Santri Nurbin

Hot

Post Top Ad

LightBlog

Sunday, March 1, 2026

Golongan Ulama yang Tertipu (8)

March 01, 2026 0

 


Di dalam al-Kasyfu wat Tabyin fi Ghururil Khalqi Ajma’in (hlm. 20), al-Imam al-Ghazali mengkritik salah satu kelompok orang-orang berilmu (ulama) yang tertipu (maghrur). Mereka adalah para penceramah, dai, atau pemberi mau’izhah/tausiyah yang keluar dari manhaj (metode atau cara) berceramah yang semestinya.

Mereka lebih fokus pada banyolan-banyolan panggung dan sibuk merangkai kata-kata indah nan memukau, semisal syair-syair cinta dan sajak-sajak patah hati. Bahkan, ada pula yang gemar mengeluarkan kata-kata kotor, ngawur, dan dusta sehingga keluar dari rambu-rambu syariat.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah omong kosong. Hampa, tiada bermakna. Karena target ceramahnya tiada lain hanyalah sebatas membuat sensasi, menciptakan suasana histeris dan dramatis, memikat jamaah, dan memukau audiens.

Materi dakwah yang seharusnya sangat penting disampaikan justru hilang. Tujuan mulia dari mau’izhah/tausiyah, yang seharusnya membuat jamaah semakin bertakwa dan taat kepada Allah, justru sebatas kemeriahan acara saja. Selepas acara, tidak ada ilmu dan spirit ketakwaan yang didapatkan. Hanya hiburan, gelak tawa, dan sisa-sisa kemeriahan yang dibawa pulang.

Mereka inilah, kata al-Ghazali, sejatinya adalah setan berwujud manusia. Mereka sesat dan menyesatkan (dhallun mudhillun). Al-Imam al-Ghazali mengingatkan mereka agar berkaca kepada ulama-ulama zaman dahulu (generasi awal) dalam berdakwah dan berceramah.

Mereka (para ulama zaman dahulu) jika belum bisa memperbaiki diri sendiri, dalam ceramahnya tetap berusaha membenahi jamaahnya, juga dirinya sendiri. Apa yang keluar dari mulut mereka dalam berceramah adalah kebenaran. Bukan kebohongan. Bukan pula lelucon dan lawakan murahan.

Adapun para penceramah zaman sekarang (yang maghrur), seringkali ceramah mereka justru menjauhkan manusia dari jalan Allah, menipu manusia dengan cerita-cerita khurafat[1], membuat umat berani berbuat maksiat, dan menjadikan orang-orang semakin cinta kepada dunia.

Tidak jarang para penceramah yang maghrur seperti mereka gemar tampil di panggung dengan pakaian khas kebesaran, sarat kesombongan, dan terlihat WOW untuk dipamerkan.

Wallahu a’lam. []



[1] Khurafat adalah berita atau cerita yang dibumbui dengan kedustaan. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya khurafat adalah seorang lelaki dari Bani Udzrah, yang ditawan oleh kaum jin di masa Jahiliyah. Khurafat tinggal bersama para jin beberapa waktu. Kemudian para jin mengembalikannya ke tengah manusia. Kemudian si Khurafat ini menceritakan kisah-kisah ajaib yang ia lihat. (Orang-orang yang mendengarnya sampai menganggap cerita/kisah yang ia sampaikan adalah dusta; bohong). Maka setelah itu, orang-orang mempunyai istilah baru, yaitu ‘cerita khurafat’.” (HR. Ahmad no. 25283


Read More

Thursday, February 26, 2026

Golongan Ulama yang Tertipu (3)

February 26, 2026 0

 


Dalam kitabnya berjudul al-Kasyfu wat-Tabyin (hlm.13-14), al-Imam al-Ghazali mengupas golongan ulama tertipu yang ketiga. Mereka adalah orang-orang yang berilmu (‘alim), juga beramal shalih dan meninggalkan kemaksiatan zhahir. Sayangnya, hati mereka kotor oleh penyakit batin. Mereka paham betul semua jenis penyakit hati. Tetapi, karena didorong rasa ‘ujub (bangga diri) dan waham kemuliaan di hadapan Tuhan, mereka merasa tidak mungkin Allah mengujinya dengan penyakit hati. Menurut mereka, penyakit hati itu hanya diujikan kepada orang-orang awam, tidak kepada orang-orang berilmu seperti mereka.

