Santri Nurbin

Hot

Post Top Ad

LightBlog

Tuesday, November 3, 2026

Kajian Edukatif Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna': Tetap Berbuat Baik, Meski Tak Ada yang Melihat (Pertemuan ke-3)

November 03, 2026 0


  

يَا بُنَيَّ، إِنِّي لَكَ نَاصِحٌ أَمِينٌ، فَاقْبَلْ مَا أُلْقِيهِ عَلَيْكَ مِنَ النَّصَائِحِ، وَاعْمَلْ بِهِ فِي حُضُورِي وَبَيْنَ يَدَيْكَ وَبَيْنَ إِخْوَانِكَ وَبَيْنَ نَفْسِكَ . يَا بُنَيَّ، إِذَا لَمْ تَعْمَلْ بِنَصِيحَتِي فِي خَلْوَتِكَ فَقَلَّمَا تُحَافِظُ عَلَيْهَا بَيْنَ إِخْوَانِكَ. يَا بُنَيَّ، إِذَا لَمْ تَتَّخِذْنِي قُدْوَةً فَمَنْ تَقْتَدِي؟ وَعَلَامَ تُجْهِدُ نَفْسَكَ فِي الْجُلُوسِ أَمَامِي؟

 

Terjemah

“Wahai anakku, sesungguhnya aku adalah penasihat yang tulus dan terpercaya bagimu. Maka terimalah nasihat-nasihat yang kusampaikan kepadamu dan amalkanlah, baik ketika bersamaku, di hadapan saudara-saudaramu, maupun ketika engkau sendirian. Wahai anakku, jika engkau tidak mengamalkan nasihatku ketika sedang sendirian, maka sangat kecil kemungkinan engkau akan menjaganya ketika berada di antara saudara-saudaramu. Wahai anakku, jika engkau tidak menjadikanku sebagai teladan, lalu kepada siapa engkau akan meneladani? Dan untuk apa engkau bersusah payah duduk di hadapanku?”

 

Kandungan Nasihat dan Relevansi Pendidikan

Nasihat Syekh Muhammad Syakir ini mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa baik anak mendengarkan nasihat atau seberapa patuh ia ketika berada di hadapan guru dan orang tua. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana nilai-nilai kebaikan tertanam dalam diri sehingga tetap diamalkan, bahkan ketika tidak dilihat atau diawasi oleh seorang pun.

1. Nasihat yang tulus membangun kepercayaan

Syekh Muhammad Syakir mengawali nasihatnya dengan ungkapan نَاصِحٌ أَمِينٌ  (penasihat yang terpercaya). Dalam pendidikan, kepercayaan merupakan fondasi penting bagi hubungan antara pendidik dan peserta didik. Anak akan lebih mudah menerima arahan apabila ia merasakan bahwa guru dan orang tuanya benar-benar menginginkan kebaikan baginya. Sebaliknya, nasihat yang disampaikan tanpa ketulusan dapat dipersepsikan sebagai tuntutan, tekanan, bahkan bentuk ketidakpercayaan.

Karena itu, mendidik bukan sekadar menyampaikan apa yang harus dilakukan anak, tetapi juga membangun hubungan yang membuatnya memahami bahwa setiap nasihat diberikan demi kebaikan dirinya.

2. Nasihat harus berbuah pengamalan

Perintah فَاقْبَلْ مَا أُلْقِيهِ عَلَيْكَ مِنَ النَّصَائِحِ، وَاعْمَلْ بِهِ  (terimalah nasihat yang kusampaikan dan amalkanlah) mengandung dua tahapan penting dalam pendidikan: menerima nilai kebaikan dan mewujudkannya dalam perilaku.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa kejujuran adalah kewajiban, kedisiplinan merupakan kebiasaan yang baik, dan menghormati orang lain adalah bagian dari akhlak terpuji. Namun, pengetahuan tersebut belum cukup apabila tidak tercermin dalam tindakan.

Dalam ilmu pendidikan, proses ini berkaitan dengan internalisasi nilai, yaitu proses penanaman nilai hingga menjadi bagian dari kesadaran, sikap, dan perilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada ranah pengetahuan, tetapi harus berlanjut pada pembentukan sikap atau karakter dan pembiasaan tindakan.

Anak tidak cukup hanya diberi tahu tentang kebaikan, tetapi ia harus dibimbing, dibiasakan, dan diberi kepercayaan untuk mengamalkan.

3. Kepribadian sejati tampak ketika tidak ada yang mengawasi

Pesan paling mendalam terdapat dalam kalimat إِذَا لَمْ تَعْمَلْ بِنَصِيحَتِي فِي خَلْوَتِكَ (jika engkau tidak mengamalkan nasihatku ketika sedang sendirian). Syekh Muhammad Syakir mengarahkan perhatian kita pada perbedaan antara perilaku yang muncul karena pengawasan dan perilaku yang lahir dari kesadaran diri.

Seorang anak mungkin bersikap jujur karena takut diketahui gurunya, disiplin karena khawatir dihukum, atau rajin beribadah karena diperintah orang tuanya. Namun, apakah ia tetap melakukan kebaikan yang sama ketika tidak ada yang melihat? Pertanyaan inilah yang menguji sejauh mana pendidikan telah membentuk kepribadiannya.

Dalam perspektif pendidikan karakter, tujuan pembinaan bukan sekadar menghasilkan kepatuhan eksternal, melainkan menumbuhkan pengendalian diri dan kesadaran moral. Anak diharapkan mampu memilih kebaikan bukan semata-mata karena pengawasan atau takut hukuman, melainkan karena memahami dan meyakini nilai dari kebaikan itu sendiri.

Dalam pendidikan Islam, kesadaran tersebut berpijak pada murāqabah, yaitu keyakinan bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi segala perbuatan manusia. Ketika kesadaran ini tumbuh, seseorang akan berusaha menjaga perilakunya dalam keadaan ramai maupun sepi, sebab ia memahami bahwa tidak ada satu pun perbuatannya yang luput dari pengetahuan Allah.

