Buku setebal 103
halaman ini berjudul Ḥubb
an-Nabī ﷺ
wa ‘Alāmātuhu, yang berarti “Cinta kepada Nabi dan Tanda-Tandanya”. Penulisnya
adalah Dr. Faḍl Ilāhī Ẓahīr, seorang akademisi muslim asal Pakistan. Lahir
pada 1947 M di Sialkot, Pakistan. Sekira 19 tahun ia berkiprah sebagai dosen di
Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh, kemudian kembali
ke Pakistan dan mengajar di International Islamic University Islamabad.
Gagasan pokok
dari buku ini adalah kewajiban mencintai Nabi dan membuktikannya melalui perbuatan
nyata. Bukan sekadar luapasan emosi cinta. Buku ini dibuka dengan suatu prinsip
bahwa Rasulullah harus lebih dicintai daripada apa pun di alam raya ini. Bahkan,
melebihi kecintaan kepada diri sendiri.
Struktur buku
ini dibagi dalam tiga bagian utama: (1) Wajib Mencintai Nabi, (2) Buah dari
Mencintai Nabi, dan (3) Bukti atau Tanda Cinta kepada Nabi.
Bagian
Pertama: Kewajiban Mencintai Nabi
Ada banyak dalil
yang menegaskan bahwa kita wajib mencintai Nabi melebihi cinta kita kepada diri
sendiri, orang tua, anak, keluarga, harta, dan semua manusia. Di antaranya, diceritakan
dari Abdullah ibn Hisyam, suatu ketika Nabi memegang tangan Umar ibn Khattab.
Kemudian Umar berkata kepada Nabi, “Ya Rasulallah, saya mencintaimu melebihi
apa pun, kecuali diri saya sendiri.” Nabi pun menanggapi, “Demi Allah, Belum. Hingga
engkau mencintai aku melebihi dirimu sendiri.” Umar menjawab, “Demi Allah,
sekarang saya mencintaimu melebihi diri saya sendiri.” Nabi berkata kepadanya,
“Umar, sekarang (telah sempurna imanmu).”
Dalam hadits yang
lain disebutkan:
لَا
يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِن وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
“Tidaklah seseorang di antara
kalian beriman (dengan iman yang sempurna) hingga aku lebih ia cintai
daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari)
لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ
حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah seorang hamba beriman (dengan iman yang
sempurna) hingga aku lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya, dan
seluruh manusia.” (HR. Muslim)
Di bagian ini dikemukakan pula ancaman bagi orang yang kecintaannya
kepada makhluk melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala
berfirman:
قُلْ اِنْ كَانَ
اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ
وَاَمْوَالُ ࣙاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ
تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ
اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ
اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَࣖ
٢٤
Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu,
pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan
perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu
sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di
jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak
memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
(Q.S.
at-Taubah: 24)
Bagian
Kedua: Buah dari Mencintai Nabi
1.
Merasakan manisnya iman.
Sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam:
ثَلَاثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ
إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga perkara; barangsiapa
memiliki ketiganya, ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, hendaknya
Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain keduanya. Kedua,
hendaknya ia mencintai seseorang, dan ia tidak mencintainya kecuali karena
Allah. Ketiga, hendaknya ia membenci untuk kembali kepada kekufuran
sebagaimana ia membenci jika dilemparkan ke dalam api.” (HR. al-Bukhari dan
Muslim)
2.
Bersama Nabi di Surga
Diceritakan ada
seorang laki-laki dari Arab pedalaman datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kapankah Kiamat akan terjadi?”
Beliau ﷺ bersabda, “Celaka engkau! Apa yang telah engkau persiapkan untuk
menghadapinya?” Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak mempersiapkan
apa pun untuk menghadapinya, kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau
ﷺ bersabda, “Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”
Maka kami (para sahabat) bertanya, “Apakah kami juga demikian?”
Beliau menjawab, “Ya.” Para sahabat sangat bergembira mendengarnya.
Mendengar sabda
tersebut, Anas bin Malik berkata:
فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ
أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ
أَعْمَالِهِمْ.
“Kami tidak
pernah bergembira karena sesuatu sebagaimana kegembiraan kami ketika mendengar
sabda Nabi ﷺ: ‘Engkau akan
bersama orang yang engkau cintai.’ Maka aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap dapat
bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku tidak memiliki
amal seperti amal mereka.”
Bagian Ketiga: Tanda
Cinta kepada Nabi
Ada banyak tanda cinta seseorang kepada Nabi, empat di antaranya disebutkan dalam buku ini, yaitu:
- Sangat rindu untuk melihat dan membersamai Nabi (الحرص على رؤيته وصحبته ).
Cinta sejati melahirkan
kerinduan untuk bertemu dan menyertai. Kerinduan orang-orang Anshar, salah satu
buktinya. Ketika mendengar Rasulullah sedang berhijrah menuju Madinah, orang-orang
Anshar rela menunggu kedatangan beliau setiap hari. Mereka keluar menuju daerah
al-Ḥarrah dan menanti sampai
panas matahari sangat menyengat. Mereka pulang setelah penantian yang panjang,
kemudian kembali lagi pada hari berikutnya. Ketika akhirnya Rasulullah ﷺ benar-benar datang, meluaplah kegembiraan mereka yang luar
biasa.
- Kesiapan penuh untuk mengorbankan jiwa dan harta demi
membela beliau ( اسْتِعْدَادٌ تَامٌّ لِبَذْلِ النَّفْسِ
وَالْمَالِ دُونَهُ ).
Salah satu contoh pengorbanan sahabat yang dicatat dalam buku ini adalah kisah Thalhah bin Ubaidillah. Pada Perang Uhud, ketika keadaan sangat genting dan musuh mengepung Rasulullah, Thalhah maju melindungi beliau. Ia menggunakan tubuhnya sebagai pelindung Rasulullah, sampai-sampai jari tangan Thalhah terkena tebasan pedang dan banyak luka pada tubuhnya. Setiap kali Abu Bakrar ash-Shiddiq mengingat peristiwa Perang Uhud, ia menangis dan mengatakan, ذَاكَ كُلُّهُ يَوْمَ طَلْحَةَ “Semua itu terjadi pada hari Thalhah."
- Melaksanakan perintah-perintah Nabi dan menjauhi
larangan-larangannya ( امتثال أوامره واجتناب نواهيه ).
Ketika
Rasulullah ﷺ mengumumkan diharamkannya khamr, para sahabat yang saat
itu sedang memegang atau meminum khamr langsung menumpahkan khamr mereka.
Tanpa perlu banyak tanya, apalagi memprotesnya. Kisah ini menjadi bukti bahwa
kecintaan kepada Rasulullah ﷺ
melahirkan ketundukan dan kepatuhan yang spontan, bukan perdebatan panjang.
- Membela sunnah beliau dan mempertahankan syariat ( نَصْرُ سُنَّتِهِ وَالذَّبُّ عَنِ الشَّرِيعَةِ ).
Setelah
Rasulullah wafat, sebagian kelompok ada yang memisahkan antara shalat dan
zakat. Mereka mengatakan bahwa mereka masih akan shalat, tetapi tidak mau membayar
zakat. Abu Bakar menolak pemisahan tersebut dengan sangat tegas dan memerangi
orang-orang yang menolak membayar zakat.[]
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)







