الْحَبَّةُ قَدْرَ بَيْضَةِ الدَّجَاجَةِ، ثُمَّ صَغُرَتْ حِينَ قُتِلَ يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا، فَصَارَتْ قَدْرَ بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ، ثُمَّ صَغُرَتْ فَصَارَتْ قَدْرَ الْبُنْدُقَةِ، ثُمَّ قَدْرَ الْحِمَّصَةِ، ثُمَّ صَارَتْ إِلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ الْآنَ.

فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ لَا تَصْغُرَ عَنْهُ.

(Keterangan Tambahan) Imam al-Syarqawi menukil dari al-Ajhuri bahwa biji gandum, ketika diturunkan dari surga, ukurannya sebesar telur burung unta, lebih lembut daripada zubd (mentega yang diperoleh dari susu sapi atau kambing melalui proses pengolahan dengan air dan pengadukan/churning), serta lebih harum aromanya daripada minyak kasturi.

Kemudian, pada zaman Fir‘aun, biji gandum itu mengecil sehingga ukurannya menjadi sebesar telur ayam. Setelah itu, biji gandum tersebut kembali mengecil ketika Nabi Yahya bin Zakariya dibunuh, sehingga ukurannya menjadi sebesar telur burung merpati.

Selanjutnya, ukurannya kembali mengecil menjadi sebesar kacang hazelnut, kemudian sebesar kacang arab (chickpea), hingga akhirnya menjadi seperti ukurannya yang kita kenal sekarang.

Kita memohon kepada Allah Ta‘ala agar biji gandum tidak mengecil lagi dari ukuran yang ada sekarang.

 

قَالَ الْقَلْيُوبِيُّ فِي شَرْحِ الْمِعْرَاجِ: فَائِدَةٌ نَادِرَةٌ: كَانَ وَزْنُ حَبَّةِ الْحِنْطَةِ فِي الْجَنَّةِ مِائَتَيْ أَلْفِ دِرْهَمٍ وَثَمَانِمِائَةِ دِرْهَمٍ.

Al-Qalyubi berkata dalam Syarh al-Mi‘rāj, “Ada informasi langka, bahwa berat sebutir gandum di surga dahulu adalah 200.800 dirham.”

***

 

وَأَوَّلُ صَنْعَةٍ عُمِلَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ الْحَرْثُ، وَأَوَّلُ مَنْ حَرَثَ آدَمُ. ثُمَّ أَدْرَكَهُ التَّعَبُ فِي آخِرِ النَّهَارِ، فَقَالَ لِحَوَّاءَ: ازْرَعِي مَا قَدْ بَقِيَ، فَصَارَ زَرْعُهَا شَعِيرًا، فَتَعَجَّبَ مِنْ ذَلِكَ، فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهِ: لَمَّا أَطَاعَتِ الْعَدُوَّ وَالْمُشِيرَ، وَهُوَ الشَّيْطَانُ، بُدِّلَ لَهَا الْقَمْحُ بِالشَّعِيرِ . وَقِيلَ: لَمَّا أُهْبِطَ آدَمُ فِي الْهِنْدِ، اشْتَدَّ بِهِ الْجُوعُ، فَجَاءَهُ جِبْرِيلُ بِثَوْرَيْنِ أَحْمَرَيْنِ وَثَلَاثِ حَبَّاتٍ مِنَ الْحِنْطَةِ، وَقَالَ لَهُ: لَكَ حَبَّتَانِ، وَلِحَوَّاءَ حَبَّةٌ وَاحِدَةٌ، فَصَارَ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ. كُلُّ حَبَّةٍ وَزْنُهَا مِائَةُ أَلْفِ دِرْهَمٍ وَثَمَانِمِائَةُ دِرْهَمٍ، فَزَرَعَ وَحَصَدَ وَطَحَنَ وَخَبَزَ فِي أَرْبَعِ سَاعَاتٍ.

Pekerjaan pertama yang dilakukan di muka bumi adalah membajak tanah/bercocok tanam. Orang pertama yang membajak tanah/bercocok tanam adalah Nabi Adam. Pada penghujung hari (sore), beliau merasa lelah. Beliau pun berkata kepada Hawa, “Bercocok tanamlah! Selesaikan sisanya yang masih ada.”

Tanaman Hawa tumbuh dan menghasilkan gandum sya’ir (jelai/barley), (padahal biasanya tumbuh gandum qamhu). Nabi Adam merasa heran dengan hal itu. Lalu Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya, “Karena Hawa telah mengikuti bujukan setan, yang merupakan musuh sekaligus pembisik, maka gandum pun diganti dengan jelai.”