4. Konsistensi adalah buah dari pendidikan yang berhasil

Syekh Muhammad Syakir mengingatkan bahwa orang yang tidak mampu menjaga nasihat ketika sendirian akan sulit mempertahankannya ketika berada di tengah orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku yang hanya bergantung pada pengawasan cenderung rapuh ketika pengawasan itu tidak ada.

Oleh sebab itu, guru dan orang tua perlu mengarahkan pendidikan pada terbentuknya konsistensi atau keajekan perilaku. Kejujuran harus dijaga, baik ketika diawasi maupun tidak; kedisiplinan harus tumbuh, baik ketika diperhatikan maupun tidak; dan kesantunan harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar sikap yang ditampilkan untuk mendapatkan pujian.

Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang membuat anak selalu bergantung pada perintah orang lain, melainkan yang menumbuhkan kemampuan untuk membimbing dan mengendalikan dirinya sendiri berdasarkan nilai-nilai kebenaran.

 

Implementasi dalam Keluarga dan Sekolah

  • Dalam keluarga: Orang tua hendaknya membiasakan kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan tanpa menjadikan ancaman sebagai satu-satunya cara mendidik. Berikan kepercayaan kepada anak dan kesempatan untuk menunjukkan tanggung jawabnya, termasuk ketika tidak sedang diawasi.
  • Di sekolah: Guru perlu membangun budaya kejujuran dan kedisiplinan yang tidak hanya berlaku selama pembelajaran berlangsung. Penilaian hendaknya tidak semata-mata berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga memperhatikan proses, tanggung jawab, dan perilaku murid.
  • Sinergi keluarga dan sekolah: Orang tua dan guru perlu menyelaraskan nilai yang ditanamkan serta memberikan keteladanan dalam perkataan dan perbuatan. Anak akan lebih mudah menginternalisasi nilai kebaikan apabila melihat konsistensi antara apa yang diajarkan dan apa yang dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.

 

Refleksi untuk Orang Tua dan Guru

1.     Apakah anak melakukan kebaikan karena kesadaran diri atau hanya karena takut ditegur dan dihukum?

2.     Sudahkah kita membimbing anak agar tetap menjaga kejujuran dan tanggung jawab meskipun tidak ada manusia yang melihat?

3.     Apakah perilaku kita sendiri telah mencerminkan keselarasan antara nasihat yang disampaikan dan perbuatan yang dilakukan?

 

Anak yang benar-benar terdidik bukan hanya anak yang berbuat baik ketika diawasi, melainkan yang tetap menjaga kebaikan ketika sendirian. Sebab, pendidikan sejati tidak berhenti pada kepatuhan di hadapan manusia, tetapi tumbuh menjadi kesadaran dalam diri dan ketaatan kepada Allah.

 

*) Disampaikan dalam Kajian Edukatif Kitab Washāyā al-Abā’ li al-Abnā’ bagi wali murid MI Ma’arif Pijenan, pada Ahad Pahing, 1 November 2026.

Read More

Monday, November 2, 2026

Hukum Bepergian pada Hari Jum‘at

November 02, 2026 0

 


Dalam madzhab Syafi‘i, seseorang diperbolehkan memulai perjalanan pada hari Jum‘at sebelum terbit fajar. Namun, apabila fajar telah terbit, ia tidak diperbolehkan memulai safar apabila ia berkeyakinan atau memiliki dugaan kuat bahwa keberangkatannya mengakibatkan tidak bisa melaksanakan shalat Jum‘at. Hal ini karena kewajiban Jum‘at telah berlaku sejak masuk waktu fajar bagi orang yang memenuhi syarat wajib Jum‘at.

Ketentuan tersebut berlaku meskipun seseorang hendak melakukan perjalanan jauh. Adapun jika ia dapat melaksanakan shalat Jum‘at di tempat yang dilewatinya atau di tempat tujuan, tidak ada larangan safar yang menyebabkan hilangnya kewajiban tersebut.

Perlu diketahui, terdapat qaul qadim yang memberikan kelonggaran memulai perjalanan setelah fajar selama belum tergelincir matahari. Namun, pendapat yang dijadikan pegangan dalam madzhab Syafi‘i adalah qaul jadid, yaitu larangan memulai perjalanan setelah fajar apabila mengakibatkan ditinggalkannya shalat Jum‘at.

***

1. Fathul Mu‘in — Syekh Zainuddin al-Malibari

Rujukan: Fathul Mu‘in, juz 2, hlm. 110 (edisi Dar al-Fikr).

وَحَرُمَ عَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ، وَإِنْ لَمْ تَنْعَقِدْ بِهِ، سَفَرٌ تَفُوتُ بِهِ الْجُمُعَةُ ، كَأَنْ ظَنَّ أَنَّهُ لَا يُدْرِكُهَا فِي طَرِيقِهِ أَوْ مَقْصِدِهِ، وَلَوْ كَانَ السَّفَرُ طَاعَةً مَنْدُوبًا أَوْ وَاجِبًا، بَعْدَ فَجْرِهَا.

Haram bagi orang yang wajib melaksanakan Jum‘at, meskipun ia bukan termasuk orang yang menjadi syarat sahnya pelaksanaan Jum‘at, melakukan perjalanan yang menyebabkan terlewatnya Jum‘at. Misalnya, ia menduga tidak dapat melaksanakan Jum‘at di perjalanan atau di tempat tujuannya. Larangan ini tetap berlaku meskipun perjalanannya merupakan perjalanan ketaatan, baik yang sunah maupun wajib, apabila dilakukan setelah terbit fajar hari Jum‘at.

 

Analisis fikih:

Ada tiga poin yang dapat diambil dari ibarat ini:

1.     Larangan berlaku bagi orang yang wajib Jum‘at (man talzamuhul Jumu‘ah).

2.     Larangan tidak semata-mata karena ia melakukan perjalanan setelah fajar, tetapi karena perjalanan tersebut diperkirakan menyebabkan terlewatnya Jum‘at (safarun tufawwitu bihil Jumu‘ah).