Ketika mulai terlihat ada indikasi kesombongan dan gila hormat dalam diri mereka, setan cepat-cepat membisikkan tipuannya. Kata setan, indikasi yang mulai muncul itu bukan kesombongan dan gila hormat, tetapi memang begitulah cara mereka memuliakan agama dan ilmu serta membela agama Allah.

Misalnya, seorang ustadz ketika diundang berceramah, beliau mengajukan syarat kepada panitia pengajian agar dijemput dengan mobil mewah dan berceramah di atas panggung yang megah. Dalih mereka, semua itu demi memuliakan agama dan ilmu. Apakah benar-benar demi memuliakan agama dan ilmu? Jawabnya, bisa iya, bisa juga demi menuruti gengsi pribadi.

Apakah mereka tidak mengingat sejarah perjuangan Rasulullah? Dengan fasilitas yang serba terbatas dan sama sekali tidak mewah, beliau teguh dalam berdakwah. Para sahabat Nabi juga merupakan figur-figur yang selalu rendah hati dan hidup sederhana.

Ketika ada ulama lain tersandung masalah/kasus atau ulama tersebut dicela oleh publik, mereka tidak sedih dan tidak marah. Justru mereka bersuka cita. Dalam hati mungkin bersorak gembira, “Alhamdulillah, ulama sainganku tersandung kasus. Dia akan dicela umat, sementara aku akan semakin dipuji.”

Begitu juga saat mereka mendekat kepada penguasa. Bermesraan dengan penguasa. Gemar memuji penguasa. Mereka berdalih, semua dilakukan demi kemahlahatan umat. Apakah mereka melakukan semua itu benar-benar demi kemaslahatan umat? Bisa iya, bisa juga tidak. Tanyakan kepada hati mereka!

Wallahu a’lam. []



Read More

Wednesday, February 25, 2026

Golongan Ulama yang Tertipu (2)

February 25, 2026 0

 


Al-Imam al-Ghazali, dalam kitabnya al-Kasyfu wat-Tabyin (hlm.12), mengungkap golongan ulama tertipu yang kedua. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai ilmu, melakukan amal kebaikan secara zhahir, dan menginggalkan kemaksiatan yang zhahir, tetapi mereka lupa membersihkan penyakit-penyakit batin, seperti sombong, riya’, dengki, gila hormat, haus ketenaran, dan sebagainya.

Mereka lupa pada sabda Nabi, “Riya’ adalah syirik kecil.” Mereka tidak ingat pada sabda Rasul, bahwa hasad (dengki) itu bisa melenyapkan pahala amal sebagaimana api melahap kayu bakar. Juga sabda Nabi, bahwa cinta harta dan gila hormat bisa menumbuhkan sifat munafiq dalam hati sebagaimana air bisa menumbuh-suburkan sayuran.

Pun mereka melupakan firman Ta’ala:


اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ 

“Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. asy-Syu'ara: 89)

Mereka sibuk dengan ritual zhahir, tetapi lupa membersihkan batin. Mereka laksana orang yang sakit kudis. Dokter telah memerintahkannya agar mengobatinya tidak hanya dari luar dengan mengoleskan salep, tetapi juga mengobati dari dalam dengan meminum obat. Tetapi, hanya mengoleskan salep yang ia lakukan. Sementara obatnya sama sekali tidak ia minum. Akibatnya, hanya luarnya yang terlihat sembuh, tetapi sumber penyakitnya dari dalam tubuh tetap ada, sehingga terus tumbuhlah penyakit kulitnya.

Begitu pula penyakit hati, jika tidak diobati, akan meninggalkan jejak buruk pada perbuatan lahiriah kita.

Wallahu a’lam. []



Read More

Tuesday, February 24, 2026

Golongan Ulama yang Tertipu (1)

February 24, 2026 0

 


Al-Imam al-Ghazali, dalam kitabnya al-Kasyfu wat Tabyin, menyebutkan ada 11 golongan ulama yang tertipu. Salah satunya adalah ulama yang sibuk mendalami ilmu, tetapi tidak mau berbuat taat dan enggan menjauhi maksiat.

Dengan segudang ilmu yang dimiliki, mereka merasa telah menduduki kedudukan tinggi di sisi Allah. Sampai-sampai mereka merasa tidak akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah, dan Allah pun tidak akan pernah menyiksanya. Tertipulah mereka dengan ilmunya!

