Ada banyak manfaat yang dapat kita
petik dari membaca sirah (sejarah, kisah, biografi, perilaku) Rasulillah,
di antaranya adalah semakin memperkuat mahabbah (cinta) kepada beliau dan
meneladani kebaikan-kebaikan beliau yang paripurna.
Kali ini kita akan mengkaji kitab Irsyadul
Mu’minin halaman 27-28) karya KH. Muhammad Ishomuddin Hadziq (wafat 26 Juli
2003), cucu Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dari putri beliau
Chodijah Hasyim + Muhammad Hadziq Mahbub.
وَأَمَّا الْقَوْلُ الْحَسَنُ، فَهُوَ
الدَّعْوَةُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ
الْمُنْكَرِ بِاللُّطْفِ وَاللِّينِ، وَدَفْعُ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ،
وَمُعَاشَرَةُ النَّاسِ بِوَجْهٍ طَلْقٍ وَكَلَامٍ حَسَنٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا
إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾
وَقَالَ تَعَالَى:﴿وَقُولُوا
لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾.
Adapun perkataan yang baik (al-qawl
al-ḥasan) adalah mengajak
manusia kepada Allah Ta‘ala, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari
kemungkaran dengan kelembutan dan sikap lunak, membalas keburukan dengan
kebaikan, serta bergaul dengan manusia dengan wajah yang ramah dan perkataan
yang baik.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan
siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang muslim.’” (QS. Fuṣṣilat: 33)
Allah Ta‘ala juga berfirman: “Dan
ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 83)
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ قَوْلًا، وَأَحْلَاهُمْ مَنْطِقًا، يَجْذِبُ
الْقُلُوبَ وَالْعُقُولَ بِفَصَاحَتِهِ وَبَيَانِهِ وَصِدْقِهِ، وَمِنْ حُسْنِ
الْقَوْلِ الْإِيجَازُ فِيهِ، وَمُخَاطَبَةُ النَّاسِ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ،
مَعَ مُرَاعَاةِ الْمَقَامِ. وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِنَ
الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الَّذِي دَعَا إِلَى اللهِ
بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، وَجَادَلَ النَّاسَ بِالَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ، وَرَدَّ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ، حَتَّى خَضَعَتْ لَهُ النُّفُوسُ،
وَانْقَادَتْ لَهُ الْقُلُوبُ، وَاسْتَرْشَدَتْ بِالْحَقِّ، وَاتَّبَعَتِ الْهُدَى
فِي أَقْرَبِ وَقْتٍ.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling
baik perkataannya dan paling manis tutur katanya. Beliau mampu menarik hati dan
pikiran manusia dengan kefasihan, penjelasan yang terang, dan kejujuran beliau.
Di antara bentuk perkataan yang baik
adalah berbicara secara ringkas dan tidak bertele-tele, berbicara kepada
manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka, serta memperhatikan situasi
dan kondisi ketika berbicara.
Siapakah yang lebih baik perkataannya
daripada Rasulullah ﷺ, yang menyeru kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik,
berdialog dengan manusia dengan cara yang paling baik, serta membalas keburukan
dengan kebaikan?
Dengan cara itulah, hingga jiwa-jiwa
tunduk kepadanya, hati-hati mengikuti ajakannya, memperoleh petunjuk melalui
kebenaran, dan mengikuti jalan hidayah dalam waktu yang relatif singkat.
عَاشَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَلَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ فَاحِشَةٌ قَطُّ، أَوْ كَلِمَةٌ جَافَّةٌ عَلَى
خَادِمٍ، فَضْلًا أَنْ تَرْتَفِعَ يَدُهُ بِالضَّرْبِ. وَقَدْ قَالَ فِيمَا
رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ
الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. وَسَلَامَةُ اللِّسَانِ تَكُونُ بِتَرْكِ
الْكَذِبِ، وَالْغِيبَةِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالسُّخْرِيَةِ بِالنَّاسِ،
وَالْكَلَامِ الْفَاحِشِ، وَالسِّبَابِ الَّذِي يَجْرَحُ الْقُلُوبَ، كُلُّ ذَلِكَ
قَدْ نَهَى عَنْهُ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
Nabi ﷺ menjalani kehidupan beliau
tanpa pernah terdengar dari beliau perkataan keji sedikit pun, ataupun
perkataan kasar kepada seorang pelayan; terlebih lagi sampai tangan beliau
terangkat untuk memukul.
Beliau ﷺ juga bersabda, sebagaimana
diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu
‘anhu, bahwa beliau bersabda pada Haji Wada‘: “Seorang Muslim adalah orang yang
kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
Menjaga keselamatan lisan dilakukan
dengan meninggalkan kebohongan, ghibah, namimah (adu domba), mengejek orang
lain, perkataan keji, dan cacian yang melukai hati. Semua itu telah dilarang
oleh Nabi kita ﷺ.
