Santri Nurbin

Hot

Post Top Ad

LightBlog

Saturday, November 7, 2026

Andai Jalan Menuju Allah Adalah Menjadi Tukang Sapu

November 07, 2026 0


Pada suatu hari, ketika Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi hendak mengantarkan putranya, Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi, ke Ma‘had at-Taujih al-Islami untuk belajar kepada para guru di sana, beliau terlebih dahulu menyampaikan nasihat kepadanya.

Beliau berbicara tentang harapan-harapan besar yang digantungkan kepada putranya. Di antara pesan yang disampaikannya adalah:

 

اعْلَمْ يَا بُنَيَّ أَنَّنِي لَوْ عَرَفْتُ أَنَّ الطَّرِيقَ الْمُوصِلَ إِلَى اللهِ يَكْمُنُ فِي كَسْحِ الْقُمَامَةِ مِنَ الطُّرُقَاتِ، لَجَعَلْتُ مِنْكَ زَبَّالًا، وَلَكِنِّي نَظَرْتُ فَوَجَدْتُ أَنَّ الطَّرِيقَ الْمُوصِلَ إِلَى اللهِ هُوَ الْعِلْمُ بِهِ وَبِدِينِهِ، فَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ قَرَّرْتُ أَنْ أَسْلُكَ بِكَ هَذَا الطَّرِيقَ.

 

"Ketahuilah, wahai anakku! Seandainya aku mengetahui bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah adalah dengan menyapu sampah di jalanan, niscaya aku akan menjadikanmu seorang tukang sampah. Akan tetapi, setelah aku menimbang dan mempertimbangkannya, aku menemukan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah adalah ilmu tentang-Nya dan ilmu tentang agama-Nya. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menuntunmu menempuh jalan ini."

Nasihat tersebut bukan sekadar pesan seorang ayah yang mengantarkan anaknya ke lembaga pendidikan. Di dalamnya tersimpan pandangan hidup yang sangat mendalam tentang pendidikan dan pengabdian.

Bagi Mulla Ramadhan, kemuliaan suatu pekerjaan bukan semata-mata ditentukan oleh kedudukan sosial atau penilaian manusia. Apa pun pekerjaannya, selama menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tentu layak ditempuh. Namun, beliau telah menemukan bahwa jalan yang hendak dipilihkan bagi putranya adalah jalan ilmu dan agama.

Karena itulah, beliau mengantarkan putranya ke pesantren, agar kelak tumbuh menjadi seorang alim yang mengenal Allah, memahami agama-Nya, dan mengabdikan hidupnya melalui ilmu.

Dan dari jalan pendidikan itulah, kelak lahir seorang ulama besar, Syekh Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi.[]


Sumber: https://naseemalsham.com/persons/muhammad_said_ramadan_al_bouti/lessons/fatwacate7


Read More

Belajar Kesalehan dari Rasulullah

November 07, 2026 0

 


وَأَمَّا الْعَمَلُ الصَّالِحُ فَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوْفَرَ الْخَلْقِ فِيهِ. وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ هُوَ وَصْفٌ عَامٌّ لِكُلِّ عَمَلٍ يُفِيدُ الْعِبَادَ وَالْبِلَادَ، وَيَنْفَعُ الْمُجْتَمَعَ وَالْفَرْدَ فِي الْحَالِ وَالِاسْتِقْبَالِ. وَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِمَامَ الصَّالِحِينَ وَقُدْوَةَ الْهَادِينَ. مَا مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ دَعَتِ الْأَنْبِيَاءُ النَّاسَ إِلَيْهِ إِلَّا وَقَدْ حَثَّ عَلَيْهِ وَعَمِلَ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ الْأَكْمَلِ. بَلْ وَكَثِيرٌ مِنَ الصَّالِحَاتِ الَّتِي أَغْفَلَتْهَا الْأَدْيَانُ الْأُخْرَى، جَاءَ بِهَا الْإِسْلَامُ وَنَبِيُّهُ يُنَبِّهُ النَّاسَ إِلَيْهَا، مِثْلَ النَّظَرِ فِي الْكَوْنِ، وَالِاسْتِدْلَالِ بِهِ عَلَى خَالِقِهِ، وَالِاسْتِفَادَةِ بِمَا فِي الْعَالَمِ. ثُمَّ حَثَّ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى تَعَلُّمِ الْعُلُومِ وَالصَّنَائِعِ. وَمَا الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ وَالْأَحَادِيثُ الشَّرِيفَةُ إِلَّا دَائِرَةُ مَعَارِفَ، أَوْ قَامُوسٌ شَامِلٌ لِلْأَفْكَارِ الْخَيْرِيَّةِ وَالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ. فَلْيَتَدَبَّرِ الْعَاقِلُ فِيهِمَا، وَلْيَتَمَسَّكْ بِهِمَا، كَيْلَا يَضِلَّ وَلَا يَطْغَى.

Adapun amal saleh, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang paling sempurna dalam hal tersebut. Amal saleh merupakan pengertian umum yang mencakup setiap perbuatan yang memberikan manfaat kepada manusia dan negeri, serta mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat maupun individu, baik dalam kehidupan sekarang maupun pada masa mendatang.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin orang-orang saleh dan teladan bagi orang-orang yang memberikan petunjuk. Tidak ada suatu amal saleh yang pernah diserukan oleh para nabi kepada manusia, melainkan beliau juga menganjurkannya dan mengamalkannya dengan cara yang paling sempurna.

