Kitab ini berjudul Nashā’ihul ‘Ibād (نَصَائِحُ الْعِبَاد), yang berarti “Nasihat-Nasihat bagi Para
Hamba”. Kitab ini disusun oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani. Kitab ini merupakan
karya syarah (penjelasan) atas kitab al-Munabbihāt ‘ala al-Isti’dād
li Yaumi al-Ma‘ād (الْمُنَبِّهَاتُ عَلَى
الِاسْتِعْدَادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ), yang berarti “Peringatan untuk
Mempersiapkan Diri Menghadapi Hari Akhir” karya al-Imam Ibnu Hajar
al-‘Asqalani.
Isi Kitab Nashā’ihul
‘Ibād
Secara umum, Nashā’ihul ‘Ibād berisi nasihat-nasihat keagamaan untuk memperbaiki kehidupan
manusia, baik berhubungan dengan Allah, dengan diri sendiri, maupun dengan
sesama manusia; baik aspek akidah, ibadah, akhlak, maupun tasawuf. Kitab ini
dapat dipandang sebagai kitab praktis untuk memperbaiki akhlak, moral, dan mental
serta menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), juga membangun karakter.
Di antara tema
dalam kitab ini adalah: keimanan dan ketakwaan, keutamaan ilmu, amal saleh, bahaya
maksiat, penyakit hati, zuhud terhadap dunia, mengendalikan nafsu, keutamaan
sabar, keutamaan tawakal, akhlak kepada sesama, persahabatan, kematian, kehidupan
akhirat, dan persiapan menghadapi hari akhir.
Ciri khas dari Nashā’ihul
‘Ibād adalah penyajiannya berupa nasihat-nasihat singkat tetapi padat makna
dan sarat dengan pesan moral. Nasihat-nasihat singkat tersebut berupa hadis
Nabi, perkataan para sahabat, tabi’in, maupun tabi’it tabi’in, dan perkataan para
ulama ahli hikmah. 45 nasihat merupakan hadis Nabi, dan selebihnya berupa atsar
para sahabat dan kalam hikmah para salafus shalih. Nasihat-nasihat singkat tersebut
dijabarkan oleh Syekh Nawawi dengan penjelasan yang memadai sehingga bisa kita resapi
kedalaman maknanya dan rasakan keteduhan pesan spiritualnya.
Ciri khas
lainnya adalah nasihat-nasihat tersebut disusun berdasarkan jumlah unsur dalam setiap
nasihat. Bāb al-Tsunā'ī (nasihat yang terdiri dari dua hal/unsur), Bāb
al-Tsulātsī (tiga hal), Bāb al-Rubā‘ī (empat hal), dan seterusnya
hingga Bāb al-‘Usyārī (sepuluh hal). Semakin bertambah babnya maka semakin
bertambah pula unsur yang dinasihatkan.
Biografi
Penulis Nashā’iḥul ‘Ibād
Kitab Nashā’iḥul
‘Ibād ditulis oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar at-Tanari al-Bantani
al-Jawi, yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Nawawi Banten. Nama kun-yah
beliau adalah Abu Abdil Mu’thi. Beliau lahir di daerah Tanara, Serang, Banten,
pada tahun 1815 M/1230 H.[1]
Ayahnya bernama Kiai Umar bin ‘Arabi. Ibunya bernama Zubaedah.
Syekh Nawawi
merupakan salah seorang ulama Nusantara yang sangat berpengaruh di dunia Islam,
khususnya dalam tradisi keilmuan pesantren. Bidang keilmuan beliau meliputi
fikih, tafsir, hadis, akidah, tasawuf, dan akhlak.
Sejak kecil Syekh
Nawawi mendapatkan pendidikan agama dari keluarganya, khususnya sang ayah, yang
merupakan seorang ulama dan penghulu di Tanara. Selanjutnya beliau belajar
kepada ulama-ulama di Banten dan Jawa, seperti Kiai Lopang Cilik di Serang dan
Mama Baing Yusuf di Purwakarta. Setelah itu, beliau melanjutkan rihlah
ilmiahnya ke tanah suci Mekah dan kemudian menetap di sana. Di antara gurunya
adalah Syekh Ahmad Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, dan
sejumlah ulama Haramain lainnya. Di Mekah beliau tumbuh menjadi ulama besar yang
dihormati dan mengajar banyak murid.