3.     Jenis perjalanan tidak mengubah hukum asal larangan, sekalipun perjalanan itu berupa ibadah atau ketaatan.

 

2. I‘anatut Thalibin — Sayyid Abu Bakr Syatha al-Dimyathi

Rujukan: I‘anatut Thalibin, juz 2, hlm. 110, Syarah Fathul Mu‘in (cetakan Dar al-Fikr).

قَوْلُهُ: تَفُوتُ بِهِ الْجُمُعَةُ أَيْ بِحَسَبِ ظَنِّهِ، وَخَرَجَ بِهِ مَا إِذَا لَمْ تَفُتْ بِهِ، بِأَنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ إِدْرَاكُهَا فِي مَقْصِدِهِ أَوْ طَرِيقِهِ، فَلَا يَحْرُمُ لِحُصُولِ الْمَقْصُودِ، وَهُوَ إِدْرَاكُهَا.

Ungkapan "perjalanan yang menyebabkan terlewatnya Jum‘at" maksudnya adalah berdasarkan dugaan orang tersebut. Ketentuan ini mengecualikan perjalanan yang tidak menyebabkan terlewatnya Jum‘at, yaitu apabila ia memiliki dugaan kuat dapat melaksanakan Jum‘at di tempat tujuan atau di perjalanan. Dalam kondisi demikian, perjalanan tidak haram karena tujuan yang dikehendaki, yaitu mendapatkan shalat Jum‘at, dapat tercapai.

 

Analisis Fikih

Ibarat ini menjadi dasar yang sangat kuat untuk menjelaskan bahwa ukuran larangan adalah dugaan kuat (ghalabatuzh zhann), bukan kepastian bahwa seseorang akan kehilangan Jum‘at.

Misalnya:

  • Seseorang berangkat setelah fajar dan memperkirakan tidak akan menemukan masjid yang menyelenggarakan Jum‘at di sepanjang perjalanan maupun tempat tujuan. Safarnya haram.
  • Seseorang berangkat setelah fajar dan memiliki dugaan kuat akan mendapatkan Jum‘at di tempat tujuan. Safarnya tidak haram karena ia tidak kehilangan kesempatan melaksanakan Jum‘at.

 

قَوْلُهُ: وَلَوْ كَانَ السَّفَرُ طَاعَةً، غَايَةٌ فِي الْحُرْمَةِ، وَهِيَ لِلرَّدِّ عَلَى الْقَدِيمِ الَّذِي يَخُصُّ حُرْمَةَ السَّفَرِ قَبْلَ الزَّوَالِ بِالْمُبَاحِ، وَيَجْعَلُ سَفَرَ الطَّاعَةِ قَبْلَ الزَّوَالِ جَائِزًا.

Ungkapan "meskipun perjalanan tersebut merupakan perjalanan ketaatan" merupakan penegasan bahwa hukum haram tetap berlaku. Ungkapan ini dimaksudkan untuk membantah qaul qadim yang mengkhususkan keharaman perjalanan sebelum zawal pada perjalanan mubah, sedangkan perjalanan ketaatan sebelum zawal dianggap boleh.

 

Analisis fikih:

Menurut penjelasan ini, qaul qadim memberikan kelonggaran terhadap perjalanan ketaatan sebelum zawal, sedangkan qaul jadid tidak membedakan antara perjalanan mubah dan perjalanan ketaatan apabila perjalanan tersebut menyebabkan terlewatnya Jum‘at.

Dengan demikian, orang yang hendak bepergian untuk menuntut ilmu, berziarah, atau bahkan melaksanakan ibadah tertentu tetap terkena larangan apabila memenuhi ketentuan tersebut.

 

وَإِنَّمَا حَرُمَ مِنْ بَعْدِ الْفَجْرِ، مَعَ أَنَّ وَقْتَ الْوُجُوبِ إِنَّمَا يَدْخُلُ بِالزَّوَالِ، لِأَنَّ الْجُمُعَةَ مُرْتَبِطَةٌ بِالْيَوْمِ، وَلِذَا وَجَبَ السَّعْيُ إِلَيْهَا قَبْلَ الزَّوَالِ عَلَى بَعِيدِ الدَّارِ.

“Larangan tersebut dimulai sejak setelah fajar, meskipun waktu kewajiban Jum‘at sebenarnya baru masuk ketika zawal, karena shalat Jum‘at berkaitan dengan keseluruhan hari. Oleh sebab itu, orang yang rumahnya jauh juga diwajibkan berangkat menuju shalat Jum‘at sebelum zawal.”

 

Analisis fikih:

Jangan menyatakan bahwa waktu wajib Jum‘at sudah masuk sejak fajar. Yang benar:

  • Waktu wajib pelaksanaan shalat Jum‘at dimulai ketika zawal.
  • Larangan memulai safar yang menyebabkan kehilangan Jum‘at dimulai sejak fajar menurut qaul jadid.
  • Alasannya, kewajiban menghadiri Jum‘at berkaitan dengan hari Jum‘at secara keseluruhan, termasuk kewajiban berangkat lebih awal bagi orang yang tempat tinggalnya jauh.

 

3. Al-Hawi al-Kabir — Imam al-Mawardi

Rujukan: Al-Hawi al-Kabir, juz 2, hlm. 425–426, Kitab al-Jumu‘ah.

فَمَنْ أَرَادَ إِنْشَاءَ السَّفَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ: حَالَانِ يَجُوزُ لَهُ إِنْشَاءُ السَّفَرِ فِيهِمَا، وَحَالٌ لَا يَجُوزُ لَهُ إِنْشَاءُ السَّفَرِ فِيهَا، وَحَالٌ مُخْتَلَفٌ فِيهَا.

“Barang siapa hendak memulai perjalanan pada hari Jum‘at, maka terdapat empat keadaan: dua keadaan yang membolehkan memulai perjalanan, satu keadaan yang tidak membolehkan, dan satu keadaan yang masih diperselisihkan.”

