Santri Nurbin

Hot

Post Top Ad

LightBlog

Saturday, October 3, 2026

Berkatalah yang Baik dan Jangan Bohong!

October 03, 2026 0

 

Ada banyak manfaat yang dapat kita petik dari membaca sirah (sejarah, kisah, biografi, perilaku) Rasulillah, di antaranya adalah semakin memperkuat mahabbah (cinta) kepada beliau dan meneladani kebaikan-kebaikan beliau yang paripurna.

Kali ini kita akan mengkaji kitab Irsyadul Mu’minin halaman 27-28) karya KH. Muhammad Ishomuddin Hadziq (wafat 26 Juli 2003), cucu Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dari putri beliau Chodijah Hasyim + Muhammad Hadziq Mahbub.

وَأَمَّا الْقَوْلُ الْحَسَنُ، فَهُوَ الدَّعْوَةُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ بِاللُّطْفِ وَاللِّينِ، وَدَفْعُ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ، وَمُعَاشَرَةُ النَّاسِ بِوَجْهٍ طَلْقٍ وَكَلَامٍ حَسَنٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾

وَقَالَ تَعَالَى:﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾.

Adapun perkataan yang baik (al-qawl al-ḥasan) adalah mengajak manusia kepada Allah Ta‘ala, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dengan kelembutan dan sikap lunak, membalas keburukan dengan kebaikan, serta bergaul dengan manusia dengan wajah yang ramah dan perkataan yang baik.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.’” (QS. Fuṣṣilat: 33)

Allah Ta‘ala juga berfirman: “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 83)

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ قَوْلًا، وَأَحْلَاهُمْ مَنْطِقًا، يَجْذِبُ الْقُلُوبَ وَالْعُقُولَ بِفَصَاحَتِهِ وَبَيَانِهِ وَصِدْقِهِ، وَمِنْ حُسْنِ الْقَوْلِ الْإِيجَازُ فِيهِ، وَمُخَاطَبَةُ النَّاسِ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ، مَعَ مُرَاعَاةِ الْمَقَامِ. وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِنَ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الَّذِي دَعَا إِلَى اللهِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، وَجَادَلَ النَّاسَ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ، وَرَدَّ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ، حَتَّى خَضَعَتْ لَهُ النُّفُوسُ، وَانْقَادَتْ لَهُ الْقُلُوبُ، وَاسْتَرْشَدَتْ بِالْحَقِّ، وَاتَّبَعَتِ الْهُدَى فِي أَقْرَبِ وَقْتٍ.

 

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik perkataannya dan paling manis tutur katanya. Beliau mampu menarik hati dan pikiran manusia dengan kefasihan, penjelasan yang terang, dan kejujuran beliau.

Di antara bentuk perkataan yang baik adalah berbicara secara ringkas dan tidak bertele-tele, berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka, serta memperhatikan situasi dan kondisi ketika berbicara.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada Rasulullah ﷺ, yang menyeru kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, berdialog dengan manusia dengan cara yang paling baik, serta membalas keburukan dengan kebaikan?

Dengan cara itulah, hingga jiwa-jiwa tunduk kepadanya, hati-hati mengikuti ajakannya, memperoleh petunjuk melalui kebenaran, dan mengikuti jalan hidayah dalam waktu yang relatif singkat.

 

عَاشَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ فَاحِشَةٌ قَطُّ، أَوْ كَلِمَةٌ جَافَّةٌ عَلَى خَادِمٍ، فَضْلًا أَنْ تَرْتَفِعَ يَدُهُ بِالضَّرْبِ. وَقَدْ قَالَ فِيمَا رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. وَسَلَامَةُ اللِّسَانِ تَكُونُ بِتَرْكِ الْكَذِبِ، وَالْغِيبَةِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالسُّخْرِيَةِ بِالنَّاسِ، وَالْكَلَامِ الْفَاحِشِ، وَالسِّبَابِ الَّذِي يَجْرَحُ الْقُلُوبَ، كُلُّ ذَلِكَ قَدْ نَهَى عَنْهُ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

 

Nabi ﷺ menjalani kehidupan beliau tanpa pernah terdengar dari beliau perkataan keji sedikit pun, ataupun perkataan kasar kepada seorang pelayan; terlebih lagi sampai tangan beliau terangkat untuk memukul.

Beliau ﷺ juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bersabda pada Haji Wada‘: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Menjaga keselamatan lisan dilakukan dengan meninggalkan kebohongan, ghibah, namimah (adu domba), mengejek orang lain, perkataan keji, dan cacian yang melukai hati. Semua itu telah dilarang oleh Nabi kita ﷺ.

