Al-Imam
al-Ghazali, dalam kitabnya al-Kasyfu wat Tabyin, menyebutkan ada 11
golongan ulama yang tertipu. Salah satunya adalah ulama yang sibuk mendalami
ilmu, tetapi tidak mau berbuat taat dan enggan menjauhi maksiat.
Dengan segudang ilmu
yang dimiliki, mereka merasa telah menduduki kedudukan tinggi di sisi Allah. Sampai-sampai
mereka merasa tidak akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah, dan Allah pun
tidak akan pernah menyiksanya. Tertipulah mereka dengan ilmunya!
Al-Imam al-Ghazali
mengibaratkan mereka seperti seorang dokter yang bisa mengobati pasiennya, tetapi
dia sendiri justru dalam keadaan sakit. Sebetulnya dia tahu obatnya, tetapi
tidak pernah mau meminumnya untuk mengobati penyakitnya sendiri. Apakah resep yang
selalu dia tulis untuk pasien bermanfaat bagi dirinya sendiri? Sama sekali, tidak!
Mereka lupa pada firman
Allah:
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ . وَقَدْ خَابَ مَنْ
دَسّٰىهَاۗ
“sungguh beruntung orang yang
menyucikannya (jiwa). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Q.S.
asy-Syams [91]: 9-10)
Mereka juga lupa pada sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam:
مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى، لَمْ
يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا
“Barangsiapa bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah hidayahnya,
maka tidak akan bertambah apa pun kecuali semakin jauh dari Allah.”[1]
Dalam sabda yang lain disebutkan, “Sesungguhnya manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah orang alim yang Allah tidak menjadikan ilmunya bermanfaat.”
Di antara penyebabnya adalah hubbun
dun-ya (cinta dunia), suka menuruti hawa nafsu, dan tenggelam dalam
kesenangan dunia. Mereka mengira, cukup dengan segudang yang dimiliki tanpa
perlu beramal, kelak mereka akan terselamatkan dari siksa.
Na’udzu billahi min halihim (Aku berlindung kepada Allah dari perilaku
mereka ini). []
[1] Riwayat
Abu Mansur ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus dengan sanad dha'if; lihat pula al-Jami'us
Shaghir Juz 2 hlm. 162.
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)




.jpg)