Bahkan, banyak bentuk kebajikan yang kurang diperhatikan oleh agama-agama lain, justru dibawa dan diajarkan oleh Islam. Nabi Islam pun (Nabi Muhammad) mengingatkan manusia tentang hal-hal tersebut. Di antaranya adalah mengamati dan merenungkan alam semesta, menjadikannya sebagai petunjuk untuk mengenal Penciptanya, serta mengambil manfaat dari segala sesuatu yang terdapat di alam.

Selanjutnya, beliau juga mendorong manusia untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan atau bidang kerajinan. Al-Qur'an yang agung dan hadis-hadis yang mulia tidak lain merupakan khazanah pengetahuan atau ensiklopedia yang komplit, yang memuat gagasan-gagasan kebaikan dan berbagai amal kesalehan.

Oleh karena itu, hendaklah orang yang berakal merenungkan kandungan keduanya dan berpegang teguh kepada keduanya, agar tidak tersesat dan tidak melampaui batas.

 

وَأَمَّا زُهْدُهُ فِي الدُّنْيَا، فَيَكْفِيكَ أَنَّهُ مَاتَ فَقِيرًا، وَلَمْ يَتْرُكْ لِوَرَثَتِهِ شَيْئًا يُذْكَرُ. وَيَكْفِيكَ قَوْلُ زَوْجَتِهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ».

Adapun kezuhudan beliau terhadap dunia, cukuplah bagimu untuk mengetahui bahwa beliau wafat dalam keadaan miskin dan tidak meninggalkan sesuatu yang berarti bagi ahli warisnya. Cukuplah pula bagimu perkataan istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang dengan roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.”

 

وَأَمَّا عَدَمُ مُبَالَاتِهِ بِالْآلَامِ فِي سَبِيلِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ، فَيَكْفِيكَ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَرْبِطُ الْحَجَرَ عَلَى بَطْنِهِ لِتَخْفِيفِ أَلَمِ الْجُوعِ، وَكَانَ يَتَحَمَّلُ الشَّتْمَ وَالضَّرْبَ وَأَنْوَاعَ الْأَذَى مِنَ النَّاسِ، كَمَا حَدَثَ لَهُ ذَلِكَ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الطَّائِفِ لِدَعْوَةِ أَهْلِهَا إِلَى الْإِسْلَامِ. فَرَدُّوا عَلَيْهِ رَدًّا قَبِيحًا، وَأَمَرُوا سُفَهَاءَهُمْ وَصِبْيَانَهُمْ وَعَبِيدَهُمْ فَيَسُبُّونَهُ وَيَرْمُونَهُ بِالْحِجَارَةِ، حَتَّى سَالَ الدَّمُ مِنْ عَرَاقِيبِ رِجْلَيْهِ. وَكَانَ يَمْشِي عَلَى قَدَمَيْهِ الْمَسَافَاتِ الْبَعِيدَةَ لِلدَّعْوَةِ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَيَخْرُجُ إِلَى أَسْوَاقِ الْعَرَبِ وَبَوَادِيهَا لِيَعْرِضَ عَلَيْهِمْ دِينَهُ. فَأَيُّ تَحَمُّلٍ لِلْآلَامِ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا؟

Adapun sikap beliau yang tidak menghiraukan berbagai penderitaan dalam rangka berdakwah kepada Allah, cukuplah bagimu untuk mengetahui bahwa beliau ﷺ pernah mengikatkan batu pada perutnya untuk mengurangi rasa sakit akibat lapar.

Beliau juga menanggung cacian, pukulan, dan berbagai macam gangguan dari manusia. Hal itu antara lain terjadi ketika beliau pergi ke Thaif untuk mengajak penduduknya memeluk Islam.

Mereka menanggapi beliau dengan tanggapan yang buruk. Mereka bahkan menyuruh orang-orang bodoh, anak-anak, dan para budak mereka untuk mencaci dan melempari beliau dengan batu, hingga darah mengalir dari kedua tumit beliau.

Beliau juga berjalan kaki menempuh perjalanan yang jauh demi berdakwah mengajak manusia kepada Islam. Beliau mendatangi pasar-pasar bangsa Arab dan perkampungan-perkampungan mereka untuk memperkenalkan agama yang beliau bawa kepada mereka. Maka, ketabahan dalam menghadapi penderitaan seperti apakah yang lebih besar daripada semua itu? []

____________________________________________

 

Pelajaran Penting

1. Menjadi pribadi yang saleh dan bermanfaat

  • Amal saleh tidak terbatas pada persoalan ibadah ritual semata, tetapi mencakup pula setiap perbuatan baik yang membawa kemaslahatan.
  • Kita harus berusaha memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan lingkungan.
  • Rasulullah adalah teladan dalam menyelaraskan perkataan dengan perbuatan.
  • Sebagai pendidikan dan pendakwah, hendaknya kita tidak hanya pandai mengajak orang lain melakukan kebaikan, tetapi kita sendiri harus memulai memperlihatkan kebaikan dan membiasakannnya.

2. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan

  • Manusia tidak cukup hanya mengagumi keindahan alam, tetapi harus pula merenungkan tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta dan menggali manfaat yang terkandung di alam ciptaan-Nya.
  • Menjadikan ilmu dan keahlian sebagai sarana pengabdian dan kebermanfaatan untuk masyarakat.
  • Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan hadis sebagai pedoman nilai dan prinsip dalam mengembangkan kehidupan.