Ada pula yang mengatakan bahwa ketika Nabi Adam diturunkan di India, beliau mengalami kondisi sangat kelaparan. Kemudian Malaikat Jibril datang kepadanya dengan membawa dua ekor sapi jantan berwarna merah dan tiga butir gandum. Jibril berkata kepadanya, “Dua butir untukmu dan satu butir untuk Hawa.” Karena itulah, bagian (waris) laki-laki menjadi dua kali lipat bagian perempuan.

Berat setiap butir gandum kala itu adalah 100.800 Dirham. Lalu Nabi Adam menanamnya, memanennya, menggilingnya, dan membuat roti dalam waktu empat jam.

***

Kisah ini dikutip dari kitab Kāsyifatus Sajā karya Syekh Nawawi al-Bantani di Bab Zakat. Ada perbedaan riwayat tentang berat gandum dalam catatan di atas. Pertama, disebutkan bahwa berat gandum saat itu adalah 100.800 Dirham. Kedua, al-Qalyūbī dalam Syarḥ al-Mi‘rāj menyebut 200.800 Dirham.[]



Read More

Thursday, October 22, 2026

Pengurusan Jenazah terhadap 4 kategori Mayit

October 22, 2026 0

 


Berikut tabel perbandingan pengurusan jenazah menurut fikih Syafi‘iyah, berdasarkan empat kategori yang dibahas dalam kitab Sullam at-Taufīq, yang didukung pula kitab Kasyifatus Saja serta kitab-kitab lain dalam madzhab Syafi’i.

Jenis jenazah

Dimandikan

Dikafani

Disalatkan

Dikuburkan

1. Muslim yang lahir hidup, kemudian meninggal

Wajib

Wajib

Wajib

Wajib

2. Kafir dzimmi

Tidak wajib dalam ketentuan yang dibahas di sini

Wajib

Tidak disalatkan

Wajib

3. Siqṭ (janin gugur) yang lahir meninggal dan telah tampak bentuk manusia

Wajib

Wajib

Tidak disalatkan jika tidak ada tanda kehidupan

Wajib

4. Syahid dalam peperangan melawan orang kafir yang memenuhi ketentuan syahid ma‘rakah

Tidak dimandikan

Dikafani dengan pakaian yang dikenakannya; ditambah jika tidak mencukupi

Tidak disalatkan

Wajib


Catatan penting tentang siqṭ

Hukum siqṭ perlu diperinci berdasarkan keadaan janin ketika keluar dari rahim:

Keadaan siqṭ

Hukum pengurusan jenazah

Lahir dengan tanda kehidupan, kemudian meninggal

Dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dikuburkan seperti jenazah Muslim lainnya.

Tidak ada tanda kehidupan, tetapi bentuk manusia telah tampak

Dimandikan, dikafani, dan dikuburkan; tidak disalatkan menurut ketentuan yang dibahas di sini.

Tidak ada tanda kehidupan dan bentuk manusia belum tampak

Tidak berlaku seluruh kewajiban pengurusan jenazah seperti pada jenazah Muslim yang lahir hidup; dianjurkan membungkusnya dan menguburkannya.

 

Kesimpulan

  • Jenazah Muslim yang lahir hidup: empat kewajiban pengurusan jenazah berlaku.
  • Jenazah dzimmi: wajib dikafani dan dikuburkan, tetapi tidak disalatkan; tidak wajib dimandikan.
  • Siqṭ: hukumnya bergantung pada tanda kehidupan dan tampak atau tidaknya bentuk manusia.
  • Syahid ma‘rakah: tidak dimandikan dan tidak disalatkan, tetapi tetap dikuburkan.


Read More

Monday, October 19, 2026

Kisah Singkat Thalut, Jalut, dan Nabi Dawud dalam QS. al-Baqarah ayat 246–251

October 19, 2026 0

 


Pada masa setelah Nabi Musa, Bani Israil pernah mengalami penindasan dan terusir dari kampung halaman mereka. Mereka kemudian mendatangi nabi mereka dan meminta agar Allah mengangkat seorang raja yang dapat memimpin mereka berperang di jalan Allah. Nabi tersebut mengingatkan mereka, jangan-jangan ketika peperangan benar-benar diwajibkan, mereka justru mundur dan tidak mau berperang. Mereka menjawab dengan penuh keyakinan bahwa mereka pasti akan berjuang, sebab mereka telah diusir dari rumah-rumah mereka dan dipisahkan dari anak-anak mereka. Namun, ketika kewajiban berperang benar-benar ditetapkan, sebagian besar dari mereka justru berpaling. Hanya sedikit yang tetap teguh memegang janji mereka. (QS. al-Baqarah: 246)

