Tertulis dalam Kitab Nashā’iḥ al-‘Ibād
رُئِيَ الْغَزَالِيُّ فِي النَّوْمِ، فَقِيلَ لَهُ:
مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ فَقَالَ: أَوْقَفَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ، وَقَالَ لِي:
بِمَ قَدَّمْتَ عَلَيَّ؟ فَصِرْتُ أَذْكُرُ أَعْمَالِي، فَقَالَ: لَمْ
أَقْبَلْهَا، وَإِنَّمَا قَبِلْتُ مِنْكَ ذَاتَ يَوْمٍ نَزَلَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى
مِدَادِ قَلَمِكَ لِتَشْرَبَ مِنْهُ، وَأَنْتَ تَكْتُبُ، فَتَرَكْتَ الْكِتَابَةَ
حَتَّى أَخَذَتْ حَظَّهَا رَحْمَةً بِهَا، ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: امْضُوا
بِعَبْدِي إِلَى الْجَنَّةِ.
Al-Ghazali
pernah dilihat dalam mimpi (oleh seseorang). Lalu beliau ditanya, “Apa yang
Allah lakukan terhadapmu?” Beliau menjawab, “Allah menempatkanku berdiri di
hadapan-Nya, lalu Dia berfirman kepadaku, ‘Dengan amal apakah engkau menghadap
kepada-Ku?’ Maka aku mulai menyebutkan amal-amalku. Lalu Dia berfirman, ‘Aku
tidak menerima amal-amal itu. Aku hanya menerima darimu satu perbuatan, yaitu
pada suatu hari seekor lalat hinggap di tinta pena milikmu untuk meminumnya,
sementara saat itu engkau sedang menulis. Lalu engkau menghentikan tulisanmu
sampai lalat itu mengambil bagiannya, sebagai bentuk kasih sayangmu kepadanya.’
Kemudian Allah Ta‘ala berfirman, ‘Bawalah hamba-Ku ini menuju surga.’”
Dalam
Nashā’iḥ al-‘Ibād, Syekh
Nawawi al-Bantani menempatkan hikayat mimpi ini dalam lingkup pembahasan hadits
tentang rahmat (kasih sayang):
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى؛ اِرْحَمُوا
مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Para
penyayang akan disayangi oleh ar-Rahman (Allah). Sayangilah yang ada di bumi,
niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR.
Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad)
Lafal
يَرْحَمكُمْ bisa dibaca jazm ( يَرْحَمْكُمْ )sebagai jawab
dari Fi’il Amr sebelumnya, yaitu اِرْحَمُوا . Bisa juga
dibaca rafa’ sebagai jumlah du’aiyah ( يَرْحَمُكُمْ).
Pesan
moral dari kisah ini adalah bahwa amal yang tampak kecil, tetapi lahir dari kasih
sayang kepada makhluk Allah, dapat menjadi sebab datangnya rahmat/kasih sayang
Allah. Oleh karenanya, jangan pernah menyepelekan amal kebaikan, sekecil apa
pun itu. Karena kita tidak tahu, dari sekian amal yang kita lakukan, amal manakah
yang diterima oleh Allah. Kita juga tidak mengetahui ketaatan mana yang akan
menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita.
Tercatat
Pula dalam Beberapa Kitab Lain
1.
Fayḍ
al-Qadīr karya al-Munāwī (w. 1031 H).
