وَفِي حَدِيثٍ رَوَاهُ الْعِرْبَاضُ بْنُ سَارِيَةَ فِي مَوْعِظَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan
oleh al-‘Irbādl
bin Sāriyah tentang nasihat Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Wajib atas
kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat
petunjuk (al-Khulafaur Rasyidin). Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham
kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru dalam agama. Sesungguhnya setiap
perkara baru adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
وَرُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ: (الْقُرْآنُ صَعْبٌ مُسْتَصْعَبٌ عَلَى مَنْ كَرِهَهُ، وَهُوَ الْحُكْمُ،
فَمَنِ اسْتَمْسَكَ بِحَدِيثِي وَفَهِمَهُ وَحَفِظَهُ جَاءَ مَعَ الْقُرْآنِ،
وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالْقُرْآنِ وَحَدِيثِي خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ،
أُمِرَتْ أُمَّتِي أَنْ يَأْخُذُوا بِقَوْلِي وَيُطِيعُوا أَمْرِي وَيَتَّبِعُوا
سُنَّتِي، فَمَنْ رَضِيَ بِقَوْلِي فَقَدْ رَضِيَ بِالْقُرْآنِ، وَمَنْ رَغِبَ
عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.)
Diriwayatkan pula dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda: “Al-Qur’an
itu sulit dan terasa berat bagi orang yang membencinya, dan ia adalah hukum.
Barang siapa berpegang teguh kepada hadis-hadis yang berasal dariku,
memahaminya dan menghafalnya, maka ia akan datang bersama Al-Qur’an. Dan barang
siapa meremehkan Al-Qur’an dan hadis-hadisku, ia akan merugi di dunia dan
akhirat. Umatku diperintahkan agar berpegang pada perkataanku, menaati
perintahku, dan mengikuti sunnahku. Barang siapa ridha terhadap perkataanku,
sungguh ia telah ridha terhadap Al-Qur’an. Dan barang siapa berpaling dari
sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (عَمَلٌ قَلِيلٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ فِي بِدْعَةٍ.)
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Amal yang
sedikit berdasarkan sunnah lebih baik daripada amal yang banyak dalam bid‘ah.”
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ
مِائَةِ شَهِيدٍ.)
Beliau ﷺ juga bersabda: “Orang yang
berpegang teguh kepada sunnahku ketika umatku telah mengalami kerusakan,
baginya pahala seratus orang syahid.”
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَقَدْ جِيءَ
مَكْتُوبٌ مِنَ التَّوْرَاةِ فِي كَتِفٍ : (كَفَى بِقَوْمٍ حُمْقًا وَضَلَالًا أَنْ يَرْغَبُوا عَمَّا جَاءَ بِهِ
نَبِيُّهُمْ إِلَى غَيْرِ نَبِيِّهِمْ، أَوْ كِتَابٍ غَيْرِ كِتَابِهِمْ، وَلَوْ
كَانَ مُوسَى حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعِي).
وَسَبَقَ قَرِيبًا مَعْنَى الْمُتَابَعَةِ فِي كَلَامِ
الْحَكِيمِ التِّرْمِذِيِّ.
Beliau ﷺ juga bersabda, ketika
didatangkan kepada beliau tulisan dari Taurat yang ditulis pada sebilah tulang
belikat: “Cukuplah menjadi bukti kebodohan dan kesesatan suatu kaum apabila
mereka berpaling dari apa yang dibawa oleh nabi mereka menuju kepada nabi yang
lain atau kitab yang bukan kitab mereka. Seandainya Musa masih hidup, niscaya
tidak ada pilihan baginya selain mengikutiku.”
Dan sebelumnya telah dijelaskan
secara dekat makna al-mutāba‘ah (mengikuti) dalam perkataan al-Ḥakīm al-Tirmidzi.
Beberapa Istilah Penting
- عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ — secara harfiah berarti “gigitlah
dengan gigi-gigi geraham”. Maksudnya, berpegang sangat kuat dan tidak
melepaskannya.
- مُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ — perkara-perkara baru yang
diada-adakan dalam urusan agama.
- رَغِبَ عَنْ — berbeda dengan رَغِبَ فِي. Raghiba ‘an berarti berpaling, tidak menyukai,
atau meninggalkan. Sedangkan Raghiba fi berarti senang atau
menyukai.
- لَمَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعِي — “tidak ada kelapangan/pilihan baginya, kecuali
mengikutiku.” Ini merupakan penegasan tentang kewajiban mengikuti
risalah Nabi Muhammad setelah datangnya syariat beliau.
Keterangan Tambahan
1.
Al-‘Irbādl bin Sāriyah as-Sulamī (wafat 75 H.) adalah seorang sahabat
Nabi yang terkenal dan termasuk tokoh terkemuka dari kalangan Ahlus Suffah.
Kun-yah-nya adalah Abu Najih. Ia tinggal di kota Himsh (Homs), sekarang
wilayah Suriah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang berusia lanjut. (Sumber:
al-Hāfiz Ibnu Hajar, al-Ishābah fī Ma‘rifati ash-Shahābah, jilid 4, hlm.
482; al-Imam adz-Dzahabi, Siyar A‘lām an-Nubalā’, jilid 3, hlm. 422.)
2.
Berkaitan dengan hadits الْقُرْآنُ صَعْبٌ مُسْتَصْعَبٌ عَلَى مَنْ
كَرِهَهُ , redaksi yang ditulis al-Khathib
al-Baghdadi dalam Al-Jami' li Akhlaq Al-Rawi (4/308, no. 1584) adalah:
إِنَّ هَذَا القُرْآنَ صَعْبٌ مُسْتَصْعَبٌ لِمَنْ
كَرِهَهُ مُيَسَّرٌ لِمَنْ تَبِعَهُ، وَإِنَّ حَدِيثِي صَعْبٌ مُسْتَصْعَبٌ لِمَنْ
كَرِهَهُ مُيَسَّرٌ لِمَنْ تَبِعَهُ، مَنْ سَمِعَ حَدِيثِي فَحَفِظَهُ وَعَمِلَ بِهِ
جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ مَعَ القُرْآنِ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِحَدِيثِي فَقَدْ تَهَاوَنَ
بِالقُرْآنِ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالقُرْآنِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ
“Sesungguhnya Al-Qur'an ini sulit dan
terasa berat bagi orang yang membencinya, namun dipermudah bagi orang yang
mengikutinya. Dan sesungguhnya hadisku ini sulit dan terasa berat bagi orang
yang membencinya, namun dipermudah bagi orang yang mengikutinya. Barangsiapa
mendengar hadisku lalu menghafalnya dan mengamalkannya, ia akan datang pada
hari kiamat bersama Al-Qur'an. Dan barangsiapa meremehkan (mengabaikan)
hadisku, maka sungguh ia telah meremehkan Al-Qur'an; dan barangsiapa meremehkan
Al-Qur'an, maka ia rugi di dunia dan akhirat.”
3.
Berkaitan dengan hadits الْمُتَمَسِّكُ
بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ, ada riwayat lain yang mencatat tanpa
kata مِائَةِ , dan
ada pula yang meriwayatkan dengan redaksi خَمْسِينَ شَهِيدًا . Para ahli hadits mendha’ifkan hadits ini. Namun,
keberadaannya dalam berbagai riwayat bisa saling menguatkan.[]
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)