Al-Imam al-Ghazali mengibaratkan mereka seperti seorang dokter yang bisa mengobati pasiennya, tetapi dia sendiri justru dalam keadaan sakit. Sebetulnya dia tahu obatnya, tetapi tidak pernah mau meminumnya untuk mengobati penyakitnya sendiri. Apakah resep yang selalu dia tulis untuk pasien bermanfaat bagi dirinya sendiri? Sama sekali, tidak!

Mereka lupa pada firman Allah:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Q.S. asy-Syams [91]: 9-10)

Mereka juga lupa pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا

“Barangsiapa bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah hidayahnya, maka tidak akan bertambah apa pun kecuali semakin jauh dari Allah.”[1]

Dalam sabda yang lain disebutkan, “Sesungguhnya manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah orang alim yang Allah tidak menjadikan ilmunya bermanfaat.”

Di antara penyebabnya adalah hubbun dun-ya (cinta dunia), suka menuruti hawa nafsu, dan tenggelam dalam kesenangan dunia. Mereka mengira, cukup dengan segudang yang dimiliki tanpa perlu beramal, kelak mereka akan terselamatkan dari siksa.

Na’udzu billahi min halihim (Aku berlindung kepada Allah dari perilaku mereka ini). []



[1]  Riwayat Abu Mansur ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus dengan sanad dha'if; lihat pula al-Jami'us Shaghir Juz 2 hlm. 162.


Read More

Monday, February 23, 2026

Menjaga Lisan dari Nyinyir Lebih Baik daripada Berdzikir?

February 23, 2026 0

 


Kata al-Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Kasyfu wat Tabyin (hlm. 10), termasuk ketertipuan orang mukmin yang berbuat maksiat adalah mereka mengira bahwa ketaatannya lebih banyak daripada kemaksiatannya. Mereka tidak pernah mau ber-muhasabah (introspeksi dan evaluasi diri) bahwa sejatinya kemaksiatannya justru lebih banyak lagi.

Ketika melakukan kebaikan dan ketaatan, mereka selalu mengingat dan mencatatnya. Sementara terhadap keburukan dan kemaksiatan, mereka memilih melupakan dan mengabaikannya.

Contohnya adalah seorang mukmin sangat rajin berdzikir, tetapi ternyata lisannya juga tidak pernah absen dari “nyinyir” (ghibah/gosip, adu domba, berkata kotor, dusta, fitnah, dan sebagainya). Kata al-Imam al-Ghazali, mereka ini benar-benar orang yang tertipu (maghrur/mughtar)!

Orang seperti ini sibuk memperhatikan dalil-dalil keutamaan berdzikir, tetapi melupakan dalil-dalil lain tentang betapa beratnya siksaan bagi para pendusta, pengadu domba, kaum munafik, penyinyir, dan orang-orang yang mengotori lisannya dengan ucapan yang tidak diridhai Allah.

Ada satu pernyataan sangat penting yang disampaikan al-Imam al-Ghazali:


فَحِفْظُ لِسَانِهِ عَنِ المَعَاصِي أَكَدُ مِنْ تَسْبِيحِهِ

“Menjaga lisan dari kemaksiatan itu lebih penting daripada bertasbih.”

Dari dhawuh (perkataan) al-Imam al-Ghazali ini bisa kita ambil konklusi/simpulan tentang peringkat orang mukmin berkaitan dengan lisannya:

1.   Tingkatan tertinggi: Lisannya rajin berdzikir & tidak pernah “nyinyir”.

2.   Tingkatan kedua: Lisannya jarang berdzikir, juga tidak pernah “nyinyir”.

3.   Tingkatan ketiga: Lisannya rajin berdzikir, tetapi juga doyan “nyinyir”.

4.   Tingkatan paling bawah: Lisannya tidak pernah berdzikir, hobinya cuma “nyinyir”.

Wallahu a’lam. []



Read More

Sunday, February 22, 2026

Ketertipuan Orang Mukmin yang Berbuat Maksiat

February 22, 2026 0

 


Intisari Ngaji Posonan Kitab al-Kasyfu wat Tabyin halaman 8-9.

A.  Salah Menempatkan Roja’.

1.   Dalam agama, roja’ (mengharapkan ampunan dan rahmat Allah) adalah sifat yang terpuji. Akan tetapi, ketika seseorang hanya mengandalkan roja’ tanpa pernah mau beramal, berarti mereka telah tertipu.

2.   Di manakah posisi roja’ yang semestinya? Posisi roja’ yang semestinya adalah setelah melakukan amal keshalihan. Roja’ tanpa didahului amal adalah ketertipuan, karena fungsi utama dari roja’ adalah untuk meredam ketakutan (khauf) yang berlebihan dan keputus-asaan. Takut akan siksa Allah dan putus asa dari rahmat Allah.