Kemudian dijelaskan:

فَأَحَدُهُمَا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْيَوْمِ، وَالثَّانِيَةُ بَعْدَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ لِيَقْضِيَ الْفَرْضَ.

“Dua keadaan yang membolehkan perjalanan adalah sebelum terbit fajar karena belum termasuk hari Jum‘at, dan setelah melaksanakan shalat Jum‘at karena kewajibannya telah ditunaikan.”

Adapun waktu yang diperselisihkan:

وَأَمَّا الْحَالُ الْمُخْتَلَفُ فِيهَا: فَهِيَ مِنْ بَعْدِ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى زَوَالِ الشَّمْسِ، فَفِي جَوَازِ إِنْشَاءِ السَّفَرِ فِيهِ قَوْلَانِ.

“Keadaan yang diperselisihkan ialah waktu setelah terbit fajar sampai tergelincirnya matahari. Dalam persoalan boleh atau tidaknya memulai perjalanan pada waktu tersebut terdapat dua pendapat.”

Kemudian:

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْجَدِيدِ ... لَا يَجُوزُ لَهُ إِنْشَاءُ السَّفَرِ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ الْجُمُعَةَ.

“Pendapat kedua, yaitu qaul jadid, menyatakan bahwa seseorang tidak diperbolehkan memulai perjalanan pada waktu tersebut sampai ia melaksanakan shalat Jum‘at.”

Analisis fikih:

Dari sini terlihat bahwa pembagian hukum safar pada hari Jum‘at tidak cukup hanya dengan membaginya menjadi sebelum dan sesudah fajar. Ada empat keadaan yang perlu dipahami:

1.     Sebelum fajar: boleh.

2.     Setelah melaksanakan Jum‘at: boleh.

3.     Setelah fajar sampai zawal: diperselisihkan; qaul jadid melarang, sedangkan qaul qadim membolehkan.

4.     Setelah zawal: tidak boleh memulai safar yang menyebabkan kehilangan Jum‘at, kecuali terdapat uzur yang membolehkan.

 

4. Hasyiyah al-Bujairimi — Syekh Sulaiman al-Bujairimi

Dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib, yang juga dikenal sebagai Hasyiyah al-Bujairimi, pada pembahasan shalat Jum‘at disebutkan, di antaranya:

وَخَرَجَ بِهِ النَّوْمُ قَبْلَ الزَّوَالِ، فَلَا يَحْرُمُ، وَإِنْ عَلِمَ فَوَاتَ الْجُمُعَةِ بِهِ.

“Termasuk yang dikecualikan dari ketentuan tersebut adalah tidur sebelum zawal. Tidur tidak dihukumi haram meskipun seseorang mengetahui bahwa akibat tidur tersebut ia akan kehilangan shalat Jum‘at.”

Keterangan ini merupakan pendapat yang dinukil dari al-Bujairimi berdasarkan pendapat yang dipegang Syekh Muhammad al-Ramli. Namun, terdapat ulama lain yang berbeda pendapat dalam persoalan ini.

 

Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan keterangan kitab-kitab fikih mazhab Syafi‘i, dapat disimpulkan beberapa ketentuan berikut:

1.     Bepergian sebelum fajar hari Jum‘at: Hukumnya boleh, meskipun perjalanan tersebut mengakibatkan seseorang tidak dapat melaksanakan shalat Jum‘at.

2.     Bepergian setelah terbit fajar: Menurut qaul jadid yang menjadi pegangan mazhab Syafi‘i, hukumnya haram apabila seseorang memiliki dugaan kuat bahwa perjalanannya akan menyebabkan ia kehilangan kesempatan melaksanakan shalat Jum‘at.

3.     Bepergian setelah fajar tetapi masih dapat melaksanakan Jum‘at: Hukumnya boleh apabila terdapat dugaan kuat bahwa ia dapat melaksanakan Jum‘at di perjalanan atau di tempat tujuan.

4.     Jenis perjalanan: Larangan tersebut berlaku tanpa membedakan jenis perjalanan, baik perjalanan mubah, sunah, maupun wajib, selama mengakibatkan terlewatnya shalat Jum‘at.

5.     Perbedaan qaul qadim dan qaul jadid:

·         Qaul qadim: Membolehkan memulai perjalanan setelah fajar hingga sebelum zawal.

·         Qaul jadid: Melarang memulai perjalanan pada rentang waktu tersebut apabila mengakibatkan terlewatnya Jum‘at.

·         Pendapat yang dijadikan pegangan dalam mazhab Syafi‘i adalah qaul jadid.

6.     Bepergian setelah melaksanakan Jum‘at: Hukumnya boleh karena kewajiban shalat Jum‘at telah ditunaikan.

7.     Bepergian setelah zawal: Tidak diperbolehkan apabila mengakibatkan seseorang kehilangan kesempatan melaksanakan Jum‘at, kecuali terdapat uzur yang membolehkan perjalanan.

8.     Ukuran terlewatnya Jum‘at: Ditentukan berdasarkan ghalabatuzh zhann (dugaan kuat), bukan harus menunggu sampai benar-benar dipastikan bahwa ia kehilangan Jum‘at.

9.     Kekhawatiran bahaya: Seseorang dapat memperoleh pengecualian hukum apabila khawatir mengalami bahaya jika tidak segera melakukan perjalanan, seperti tertinggal dari rombongan.

10.               Waktu kewajiban dan waktu larangan safar: Waktu pelaksanaan shalat Jum‘at dimulai sejak zawal, sedangkan larangan memulai perjalanan yang menyebabkan terlewatnya Jum‘at telah dimulai sejak terbit fajar. Hal ini karena kewajiban menghadiri Jum‘at berkaitan dengan keseluruhan hari Jum‘at.

 

Dalam mazhab Syafi‘i, yang menjadi pertimbangan utama bukan sekadar apakah seseorang bepergian setelah fajar atau tidak, melainkan apakah perjalanan tersebut menyebabkan hilangnya kesempatan menunaikan kewajiban shalat Jum‘at.