 

لَا يُوجَدُ دِينٌ وَلَا نَبِيٌّ عَظَّمَ جَرِيمَةَ الْكَذِبِ مِثْلَ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، فَإِنَّهُ مَنَعَ الْكَذِبَ حَتَّى فِي الْهَزْلِ. أَخْرَجَ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالْحَاكِمُ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ حَيْدَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ. فَظَهَرَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ لَمْ يُرَخِّصِ الْكَذِبَ؛ لِأَنَّ الْكَذِبَ يَدْعُو إِلَى الْفُجُورِ.

Tidak ada agama dan tidak ada seorang nabi yang memberikan perhatian dan peringatan begitu besar terhadap kejahatan dusta sebagaimana Nabi kita ﷺ. Beliau melarang kebohongan, bahkan dalam bercanda sekalipun.

Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim meriwayatkan dari Mu‘awiyah bin Haydah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa karenanya. Celakalah dia, celakalah dia.”

Dari sini tampak bahwa beliau tidak memberikan kelonggaran terhadap kebohongan, karena kebohongan akan mengantarkan kepada kefajiran (perbuatan dosa dan penyimpangan).[]

 

Catatan Tambahandari Penulis Blog

Tafsir QS. Fuṣṣilat [41]: 33 dan QS. al-Baqarah [2]: 83

Mari kita telaah tafsir QS. Fuṣṣilat [41]: 33 dan QS. al-Baqarah [2]: 83 dengan berbasis pada kitab-kitab tafsir. Kali ini kita mencukupkan diri pada tiga kitab tafsir saja: (1) Ḥāsyiyah al-Ṣāwī ‘alā Tafsīr al-Jalālayn (Aḥmad as-Ṣāwī al-Mālikī), (2) Marāḥ Labīd li Kasyfi Ma‘nā al-Qur’ān al-Majīd (Syekh Muḥammad Nawawī al-Jāwī al-Bantanī), dan (3) Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Ibn Katsīr).

Menafsirkan QS. Fuṣṣilat [41]: 33, as-Ṣāwī menjelaskan:

قَوْلُهُ (وَعَمِلَ صَالِحًا) أَيْ: امْتَثَلَ أَمْرَ رَبِّهِ، وَاجْتَنَبَ نَوَاهِيَهُ، وَحَيْثُ كَانَ دَاعِيًا إِلَى اللهِ، مَعَ اتِّصَافِهِ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ، كَانَ قَوْلُهُ مَقْبُولًا، وَيُؤَثِّرُ فِي الْقُلُوبِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَلَا يَكُونُ قَوْلُهُ مَقْبُولًا، وَلَا يُؤَثِّرُ فِي الْقُلُوبِ، وَلَا تَنْبَغِي صُحْبَتُهُ.

Intinya: orang yang mengajak kepada Allah sekaligus menghiasi dirinya dengan amal saleh, perkataannya menjadi lebih dapat diterima dan lebih berpengaruh pada hati. Sebaliknya, orang yang menyuruh orang lain tetapi dirinya sendiri tidak mengamalkannya, perkataannya tidak akan diterima dan kehilangan pengaruh.

Seorang ahli makrifat (mungkin Ibnu Atha’illah as-Sakandari) berkata:

لا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ.

“Janganlah bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bangkit (menuju kebaikan), dan perkataannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.”

Sementara itu, Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Marāḥ Labīd memberikan penjelasan bahwa dakwah itu bukan hanya mengatakan sesuatu yang benar, tetapi juga menghidupkan kebenaran itu pada diri sendiri. Ia mengajak orang lain kepada kebaikan, dan dirinya sendiri pun mengerjakannya.

Lebih lanjut Syekh Nawawī al-Bantanī menyebutkan empat tingkatan  orang-orang yang mengajak (berdakwah) kepada jalan Allah:

1. Dakwah para nabi

Dakwah para nabi dilakukan dengan mukjizat, hujah-hujah, dan pedang.

2. Dakwah para ulama

Para ulama menyeru manusia kepada Allah Ta‘ala dengan dalil-dalil dan argumentasi yang kuat. Mereka adalah pewaris/wakil para nabi dalam bidang ilmu. Adapun para raja/penguasa, mereka adalah wakil para nabi dalam bidang kekuasaan.

3. Dakwah para mujahidin

Para mujahidin menyeru kepada Allah Ta‘ala dengan pedang.

4. Dakwah para muadzin

Para muadzin menyeru manusia agar taat kepada Allah Ta’ala dengan menunaikan shalat.