3.   Mengaku bertawakal kepada Allah, tetapi tidak pernah mau berusaha, itu juga bentuk ketertipuan.

 

B.  Mengandalkan Kemuliaan dan Keshalihan Orang Tua

1.   “Ketika seseorang dicintai, pastilah keturunannya pun akan dicintai,” merupakan kaidah keliru dari orang mukmin yang bermaksiat. Berpijak pada kaidah tersebut, mereka menyatakan, “Allah mencintai dan memuliakan orang tuaku, pastilah Allah juga mencintaiku dan memuliakanku. Dengan begitu, aku tidak perlu lagi taat kepada-Nya.”

2.   Mereka tidak sadar bahwa orang tua mereka mendapatkan kedudukan mulia sehingga dicintai Allah adalah karena amal dan rasa takutnya (khauf) kepada Allah.

3.   Setelah orang tua kita makan, beliau merasakan kenyang. Setelah minum, beliau pun merasakan segar. Apakah dengan begitu, rasa kenyang dan segar beliau membuat perut kita otomatis juga kenyang dan segar? Tentu tidak! Untuk bisa kenyang, kita pun harus makan. Untuk bisa merasakan segar, kita pun harus minum. Begitu juga mereka yang mengandalkan kemuliaan dan keshalihan orang tua, mereka tidak akan menjadi mulia dan shalih jika tidak mengusahakannya sendiri.

4.   Ketakwaan anak tidak bisa diukur dari ketakwaan orang tuanya. Tidakkah kita belajar dari kisah Kan’an, putra Nabi Nuh?

 

C.   Merasa Amal Baiknya Lebih Banyak

1.   Termasuk mukmin yang tertipu adalah orang yang merasa amal baiknya lebih banyak daripada amal buruknya; ketaatannya lebih banyak daripada kemaksiatannya. Padahal, aslinya, justru keburukannya lebih banyak dari kebaikannya; kemaksiatannya lebih banyak daripada ketaatannya.

2.   Termasuk kategori ini adalah orang yang gemar bersedekah, tetapi dia tidak peduli apakah hartanya itu halal atau haram. Bahkan, bisa jadi hartanya yang didapat dari mengambil hak orang lain dan harta syubhat, jumlahnya jauh lebih banyak (berlipat) daripada yang halal.[]




Read More

Saturday, February 21, 2026

Terperdaya oleh Kesenangan Dunia (Intisari Kitab al-Kasyfu wat Tabyin halaman 5-7)

February 21, 2026 0

1.    Kehidupan dunia tidak hanya memperdaya orang-orang kafir, tetapi orang mukmin pun bisa saja terperdaya olehnya. Bagaimana orang mukmin bisa terperdaya? Mereka menyatakan beriman, tetapi tidak mau beramal shalih. Mereka justru menuruti syahwat dan hawa nafsunya dengan melanggar aturan-aturan Allah.

2.    Contoh ketertipuan orang-orang kafir adalah ucapan mereka, "Jika memang akhirat itu ada, yakni kelak manusia dikembalikan lagi kepada Tuhan, maka kamilah yang berhak mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya." Ucapan mereka ini disebabkan oleh kesesatan berpikir yang dihembuskan oleh iblis, sehingga mereka menganggap:

  • Kami telah mendapatkan banyak kenikmatan dunia, maka nikmat itu pula yang akan kami terima kelak di akhirat.
  • Di dunia ini kami tidak diazab/disiksa oleh Tuhan, maka kelak di akhirat pun kami tidak akan disiksa.
  • Di dunia ini kami lihat banyak orang mukmin yang melarat, maka tidak mungkin mereka akan mendapatkan kekayaan, kebahagiaan, & kesejahteraan di akhirat.

3.    Kesesatan struktur silogisme mereka adalah: "Allah telah berbuat baik kepada kami dengan memberikan kenikmatan dunia. Siapa pun yang memberi, berarti dia cinta. Siapa pun yang cinta, pasti akan memberi." Padahal, belum tentu memberi sesuatu merupakan bukti dari cinta. Bahkan, tidak jarang pemberian itu justru membinasakan secara pelahan (istidraj). Sebagaimana seseorang yang punya riwayat penyakit tertentu dilarang mengonsumsi makanan atau minuman tertentu; dia sangat ingin menikmatinya. Oleh keluarganya, diberilah ia makanan atau minuman itu. Apa yang terjadi? Penyakitnya akan kumat, lalu bertambah parah, dan akhirnya mati.