 

Read More

Sunday, November 1, 2026

Kajian Edukatif Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna': Guru Ideal: Tulus Mendidik, Membimbing, dan Mengajar (Pertemuan ke-2)

November 01, 2026 0

 


Pertemuan ke-2

Guru Ideal: Tulus Mendidik, Membimbing, dan Mengajar

 

يَا بُنَيَّ، إِنْ كُنْتَ تَقْبَلُ نَصِيحَةَ نَاصِحٍ فَأَنَا أَحَقُّ مَنْ تَقْبَلُ نَصِيحَتَهُ. أَنَا أُسْتَاذُكَ وَمُعَلِّمُكَ وَمُرْشِدُ رُوحِكَ (وَمُرَبِّي رُوحِكَ)، لَا تَجِدُ أَحَدًا أَحْرَصَ عَلَى مَنْفَعَتِكَ وَصَلَاحِكَ مِنِّي.

Terjemah

Wahai anakku (muridku), jika engkau bersedia menerima nasihat dari seseorang, maka akulah orang yang paling berhak untuk engkau terima nasihatnya. Aku adalah gurumu, pengajarmu, sekaligus pembimbing jiwamu (pendidik batinmu). Engkau tidak akan menemukan seseorang yang lebih menginginkan kemanfaatan dan kebaikan dirimu daripada aku.

 

Kandungan Nasihat dan Relevansi Pendidikan

Nasihat ini mengajarkan bahwa hubungan guru dan murid tidak semestinya hanya dibangun di atas kewajiban mengajar dan belajar, tetapi juga ketulusan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap kebaikan murid.

1. Kedekatan emosional sebagai pintu pendidikan

Panggilan يَا بُنَيَّ (Wahai anakku) bukan sekadar sapaan, melainkan ungkapan kasih sayang dan kedekatan emosional. Secara kebahasaan, بُنَيَّ merupakan bentuk tashghir (diminutif) dari اِبْنٌ (anak). Dalam konteks ini, bentuk tersebut mengandung nuansa kelembutan dan kasih sayang, bukan mengecilkan secara fisik.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, kedekatan emosional membuat murid merasa diterima, dihargai, dan diperhatikan. Ketika anak merasa disayangi, ia cenderung lebih terbuka untuk menerima arahan, nasihat, bahkan teguran dari gurunya.

2. Nasihat sebagai wujud ketulusan dan kepedulian

Kata نَصِيحَةٌ (nasihat) tidak sekadar berarti memberikan saran. Di dalamnya terkandung ketulusan dan keinginan mendatangkan kebaikan bagi orang yang dinasihati (iradatul khair). Karena itu, guru menasihati bukan untuk menunjukkan kekuasaan atau sekadar menuntut kepatuhan, melainkan karena sungguh-sungguh menginginkan muridnya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Nasihat yang lahir dari ketulusan tentu berbeda dengan teguran yang hanya didorong oleh kemarahan.

3. Tanggung jawab guru tidak hanya mengajar

Syekh Muhammad Syakir menyebut tiga peran guru, yaitu أُسْتَاذُكَ، وَمُعَلِّمُكَ، وَمُرْشِدُ رُوحِكَ (gurumu, pengajarmu, dan pembimbing jiwamu). Dalam redaksi lain disebut وَمُرَبِّي رُوحِكَ (pendidik jiwamu).

Ketiganya menggambarkan dimensi tanggung jawab seorang pendidik: mengajar dan mengembangkan pengetahuan, membimbing pengamalan ilmu, serta menanamkan nilai dan membentuk akhlak. Dengan demikian, pendidikan tidak cukup hanya menyentuh kecerdasan, tetapi juga harus membina perilaku dan kepribadian.

Ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa tugas guru tidak berhenti pada penyampaian ilmu, tetapi juga mencakup pembimbingan amal dan pembentukan akhlak. Dengan kata lain, pendidikan harus menyentuh tiga ranah sekaligus: ilmu, amal, dan akhlak. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا.

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai seorang yang suka memberatkan ataupun gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Akan tetapi, Dia mengutusku sebagai seorang pengajar yang memberikan kemudahan.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa guru tidak sepatutnya membebani murid dengan tuntutan yang melampaui kemampuannya (mu‘annit), ataupun gemar mencari-cari kesalahan dan mempersulitnya (muta‘annit). Mendidik memang membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan harus disertai kebijaksanaan dan kasih sayang.

4. Keberhasilan guru bukan hanya pada ilmu, tetapi juga akhlak

Dalam perspektif pendidikan, terdapat perbedaan penekanan antara fungsi teacher (pengajar) dan educator (pendidik). Pengajar berfokus pada proses penyampaian ilmu dan pemahaman materi, sedangkan pendidik juga memperhatikan bagaimana ilmu tersebut membentuk sikap, perilaku, dan kepribadian murid.

Seorang pengajar mungkin bertanya, “Apakah kamu sudah memahami pelajaran?” Sementara itu, seorang pendidik juga akan bertanya, “Apakah ilmu yang kamu pelajari telah menjadikan dirimu lebih baik?”

Karena itu, keberhasilan guru tidak cukup diukur dari seberapa banyak materi yang telah disampaikan atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh murid, tetapi juga dari perubahan positif dalam perilaku dan akhlaknya.

5. Ketulusan menumbuhkan keterbukaan

Murid lebih mudah menerima teguran ketika ia percaya bahwa gurunya menginginkan kebaikan bagi dirinya. Sebaliknya, jika teguran dianggap sebagai kebencian atau penghinaan, murid bisa bersikap defensif: menolak, mencari pembenaran, menyembunyikan kesalahan, atau sekadar patuh tanpa kesadaran.

Oleh karena itu, ketegasan dalam mendidik perlu disertai kasih sayang dan penjelasan yang baik. Murid hendaknya memahami bahwa teguran bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab pendidikan.