Imam
al-Munāwī mencantumkan kisah ini dalam Fayḍ
al-Qadīr Syarḥ al-Jāmi‘ al-Ṣaghīr,
jauh sebelum Syekh Nawawi al-Bantani. Redaksinya:
فَائِدَةٌ: ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ مِنْ
مَشَايِخِنَا أَنَّ حُجَّةَ الْإِسْلَامِ الْغَزَالِيَّ رُئِيَ فِي النَّوْمِ،
فَسُئِلَ: مَا فَعَلَ اللَّهُ بِهِ؟ فَقَالَ: أَوْقَفَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ،
وَقَالَ: بِمَاذَا جِئْتَ؟ فَذَكَرْتُ أَنْوَاعًا مِنَ الْعِبَادَاتِ، فَقَالَ:
مَا قَبِلْتُ مِنْهَا شَيْئًا، وَلَكِنْ غَفَرْتُ لَكَ، هَلْ تَدْرِي بِمَاذَا؟
جَلَسْتَ تَكْتُبُ يَوْمًا، فَسَقَطَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى الْقَلَمِ، فَتَرَكْتَهَا
تَشْرَبُ مِنَ الْحِبْرِ رَحْمَةً لَهَا، فَكَمَا رَحِمْتَهَا رَحِمْتُكَ، اذْهَبْ
فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ.
Sebuah
faedah: Sebagian orang arif dari guru-guru kami menyebutkan bahwa Hujjatul
Islam al-Ghazali dilihat dalam mimpi. Ia ditanya, “Apa yang Allah lakukan
terhadapmu?” Ia menjawab, “Allah menempatkanku di hadapan-Nya, dan berfirman, ‘Dengan
apa engkau datang?’ Aku pun menyebutkan berbagai macam ibadah. Dia berfirman, ‘Aku
tidak menerima satu pun dari amal-amal itu. Akan tetapi, Aku telah
mengampunimu. Tahukah engkau karena apa? Pada suatu hari engkau sedang menulis,
lalu seekor lalat hinggap pada pena. Engkau membiarkannya minum tinta karena
rasa kasih sayangmu kepadanya. Sebagaimana engkau telah mengasihinya, Aku pun
mengasihimu. Pergilah, sungguh Aku telah mengampunimu.’” (
2. Fatāwā al-Khalīlī karya Muhammad bin Muhammad al-Khalīlī (w. 1147 H).
Hikayat
mimpi tersebut tercatat pula dalam Fatāwā al-Khalīlī ‘alā al-Madzhab al-Syāfi‘ī,
karya Muhammad bin Muhammad al-Khalīlī asy-Syāfi‘ī al-Qādirī. Redaksinya:
وَرُؤِيَ الْغَزَالِيُّ فِي النَّوْمِ، فَقِيلَ لَهُ:
مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ فَقَالَ: أَوْقَفَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ، وَقَالَ: بِمَ
جِئْتَنِي؟ فَذَكَرْتُ أَنْوَاعًا مِنَ الطَّاعَاتِ، فَقَالَ: مَا قَبِلْتُ
مِنْهَا شَيْئًا، لَكِنَّكَ جَلَسْتَ تَكْتُبُ، فَوَقَفَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى
الْقَلَمِ، فَتَرَكْتَهَا تَشْرَبُ مِنَ الْحِبْرِ رَحْمَةً لَهَا، فَكَمَا
رَحِمْتَهَا رَحِمْتُكَ؛ اِذْهَبْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ، وَاللَّهُ تَعَالَى
أَعْلَمُ.
Al-Ghazālī
dilihat dalam mimpi. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang Allah lakukan
terhadapmu?” Ia menjawab, “Dia menempatkanku di hadapan-Nya, lalu Dia berkata
kepadaku, ‘Dengan apa engkau datang menghadap-Ku?’ Maka aku menyebutkan
berbagai macam ketaatan yang telah aku lakukan. Dia berkata, ‘Aku tidak
menerima satu pun dari semua itu. Akan tetapi, engkau pernah duduk menulis,
lalu seekor lalat hinggap pada pena. Kemudian engkau membiarkannya minum dari
tinta karena rasa kasih sayangmu kepadanya. Maka sebagaimana engkau
menyayanginya, Aku pun menyayangimu. Pergilah, sungguh Aku telah mengampunimu.’
Dan Allah Ta‘ālā lebih mengetahui.” (
3. Barīqah Maḥmūdiyyah
karya al-Khādimī (w. 1176 H).