4.    Ketertipuan ini muncul karena mereka tidak mengenal Allah. Jika mereka mengenal Allah, tentu mereka tidak akan merasa aman dari makar Allah. Makar Allah bisa diartikan sebagai azab Allah yang diberikan secara perlahan dan tanpa disadari (istidraj). Tidakkah mereka belajar dari kisah Fir'aun, Haman, dan Namrud?

5.    Seorang mukmin harus waspada, jangan sampai nikmat (ni'mat) yang diberikan Allah justru berubah menjadi murka/siksa (niqmat) dari Allah.[]

 






Read More

Friday, July 4, 2025

11 Udzur Makmum Tertinggal Dua Rukun Fi’li

July 04, 2025 0

 Salah satu yang membatalkan shalat adalah tertinggal dua rukun fi’li (rukun berupa gerakan) dari imam, tanpa udzur (halangan atau alasan yang dibenarkan syariat). Dalam Kitab Kasyifatus Saja (Syarah Safinatun Najah) disebutkan ada 11 udzur makmum boleh terlambat dari imam sebanyak dua rukun fi’li, bahkan ditoleransi sampai tiga rukun panjang, yaitu Rukuk, Sujud Pertama, dan Sujud kedua.

Kesebelas udzur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bacaan al-Fatihah makmum lambat karena kondisi bawaan (bukan karena waswas) dan tempo bacaan imam terbilang normal (tidak terlalu ngebut).Bacaan makmum yang lambat karena waswas tidak termasuk udzur. Jika makmum dengan keadaan yang waswas seperti ini bisa menyelesaikan al-Fatihah sebelum imam sujud maka dia dihitung mendapatkan rakaat. Akan tetapi, apabila dia tidak dapat menyempurnakan bacaan al-Fatihahnya maka makmum tersebut wajib mufaraqah (memisahkan diri dari imam). Jika dia tidak mufaraqah maka batal shalatnya.
  2. Makmum mengetahui bahwa dirinya belum membaca al-Fatihah, atau makmum ragu-ragu apakah dia sudah membaca al-Fatihah atau belum. Hal ini terjadi pada makmum ketika makmum tersebut belum melakukan rukuk sedangkan imam sudah dalam posisi rukuk.
  3. Makmum belum membaca al-Fatihah karena lupa dan teringat ketika dirinya belum melakukan rukuk atau hendak rukuk.
  4. Makmum yang memiliki waktu yang cukup untuk membaca Al-Fatihah, akan tetapi makmum tersebut sibuk membaca bacaan sunnah seperti doa iftitah dan ta’awudz.
  5. Makmum menunggu diamnya imam setelah membaca Al-Fatihah dengan harapan imam memberi kesempatan untuk makmum membaca Al-Fatihah. Akan tetapi, ternyata imam langsung rukuk setelah dia membaca al-Fatihah atau imam membaca surah sangat pendek sehingga membuat makmum tidak mungkin membaca al-Fatihah secara sempurna.
  6. Makmum tertidur ketika tasyahud awal dengan posisi duduk merapatkan pantat pada tempat duduk. Makmum tersebut terbangun dari tidurnya ketika imam sudah rukuk atau hendak rukuk.
  7. Pada rakaat kedua, makmum mengira imam bertakbir untuk tasyahud awal, ternyata untuk berdiri. Makmum tersebut tersadar kemudian berdiri dari tasyahud awalnya, ternyata imam sudah dalam posisi rukuk.
  8. Makmum menyempurnakan bacaan tasyahud awal secara sengaja atau tidak, meskipun imam sudah berdiri.
  9. Makmum lupa bahwa dirinya adalah seorang makmum yang harus mengikuti imam, atau dia lupa bahwa dirinya sedang shalat. Misalnya, kelupaan itu terjadi saat makmum sedang sujud. Ketika makmum bangun dari sujud, ternyata imam sudah rukuk atau mendekati rukuk.
  10. Makmum ragu-ragu apakah dirinya termasuk masbuq atau muwafiqMakmum masbuq ialah makmum yang tidak memiliki waktu yang cukup untuk membaca Fatihah. Adapun makmum muwafiq ialah makmum yang memiliki waktu yang cukup untuk membaca Fatihah.
  11. Makmum memanjangkan sujud terakhirnya dan bangun dari sujud tersebut ketika imam dalam posisi rukuk atau imam hendak rukuk.