Adapun Ibnu Katsir menyampaikan dalam tafsirnya bahwa ayat ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang menyeru kepada kebaikan dan dirinya sendiri berada dalam petunjuk. Rasulullah adalah orang yang paling utama dalam hal tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Sirin, as-Suddi, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Ibnu Katsir juga menyebut pendapat sebagian ulama bahwa ayat ini secara khusus berkaitan dengan para muadzin. Ketika muadzin mengucapkan: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ “Marilah menunaikan shalat,” maka pada hakikatnya ia sedang menyeru manusia kepada Allah dan kepada ketaatan kepada-Nya. Karena itu, sebagian salaf seperti Ibnu Umar, Ikrimah, dan ‘Aisyah رضي الله عنهم  mengaitkan ayat ini dengan para muadzin. Bahkan, secara khusus, Rasulullah memohonkan ampunan untuk para muadzin:

 (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ) ثَلَاثًا

“Ya Allah, ampunilah para muadzin.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Adapun terhadap QS. al-Baqarah: 83, as-Ṣāwī memberi penafsiran singkat dan paddat, bahwa berucap yang baik tidak hanya ditujukan kepada sesama umat Islam, tetapi kepada semua manusia secara umum. Beliau mengaitkannya dengan hadis:

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Sementara Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Tafsir Marāḥ Labīd memberikan penjelasan bahwa perkataan yang baik adalah perkataan yang memberikan manfaat kepada orang lain. Dalam pandangan beliau, al-qawl al-ḥasan tidak hanya dinilai dari bentuk katanya, tetapi juga dari manfaatnya.

Sedangkan Tafsir Ibnu Katsīr secara eksplisit memasukkan amar ma‘ruf dan nahi munkar dengan cara yang baik merupakan bagian dari al-qawl al-ḥasan.

Ya, dalam Islam terdapat beberapa keadaan khusus ketika perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan diberi rukhsah (keringanan) demi tujuan yang dibenarkan syariat. Namun, hal ini bukan berarti kebohongan menjadi sesuatu yang bebas dilakukan.

Hadis yang sedang kita kaji dalam Irsyādul Mu’minīn perlu dipahami bersama hadis-hadis lain tentang dusta. Para ulama membahas persoalan ini dengan membedakan antara hukum asal berbohong, kebohongan untuk tujuan tercela, dan perkataan yang diberi keringanan karena maslahat yang dibenarkan.

 

Ada Bohong yang Dibolehkan

Hukum asal berbohong adalah haram. Rasulullah bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ.

“Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan menuntun ke surga. Sesungguhnya dusta menuntun kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun ke neraka.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6094; Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2607)

Akan tetapi, dalil tentang larangan dusta ini perlu dibaca bersama dalil-dalil lain yang memberikan pengecualian dalam keadaan tertentu. Di antaranya, hadits Nabi:

لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا، وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ، وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ.

“Tidak diperbolehkan berbohong, kecuali dalam tiga perkara: (1) perkataan suami kepada istrinya untuk menyenangkannya atau menjaga keharmonisan, (2) kebohongan dalam peperangan, dan (3) kebohongan untuk mendamaikan manusia.” (Jāmi‘ at-Tirmiżī, no. 1939; Sunan Abī Dāwūd, no. 4921)

Sebagian ulama memahami hadis tersebut sebagai keringanan dalam kebohongan secara literal pada batas-batas tertentu. Ulama lain menekankan agar seseorang menghindari kebohongan secara literal dan lebih memilih menggunakan tauriyah (التَّوْرِيَة), yaitu ungkapan yang memiliki makna lebih dari satu: pembicara bermaksud makna yang benar, sementara pendengar mungkin memahami makna lainnya.

Dalam hal ini, kita bisa merumuskan prinsip kehati-hatian agar tidak terjebak dalam kebohongan:

  • Jika tujuan yang baik dapat dicapai dengan perkataan yang jujur, gunakanlah kejujuran.
  • Jika terdapat keringanan yang dilegalkan oleh syariat, batasi penggunaannya sesuai kebutuhan dan tujuan yang dibenarkan.
  • Jika berkata benar akan mengakibatkan kezaliman serius, seperti membocorkan tempat persembunyian orang yang hendak dibunuh secara zalim, persoalannya tidak lagi sekadar etika berbicara, tetapi juga kewajiban melindungi jiwa.
  • Jangan menjadikan pengecualian sebagai kebiasaan untuk membenarkan dusta dalam urusan sehari-hari.[]
Read More

Thursday, October 1, 2026

Musafir Shalat Maghrib Bermakmum kepada Mukim; Bolehkah Ia Jamak Taqdim dengan Isya’?

October 01, 2026 0

 


Saya adalah seorang musafir. Dalam perjalanan, ketika memasuki waktu maghrib, saya mampir ke suatu masjid dan ikut berjamaah di masjid tersebut. Imamnya adalah warga setempat, bukan musafir seperti saya.