Barīqah
Maḥmūdiyyah fī Syarḥ
Ṭarīqah
Muḥammadiyyah wa Syarīʿah
Nabawiyyah fī Sīrah
Aḥmadiyyah (jilid 3 hlm. 70) karya Abū Sa‘īd al-Khādimī al-Ḥanafī
juga memuat redaksi yang sama sebagaimana dalam Fatāwā al-Khalīlī.
4. Jawāhir at-Taṣawwuf
karya kompilasi Sa‘īd Hārūn ‘Āsyūr.
Jawāhir at-Taṣawwuf merupakan kitab modern (terbit 2002 M) yang
menghimpun perkataan-perkataan yang dinisbatkan kepada Yaḥyā bin Mu‘ādz al-Rāzī (w. 258 H). Bisa dibilang Jawāhir
at-Taṣawwuf merupakan sumber sekunder modern dalam telaah hikayat mimpi al-Ghazali
dan seekor lalat.
Redaksi yang ditulis Sa‘īd
Hārūn ‘Āsyūr dalam Jawāhir at-Taṣawwuf (halaman 94) agak berbeda dengan literatur-literatur yang lain:
وَيُحْكَى
أَنَّ حُجَّةَ الْإِسْلَامِ الْغَزَالِيَّ (تُوُفِّيَ سَنَةَ ٥٠٥ هِـ) رُؤِيَ
بَعْدَ وَفَاتِهِ فِي الْمَنَامِ فِي حَالَةٍ حَسَنَةٍ، فَسَأَلَهُ مَنْ رَآهُ:
بِمَاذَا غَفَرَ اللهُ لَكَ يَا شَيْخَنَا؟ هَلْ بِمُؤَلَّفَاتِكَ؟ أَوْ
بِعَظَاتِكَ، أَوْ بِتَدْرِيسِكَ الْعِلْمَ لِطُلَّابِكَ، أَوْ بِعِبَادَتِكَ؟
قَالَ الْغَزَالِيُّ: لَيْسَ بِشَيْءٍ مِنْ
هَذَا كُلِّهِ، إِنَّمَا لِأَمْرٍ بَسِيطٍ؛ كُنْتُ جَالِسًا أَكْتُبُ، وَفَرَغَ
الْمِدَادُ مِنَ الْقَلَمِ، فَهَمَمْتُ أَنْ أَغْمِسَهُ فِي الْمِحْبَرَةِ،
وَلَكِنِّي تَرَاجَعْتُ لَحَظَاتٍ، فَقَدْ كَانَتْ هُنَاكَ ذُبَابَةٌ تَقِفُ عَلَى
فُوَّهَةِ الْمِحْبَرَةِ لِتَشْرَبَ، فَتَمَهَّلْتُ حَتَّى طَارَتْ، فَغَفَرَ
اللهُ لِي ذُنُوبِي بِسَبَبِ ذَلِكَ.
Diceritakan bahwa Ḥujjatul Islām al-Ghazālī (w. 505 H) pernah dilihat dalam
mimpi setelah wafatnya, dalam keadaan yang baik. Orang yang melihatnya dalam
mimpi bertanya kepadanya, “Dengan apakah Allah mengampunimu, wahai guru kami?
Apakah karena karya-karyamu? Ataukah karena nasihat-nasihatmu? Ataukah karena
engkau mengajarkan ilmu kepada para muridmu? Ataukah karena ibadahmu?” Al-Ghazālī
menjawab, “Bukan karena satu pun dari semua itu. Sesungguhnya karena suatu
perkara yang sederhana. Aku sedang duduk menulis. Tinta yang ada pada pena
telah habis, lalu aku hendak mencelupkan pena itu ke dalam tempat tinta. Akan
tetapi, aku berhenti sejenak, karena saat itu ada seekor lalat yang hinggap di
mulut tempat tinta, untuk minum. Maka aku menunggu sampai lalat itu terbang.
Karena hal itulah Allah mengampuni dosa-dosaku.” []
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)