3. Menanamkan sikap zuhud terhadap dunia

  • Zuhud bukan berarti tidak boleh memiliki harta. Seseorang boleh kaya, tetapi hatinya tidak boleh diperbudak oleh kekayaan.
  • Kesederhanaan merupakan bagian dari keteladanan Rasulullah. Beliau tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran kemuliaan.
  • Kekayaan bukan tujuan utama kehidupan. Harta seharusnya menjadi sarana untuk beribadah dan memberikan manfaat kepada sesama.
  • Zuhud harus tercermin dalam sikap hati. Bukan semata-mata dari sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan dari bagaimana seseorang menyikapi dunia.
  • Memanfaatkan harta yang dimiliki untuk beribadah, membantu sesama, dan melakukan berbagai kebaikan.
  • Menyadari bahwa kemuliaan seseorang lebih ditentukan oleh iman, akhlak, dan amalnya daripada kekayaan duniawinya.

4. Bersabar dan teguh dalam memperjuangkan kebenaran

  • Dakwah membutuhkan kesabaran. Seorang pendakwah harus siap menghadapi penolakan, kritik, dan berbagai kesulitan.
  • Jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk meninggalkan kebaikan. Selama sesuatu itu benar dan bermanfaat, hendaknya tetap diperjuangkan dengan cara yang tepat.
  • Pengorbanan merupakan bagian dari perjuangan. Dakwah bukan hanya membutuhkan perkataan, tetapi juga tenaga, waktu, pikiran, dan kesungguhan.
  • Penolakan tidak harus dibalas dengan kebencian. Peristiwa Thaif memperlihatkan bagaimana Rasulullah tetap mengedepankan kasih sayang dan harapan akan datangnya petunjuk bagi manusia.
  • Dakwah harus dilakukan secara aktif. Rasulullah mendatangi berbagai kelompok masyarakat untuk menyampaikan ajaran Islam.

5. Menjadikan Al-Qur'an dan hadis sebagai pedoman kehidupan

  • Tidak cukup hanya membaca dan menghafalkan Al-Qur'an dan hadis, tetapi juga harus memahami dan merenungkan kandungannya.
  • Menjadikan keduanya sebagai landasan dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak.
  • Mengamalkan petunjuk keduanya dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
  • Berusaha agar tidak tersesat dari kebenaran dan tidak melampaui batas dalam menjalani kehidupan.

 

Jadilah pribadi yang baik lisannya, benar perilakunya, luas ilmunya, bermanfaat amalnya, sederhana hidupnya, dan kuat perjuangannya sebagaimana Rasulullah telah memberikan keteladanan kepada kita.

Read More

Tuesday, November 3, 2026

Kajian Edukatif Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna': Tetap Berbuat Baik, Meski Tak Ada yang Melihat (Pertemuan ke-3)

November 03, 2026 0


  

يَا بُنَيَّ، إِنِّي لَكَ نَاصِحٌ أَمِينٌ، فَاقْبَلْ مَا أُلْقِيهِ عَلَيْكَ مِنَ النَّصَائِحِ، وَاعْمَلْ بِهِ فِي حُضُورِي وَبَيْنَ يَدَيْكَ وَبَيْنَ إِخْوَانِكَ وَبَيْنَ نَفْسِكَ . يَا بُنَيَّ، إِذَا لَمْ تَعْمَلْ بِنَصِيحَتِي فِي خَلْوَتِكَ فَقَلَّمَا تُحَافِظُ عَلَيْهَا بَيْنَ إِخْوَانِكَ. يَا بُنَيَّ، إِذَا لَمْ تَتَّخِذْنِي قُدْوَةً فَمَنْ تَقْتَدِي؟ وَعَلَامَ تُجْهِدُ نَفْسَكَ فِي الْجُلُوسِ أَمَامِي؟

 

Terjemah

“Wahai anakku, sesungguhnya aku adalah penasihat yang tulus dan terpercaya bagimu. Maka terimalah nasihat-nasihat yang kusampaikan kepadamu dan amalkanlah, baik ketika bersamaku, di hadapan saudara-saudaramu, maupun ketika engkau sendirian. Wahai anakku, jika engkau tidak mengamalkan nasihatku ketika sedang sendirian, maka sangat kecil kemungkinan engkau akan menjaganya ketika berada di antara saudara-saudaramu. Wahai anakku, jika engkau tidak menjadikanku sebagai teladan, lalu kepada siapa engkau akan meneladani? Dan untuk apa engkau bersusah payah duduk di hadapanku?”

 

Kandungan Nasihat dan Relevansi Pendidikan

Nasihat Syekh Muhammad Syakir ini mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa baik anak mendengarkan nasihat atau seberapa patuh ia ketika berada di hadapan guru dan orang tua. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana nilai-nilai kebaikan tertanam dalam diri sehingga tetap diamalkan, bahkan ketika tidak dilihat atau diawasi oleh seorang pun.

1. Nasihat yang tulus membangun kepercayaan

Syekh Muhammad Syakir mengawali nasihatnya dengan ungkapan نَاصِحٌ أَمِينٌ  (penasihat yang terpercaya). Dalam pendidikan, kepercayaan merupakan fondasi penting bagi hubungan antara pendidik dan peserta didik. Anak akan lebih mudah menerima arahan apabila ia merasakan bahwa guru dan orang tuanya benar-benar menginginkan kebaikan baginya. Sebaliknya, nasihat yang disampaikan tanpa ketulusan dapat dipersepsikan sebagai tuntutan, tekanan, bahkan bentuk ketidakpercayaan.

Karena itu, mendidik bukan sekadar menyampaikan apa yang harus dilakukan anak, tetapi juga membangun hubungan yang membuatnya memahami bahwa setiap nasihat diberikan demi kebaikan dirinya.

