Pada masa setelah Nabi
Musa, Bani Israil pernah mengalami penindasan dan terusir dari kampung halaman
mereka. Mereka kemudian mendatangi nabi mereka dan meminta agar Allah
mengangkat seorang raja yang dapat memimpin mereka berperang di jalan Allah.
Nabi tersebut mengingatkan mereka, jangan-jangan ketika peperangan benar-benar
diwajibkan, mereka justru mundur dan tidak mau berperang. Mereka menjawab
dengan penuh keyakinan bahwa mereka pasti akan berjuang, sebab mereka telah
diusir dari rumah-rumah mereka dan dipisahkan dari anak-anak mereka. Namun,
ketika kewajiban berperang benar-benar ditetapkan, sebagian besar dari mereka
justru berpaling. Hanya sedikit yang tetap teguh memegang janji mereka. (QS.
al-Baqarah: 246)
Allah mengabulkan
permintaan Bani Israil, dengan mengangkat Thalut sebagai raja mereka. Akan
tetapi, kaumnya keberatan dengan pengangkatan tersebut. Menurut mereka, Thalut
tidak pantas menjadi raja karena bukan orang kaya dan bukan kalangan bangsawan.
Mereka merasa lebih berhak atas kedudukan itu daripada Thalut. Nabi mereka
menjelaskan bahwa Allah sendiri telah memilih Thalut dan memberinya kelebihan
berupa ilmu yang luas dan fisik yang kuat. Dengan bekal tersebut, Thalut
dinilai mampu menjalankan tugas kepemimpinan, terutama untuk menghadapi
peperangan. Kisah ini mengajarkan bahwa kelayakan seseorang untuk memimpin
tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan atau keturunan, tetapi juga oleh
ilmu dan kemampuan yang dimiliki. (QS. al-Baqarah: 247)
Untuk menghilangkan
keraguan Bani Israil, nabi mereka menyampaikan tanda kebenaran pengangkatan
Thalut. Tanda itu adalah kembalinya Tabut, yaitu peti yang menjadi peninggalan
berharga bagi mereka, yang di dalamnya terdapat ketenteraman dari Tuhan serta beberapa
peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun. Tabut tersebut dibawa oleh para
malaikat. Turunnya Tabut di hadapan Thalut menjadi bukti bahwa pengangkatan
Thalut memang ketetapan Allah. Dialah yang dipilih langsung oleh Allah untuk
menjadi raja bagi Bani Israil. (QS. al-Baqarah: 248)
Setelah menjadi raja,
Thalut berangkat bersama pasukannya untuk menghadapi musuh. Sebagian ahli
tafsir mengatakan jumlah mereka mencapai 70.000 orang. Dalam perjalanan, Allah
menguji ketaatan mereka melalui sebuah sungai. Thalut memberitahukan bahwa
siapa pun yang meminum air sungai itu sepuasnya, bukanlah bagian dari
pasukannya, kecuali orang yang hanya mengambil sedikit saja dengan tangannya.
Namun, kebanyakan dari mereka tidak mampu menahan diri sehingga mereka meminum
air sungai tersebut sepuasnya. Hanya sedikit yang menaati perintah Thalut. Ketika
Thalut bersama pasukannya menyeberangi sungai, pasukan yang tadi meminum air sungai
hingga puas tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Mereka tidak kuat lagi untuk
melangkah, apalagi harus menghadapi Jalut dan tentaranya yang kuat. Mereka
menganggap kekuatan musuh terlalu besar untuk dilawan. (QS. al-Baqarah: 249)
Sementara itu, Thalut dan
pasukannya yang tetap setia (menurut sebagian ahli tafsir jumlahnya tidak lebih
dari 310 orang), terus melangkah menuju medan perang. Mereka inilah orang-orang
yang memiliki keimanan yang kuat. Mereka yakin kelak di akhirat akan bertemu Allah
dengan membawa pahala jihadnya. Jumlah yang sedikit tidak menyiutkan
nyali dan semangat mereka. Mereka berkata, “Betapa banyak kelompok kecil yang
mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Mereka menyadari bahwa
kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau besarnya kekuatan
fisik, tetapi juga oleh pertolongan Allah dan keteguhan iman. Ketika berhadapan
dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa agar Allah melimpahkan kesabaran,
menguatkan langkah mereka, dan menolong mereka menghadapi kaum kafir. Doa
tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan sendiri,
tetapi juga memohon pertolongan kepada Allah. (QS. al-Baqarah: 250)
Dengan izin Allah,
pasukan yang dipimpin Thalut berhasil mengalahkan Jalut dan tentaranya. Dalam
pertempuran itu, Nabi Dawud (yang saat itu masih berusia muda) berhasil membunuh Jalut. Allah kemudian
menganugerahkan kepada Dawud kerajaan dan hikmah (kenabian), serta mengajarkan
kepadanya apa yang Dia kehendaki. (QS. al-Baqarah: 251)
Dalam tradisi
Yahudi-Nasrani, Thalut biasa disebut dengan “Saul”, sedangkan Jalut disebut dengan
“Goliath”, dan nama “David” untuk menyebut Nabi Dawud. []
|
Ayat |
|
Inti Kisah |
|
Q.S. al-Baqarah: 246 |
: |
Kaum Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar diberi
seorang raja yang memimpin mereka berperang di jalan Allah. Namun, ketika
perang diwajibkan, sebagian besar dari mereka justru berpaling dan tidak
memenuhi tuntutan mereka sendiri. |
|
QS. al-Baqarah: 247 |
: |
Allah mengangkat Thalut sebagai raja.
Kaumnya mempertanyakan kelayakannya, karena ia bukan orang kaya dan tidak berasal
dari kalangan terpandang. Lalu dijelaskan bahwa Allah-lah yang memilihnya.
Allah telah memberikan kelebihan ilmu dan kekuatan fisik kepadanya. |
|
QS. al-Baqarah: 248 |
: |
Tanda kerajaan Thalut adalah datangnya
Tabut yang dibawa oleh para malaikat. |
|
QS. al-Baqarah: 249 |
: |
Thalut menguji pasukannya dengan
sebuah sungai untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak. |
|
QS. al-Baqarah: 250 |
: |
Pasukan yang beriman berdoa memohon
kesabaran, keteguhan, dan pertolongan Allah. |
|
QS. Al-Baqarah: 251 |
: |
Dengan izin Allah, pasukan yang
dipimpin Thalut berhasil mengalahkan Jalut. Dawud muda yang menumbangkan Jalut. Allah lalu memberikan kerajaan dan hikmah (kenabian) kepada Dawud. |
%20(72%20x%2010%20inci)%20(1).png)