لَا يُوجَدُ دِينٌ وَلَا نَبِيٌّ عَظَّمَ
جَرِيمَةَ الْكَذِبِ مِثْلَ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ،
فَإِنَّهُ مَنَعَ الْكَذِبَ حَتَّى فِي الْهَزْلِ. أَخْرَجَ أَحْمَدُ وَأَبُو
دَاوُدَ وَالْحَاكِمُ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ حَيْدَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ
لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ. فَظَهَرَ مِنْ ذَلِكَ
أَنَّهُ لَمْ يُرَخِّصِ الْكَذِبَ؛ لِأَنَّ الْكَذِبَ يَدْعُو إِلَى الْفُجُورِ.
Tidak ada agama dan tidak ada seorang
nabi yang memberikan perhatian dan peringatan begitu besar terhadap kejahatan
dusta sebagaimana Nabi kita ﷺ. Beliau melarang kebohongan, bahkan dalam bercanda sekalipun.
Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim
meriwayatkan dari Mu‘awiyah bin Haydah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah orang
yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa karenanya.
Celakalah dia, celakalah dia.”
Dari sini tampak bahwa beliau tidak
memberikan kelonggaran terhadap kebohongan, karena kebohongan akan mengantarkan
kepada kefajiran (perbuatan dosa dan penyimpangan).[]
Catatan Tambahandari Penulis Blog
Tafsir QS. Fuṣṣilat [41]: 33 dan QS. al-Baqarah [2]: 83
Mari kita telaah tafsir QS. Fuṣṣilat
[41]: 33 dan QS. al-Baqarah [2]: 83 dengan berbasis pada kitab-kitab tafsir. Kali
ini kita mencukupkan diri pada tiga kitab tafsir saja: (1) Ḥāsyiyah al-Ṣāwī ‘alā Tafsīr
al-Jalālayn (Aḥmad as-Ṣāwī al-Mālikī), (2) Marāḥ Labīd li Kasyfi Ma‘nā al-Qur’ān
al-Majīd (Syekh Muḥammad Nawawī al-Jāwī al-Bantanī), dan
(3) Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Ibn Katsīr).
Menafsirkan QS. Fuṣṣilat [41]: 33, as-Ṣāwī
menjelaskan:
قَوْلُهُ (وَعَمِلَ صَالِحًا) أَيْ:
امْتَثَلَ أَمْرَ رَبِّهِ، وَاجْتَنَبَ نَوَاهِيَهُ، وَحَيْثُ كَانَ دَاعِيًا
إِلَى اللهِ، مَعَ اتِّصَافِهِ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ، كَانَ قَوْلُهُ
مَقْبُولًا، وَيُؤَثِّرُ فِي الْقُلُوبِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ بِخِلَافِ ذَلِكَ،
فَلَا يَكُونُ قَوْلُهُ مَقْبُولًا، وَلَا يُؤَثِّرُ فِي الْقُلُوبِ، وَلَا
تَنْبَغِي صُحْبَتُهُ.
Intinya: orang yang mengajak kepada Allah sekaligus menghiasi dirinya dengan amal saleh, perkataannya menjadi lebih dapat diterima dan lebih berpengaruh pada hati. Sebaliknya, orang yang menyuruh orang lain tetapi dirinya sendiri tidak mengamalkannya, perkataannya tidak akan diterima dan kehilangan pengaruh.
Seorang ahli makrifat (mungkin Ibnu
Atha’illah as-Sakandari) berkata:
لا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ
حالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ.
“Janganlah bersahabat dengan orang
yang keadaannya tidak membuatmu bangkit (menuju kebaikan), dan perkataannya
tidak menunjukkanmu kepada Allah.”
Sementara itu, Syekh Nawawī
al-Bantanī dalam Marāḥ Labīd memberikan penjelasan bahwa dakwah itu bukan hanya mengatakan
sesuatu yang benar, tetapi juga menghidupkan kebenaran itu pada diri sendiri. Ia
mengajak orang lain kepada kebaikan, dan dirinya sendiri pun mengerjakannya.
Lebih lanjut Syekh Nawawī
al-Bantanī menyebutkan empat tingkatan orang-orang
yang mengajak (berdakwah) kepada jalan Allah:
1. Dakwah para nabi
Dakwah para nabi dilakukan dengan mukjizat,
hujah-hujah, dan pedang.
2. Dakwah para ulama
Para ulama menyeru
manusia kepada Allah Ta‘ala dengan dalil-dalil dan argumentasi yang kuat.
Mereka adalah pewaris/wakil para nabi dalam bidang ilmu. Adapun para
raja/penguasa, mereka adalah wakil para nabi dalam bidang kekuasaan.
3. Dakwah para mujahidin
Para mujahidin menyeru kepada Allah
Ta‘ala dengan pedang.
4. Dakwah para muadzin
Para muadzin menyeru manusia agar
taat kepada Allah Ta’ala dengan menunaikan shalat.