2. Nasihat harus berbuah pengamalan

Perintah فَاقْبَلْ مَا أُلْقِيهِ عَلَيْكَ مِنَ النَّصَائِحِ، وَاعْمَلْ بِهِ  (terimalah nasihat yang kusampaikan dan amalkanlah) mengandung dua tahapan penting dalam pendidikan: menerima nilai kebaikan dan mewujudkannya dalam perilaku.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa kejujuran adalah kewajiban, kedisiplinan merupakan kebiasaan yang baik, dan menghormati orang lain adalah bagian dari akhlak terpuji. Namun, pengetahuan tersebut belum cukup apabila tidak tercermin dalam tindakan.

Dalam ilmu pendidikan, proses ini berkaitan dengan internalisasi nilai, yaitu proses penanaman nilai hingga menjadi bagian dari kesadaran, sikap, dan perilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada ranah pengetahuan, tetapi harus berlanjut pada pembentukan sikap atau karakter dan pembiasaan tindakan.

Anak tidak cukup hanya diberi tahu tentang kebaikan, tetapi ia harus dibimbing, dibiasakan, dan diberi kepercayaan untuk mengamalkan.

3. Kepribadian sejati tampak ketika tidak ada yang mengawasi

Pesan paling mendalam terdapat dalam kalimat إِذَا لَمْ تَعْمَلْ بِنَصِيحَتِي فِي خَلْوَتِكَ (jika engkau tidak mengamalkan nasihatku ketika sedang sendirian). Syekh Muhammad Syakir mengarahkan perhatian kita pada perbedaan antara perilaku yang muncul karena pengawasan dan perilaku yang lahir dari kesadaran diri.

Seorang anak mungkin bersikap jujur karena takut diketahui gurunya, disiplin karena khawatir dihukum, atau rajin beribadah karena diperintah orang tuanya. Namun, apakah ia tetap melakukan kebaikan yang sama ketika tidak ada yang melihat? Pertanyaan inilah yang menguji sejauh mana pendidikan telah membentuk kepribadiannya.

Dalam perspektif pendidikan karakter, tujuan pembinaan bukan sekadar menghasilkan kepatuhan eksternal, melainkan menumbuhkan pengendalian diri dan kesadaran moral. Anak diharapkan mampu memilih kebaikan bukan semata-mata karena pengawasan atau takut hukuman, melainkan karena memahami dan meyakini nilai dari kebaikan itu sendiri.

Dalam pendidikan Islam, kesadaran tersebut berpijak pada murāqabah, yaitu keyakinan bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi segala perbuatan manusia. Ketika kesadaran ini tumbuh, seseorang akan berusaha menjaga perilakunya dalam keadaan ramai maupun sepi, sebab ia memahami bahwa tidak ada satu pun perbuatannya yang luput dari pengetahuan Allah.

4. Konsistensi adalah buah dari pendidikan yang berhasil

Syekh Muhammad Syakir mengingatkan bahwa orang yang tidak mampu menjaga nasihat ketika sendirian akan sulit mempertahankannya ketika berada di tengah orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku yang hanya bergantung pada pengawasan cenderung rapuh ketika pengawasan itu tidak ada.

Oleh sebab itu, guru dan orang tua perlu mengarahkan pendidikan pada terbentuknya konsistensi atau keajekan perilaku. Kejujuran harus dijaga, baik ketika diawasi maupun tidak; kedisiplinan harus tumbuh, baik ketika diperhatikan maupun tidak; dan kesantunan harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar sikap yang ditampilkan untuk mendapatkan pujian.

Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang membuat anak selalu bergantung pada perintah orang lain, melainkan yang menumbuhkan kemampuan untuk membimbing dan mengendalikan dirinya sendiri berdasarkan nilai-nilai kebenaran.

 

Implementasi dalam Keluarga dan Sekolah

  • Dalam keluarga: Orang tua hendaknya membiasakan kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan tanpa menjadikan ancaman sebagai satu-satunya cara mendidik. Berikan kepercayaan kepada anak dan kesempatan untuk menunjukkan tanggung jawabnya, termasuk ketika tidak sedang diawasi.
  • Di sekolah: Guru perlu membangun budaya kejujuran dan kedisiplinan yang tidak hanya berlaku selama pembelajaran berlangsung. Penilaian hendaknya tidak semata-mata berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga memperhatikan proses, tanggung jawab, dan perilaku murid.
  • Sinergi keluarga dan sekolah: Orang tua dan guru perlu menyelaraskan nilai yang ditanamkan serta memberikan keteladanan dalam perkataan dan perbuatan. Anak akan lebih mudah menginternalisasi nilai kebaikan apabila melihat konsistensi antara apa yang diajarkan dan apa yang dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.

 

Refleksi untuk Orang Tua dan Guru

1.     Apakah anak melakukan kebaikan karena kesadaran diri atau hanya karena takut ditegur dan dihukum?

2.     Sudahkah kita membimbing anak agar tetap menjaga kejujuran dan tanggung jawab meskipun tidak ada manusia yang melihat?

3.     Apakah perilaku kita sendiri telah mencerminkan keselarasan antara nasihat yang disampaikan dan perbuatan yang dilakukan?

 

Anak yang benar-benar terdidik bukan hanya anak yang berbuat baik ketika diawasi, melainkan yang tetap menjaga kebaikan ketika sendirian. Sebab, pendidikan sejati tidak berhenti pada kepatuhan di hadapan manusia, tetapi tumbuh menjadi kesadaran dalam diri dan ketaatan kepada Allah.

 

*) Disampaikan dalam Kajian Edukatif Kitab Washāyā al-Abā’ li al-Abnā’ bagi wali murid MI Ma’arif Pijenan, pada Ahad Pahing, 1 November 2026.