Allah mengabulkan permintaan Bani Israil, dengan mengangkat Thalut sebagai raja mereka. Akan tetapi, kaumnya keberatan dengan pengangkatan tersebut. Menurut mereka, Thalut tidak pantas menjadi raja karena bukan orang kaya dan bukan kalangan bangsawan. Mereka merasa lebih berhak atas kedudukan itu daripada Thalut. Nabi mereka menjelaskan bahwa Allah sendiri telah memilih Thalut dan memberinya kelebihan berupa ilmu yang luas dan fisik yang kuat. Dengan bekal tersebut, Thalut dinilai mampu menjalankan tugas kepemimpinan, terutama untuk menghadapi peperangan. Kisah ini mengajarkan bahwa kelayakan seseorang untuk memimpin tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan atau keturunan, tetapi juga oleh ilmu dan kemampuan yang dimiliki. (QS. al-Baqarah: 247)

Untuk menghilangkan keraguan Bani Israil, nabi mereka menyampaikan tanda kebenaran pengangkatan Thalut. Tanda itu adalah kembalinya Tabut, yaitu peti yang menjadi peninggalan berharga bagi mereka, yang di dalamnya terdapat ketenteraman dari Tuhan serta beberapa peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun. Tabut tersebut dibawa oleh para malaikat. Turunnya Tabut di hadapan Thalut menjadi bukti bahwa pengangkatan Thalut memang ketetapan Allah. Dialah yang dipilih langsung oleh Allah untuk menjadi raja bagi Bani Israil. (QS. al-Baqarah: 248)

Setelah menjadi raja, Thalut berangkat bersama pasukannya untuk menghadapi musuh. Sebagian ahli tafsir mengatakan jumlah mereka mencapai 70.000 orang. Dalam perjalanan, Allah menguji ketaatan mereka melalui sebuah sungai. Thalut memberitahukan bahwa siapa pun yang meminum air sungai itu sepuasnya, bukanlah bagian dari pasukannya, kecuali orang yang hanya mengambil sedikit saja dengan tangannya. Namun, kebanyakan dari mereka tidak mampu menahan diri sehingga mereka meminum air sungai tersebut sepuasnya. Hanya sedikit yang menaati perintah Thalut. Ketika Thalut bersama pasukannya menyeberangi sungai, pasukan yang tadi meminum air sungai hingga puas tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Mereka tidak kuat lagi untuk melangkah, apalagi harus menghadapi Jalut dan tentaranya yang kuat. Mereka menganggap kekuatan musuh terlalu besar untuk dilawan. (QS. al-Baqarah: 249)

Sementara itu, Thalut dan pasukannya yang tetap setia (menurut sebagian ahli tafsir jumlahnya tidak lebih dari 310 orang), terus melangkah menuju medan perang. Mereka inilah orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat. Mereka yakin kelak di akhirat akan bertemu Allah dengan membawa pahala jihadnya. Jumlah yang sedikit tidak menyiutkan nyali dan semangat mereka. Mereka berkata, “Betapa banyak kelompok kecil yang mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Mereka menyadari bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau besarnya kekuatan fisik, tetapi juga oleh pertolongan Allah dan keteguhan iman. Ketika berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa agar Allah melimpahkan kesabaran, menguatkan langkah mereka, dan menolong mereka menghadapi kaum kafir. Doa tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan sendiri, tetapi juga memohon pertolongan kepada Allah. (QS. al-Baqarah: 250)

Dengan izin Allah, pasukan yang dipimpin Thalut berhasil mengalahkan Jalut dan tentaranya. Dalam pertempuran itu, Nabi Dawud (yang saat itu masih berusia muda) berhasil membunuh Jalut. Allah kemudian menganugerahkan kepada Dawud kerajaan dan hikmah (kenabian), serta mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. (QS. al-Baqarah: 251)

Dalam tradisi Yahudi-Nasrani, Thalut biasa disebut dengan “Saul”, sedangkan Jalut disebut dengan “Goliath”, dan nama “David” untuk menyebut Nabi Dawud. []


Ayat

 

Inti Kisah

Q.S. al-Baqarah: 246

:

Kaum Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar diberi seorang raja yang memimpin mereka berperang di jalan Allah. Namun, ketika perang diwajibkan, sebagian besar dari mereka justru berpaling dan tidak memenuhi tuntutan mereka sendiri.