 

Implementasi dalam Keluarga dan Sekolah

  • Dalam keluarga: Orang tua membangun komunikasi yang hangat, menasihati tanpa merendahkan, mengoreksi kesalahan dengan kasih sayang, serta memberikan teladan dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.
  • Di sekolah: Guru membangun kedekatan positif dengan murid, menyampaikan teguran secara bijaksana, tidak mempermalukan murid di hadapan teman-temannya, serta mengarahkan pembelajaran agar tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku.
  • Sinergi keluarga dan sekolah: Orang tua dan guru perlu menyatukan orientasi pendidikan. Keduanya bukan sekadar menuntut anak untuk patuh, tetapi membantu mereka memahami kebaikan di balik setiap nasihat dan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

 

Refleksi untuk Orang Tua dan Guru

1.     Sudahkah anak merasakan bahwa nasihat dan teguran kita lahir dari kasih sayang dan ketulusan?

2.     Ketika anak berbuat salah, apakah kita lebih mengutamakan kemarahan atau membimbingnya agar sadar dan mau memperbaiki diri?

3.     Apakah selama ini kita hanya mengajarkan ilmu, atau juga membimbing pengamalannya dan membentuk akhlaknya?

 

Anak mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi dia akan selalu ingat bagaimana kita memperlakukan. Karena itu, didiklah mereka dengan kasih sayang, sebab mereka lebih membutuhkan ketulusan daripada sekadar tuntutan.

 

*) Disampaikan dalam kajian edukatif kitab Washaya  al-Aba’ li al-Abna’  wali murid MI Ma’arif Pijenan pada Ahad Pahing, 27 September 2026.

 

Read More

Kajian Edukatif Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna': Nasihat Guru kepada Muridnya (Pertemuan ke-1)

November 01, 2026 0


Pertemuan Ke-1

مُقَدِّمَةٌ

Pendahuluan

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَبَعْدُ: فَهَذِهِ دُرُوسٌ أَوَّلِيَّةٌ فِي الْأَخْلَاقِ الْمَرْضِيَّةِ وَضَعْتُهَا لِطَلَبَةِ الْعُلُومِ الدِّينِيَّةِ، وَقَدْ ضَمَّنْتُهَا مِنَ الْأَخْلَاقِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ طَالِبُ الْعِلْمِ فِي بِدَايَةِ أَمْرِهِ، حَتَّى إِذَا وَفَّقَهُ اللَّهُ لِلتَّحَلِّي بِهَا كَانَ مَرْجُوًّا أَنْ يَنْفَعَهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ، وَأَنْ يَنْفَعَ بِهِ كَثِيرًا مِنْ خَلْقِهِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ الرَّشَادِ وَالْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ.

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, pemimpin para nabi dan rasul, serta kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba‘du

Ini adalah pelajaran-pelajaran dasar mengenai akhlak yang terpuji. Aku menyusunnya untuk para penuntut ilmu agama. Di dalamnya aku memuat berbagai akhlak yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu pada awal perjalanannya. Dengan demikian, apabila Allah memberikan taufik kepadanya untuk menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak tersebut, diharapkan Allah menjadikan ilmunya bermanfaat baginya dan menjadikan ilmu itu bermanfaat melalui dirinya bagi banyak makhluk-Nya. Allah adalah pemberi petunjuk menuju kebenaran dan pembimbing menuju jalan yang lurus.

 

الدَّرْسُ الْأَوَّلُ: نَصِيحَةُ الْأُسْتَاذِ لِتِلْمِيذِهِ

Nasihat Guru kepada Muridnya

 

يَا بُنَيَّ: أَرْشَدَكَ اللَّهُ وَوَفَّقَكَ لِصَالِحِ الْأَعْمَالِ، إِنَّكَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ الْوَلَدِ مِنْ أَبِيهِ، يَسُرُّنِي أَنْ أَرَاكَ صَحِيحَ الْبِنْيَةِ، قَوِيَّ الْإِدْرَاكِ، زَكِيَّ الْقَلْبِ، مُهَذَّبَ الْأَخْلَاقِ، مُحَافِظًا عَلَى الْآدَابِ، بَعِيدًا عَنِ الْفُحْشِ فِي الْقَوْلِ، لَطِيفَ الْمُعَاشَرَةِ، مَحْبُوبًا مِنْ إِخْوَانِكَ، تُوَاسِي الْفُقَرَاءَ وَتُشْفِقُ عَلَى الضُّعَفَاءِ، تَغْفِرُ الزَّلَّاتِ وَتَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ، وَلَا تُفَرِّطُ فِي صَلَاتِكَ، وَلَا تُهْمِلُ فِي عِبَادَةِ رَبِّكَ.

Terjemah

Wahai anakku, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan taufik kepadamu untuk melakukan amal-amal saleh. Sesungguhnya kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan seorang anak di sisi ayahnya. Aku senang melihatmu tumbuh dengan tubuh yang sehat, daya pemahaman yang kuat, hati yang bersih, dan akhlak yang terpuji. Aku berharap engkau senantiasa menjaga adab, menjauhi perkataan keji, santun dalam pergaulan, serta disenangi oleh teman-temanmu. Jadilah pribadi yang gemar membantu orang-orang fakir, menyayangi kaum lemah, dan lapang hati dalam memaafkan kesalahan orang lain. Jangan meremehkan shalat dan jangan pula melalaikan ibadah kepada Tuhanmu.

 

Kandungan Nasihat dan Relevansi Pendidikan

Ungkapan pembuka يَا بُنَيَّ    (Wahai anakku) mengandung pesan pedagogis yang mendalam. Sebelum menyampaikan nasihat dan instruksi, guru terlebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan murid. Pendidikan tidak cukup bertumpu pada otoritas guru, tetapi perlu dilandasi kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan terhadap peserta didik.

Gagasan ini memiliki titik temu dengan konsep pendidikan modern, seperti teacher-student relationship (hubungan positif guru dan murid) serta emotional safety (rasa aman secara emosional). Murid yang merasa diterima dan dihargai akan lebih mudah membangun kepercayaan serta mengembangkan potensinya.