Read More

Monday, November 2, 2026

Hukum Bepergian pada Hari Jum‘at

November 02, 2026 0

 


Dalam madzhab Syafi‘i, seseorang diperbolehkan memulai perjalanan pada hari Jum‘at sebelum terbit fajar. Namun, apabila fajar telah terbit, ia tidak diperbolehkan memulai safar apabila ia berkeyakinan atau memiliki dugaan kuat bahwa keberangkatannya mengakibatkan tidak bisa melaksanakan shalat Jum‘at. Hal ini karena kewajiban Jum‘at telah berlaku sejak masuk waktu fajar bagi orang yang memenuhi syarat wajib Jum‘at.

Ketentuan tersebut berlaku meskipun seseorang hendak melakukan perjalanan jauh. Adapun jika ia dapat melaksanakan shalat Jum‘at di tempat yang dilewatinya atau di tempat tujuan, tidak ada larangan safar yang menyebabkan hilangnya kewajiban tersebut.

Perlu diketahui, terdapat qaul qadim yang memberikan kelonggaran memulai perjalanan setelah fajar selama belum tergelincir matahari. Namun, pendapat yang dijadikan pegangan dalam madzhab Syafi‘i adalah qaul jadid, yaitu larangan memulai perjalanan setelah fajar apabila mengakibatkan ditinggalkannya shalat Jum‘at.

***

1. Fathul Mu‘in — Syekh Zainuddin al-Malibari

Rujukan: Fathul Mu‘in, juz 2, hlm. 110 (edisi Dar al-Fikr).

وَحَرُمَ عَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ، وَإِنْ لَمْ تَنْعَقِدْ بِهِ، سَفَرٌ تَفُوتُ بِهِ الْجُمُعَةُ ، كَأَنْ ظَنَّ أَنَّهُ لَا يُدْرِكُهَا فِي طَرِيقِهِ أَوْ مَقْصِدِهِ، وَلَوْ كَانَ السَّفَرُ طَاعَةً مَنْدُوبًا أَوْ وَاجِبًا، بَعْدَ فَجْرِهَا.

Haram bagi orang yang wajib melaksanakan Jum‘at, meskipun ia bukan termasuk orang yang menjadi syarat sahnya pelaksanaan Jum‘at, melakukan perjalanan yang menyebabkan terlewatnya Jum‘at. Misalnya, ia menduga tidak dapat melaksanakan Jum‘at di perjalanan atau di tempat tujuannya. Larangan ini tetap berlaku meskipun perjalanannya merupakan perjalanan ketaatan, baik yang sunah maupun wajib, apabila dilakukan setelah terbit fajar hari Jum‘at.

 

Analisis fikih:

Ada tiga poin yang dapat diambil dari ibarat ini:

1.     Larangan berlaku bagi orang yang wajib Jum‘at (man talzamuhul Jumu‘ah).

2.     Larangan tidak semata-mata karena ia melakukan perjalanan setelah fajar, tetapi karena perjalanan tersebut diperkirakan menyebabkan terlewatnya Jum‘at (safarun tufawwitu bihil Jumu‘ah).

3.     Jenis perjalanan tidak mengubah hukum asal larangan, sekalipun perjalanan itu berupa ibadah atau ketaatan.

 

2. I‘anatut Thalibin — Sayyid Abu Bakr Syatha al-Dimyathi

Rujukan: I‘anatut Thalibin, juz 2, hlm. 110, Syarah Fathul Mu‘in (cetakan Dar al-Fikr).

قَوْلُهُ: تَفُوتُ بِهِ الْجُمُعَةُ أَيْ بِحَسَبِ ظَنِّهِ، وَخَرَجَ بِهِ مَا إِذَا لَمْ تَفُتْ بِهِ، بِأَنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ إِدْرَاكُهَا فِي مَقْصِدِهِ أَوْ طَرِيقِهِ، فَلَا يَحْرُمُ لِحُصُولِ الْمَقْصُودِ، وَهُوَ إِدْرَاكُهَا.

Ungkapan "perjalanan yang menyebabkan terlewatnya Jum‘at" maksudnya adalah berdasarkan dugaan orang tersebut. Ketentuan ini mengecualikan perjalanan yang tidak menyebabkan terlewatnya Jum‘at, yaitu apabila ia memiliki dugaan kuat dapat melaksanakan Jum‘at di tempat tujuan atau di perjalanan. Dalam kondisi demikian, perjalanan tidak haram karena tujuan yang dikehendaki, yaitu mendapatkan shalat Jum‘at, dapat tercapai.

 

Analisis Fikih

Ibarat ini menjadi dasar yang sangat kuat untuk menjelaskan bahwa ukuran larangan adalah dugaan kuat (ghalabatuzh zhann), bukan kepastian bahwa seseorang akan kehilangan Jum‘at.

Misalnya:

  • Seseorang berangkat setelah fajar dan memperkirakan tidak akan menemukan masjid yang menyelenggarakan Jum‘at di sepanjang perjalanan maupun tempat tujuan. Safarnya haram.
  • Seseorang berangkat setelah fajar dan memiliki dugaan kuat akan mendapatkan Jum‘at di tempat tujuan. Safarnya tidak haram karena ia tidak kehilangan kesempatan melaksanakan Jum‘at.

 

قَوْلُهُ: وَلَوْ كَانَ السَّفَرُ طَاعَةً، غَايَةٌ فِي الْحُرْمَةِ، وَهِيَ لِلرَّدِّ عَلَى الْقَدِيمِ الَّذِي يَخُصُّ حُرْمَةَ السَّفَرِ قَبْلَ الزَّوَالِ بِالْمُبَاحِ، وَيَجْعَلُ سَفَرَ الطَّاعَةِ قَبْلَ الزَّوَالِ جَائِزًا.

