Intisari Ngaji Posonan Kitab al-Kasyfu wat Tabyin halaman
8-9.
A. Salah Menempatkan Roja’.
1. Dalam agama, roja’ (mengharapkan ampunan dan
rahmat Allah) adalah sifat yang terpuji. Akan tetapi, ketika seseorang hanya mengandalkan
roja’ tanpa pernah mau beramal, berarti mereka telah tertipu.
2. Di manakah posisi roja’ yang semestinya? Posisi roja’
yang semestinya adalah setelah melakukan amal keshalihan. Roja’ tanpa
didahului amal adalah ketertipuan, karena fungsi utama dari roja’ adalah
untuk meredam ketakutan (khauf) yang berlebihan dan keputus-asaan. Takut
akan siksa Allah dan putus asa dari rahmat Allah.
3. Mengaku bertawakal kepada Allah, tetapi tidak pernah mau
berusaha, itu juga bentuk ketertipuan.
B. Mengandalkan Kemuliaan dan Keshalihan Orang Tua
1. “Ketika seseorang dicintai, pastilah keturunannya pun
akan dicintai,” merupakan kaidah keliru dari orang mukmin yang bermaksiat. Berpijak
pada kaidah tersebut, mereka menyatakan, “Allah mencintai dan memuliakan orang
tuaku, pastilah Allah juga mencintaiku dan memuliakanku. Dengan begitu, aku
tidak perlu lagi taat kepada-Nya.”
2. Mereka tidak sadar bahwa orang tua mereka mendapatkan kedudukan
mulia sehingga dicintai Allah adalah karena amal dan rasa takutnya (khauf)
kepada Allah.
3. Setelah orang tua kita makan, beliau merasakan kenyang. Setelah
minum, beliau pun merasakan segar. Apakah dengan begitu, rasa kenyang dan segar
beliau membuat perut kita otomatis juga kenyang dan segar? Tentu tidak! Untuk bisa
kenyang, kita pun harus makan. Untuk bisa merasakan segar, kita pun harus
minum. Begitu juga mereka yang mengandalkan kemuliaan dan keshalihan orang tua,
mereka tidak akan menjadi mulia dan shalih jika tidak mengusahakannya sendiri.
4. Ketakwaan anak tidak bisa diukur dari ketakwaan orang
tuanya. Tidakkah kita belajar dari kisah Kan’an, putra Nabi Nuh?
C. Merasa Amal Baiknya Lebih Banyak
1. Termasuk mukmin yang tertipu adalah orang yang merasa
amal baiknya lebih banyak daripada amal buruknya; ketaatannya lebih banyak daripada
kemaksiatannya. Padahal, aslinya, justru keburukannya lebih banyak dari
kebaikannya; kemaksiatannya lebih banyak daripada ketaatannya.
2. Termasuk kategori ini adalah orang yang gemar bersedekah,
tetapi dia tidak peduli apakah hartanya itu halal atau haram. Bahkan, bisa jadi
hartanya yang didapat dari mengambil hak orang lain dan harta syubhat, jumlahnya
jauh lebih banyak (berlipat) daripada yang halal.[]
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)


.jpg)