 

QS. al-Baqarah: 247

:

Allah mengangkat Thalut sebagai raja. Kaumnya mempertanyakan kelayakannya, karena ia bukan orang kaya dan tidak berasal dari kalangan terpandang. Lalu dijelaskan bahwa Allah-lah yang memilihnya. Allah telah memberikan kelebihan ilmu dan kekuatan fisik kepadanya.

 

QS. al-Baqarah: 248

:

Tanda kerajaan Thalut adalah datangnya Tabut yang dibawa oleh para malaikat.


QS. al-Baqarah: 249

:

Thalut menguji pasukannya dengan sebuah sungai untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak.


QS. al-Baqarah: 250

:

Pasukan yang beriman berdoa memohon kesabaran, keteguhan, dan pertolongan Allah.


QS. Al-Baqarah: 251

:

Dengan izin Allah, pasukan yang dipimpin Thalut berhasil mengalahkan Jalut. Dawud muda yang menumbangkan Jalut. Allah lalu memberikan kerajaan dan hikmah (kenabian) kepada Dawud.




Read More

Friday, October 16, 2026

Ancaman bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Jum’at

October 16, 2026 0

 


مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مُتَوَالِيَاتٍ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ، طَبَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى قَلْبِهِ.


“Barang siapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut tanpa keadaan darurat, Allah ‘azza wa jalla akan mengecap hatinya.” (as-Sunan al-Kubrā karya al-Baihaqi, 3/247, no. hadis 6200; Sunan al-Kubrā karya an-Nasa'i no. 1657; Sunan Ibnu Majah no. 1126; dan Musnad Ahmad no. 14559)

 

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا، طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.


“Barang siapa meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali karena meremehkannya, Allah akan mengecap hatinya.” (Sunan at-Tirmidzi, no. 500; Sunan Abī Dāwūd, no. 1052; Sunan an-Nasā’ī, no. 1369; Sunan Ibnu Mājah, no. 1125; Musnad Aḥmad, no. 15498; dan Ṣaḥīḥ Ibnu Khuzaimah, no. 1858)

 

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ، فَهُوَ مُنَافِقٌ.


“Barang siapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa uzur, maka ia seorang munafik.” (Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, no. 258; Ṣaḥīḥ Ibn Khuzaimah, no. 1857)

 

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا، طُبِعَ عَلَى قَلْبِهِ، وَجُعِلَ قَلْبُهُ قَلْبَ مُنَافِقٍ.


“Barang siapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali, hatinya akan dicap, dan hatinya dijadikan seperti hati orang munafik.” (al-Jumu‘ah wa Faḍluhā karya Aḥmad bin ‘Alī al-Marwazī, no. 61; as-Sunnah karya Abū Bakr al-Khallāl, no. 1597)

 

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا، طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.


“Barang siapa meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali karena meremehkannya, Allah akan mengecap hatinya.” (Sunan at-Tirmidzi, no. 500; Sunan Abī Dāwūd, no. 1052; Sunan an-Nasā’ī, no. 1369; Sunan Ibnu Mājah, no. 1125; Musnad Aḥmad, no. 15498; dan Ṣaḥīḥ Ibnu Khuzaimah, no. 1858)

 

***

Hari Jumat dan shalat Jumat memiliki kedudukan yang sangat agung dalam syariat. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengingatkan dalam Kitab-Nya tentang pentingnya shalat Jumat dan khutbahnya, kewajiban bersegera menghadirinya, serta meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan dan menghalangi pelaksanaannya. Nabi Muhammad juga memberikan peringatan keras dan menjelaskan hukuman bagi orang yang terus-menerus meninggalkannya.

Dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “Barang siapa meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali,” maksudnya, ia tidak melaksanakannya selama tiga pekan, karena shalat Jumat dilaksanakan sekali dalam satu pekan.

“Karena meremehkannya,” maksudnya, menganggap rendah kedudukannya dan tidak memedulikannya. Ia meninggalkannya karena malas, tanpa udzur yang membolehkannya meninggalkan shalat Jumat, seperti sakit dan keadaan lain yang serupa.

“Allah mengecap hatinya,” maksudnya, Allah menutup baginya pintu-pintu kebaikan sehingga hatinya dijadikan seperti hati orang munafik. Ada pula yang mengatakan bahwa hatinya menjadi hati seorang munafik.

Dalam hadis ini terdapat peringatan keras terhadap tindakan meninggalkan shalat Jumat tanpa udzur.[]


 Referensi: https://dorar.net/hadith/sharh/116469

Read More