Ungkapan "meskipun perjalanan tersebut merupakan perjalanan ketaatan" merupakan penegasan bahwa hukum haram tetap berlaku. Ungkapan ini dimaksudkan untuk membantah qaul qadim yang mengkhususkan keharaman perjalanan sebelum zawal pada perjalanan mubah, sedangkan perjalanan ketaatan sebelum zawal dianggap boleh.

 

Analisis fikih:

Menurut penjelasan ini, qaul qadim memberikan kelonggaran terhadap perjalanan ketaatan sebelum zawal, sedangkan qaul jadid tidak membedakan antara perjalanan mubah dan perjalanan ketaatan apabila perjalanan tersebut menyebabkan terlewatnya Jum‘at.

Dengan demikian, orang yang hendak bepergian untuk menuntut ilmu, berziarah, atau bahkan melaksanakan ibadah tertentu tetap terkena larangan apabila memenuhi ketentuan tersebut.

 

وَإِنَّمَا حَرُمَ مِنْ بَعْدِ الْفَجْرِ، مَعَ أَنَّ وَقْتَ الْوُجُوبِ إِنَّمَا يَدْخُلُ بِالزَّوَالِ، لِأَنَّ الْجُمُعَةَ مُرْتَبِطَةٌ بِالْيَوْمِ، وَلِذَا وَجَبَ السَّعْيُ إِلَيْهَا قَبْلَ الزَّوَالِ عَلَى بَعِيدِ الدَّارِ.

“Larangan tersebut dimulai sejak setelah fajar, meskipun waktu kewajiban Jum‘at sebenarnya baru masuk ketika zawal, karena shalat Jum‘at berkaitan dengan keseluruhan hari. Oleh sebab itu, orang yang rumahnya jauh juga diwajibkan berangkat menuju shalat Jum‘at sebelum zawal.”

 

Analisis fikih:

Jangan menyatakan bahwa waktu wajib Jum‘at sudah masuk sejak fajar. Yang benar:

  • Waktu wajib pelaksanaan shalat Jum‘at dimulai ketika zawal.
  • Larangan memulai safar yang menyebabkan kehilangan Jum‘at dimulai sejak fajar menurut qaul jadid.
  • Alasannya, kewajiban menghadiri Jum‘at berkaitan dengan hari Jum‘at secara keseluruhan, termasuk kewajiban berangkat lebih awal bagi orang yang tempat tinggalnya jauh.

 

3. Al-Hawi al-Kabir — Imam al-Mawardi

Rujukan: Al-Hawi al-Kabir, juz 2, hlm. 425–426, Kitab al-Jumu‘ah.

فَمَنْ أَرَادَ إِنْشَاءَ السَّفَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ: حَالَانِ يَجُوزُ لَهُ إِنْشَاءُ السَّفَرِ فِيهِمَا، وَحَالٌ لَا يَجُوزُ لَهُ إِنْشَاءُ السَّفَرِ فِيهَا، وَحَالٌ مُخْتَلَفٌ فِيهَا.

“Barang siapa hendak memulai perjalanan pada hari Jum‘at, maka terdapat empat keadaan: dua keadaan yang membolehkan memulai perjalanan, satu keadaan yang tidak membolehkan, dan satu keadaan yang masih diperselisihkan.”

Kemudian dijelaskan:

فَأَحَدُهُمَا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْيَوْمِ، وَالثَّانِيَةُ بَعْدَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ لِيَقْضِيَ الْفَرْضَ.

“Dua keadaan yang membolehkan perjalanan adalah sebelum terbit fajar karena belum termasuk hari Jum‘at, dan setelah melaksanakan shalat Jum‘at karena kewajibannya telah ditunaikan.”

Adapun waktu yang diperselisihkan:

وَأَمَّا الْحَالُ الْمُخْتَلَفُ فِيهَا: فَهِيَ مِنْ بَعْدِ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى زَوَالِ الشَّمْسِ، فَفِي جَوَازِ إِنْشَاءِ السَّفَرِ فِيهِ قَوْلَانِ.

“Keadaan yang diperselisihkan ialah waktu setelah terbit fajar sampai tergelincirnya matahari. Dalam persoalan boleh atau tidaknya memulai perjalanan pada waktu tersebut terdapat dua pendapat.”

Kemudian:

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْجَدِيدِ ... لَا يَجُوزُ لَهُ إِنْشَاءُ السَّفَرِ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ الْجُمُعَةَ.

“Pendapat kedua, yaitu qaul jadid, menyatakan bahwa seseorang tidak diperbolehkan memulai perjalanan pada waktu tersebut sampai ia melaksanakan shalat Jum‘at.”

Analisis fikih:

Dari sini terlihat bahwa pembagian hukum safar pada hari Jum‘at tidak cukup hanya dengan membaginya menjadi sebelum dan sesudah fajar. Ada empat keadaan yang perlu dipahami:

1.     Sebelum fajar: boleh.

2.     Setelah melaksanakan Jum‘at: boleh.

3.     Setelah fajar sampai zawal: diperselisihkan; qaul jadid melarang, sedangkan qaul qadim membolehkan.

4.     Setelah zawal: tidak boleh memulai safar yang menyebabkan kehilangan Jum‘at, kecuali terdapat uzur yang membolehkan.

 

4. Hasyiyah al-Bujairimi — Syekh Sulaiman al-Bujairimi

Dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib, yang juga dikenal sebagai Hasyiyah al-Bujairimi, pada pembahasan shalat Jum‘at disebutkan, di antaranya:

وَخَرَجَ بِهِ النَّوْمُ قَبْلَ الزَّوَالِ، فَلَا يَحْرُمُ، وَإِنْ عَلِمَ فَوَاتَ الْجُمُعَةِ بِهِ.