Pertanyaan:

1.     Bolehkah saya bermakmum kepada imam mukim tersebut?

2.     Bolehkah saya menjamak taqdim Maghrib dengan Isya'? Yaitu, setelah imam salam (selesai shalat Maghrib), saya segera berdiri untuk melaksanakan shalat Isya’ 2 rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.

 

Jawaban:

1. Anda (musafir) boleh dan sah bermakmum shalat Maghrib kepada imam yang berstatus mukim (bukan musafir). Anda mengikuti imam 3 rakaat sampai salam. Karena Maghrib tidak bisa di-qashar, maka tidak ada yang perlu dipersoalkan dalam hal ini. Lain halnya jika shalat Zhuhur, Ashar, atau Isya’, maka Anda harus mengikuti imam shalat 4 rakaat; tidak boleh meng-qashar menjadi 2 rakaat.

مَذْهَبُنَا أَنَّ الْمُسَافِرَ إِذَا اقْتَدَى بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.

“Mazhab kami, seorang musafir apabila bermakmum kepada orang mukim dalam sebagian shalatnya, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (4 rakaat), baik ia mendapatkan bersama imam satu rakaat maupun kurang dari satu rakaat.” (Imam an-Nawawi, al-Majmu’, 4/237).

 

2. Setelah imam salam, Anda boleh langsung menunaikan shalat Isya’ secara jamak taqdim, asalkan syarat-syarat jamak taqdim dapat Anda penuhi. Dalam hal shalat Isya’, Anda boleh melaksanakannya 4 empat rakaat, boleh pula 2 rakaat (qashar).

قَالَ أَصْحَابُنَا: وَلَوْ جَمَعَ بَعْضُ النَّاسِ قَبْلَ الْإِمَامِ مُنْفَرِدًا أَوْ فِي جَمَاعَةٍ أُخْرَى، أَوْ صَلَّى إِحْدَى الصَّلَاتَيْنِ مَعَ الْإِمَامِ وَالْأُخْرَى مُنْفَرِدًا جَمْعًا وَقَصْرًا جَازَ بِشَرْطِهِ.

“Para ulama kami berkata: Apabila sebagian orang melakukan jamak sebelum imam, baik sendirian maupun bersama jamaah yang lain; atau ia melaksanakan salah satu dari dua shalat bersama imam dan shalat yang lainnya secara sendirian dengan cara jamak dan qashar, maka hal itu diperbolehkan dengan memenuhi syarat-syaratnya.” (Imam an-Nawawi, al-Majmu’, 8/117)

Bermakmum kepada imam mukim tidak lantas membuat status safar Anda hilang atau hangus, sehingga setelah selesai Maghrib Anda masih boleh mengambil rukhsah jamak dan qashar untuk Isya’. Jadi, praktiknya, saat Maghrib Anda bermakmum kepada imam mukim 3 rakaat, kemudian melaksanakan shalat Isya’ (sendirian/munfarid atau berjamaah dengan sesama musafir) 2 rakaat qashar.

Tetapi ada syarat penting dalam mazhab Syafi‘i, yaitu menurut qaul mu‘tamad Syafi‘iyyah, Anda harus sudah mempunyai niat jamak taqdim ketika melaksanakan Maghrib, sekurang-kurangnya sebelum mengakhiri shalat Maghrib. Dalam pendapat mu‘tamad madzhab Syafi‘i, niat jamak taqdim boleh dilakukan di tengah-tengah shalat yang pertama (dalam kasus Anda adalah shalat Maghrib) dan tidak harus tepat ketika takbiratul ihram; yang penting sebelum shalat pertama selesai.

وَالْأَصَحُّ بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ: يَجُوزُ مَعَ الْإِحْرَامِ بِالْأُولَى، أَوْ فِي أَثْنَائِهَا، أَوْ مَعَ التَّحَلُّلِ مِنْهَا، وَلَا يَجُوزُ بَعْدَ التَّحَلُّلِ.

“Pendapat ashah (paling sahih) berdasarkan kesepakatan para ashhab (ulama Syafi’iyah): niat jamak boleh dilakukan ketika takbiratul ihram shalat pertama, atau di tengah-tengah shalat pertama, atau bersamaan dengan melakukan tahallul (salam) dari shalat pertama; tetapi tidak boleh setelah selesai tahallul.” (Imam an-Nawawi,  al-Majmu’, 4/255)

Selain niat jamak taqdim pada shalat yang pertama, ada beberapa syarat lain dalam kebolehan menjamak taqdim. Misalnya, dalam Matan Safīnatun Najāh, pada fasal شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ, disebutkan:

شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةٌ:١- الْبَدَاءَةُ بِالْأُولَى. ٢- نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيهَا. ٣- الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا.
٤- دَوَامُ الْعُذْرِ.

