وَيُكْرَهُ
الِالْتِفَاتُ بِوَجْهِهِ اِلَّا لِحَاجَةٍ
"Makruh hukumnya menoleh atau memalingkan wajah (saat shalat), kecuali ada keperluan."
Maksud
dari menoleh di sini adalah memalingkan wajah tanpa memutar dada atau memalingkannya dari arah kiblat. Menoleh dengan
cara seperti ini hukumnya makruh. Akan tetapi, jika dadanya ikut berpaling dari
arah kiblat maka batal shalatnya. Begitu pula batal shalatnya apabila menoleh dengan
tujuan untuk bermain-main.
Rasulullah
bersabda: «اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ
الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ»
“(Menoleh)
itu merupakan sesuatu yang dicuri setan dari shalat seorang hamba.” (HR. al-Bukhari
dari Sayyidah Aisyah)
Maksud
dari “dicuri setan” adalah setan memanfaatkan kelengahan orang yang shalat
untuk mengurangi kesempurnaan dan kekhusyukannya.
Hukum asal
menoleh memang makruh, walaupun ada pula sebagian ulama yang berpendapat haram. Dalam madzhab Syafi'i, salah satunya adalah al-Imam al-Adzra'i. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, terkadang menoleh justru disunahkan,
seperti menoleh kepada seseorang yang dikhawatirkan keselamatannya. Misalnya,
seseorang sedang shalat lalu melihat anak kecil yang dikhawatirkan dalam keadaan
bahaya.
Rasulullah juga pernah menolehkan wajah saat shalat ke arah celah pegunungan. Beliau melakukan itu karena ada hajat (keperluan), yaitu menjaga dan mewaspadai kemungkinan datangnya musuh.
Dari Sahal
bin al-Hanzhaliyyah, dia meriwayatkan:
ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، يَعْنِي صَلَاةَ الصُّبْحِ، فَجَعَلَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي وَهُوَ يَلْتَفِتُ إِلَى الشِّعْبِ.
Artinya, “Seruan iqamah untuk shalat—yakni shalat Subuh—telah dikumandangkan. Rasulullah pun shalat sambil menoleh ke arah celah di antara pegunungan.” (HR. Abu Dawud no. 916).
Abu Dawud memberikan komentar terhadap hadits tersebut:
وَكَانَ أَرْسَلَ فَارِسًا إِلَى الشِّعْبِ مِنَ اللَّيْلِ يَحْرُسُ
“Beliau telah mengutus seorang penunggang kuda ke celah pegunungan itu sejak malam untuk berjaga.”
Rasulullah menoleh ke arah tersebut bukan tanpa hajat, melainkan karena ada hajat/keperluan menunnggu kabar dari penjaga yang ditugaskan mengawasi jalur pegunungan. Karena ada kemungkinan ancaman dari arah tersebut, beliau menoleh untuk memastikan keadaan.
Adapun melirikkan mata tanpa memalingkan wajah, hukumnya tidak apa-apa; tidak makruh.
Referensi: al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhal al-Hadhromi (w. 918 H) beserta beberapa syarah-nya dan Mughnil Muhtaj karya Syekh Khatib asy-Syirbini .
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)