Beliau
merupakan sosok ulama yang sangat produktif menulis. Jumlah karyanya mencapai
tidak kurang dari 115 kitab, yang mencakup bidang tafsir, fikih, tauhid, tasawuf,
akhlak, hadis, dan bidang-bidang keislaman lainnya. Di antara yang terkenal
adalah Tafsīr Marāḥ Labīd (sering disebut juga Tafsir al-Munir), Nihāyatuz
Zain Syarh Qurrati ‘Ain, Kāsyifatus Sajā Syarh Safinatun Naja, Marāqil-‘Ubūdiyyah,
Syarh Tijan Durori, Uqudul Lujain, Tanqihul Qaul, dan Nashā’iḥ
al-‘Ibād.
Beliau wafat pada
25 Syawal 1314 H (1897
M) dalam usia 84 tahun, dan dimakamkan di kompleks pemakaman Ma'la di Mekah.
Al-Munabbihāt
‘ala al-Isti’dād li Yaumi al-Ma‘ād; Isi
dan Penyusunnya
Kata al-Munabbihāt
(المُنَبِّهَات) berasal dari nabbaha
(نَبَّهَ) yang berarti mengingatkan, menyadarkan,
atau membangunkan seseorang dari kelalaian. Sementara al-Isti‘dād li Yaum
al-Ma‘ād (الِاسْتِعْدَادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ),
berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kembali (akhirat). Dari judulnya
sudah bisa terka bahwa kitab ini mempunyai orientasi utama membangunkan
kesadaran manusia dari kelalaian dunia dan mengarahkannya untuk mempersiapkan
bekal akhirat.
Kitab ini disusun
oleh al-Imam al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin
Ali bin Muhammad al-Kinani al-‘Asqalani, bergelar Abul Fadhl Syihabuddin,
merupakan salah seorang imam besar dalam ilmu hadis dan sejarah. Beliau lahir di
Mesir pada 773 H/1372 M dan wafat di Mesir pada 852 H/1449 M.
Adapun julukan al-‘Asqalani
berkaitan dengan asal-usul leluhurnya yang dinisbatkan kepada ‘Asqalan
(Ashkelon) di Palestina. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa leluhur Ibnu
Hajar berasal Ashkelon, Palestina, walaupun beliau sendiri dilahirkan di Mesir.
Pada awalnya
beliau memiliki minat terhadap sastra dan syair, kemudian menekuni ilmu hadis
secara mendalam. Beliau melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah,
termasuk Yaman dan Hijaz, untuk belajar dan mendengar hadis dari para ulama.
Berkat keluasan ilmunya, beliau menjadi salah seorang Hafizh al-Islam yang
paling terkenal pada masanya. Di antara karya terkenalnya adalah Fathul Bari
bi Syarh Shahih al-Bukhari, Bulughul Maram, al-Ishabah fi Tamyiz
al-Shahabah, dan Tahdzibut Tahdzib.
Di antara
kedudukan ilmiah Ibnu Hajar adalah sebagai hafizul hadits, ahli fikih mazhab
Syafi'i, ahli sejarah, ahli rijalul hadis, hakim agung di Mesir, dan salah
seorang ulama hadis terbesar pada zamannya.
Ibnu Hajar al-Asqalani
wafat di Mesir pada 852 H/1449 M dimakamkan di kawasan Qarafah, Kairo, Mesir.[]
[1] Banyak tulisan yang menyebut beliau lahir
pada 1813 M/1230 H. Akan tetapi, ketika 1230 H dikonversikan ke Masehi,
didapati tahun yang muncul adalah 1814-1815, maka dalam tulisan ini saya
cantumkan tahun kelahiran beliau adalah 1815 M/1230 H.
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)