Syarat jamak taqdim ada empat:

1.     Mendahulukan shalat yang pertama.

Dalam kasus Anda adalah Anda sudah melakukan hal yang benar, yaitu mendahulukan shalat Maghrib.

2.     Niat jamak pada shalat pertama.

Dalam kasus Anda, Anda bisa berniat jamak taqdim saat takbiratul ihram shalat Maghrib, bisa juga di tengah-tengah shalat Maghrib; yang penting shalat Maghrib belum usai.

3.     Muwalah (bersambung/tidak ada jeda panjang) antara kedua shalat.

Dalam kasus Anda, segera berdiri untuk menunaikan shalat Isya’ adalah langkah yang tepat. Yang penting antara Maghrib dan Isya’ tidak ada jeda yang panjang. Berapa ukuran jeda panjang itu? Kira-kira seukuran durasi yang dibutuhkan untuk melakukan shalat dua rakaat secara ringan.

4.     Tetap berlangsungnya uzur yang menjadi sebab bolehnya jamak.

Dalam kasus Anda, saat takbiratul ihram shalat Isya’ status Anda masih musafir.

 

Dengan demikian, paling aman dalam kasus Anda adalah ketika shalat Maghrib bersama imam mukim, Anda berniat dalam hati bahwa Maghrib ini akan Anda jamak taqdim dengan Isya’. Setelah imam mukim tersebut salam, Anda segera berdiri untuk melakukan takbiratul ihram Shalat Isya’. Jika selain menjamak taqdim, Anda juga ingin meng-qashar Isya’ menjadi 2 rakaat, maka Anda harus berniat meng-qasharnya ketika takbiratul ihram untuk shalat Isya’. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

 

Read More

Bolehkah Musafir Bermakmum kepada Imam yang Mukim?

October 01, 2026 0

 


Dalam mazhab Syafi‘i, musafir boleh dan sah bermakmum kepada imam yang mukim. Namun, konsekuensinya adalah musafir tersebut tidak boleh melakukan qashar dua rakaat, meskipun dirinya sendiri masih berstatus musafir. Dia wajib menyempurnakan shalatnya menjadi empat rakaat (itmam) pada shalat Zhuhur, Ashar, atau Isya’.

Ini merupakan pendapat mu‘tamad dalam mazhab Syafi‘i. Bahkan Imam an-Nawawi menyebut bahwa jika ia mengikuti imam mukim walaupun hanya sesaat, makmum tersebut tetap wajib itmam (empat rakaat).

Dengan demikian, bisa kita garis bawahi bahwa apabila musafir bermakmum kepada imam mukim maka tidak otomatis mengubah status musafir tersebut menjadi mukim. Ia tetap musafir. Yang berubah hanyalah hukum shalatnya dalam jamaah tersebut, yaitu wajib itmam.

Contoh kasus:

  • Musafir bermakmum kepada imam mukim sejak rakaat pertama, maka ketika mendapatkan dua rakaat musafir tidak boleh menyudahi shalatnya dengan salam. Akan tetapi, musafir tersebut harus terus mengikuti imam sampai selesai empat rakaat.
  • Musafir baru bermakmum ketika imam berada pada rakaat ke-3, maka ketika imam salam pada rakaat ke-4, dan musafir mendapatkan 2 rakaat, musafir tidak boleh ikut salam bersama imam. Dia harus berdiri untuk menyempurnakan empat rakaat.
  • Musafir baru bermakmum ketika imam sedang tahiyat akhir (rakaat ke-4), maka musafir tidak boleh meng-qashar shalatnya. Dia harus tetap menyelesaikan empat rakaat.

 

1. Penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmū‘

وَلَا يَجُوزُ الْقَصْرُ لِمَنْ ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ، فَإِنِ ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ أَنْ يُتِمَّ، لِأَنَّهُ اجْتَمَعَ مَا يَقْتَضِي الْقَصْرَ وَالتَّمَامَ فَغُلِّبَ التَّمَامُ، كَمَا لَوْ أَحْرَمَ بِهَا فِي السَّفَرِ ثُمَّ أَقَامَ.

“Tidak boleh qashar bagi orang yang bermakmum kepada orang mukim. Jika ia bermakmum kepada orang mukim pada sebagian dari shalatnya, maka ia wajib menyempurnakan shalat (menjadi 4 rakaat---penrjmh). Sebab, dalam dirinya terkumpul faktor yang menyebabkan qashar dan faktor yang menyebabkan itmam (shalat sempurna 4 rakaat), sehingga faktor itmam dimenangkan, sebagaimana seseorang yang memulai shalat saat masih berstatus safar kemudian ia menjadi mukim.”

Kemudian Imam an-Nawawi menjelaskan secara lebih tegas:

مَذْهَبُنَا أَنَّ الْمُسَافِرَ إِذَا اقْتَدَى بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.