Selain itu, rangkaian nasihat Syekh Muhammad Syakir memperlihatkan pandangan pendidikan yang holistik. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga mencakup kesehatan fisik, kebersihan hati, kematangan emosional, kemampuan sosial, kemuliaan akhlak, dan keteguhan spiritual. Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan anak yang pandai secara akademik, melainkan membentuk manusia yang berkembang secara utuh dan seimbang.

 

Implementasi dalam Keluarga dan Sekolah

  • Dalam keluarga: Orang tua membangun komunikasi yang hangat, memberikan keteladanan dalam beribadah dan berakhlak, mendampingi anak belajar, menjaga kesehatan mereka, serta membiasakan sikap peduli, berbagi, dan saling memaafkan.
  • Di sekolah: Guru membangun hubungan yang positif dengan murid, menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas, serta membiasakan adab, kedisiplinan, ibadah, dan kepedulian sosial.
  • Sinergi Antara Orang Tua dan Guru Orang tua dan guru perlu menjalin komunikasi serta menyelaraskan pola pendidikan agar nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di sekolah diperkuat di rumah, demikian pula sebaliknya.

 

Refleksi untuk Orang Tua dan Guru

Ada beberapa pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:

1.     Sudahkah kita membangun hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang dengan anak atau murid?

2.     Apakah kita lebih mengutamakan prestasi akademik daripada kesehatan, perkembangan emosi, dan pembentukan akhlak mereka?

3.     Sudahkah kita memberikan keteladanan dalam beribadah, berbicara santun, dan memperlakukan orang lain dengan baik?

 

Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa tinggi prestasi akademik anak, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan membentuk kepribadian, akhlak, dan perilakunya. Jangan sampai kita berhasil mendidik anak menjadi cerdas, tetapi lupa membimbingnya menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama.

 

*) Disampaikan dalam kajian rutin wali murid MI Ma’arif Pijenan pada Ahad Pahing, 2 Agustus 2026.

 


Read More

Sunday, October 25, 2026

Menolehkan Wajah Ketika Shalat, Haram?

October 25, 2026 0

 


وَيُكْرَهُ الِالْتِفَاتُ بِوَجْهِهِ اِلَّا لِحَاجَةٍ


"Makruh hukumnya menoleh atau memalingkan wajah (saat shalat), kecuali ada keperluan."


Maksud dari menoleh di sini adalah memalingkan wajah tanpa memutar dada atau memalingkannya dari arah kiblat. Menoleh dengan cara seperti ini hukumnya makruh. Akan tetapi, jika dadanya ikut berpaling dari arah kiblat maka batal shalatnya. Begitu pula batal shalatnya apabila menoleh dengan tujuan untuk bermain-main.

Rasulullah bersabda: «اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ»

“(Menoleh) itu merupakan sesuatu yang dicuri setan dari shalat seorang hamba.” (HR. al-Bukhari dari Sayyidah Aisyah)

Maksud dari “dicuri setan” adalah setan memanfaatkan kelengahan orang yang shalat untuk mengurangi kesempurnaan dan kekhusyukannya.

Hukum asal menoleh memang makruh, walaupun ada pula sebagian ulama yang berpendapat haram. Dalam madzhab Syafi'i, salah satunya adalah al-Imam al-Adzra'i. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, terkadang menoleh justru disunahkan, seperti menoleh kepada seseorang yang dikhawatirkan keselamatannya. Misalnya, seseorang sedang shalat lalu melihat anak kecil yang dikhawatirkan dalam keadaan bahaya.

Rasulullah juga pernah menolehkan wajah saat shalat ke arah celah pegunungan. Beliau melakukan itu karena ada hajat (keperluan), yaitu menjaga dan mewaspadai kemungkinan datangnya musuh.

Dari Sahal bin al-Hanzhaliyyah, dia meriwayatkan:


ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، يَعْنِي صَلَاةَ الصُّبْحِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي وَهُوَ يَلْتَفِتُ إِلَى الشِّعْبِ.

        

Artinya, “Seruan iqamah untuk shalat—yakni shalat Subuh—telah dikumandangkan. Rasulullah pun shalat sambil menoleh ke arah celah di antara pegunungan.” (HR. Abu Dawud no. 916).

Abu Dawud memberikan komentar terhadap hadits tersebut:


وَكَانَ أَرْسَلَ فَارِسًا إِلَى الشِّعْبِ مِنَ اللَّيْلِ يَحْرُسُ

“Beliau telah mengutus seorang penunggang kuda ke celah pegunungan itu sejak malam untuk berjaga.”

Rasulullah menoleh ke arah tersebut bukan tanpa hajat, melainkan karena ada hajat/keperluan menunnggu kabar dari penjaga yang ditugaskan mengawasi jalur pegunungan. Karena ada kemungkinan ancaman dari arah tersebut, beliau menoleh untuk memastikan keadaan.

 Adapun melirikkan mata tanpa memalingkan wajah, hukumnya tidak apa-apa; tidak makruh.


Referensi: al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhal al-Hadhromi (w. 918 H) beserta beberapa syarah-nya dan Mughnil Muhtaj karya Syekh Khatib asy-Syirbini .



Read More

Friday, October 23, 2026

Ternyata, Zaman Dahulu, Biji Gandum Seukuran Telur Burung Unta!

October 23, 2026 0


 

(فَائِدَةٌ) نَقَلَ الشَّرْقَاوِيُّ عَنِ الْأَجْهُورِيِّ أَنَّ الْحَبَّةَ مِنَ الْقَمْحِ حِينَ نَزَلَتْ مِنَ الْجَنَّةِ كَانَتْ قَدْرَ بَيْضَةِ النَّعَامَةِ، وَأَلْيَنَ مِنَ الزُّبْدِ بِضَمِّ الزَّايِ وَسُكُونِ الْيَاءِ، وَهُوَ مَا يُسْتَخْرَجُ بِوَضْعِ الْمَاءِ وَالتَّحْرِيكِ مِنْ لَبَنِ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ، وَأَطْيَبَ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ.