Makmum yang menjumpai salah satu dari 11 udzur di atas harus menelatkan/menerlambatkan diri dari imam demi menyempurnakan bacaan al-Fatihahnya, kemudian melakukan gerakan shalat sesuai urutan bagi dirinya. Makmum dengan udzur tersebut mendapat keringanan (dimaafkan) menelatkan diri dari imam sebanyak tiga rukun fi’li yang panjang, yaitu rukuk, sujud pertama, dan sujud kedua. Apabila ia bisa melakukan sujud yang kedua bersama imam maka ia terbilang mendapatkan rakaat. 

Apabila makmum tersebut belum juga menyelesaikan Fatihahnya, padahal imam sudah selesai dari sujud yang kedua (bersiap untuk berdiri rakaat berikutnnya atau bersiap duduk tasyahud awal), maka makmum bisa memilih: (1) mufaroqoh alias memisahkan diri dari imam atau (2) tetap mengikuti imam (jika imam berdiri maka makmum juga berdiri; jika imam duduk tasyahud awal maka makmum juga tasyahud awal) dengan konsekuensi ia tidak mendapatkan satu rakaaat tersebut. Setelah imam salam, dia harus berdiri untuk menambah satu rakaat. Jika makmum tetap nekad melakukan rukuk, i'tidal, dan dua kali sujud tanpa berniat mufaroqoh, maka batallah shalatnya. []

Sumber: Syaikh Nawawi al-Bantani, Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Najah, Penerbit: Maktabah al-Hidayah Surabaya, hlm. 451-455.

Penerjemah: Fajar Syaifudin bin Bpk. Tukiman
Penyunting: Irham Sya'roni

Read More

Thursday, April 24, 2025

TIGA DOA MALAIKAT JIBRIL YANG DIAMINKAN KANJENG NABI

April 24, 2025 0

 


Dikisahkan ketika Rasulullah menaiki mimbar, pada tangga pertama beliau berucap “aamiin”. Pada tangga kedua dan ketiga beliau juga berucap “aamiin”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan aamiin tiga kali.”

Rasulullah lalu menjelaskan, bahwa saat menaiki tangga pertama, Malaikat Jibril datang dan berkata: 

 

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan dan melewatinya tetapi dosa-dosanya tidak diampuni.”


Karena itulah Rasulullah lalu mengucapkan ‘aamiin’.

Pada tangga kedua Malaikat Jibril berkata: 

 

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

Celakalah orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya tetapi hal itu tidak bisa memasukkannya ke surga.”


Rasulullah kembali mengucapkan ‘aamin’.

Pada tangga ketiga Malaikat Jibril berkata: 


 شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ

Celakalah orang yang ketika namamu disebut di dekatnya tetapi dia tidak bershalawat kepadamu.”


Rasulullah kembali mengucapkan ‘aamiin’.

 

(Hadits ini diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dan didokumentasikan oleh al-Imam al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad, bab Man Dzukira ‘Indahu an-Nabiyyu fa lam Yushalli ‘Alaihi, hadits nomor 644.)

Read More

Doa Meredam Amarah & Meluluhkan Hati Seseorang

April 24, 2025 0

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ ، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِيْ ، وَأَجِرْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya, “Tuhanku, ampunilah dosaku, redamlah murka hatiku, dan lindungilah diriku dari pengaruh setan.”

 

اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَبِيْرُ وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ الَّذِيْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ، اللَّهُمَّ سَخِّرْ لِيْ كَمَا سَخَّرْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى وَلَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُدَ فَإِنَّهُ لَا يَنْطِقُ إِلَّا بِإِذْنِكَ نَاصِيَتُهُ فِيْ قَبْضَتِكَ وَقَلْبُهُ فِيْ يَدِكَ جَلَّ ثَنَاءُ وَجْهِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Mahabesar. Aku ini adalah hamba-Mu yang lemah dan hina, tiada daya dan kekuataan kecuali dengan pertolongan-Mu. Ya Allah, mudahkanlah bagiku urusanku, sebagaimana Engkau mudahkan bagi urusan Fir'aun kepada Musa dan lunakkan hatinya bagiku sebagaimana Engkau lunakkan besi bagi Nabi Daud. Karena sungguh dia tidak akan berbicara kecuali dengan izin-Mu, ubun-ubunnya dalam genggaman-Mu, dan hatinya di tangan-Mu. Pujian wajah-Mu telah Agung, wahai Dzat yang lebih sayangnya para penyayang.

Read More