“Mazhab kami, seorang musafir apabila bermakmum kepada orang mukim dalam sebagian shalatnya, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (4 rakaat), baik ia mendapatkan bersama imam satu rakaat maupun kurang dari satu rakaat.”

 

2. Penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab Raudlatut Thalibin

لِلْقَصْرِ أَرْبَعُ شُرُوطٍ: أَحَدُهَا: أَنْ لَا يَقْتَدِيَ بِمُتِمٍّ، فَإِنْ فَعَلَهُ وَلَوْ فِي لَحْظَةٍ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

“Qashar memiliki empat syarat. Salah satunya adalah tidak bermakmum kepada orang yang melakukan shalat secara sempurna (4 rakaat). Jika ia melakukannya, meskipun hanya sesaat, maka ia wajib menyempurnakan shalat (menjadi 4 rakaat; tidak boleh qashar).”

 

3. Bagaimana kalau sejak awal musafir berniat qashar?

Misalnya seorang musafir berkata dalam hatinya, “Saya shalat Zhuhur dua rakaat qashar karena Allah.” Kemudian ternyata ia bermakmum kepada imam mukim. Dalam fikih Syafi‘iyah, shalat si musafir tetap sah, tetapi niat qasharnya menjadi tidak berlaku, sehingga ia wajib menyempurnakan shalatZzhuhur empat rakaat.

Dalam Tuḥfat al-Muḥtāj, Ibn Hajar al-Haytami menjelaskan:

مَتَى عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ إِمَامَهُ مُقِيمٌ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، فَلَوِ اقْتَدَى بِهِ وَنَوَى الْقَصْرَ انْعَقَدَتْ صَلَاتُهُ وَ لَغَتْ نِيَّةُ الْقَصْرِ بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ.

“Apabila ia mengetahui atau menyangka bahwa imamnya adalah orang mukim, maka ia wajib menyempurnakan shalat. Jika ia bermakmum kepadanya sambil berniat qashar, shalatnya tetap sah, sedangkan niat qasharnya menjadi gugur atau hangus, berdasarkan kesepakatan para ulama Ashhab (Syafi’iyah).”

Jadi, bukan berarti shalatnya batal karena si makmum yang musafir tadi berniat qashar. Ia tetap menjadi makmum yang sah, tetapi ketika sudah terikat dengan imam yang mukim, maka hukum itmam mengalahkan hukum qashar.

 

4. Bahkan jika hanya mendapatkan bagian akhir shalat

Misalnya imam mukim sedang tahiyat akhir pada rakaat ke-4, lalu seorang musafir datang dan langsung bermakmum. Ia hanya mendapatkan duduk bersama imam, bahkan tidak mendapatkan satu rakaat pun. Menurut mazhab Syafi‘i, ia tetap harus menyempurnakan shalatnya empat rakaat. Tidak boleh meng-qashar. Sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi dalam Raudlatuth Thalibin di atas:

فَإِنْ فَعَلَهُ وَلَوْ فِي لَحْظَةٍ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

“Jika ia (musafir) bermakmum kepadanya (imam mukim) walaupun hanya sesaat, ia wajib menyempurnakan (4 rakaat).”

Juga penjelasan beliau dalam al-Majmū‘:

سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.

“Baik ia mendapatkan satu rakaat bersama imam maupun kurang dari itu.”

 

5. Itulah Sunnah Abul Qasim (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam)

عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ: كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dari Musa bin Salamah al-Hudzali, dia berkata, “Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Makkah. Aku bertanya, ‘Sesungguhnya apabila kami (musafir--penerjemah) shalat bersama kalian (mukim--penerjemah), kami shalat empat rakaat. Tetapi, apabila kami kembali ke tempat tinggal kami (berstatus sebagai musafir—penerjemah), kami shalat dua rakaat.’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Itulah sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (Musnad Imam Ahmad no. 1862)

Dalam riwayat Muslim, Musa bin Salamah al-Hudzali bertanya kepada Ibnu Abbas:

كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الْإِمَامِ؟ فَقَالَ: رَكْعَتَيْنِ، سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ ﷺ

“Bagaimana aku (musafir—penerjemah) shalat ketika berada di Makkah apabila aku tidak shalat bersama imam (mukim—penerjemah)?” Ibnu Abbas menjawab, “Dua rakaat, itulah sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Shahih Muslim no. 688)

 

6. Seorang Musafir Shalat Maghrib Bersama Imam Mukim, lalu Berdiri untuk Menjamak dengan Isya’

Gambaran kasusnya begini:

a.      Status saya adalah musafir, karena masih dalam perjalanan yang memenuhi syarat qashar. Ketika masuk waktu maghrib, saya bermakmum kepada imam mukim. Karena tidak ada qashar dalam shalat Maghrib, maka saya Maghrib 3 rakaat bermakmum kepada imam mukim yang juga 3 rakaat. Setelah imam salam (shalat Maghrib telah selesai), saya segera berdiri untuk melaksanakan shalat Isya’ 2 rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.

b.     Saya adalah seorang musafir. Ketika masuk waktu Zhuhur, saya menunaikan shalat Zhuhur 4 rakaat dengan bermakmum kepada imam mukim. Setelah imam salam, saya berdiri dan melaksanakan shalat Ashar sendiri 2 rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.