ثُمَّ صَغُرَتْ فِي زَمَانِ فِرْعَوْنَ، فَصَارَتِ الْحَبَّةُ قَدْرَ بَيْضَةِ الدَّجَاجَةِ، ثُمَّ صَغُرَتْ حِينَ قُتِلَ يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا، فَصَارَتْ قَدْرَ بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ، ثُمَّ صَغُرَتْ فَصَارَتْ قَدْرَ الْبُنْدُقَةِ، ثُمَّ قَدْرَ الْحِمَّصَةِ، ثُمَّ صَارَتْ إِلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ الْآنَ.

فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ لَا تَصْغُرَ عَنْهُ.

(Keterangan Tambahan) Imam al-Syarqawi menukil dari al-Ajhuri bahwa biji gandum, ketika diturunkan dari surga, ukurannya sebesar telur burung unta, lebih lembut daripada zubd (mentega yang diperoleh dari susu sapi atau kambing melalui proses pengolahan dengan air dan pengadukan/churning), serta lebih harum aromanya daripada minyak kasturi.

Kemudian, pada zaman Fir‘aun, biji gandum itu mengecil sehingga ukurannya menjadi sebesar telur ayam. Setelah itu, biji gandum tersebut kembali mengecil ketika Nabi Yahya bin Zakariya dibunuh, sehingga ukurannya menjadi sebesar telur burung merpati.

Selanjutnya, ukurannya kembali mengecil menjadi sebesar kacang hazelnut, kemudian sebesar kacang arab (chickpea), hingga akhirnya menjadi seperti ukurannya yang kita kenal sekarang.

Kita memohon kepada Allah Ta‘ala agar biji gandum tidak mengecil lagi dari ukuran yang ada sekarang.

 

قَالَ الْقَلْيُوبِيُّ فِي شَرْحِ الْمِعْرَاجِ: فَائِدَةٌ نَادِرَةٌ: كَانَ وَزْنُ حَبَّةِ الْحِنْطَةِ فِي الْجَنَّةِ مِائَتَيْ أَلْفِ دِرْهَمٍ وَثَمَانِمِائَةِ دِرْهَمٍ.

Al-Qalyubi berkata dalam Syarh al-Mi‘rāj, “Ada informasi langka, bahwa berat sebutir gandum di surga dahulu adalah 200.800 dirham.”

***

 

وَأَوَّلُ صَنْعَةٍ عُمِلَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ الْحَرْثُ، وَأَوَّلُ مَنْ حَرَثَ آدَمُ. ثُمَّ أَدْرَكَهُ التَّعَبُ فِي آخِرِ النَّهَارِ، فَقَالَ لِحَوَّاءَ: ازْرَعِي مَا قَدْ بَقِيَ، فَصَارَ زَرْعُهَا شَعِيرًا، فَتَعَجَّبَ مِنْ ذَلِكَ، فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهِ: لَمَّا أَطَاعَتِ الْعَدُوَّ وَالْمُشِيرَ، وَهُوَ الشَّيْطَانُ، بُدِّلَ لَهَا الْقَمْحُ بِالشَّعِيرِ . وَقِيلَ: لَمَّا أُهْبِطَ آدَمُ فِي الْهِنْدِ، اشْتَدَّ بِهِ الْجُوعُ، فَجَاءَهُ جِبْرِيلُ بِثَوْرَيْنِ أَحْمَرَيْنِ وَثَلَاثِ حَبَّاتٍ مِنَ الْحِنْطَةِ، وَقَالَ لَهُ: لَكَ حَبَّتَانِ، وَلِحَوَّاءَ حَبَّةٌ وَاحِدَةٌ، فَصَارَ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ. كُلُّ حَبَّةٍ وَزْنُهَا مِائَةُ أَلْفِ دِرْهَمٍ وَثَمَانِمِائَةُ دِرْهَمٍ، فَزَرَعَ وَحَصَدَ وَطَحَنَ وَخَبَزَ فِي أَرْبَعِ سَاعَاتٍ.

Pekerjaan pertama yang dilakukan di muka bumi adalah membajak tanah/bercocok tanam. Orang pertama yang membajak tanah/bercocok tanam adalah Nabi Adam. Pada penghujung hari (sore), beliau merasa lelah. Beliau pun berkata kepada Hawa, “Bercocok tanamlah! Selesaikan sisanya yang masih ada.”

Tanaman Hawa tumbuh dan menghasilkan gandum sya’ir (jelai/barley), (padahal biasanya tumbuh gandum qamhu). Nabi Adam merasa heran dengan hal itu. Lalu Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya, “Karena Hawa telah mengikuti bujukan setan, yang merupakan musuh sekaligus pembisik, maka gandum pun diganti dengan jelai.”

Ada pula yang mengatakan bahwa ketika Nabi Adam diturunkan di India, beliau mengalami kondisi sangat kelaparan. Kemudian Malaikat Jibril datang kepadanya dengan membawa dua ekor sapi jantan berwarna merah dan tiga butir gandum. Jibril berkata kepadanya, “Dua butir untukmu dan satu butir untuk Hawa.” Karena itulah, bagian (waris) laki-laki menjadi dua kali lipat bagian perempuan.

Berat setiap butir gandum kala itu adalah 100.800 Dirham. Lalu Nabi Adam menanamnya, memanennya, menggilingnya, dan membuat roti dalam waktu empat jam.

***

Kisah ini dikutip dari kitab Kāsyifatus Sajā karya Syekh Nawawi al-Bantani di Bab Zakat. Ada perbedaan riwayat tentang berat gandum dalam catatan di atas. Pertama, disebutkan bahwa berat gandum saat itu adalah 100.800 Dirham. Kedua, al-Qalyūbī dalam Syarḥ al-Mi‘rāj menyebut 200.800 Dirham.[]



Read More