“Termasuk yang dikecualikan dari ketentuan tersebut adalah tidur sebelum zawal. Tidur tidak dihukumi haram meskipun seseorang mengetahui bahwa akibat tidur tersebut ia akan kehilangan shalat Jum‘at.”

Keterangan ini merupakan pendapat yang dinukil dari al-Bujairimi berdasarkan pendapat yang dipegang Syekh Muhammad al-Ramli. Namun, terdapat ulama lain yang berbeda pendapat dalam persoalan ini.

 

Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan keterangan kitab-kitab fikih mazhab Syafi‘i, dapat disimpulkan beberapa ketentuan berikut:

1.     Bepergian sebelum fajar hari Jum‘at: Hukumnya boleh, meskipun perjalanan tersebut mengakibatkan seseorang tidak dapat melaksanakan shalat Jum‘at.

2.     Bepergian setelah terbit fajar: Menurut qaul jadid yang menjadi pegangan mazhab Syafi‘i, hukumnya haram apabila seseorang memiliki dugaan kuat bahwa perjalanannya akan menyebabkan ia kehilangan kesempatan melaksanakan shalat Jum‘at.

3.     Bepergian setelah fajar tetapi masih dapat melaksanakan Jum‘at: Hukumnya boleh apabila terdapat dugaan kuat bahwa ia dapat melaksanakan Jum‘at di perjalanan atau di tempat tujuan.

4.     Jenis perjalanan: Larangan tersebut berlaku tanpa membedakan jenis perjalanan, baik perjalanan mubah, sunah, maupun wajib, selama mengakibatkan terlewatnya shalat Jum‘at.

5.     Perbedaan qaul qadim dan qaul jadid:

·         Qaul qadim: Membolehkan memulai perjalanan setelah fajar hingga sebelum zawal.

·         Qaul jadid: Melarang memulai perjalanan pada rentang waktu tersebut apabila mengakibatkan terlewatnya Jum‘at.

·         Pendapat yang dijadikan pegangan dalam mazhab Syafi‘i adalah qaul jadid.

6.     Bepergian setelah melaksanakan Jum‘at: Hukumnya boleh karena kewajiban shalat Jum‘at telah ditunaikan.

7.     Bepergian setelah zawal: Tidak diperbolehkan apabila mengakibatkan seseorang kehilangan kesempatan melaksanakan Jum‘at, kecuali terdapat uzur yang membolehkan perjalanan.

8.     Ukuran terlewatnya Jum‘at: Ditentukan berdasarkan ghalabatuzh zhann (dugaan kuat), bukan harus menunggu sampai benar-benar dipastikan bahwa ia kehilangan Jum‘at.

9.     Kekhawatiran bahaya: Seseorang dapat memperoleh pengecualian hukum apabila khawatir mengalami bahaya jika tidak segera melakukan perjalanan, seperti tertinggal dari rombongan.

10.               Waktu kewajiban dan waktu larangan safar: Waktu pelaksanaan shalat Jum‘at dimulai sejak zawal, sedangkan larangan memulai perjalanan yang menyebabkan terlewatnya Jum‘at telah dimulai sejak terbit fajar. Hal ini karena kewajiban menghadiri Jum‘at berkaitan dengan keseluruhan hari Jum‘at.

 

Dalam mazhab Syafi‘i, yang menjadi pertimbangan utama bukan sekadar apakah seseorang bepergian setelah fajar atau tidak, melainkan apakah perjalanan tersebut menyebabkan hilangnya kesempatan menunaikan kewajiban shalat Jum‘at.

 

Read More

Sunday, November 1, 2026

Kajian Edukatif Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna': Guru Ideal: Tulus Mendidik, Membimbing, dan Mengajar (Pertemuan ke-2)

November 01, 2026 0

 


Pertemuan ke-2

Guru Ideal: Tulus Mendidik, Membimbing, dan Mengajar

 

يَا بُنَيَّ، إِنْ كُنْتَ تَقْبَلُ نَصِيحَةَ نَاصِحٍ فَأَنَا أَحَقُّ مَنْ تَقْبَلُ نَصِيحَتَهُ. أَنَا أُسْتَاذُكَ وَمُعَلِّمُكَ وَمُرْشِدُ رُوحِكَ (وَمُرَبِّي رُوحِكَ)، لَا تَجِدُ أَحَدًا أَحْرَصَ عَلَى مَنْفَعَتِكَ وَصَلَاحِكَ مِنِّي.

Terjemah

Wahai anakku (muridku), jika engkau bersedia menerima nasihat dari seseorang, maka akulah orang yang paling berhak untuk engkau terima nasihatnya. Aku adalah gurumu, pengajarmu, sekaligus pembimbing jiwamu (pendidik batinmu). Engkau tidak akan menemukan seseorang yang lebih menginginkan kemanfaatan dan kebaikan dirimu daripada aku.

 

Kandungan Nasihat dan Relevansi Pendidikan

Nasihat ini mengajarkan bahwa hubungan guru dan murid tidak semestinya hanya dibangun di atas kewajiban mengajar dan belajar, tetapi juga ketulusan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap kebaikan murid.