Apakah praktik seperti dibolehkan?

Jawabannya adalah boleh. Ketika bermakmum kepada imam mukim, saya mempunyai kewajiban untuk terikat kepada imam tersebut. Sehingga manakala imam mukim shalat Zhuhur empat rakaat maka saya pun terikat kepadanya (wajib menyempurnakan shalat Zhuhur 4 rakaat juga). Setelah shalat berjamaah itu selesai, saya tidak lagi sedang terikat dengan imam tersebut. Status saya pun tidak berubah menjadi mukim, tetapi tetap sebagai musafir. Oleh karenanya, hak saya sebagai musafir tetap bisa saya ambil, yakni dengan menjamak shalat Zhuhur tadi dengan shalat Ashar.

Dalam praktik ini, ada hal penting yang perlu diperhatikan agar dibolehkan menjamak taqdim dengan Ashar, yaitu niat jamak taqdim harus ada ketika mengerjakan shalat yang pertama (Maghrib atau Zhuhur), paling lambat sebelum selesai shalat yang pertama. Tetapi, jika niat menjamak taqdim baru muncul setelah selesai salam dari shalat Zhuhur, maka tidak sah jamak taqdimnya.

Jadi, agar sah, saat shalat Maghrib atau Zhuhur saya harus sudah berniat jamak taqdim. Setelah rampung dari berjamaah shalat Maghrib atau Zhuhur (bersama imam mukim) saya boleh dan sah berdiri untuk menjamaknya dengan Isya’ atau Ashar.

Dalam hal ini kita perlu membaca kembali syarat-syarat Jamak Taqdim dalam madzhab Syafi’i. Misalnya, dalam Matan Safīnatun Najāh, pada fasal شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ, disebutkan:

شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةٌ:١- الْبَدَاءَةُ بِالْأُولَى. ٢- نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيهَا. ٣- الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا.
٤- دَوَامُ الْعُذْرِ.

Syarat jamak taqdim ada empat:

  1. Mendahulukan shalat yang pertama (Maghrib atau Zhuhur).
  2. Niat jamak pada shalat pertama.

Keterangan tambahan: niat bisa dilakukan di tengah-tengah shalat yang pertama; yang penting belum salam dari shalat pertama.

  1. Muwālah (bersambung/tidak ada jeda panjang) antara kedua shalat.

Keterangan tambahan: ukuran jeda panjang adalah seukuran waktu yang dibutuhkan untuk melakukan shalat dua rakaat secara ringan.

  1. Tetap berlangsungnya uzur yang menjadi sebab bolehnya jamak.

Keterangan tambahan: dalam kasus yang dibahas sekarang adalah masih dalam perjalanan atau masih berstatus sebagai musafir.

 

7. Bagaimana jika imamnya seorang musafir?

Kita telah membahas hukum musafir yang bermakmum kepada imam yang mukim. Sekarang mari kita kaji jika yang terjadi adalah kebalikannya, yaitu mukim berstatus mukim, sedangkan imamnya seorang musafir. Bolehkah orang yang mukim bermakmum kepada imam yang berstatus musafir?

-          Jika imam adalah musafir dan melakukan shalat sempurna 4 rakaat, maka makmum boleh mengikutinya hingga akhir. Dan ini tidak menjadi persoalan karena keduanya sama-sama shalat itmam (sempurna 4 rakaat).

-          Jika imam adalah musafir dan melakukan shalat qashar 2 rakaat, maka makmum boleh mengikutinya. Akan tetapi, ketika imam mendapatkan 2 rakaat dan salam, makmum yang mukim tersebut tidak boleh ikut salam. Ia tidak boleh ikut meng-qashar shalat bersama imam. Yang harus dilakukan oleh makmum setelah imam salam adalah berdiri dan menyempurnakan shalatnya menjadi 4 rakaat.

 

Secara ringkas dan sederhana, pembahasan di atas dalam dirangkum dalam tabel berikut:

Imam

Makmum

Hukum

Mukim

Musafir

Musafir wajib 4 rakaat

Musafir (qashar)

Musafir

Makmum boleh qashar 2 rakaat

Musafir (qashar)

Mukim

Imam 2 rakaat, makmum mukim berdiri untuk menyempurnakan 4 rakaat.