Adapun Ibnu Katsir menyampaikan dalam
tafsirnya bahwa ayat ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang menyeru
kepada kebaikan dan dirinya sendiri berada dalam petunjuk. Rasulullah adalah
orang yang paling utama dalam hal tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad
bin Sirin, as-Suddi, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.
Ibnu Katsir juga menyebut pendapat
sebagian ulama bahwa ayat ini secara khusus berkaitan dengan para muadzin. Ketika
muadzin mengucapkan: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ “Marilah menunaikan shalat,” maka pada
hakikatnya ia sedang menyeru manusia kepada Allah dan kepada ketaatan
kepada-Nya. Karena itu, sebagian salaf seperti Ibnu Umar, Ikrimah, dan ‘Aisyah رضي الله
عنهم mengaitkan ayat ini dengan para muadzin.
Bahkan, secara khusus, Rasulullah memohonkan ampunan untuk para muadzin:
(اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤَذِّنِينَ) ثَلَاثًا
“Ya Allah, ampunilah para muadzin.” Beliau mengucapkannya sebanyak
tiga kali.
Adapun terhadap QS. al-Baqarah: 83,
as-Ṣāwī memberi penafsiran singkat dan paddat, bahwa berucap yang baik tidak
hanya ditujukan kepada sesama umat Islam, tetapi kepada semua manusia secara
umum. Beliau mengaitkannya dengan hadis:
وَخَالِقِ
النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bergaullah dengan manusia dengan
akhlak yang baik.”
Sementara Syekh Nawawī al-Bantanī dalam
Tafsir Marāḥ Labīd memberikan penjelasan bahwa perkataan yang baik adalah perkataan yang
memberikan manfaat kepada orang lain. Dalam pandangan beliau, al-qawl al-ḥasan tidak hanya dinilai dari bentuk
katanya, tetapi juga dari manfaatnya.
Sedangkan Tafsir Ibnu Katsīr
secara eksplisit memasukkan amar ma‘ruf dan nahi munkar dengan cara yang
baik merupakan bagian dari al-qawl al-ḥasan.
Ya, dalam Islam terdapat beberapa
keadaan khusus ketika perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan diberi
rukhsah (keringanan) demi tujuan yang dibenarkan syariat. Namun, hal ini bukan
berarti kebohongan menjadi sesuatu yang bebas dilakukan.
Hadis yang sedang kita kaji dalam
Irsyādul Mu’minīn perlu dipahami bersama hadis-hadis lain tentang dusta. Para
ulama membahas persoalan ini dengan membedakan antara hukum asal berbohong,
kebohongan untuk tujuan tercela, dan perkataan yang diberi keringanan karena
maslahat yang dibenarkan.
Ada Bohong yang Dibolehkan
Hukum asal berbohong adalah haram.
Rasulullah bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ،
وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى
الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ.
“Sesungguhnya kejujuran menuntun
kepada kebajikan, dan kebajikan menuntun ke surga. Sesungguhnya dusta menuntun
kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun ke neraka.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6094; Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2607)
Akan tetapi, dalil tentang larangan
dusta ini perlu dibaca bersama dalil-dalil lain yang memberikan pengecualian
dalam keadaan tertentu. Di antaranya, hadits Nabi:
لَا يَحِلُّ
الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا،
وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ، وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ.
“Tidak diperbolehkan berbohong,
kecuali dalam tiga perkara: (1) perkataan suami kepada istrinya untuk
menyenangkannya atau menjaga keharmonisan, (2) kebohongan dalam peperangan, dan
(3) kebohongan untuk mendamaikan manusia.” (Jāmi‘ at-Tirmiżī, no. 1939; Sunan
Abī Dāwūd, no. 4921)
Sebagian ulama memahami hadis
tersebut sebagai keringanan dalam kebohongan secara literal pada batas-batas
tertentu. Ulama lain menekankan agar seseorang menghindari kebohongan secara
literal dan lebih memilih menggunakan tauriyah (التَّوْرِيَة), yaitu ungkapan yang memiliki
makna lebih dari satu: pembicara bermaksud makna yang benar, sementara
pendengar mungkin memahami makna lainnya.
Dalam hal ini, kita bisa merumuskan
prinsip kehati-hatian agar tidak terjebak dalam kebohongan:
- Jika
tujuan yang baik dapat dicapai dengan perkataan yang jujur, gunakanlah
kejujuran.
- Jika
terdapat keringanan yang dilegalkan oleh syariat, batasi penggunaannya
sesuai kebutuhan dan tujuan yang dibenarkan.
- Jika
berkata benar akan mengakibatkan kezaliman serius, seperti membocorkan
tempat persembunyian orang yang hendak dibunuh secara zalim, persoalannya
tidak lagi sekadar etika berbicara, tetapi juga kewajiban melindungi jiwa.
- Jangan
menjadikan pengecualian sebagai kebiasaan untuk membenarkan dusta dalam
urusan sehari-hari.[]
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)


.png)