1. Kedekatan emosional sebagai pintu pendidikan

Panggilan يَا بُنَيَّ (Wahai anakku) bukan sekadar sapaan, melainkan ungkapan kasih sayang dan kedekatan emosional. Secara kebahasaan, بُنَيَّ merupakan bentuk tashghir (diminutif) dari اِبْنٌ (anak). Dalam konteks ini, bentuk tersebut mengandung nuansa kelembutan dan kasih sayang, bukan mengecilkan secara fisik.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, kedekatan emosional membuat murid merasa diterima, dihargai, dan diperhatikan. Ketika anak merasa disayangi, ia cenderung lebih terbuka untuk menerima arahan, nasihat, bahkan teguran dari gurunya.

2. Nasihat sebagai wujud ketulusan dan kepedulian

Kata نَصِيحَةٌ (nasihat) tidak sekadar berarti memberikan saran. Di dalamnya terkandung ketulusan dan keinginan mendatangkan kebaikan bagi orang yang dinasihati (iradatul khair). Karena itu, guru menasihati bukan untuk menunjukkan kekuasaan atau sekadar menuntut kepatuhan, melainkan karena sungguh-sungguh menginginkan muridnya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Nasihat yang lahir dari ketulusan tentu berbeda dengan teguran yang hanya didorong oleh kemarahan.

3. Tanggung jawab guru tidak hanya mengajar

Syekh Muhammad Syakir menyebut tiga peran guru, yaitu أُسْتَاذُكَ، وَمُعَلِّمُكَ، وَمُرْشِدُ رُوحِكَ (gurumu, pengajarmu, dan pembimbing jiwamu). Dalam redaksi lain disebut وَمُرَبِّي رُوحِكَ (pendidik jiwamu).

Ketiganya menggambarkan dimensi tanggung jawab seorang pendidik: mengajar dan mengembangkan pengetahuan, membimbing pengamalan ilmu, serta menanamkan nilai dan membentuk akhlak. Dengan demikian, pendidikan tidak cukup hanya menyentuh kecerdasan, tetapi juga harus membina perilaku dan kepribadian.

Ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa tugas guru tidak berhenti pada penyampaian ilmu, tetapi juga mencakup pembimbingan amal dan pembentukan akhlak. Dengan kata lain, pendidikan harus menyentuh tiga ranah sekaligus: ilmu, amal, dan akhlak. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا.

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai seorang yang suka memberatkan ataupun gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Akan tetapi, Dia mengutusku sebagai seorang pengajar yang memberikan kemudahan.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa guru tidak sepatutnya membebani murid dengan tuntutan yang melampaui kemampuannya (mu‘annit), ataupun gemar mencari-cari kesalahan dan mempersulitnya (muta‘annit). Mendidik memang membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan harus disertai kebijaksanaan dan kasih sayang.

4. Keberhasilan guru bukan hanya pada ilmu, tetapi juga akhlak

Dalam perspektif pendidikan, terdapat perbedaan penekanan antara fungsi teacher (pengajar) dan educator (pendidik). Pengajar berfokus pada proses penyampaian ilmu dan pemahaman materi, sedangkan pendidik juga memperhatikan bagaimana ilmu tersebut membentuk sikap, perilaku, dan kepribadian murid.

Seorang pengajar mungkin bertanya, “Apakah kamu sudah memahami pelajaran?” Sementara itu, seorang pendidik juga akan bertanya, “Apakah ilmu yang kamu pelajari telah menjadikan dirimu lebih baik?”

Karena itu, keberhasilan guru tidak cukup diukur dari seberapa banyak materi yang telah disampaikan atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh murid, tetapi juga dari perubahan positif dalam perilaku dan akhlaknya.

5. Ketulusan menumbuhkan keterbukaan

Murid lebih mudah menerima teguran ketika ia percaya bahwa gurunya menginginkan kebaikan bagi dirinya. Sebaliknya, jika teguran dianggap sebagai kebencian atau penghinaan, murid bisa bersikap defensif: menolak, mencari pembenaran, menyembunyikan kesalahan, atau sekadar patuh tanpa kesadaran.

Oleh karena itu, ketegasan dalam mendidik perlu disertai kasih sayang dan penjelasan yang baik. Murid hendaknya memahami bahwa teguran bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab pendidikan.

 

Implementasi dalam Keluarga dan Sekolah

  • Dalam keluarga: Orang tua membangun komunikasi yang hangat, menasihati tanpa merendahkan, mengoreksi kesalahan dengan kasih sayang, serta memberikan teladan dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.
  • Di sekolah: Guru membangun kedekatan positif dengan murid, menyampaikan teguran secara bijaksana, tidak mempermalukan murid di hadapan teman-temannya, serta mengarahkan pembelajaran agar tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku.
  • Sinergi keluarga dan sekolah: Orang tua dan guru perlu menyatukan orientasi pendidikan. Keduanya bukan sekadar menuntut anak untuk patuh, tetapi membantu mereka memahami kebaikan di balik setiap nasihat dan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

 

Refleksi untuk Orang Tua dan Guru

1.     Sudahkah anak merasakan bahwa nasihat dan teguran kita lahir dari kasih sayang dan ketulusan?

2.     Ketika anak berbuat salah, apakah kita lebih mengutamakan kemarahan atau membimbingnya agar sadar dan mau memperbaiki diri?

3.     Apakah selama ini kita hanya mengajarkan ilmu, atau juga membimbing pengamalannya dan membentuk akhlaknya?

 

Anak mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi dia akan selalu ingat bagaimana kita memperlakukan. Karena itu, didiklah mereka dengan kasih sayang, sebab mereka lebih membutuhkan ketulusan daripada sekadar tuntutan.

 

*) Disampaikan dalam kajian edukatif kitab Washaya  al-Aba’ li al-Abna’  wali murid MI Ma’arif Pijenan pada Ahad Pahing, 27 September 2026.

 

Read More