Mukim

Mukim

4 rakaat

 Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:

-          Safinatun Najah

-          al-Majmū‘ 4/356–357

-          Rauḍah al-Ṭālibīn 1/381–382

-          Tuḥfat al-Muḥtāj 2/390

-          Mughnī al-Muḥtāj dalam pembahasan syarat qashar.

 

Read More

Monday, September 28, 2026

Menyentuh Hati Sebelum Menasihati

September 28, 2026 0

 


Telaah Edukatif Kitab Washaya al-Aba’ li al-Abna’: Karya Syaikh Muhammad Syakir al-Mishri al-Azhari. Dikaji dalam pertemuan rutin wali murid MI Ma’arif Pijenan setiap Ahad Pahing. Materi ini disampaikan pada pertemuan kedua (Ahad Pahing, 27 September 2026).


يَا بُنَيَّ، إِنْ كُنْتَ تَقْبَلُ نَصِيحَةَ نَاصِحٍ فَأَنَا أَحَقُّ مَنْ تَقْبَلُ نَصِيحَتَهُ.  أَنَا أُسْتَاذُكَ وَمُعَلِّمُكَ وَمُرْشِدُ رُوحِكَ (وَمُرَبِّي رُوحِكَ) ، لَا تَجِدُ أَحَدًا أَحْرَصَ عَلَى مَنْفَعَتِكَ وَصَلَاحِكَ مِنِّي.

 

Artinya

“Wahai anakku  (muridku), jika engkau mau menerima nasihat dari seorang penasihat, maka akulah orang yang paling berhak untuk engkau terima nasihatnya. Aku adalah gurumu, pengajarmu, dan pembimbing jiwamu. Engkau tidak akan menemukan seorang pun yang lebih menginginkan kemanfaatan dan kebaikanmu daripada aku.”

 

Alur Pendidikan

Membangun kedekatan emosional → tumbuh kepercayaan murid → senang hati murid menerima nasihat → terjadi internalisasi nilai → terbentuk karakter/perubahan perilaku.

 

Telaah

1.    Secara bahasa, بُنَيَّ adalah bentuk tashghīr dari اِبْنٌ. Dalam konteks ini, tashghīr tidak berarti mengecilkan secara fisik, tetapi mengandung nuansa kasih sayang, kelembutan, dan kedekatan emosional. Dalam psikologi pendidikan, kedekatan emosional mutlak dibutuhkan agar nasihat bisa diterima dengan lapang dada oleh anak atau murid.

2.    Secara konseptual,نَصِيحَة  tidak sekadar “memberi advice”, tetapi lebih dari itu mengandung orientasi irādatul khair (menghendaki kebaikan bagi pihak yang dinasihati). Seolah-olah sang guru berkata, “Saya menasihatimu karena saya menginginkan kamu menjadi anak yang baik.”

3.    Ada tiga identitas guru yang disebut dalam teks di atas,, yaitu: أُسْتَاذ – مُعَلِّم – مُرْشِد\مُرَبِّي الرُّوح

4.    Ustadz/Guru: menunjukkan relasi pedagogis. Mu’allim/Pengajar: menunjukkan fungsi transfer ilmu. Mursyid/Murabbir Ruh/Pembimbing Jiwa: menunjukkan fungsi pembentukan batin dan karakter. Bisa dibilang bahwa di antara tugas guru adalah berkaitan dengan: ilmu – amal – akhlak.

5.    Ada hadis tarbawi yang sangat relevan:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang mempersulit atau mencari-cari kesulitan, tetapi mengutusku sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim)

6.    Guru tidak sekadar sebagai teacher, tetapi juga educator. Seorang teacher akan bertanya, “Apakah kamu sudah memahami pelajaran?” Sedangkan educator akan bertanya, “Apakah ilmu ini menjadikan hidupmu lebih baik?”

7.    Secara psikologis, anak atau murid akan lebih terbuka terhadap koreksi apabila ia mempunyai keyakinan “Guruku sangat menginginkanku menjadi orang baik.” Sebaliknya, jika anak menafsirkan teguran sebagai “Guruku membenciku” maka akan melahirkan: defensiveness, penolakan, pembenaran diri, menyembunyikan kesalahan, atau kepatuhan semu.

8.    Guru ideal tidak berorientasi kepada dirinya sendiri. Guru ideal adalah orang yang memusatkan perhatiannya kepada kebaikan murid. Guru yang berorientasi kepada ego berprinsip: “Murid harus mengikuti saya atau tunduk dan patuh kepada saya.” Sedangkan guru yang berorientasi tarbiyah berprinsip: “Saya ingin murid saya menjadi manusia yang baik.”[]

 

Read More