Kata al-Imam
al-Ghazali dalam kitabnya al-Kasyfu wat Tabyin (hlm. 10), termasuk ketertipuan
orang mukmin yang berbuat maksiat adalah mereka mengira bahwa ketaatannya lebih
banyak daripada kemaksiatannya. Mereka tidak pernah mau ber-muhasabah (introspeksi
dan evaluasi diri) bahwa sejatinya kemaksiatannya justru lebih banyak lagi.
Ketika melakukan
kebaikan dan ketaatan, mereka selalu mengingat dan mencatatnya. Sementara terhadap
keburukan dan kemaksiatan, mereka memilih melupakan dan mengabaikannya.
Contohnya adalah seorang
mukmin sangat rajin berdzikir, tetapi ternyata lisannya juga tidak pernah absen
dari “nyinyir” (ghibah/gosip, adu domba, berkata kotor, dusta, fitnah, dan sebagainya).
Kata al-Imam al-Ghazali, mereka ini benar-benar orang yang tertipu (maghrur/mughtar)!
Orang seperti ini
sibuk memperhatikan dalil-dalil keutamaan berdzikir, tetapi melupakan dalil-dalil
lain tentang betapa beratnya siksaan bagi para pendusta, pengadu domba, kaum
munafik, penyinyir, dan orang-orang yang mengotori lisannya dengan ucapan yang
tidak diridhai Allah.
Ada satu pernyataan
sangat penting yang disampaikan al-Imam al-Ghazali:
فَحِفْظُ لِسَانِهِ عَنِ المَعَاصِي أَكَدُ مِنْ تَسْبِيحِهِ
“Menjaga lisan dari kemaksiatan itu lebih penting daripada bertasbih.”
Dari dhawuh (perkataan) al-Imam
al-Ghazali ini bisa kita ambil konklusi/simpulan tentang peringkat orang mukmin
berkaitan dengan lisannya:
1. Tingkatan
tertinggi: Lisannya rajin berdzikir & tidak pernah “nyinyir”.
2. Tingkatan kedua: Lisannya
jarang berdzikir, juga tidak pernah “nyinyir”.
3. Tingkatan ketiga:
Lisannya rajin berdzikir, tetapi juga doyan “nyinyir”.
4. Tingkatan paling
bawah: Lisannya tidak pernah berdzikir, hobinya cuma “nyinyir”.
Wallahu a’lam.
[]

No comments:
Post a Comment