Menjaga Lisan dari Nyinyir Lebih Baik daripada Berdzikir? - Santri Nurbin

Hot

Monday, February 23, 2026

Menjaga Lisan dari Nyinyir Lebih Baik daripada Berdzikir?

 


Kata al-Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Kasyfu wat Tabyin (hlm. 10), termasuk ketertipuan orang mukmin yang berbuat maksiat adalah mereka mengira bahwa ketaatannya lebih banyak daripada kemaksiatannya. Mereka tidak pernah mau ber-muhasabah (introspeksi dan evaluasi diri) bahwa sejatinya kemaksiatannya justru lebih banyak lagi.

Ketika melakukan kebaikan dan ketaatan, mereka selalu mengingat dan mencatatnya. Sementara terhadap keburukan dan kemaksiatan, mereka memilih melupakan dan mengabaikannya.

Contohnya adalah seorang mukmin sangat rajin berdzikir, tetapi ternyata lisannya juga tidak pernah absen dari “nyinyir” (ghibah/gosip, adu domba, berkata kotor, dusta, fitnah, dan sebagainya). Kata al-Imam al-Ghazali, mereka ini benar-benar orang yang tertipu (maghrur/mughtar)!

Orang seperti ini sibuk memperhatikan dalil-dalil keutamaan berdzikir, tetapi melupakan dalil-dalil lain tentang betapa beratnya siksaan bagi para pendusta, pengadu domba, kaum munafik, penyinyir, dan orang-orang yang mengotori lisannya dengan ucapan yang tidak diridhai Allah.

Ada satu pernyataan sangat penting yang disampaikan al-Imam al-Ghazali:


فَحِفْظُ لِسَانِهِ عَنِ المَعَاصِي أَكَدُ مِنْ تَسْبِيحِهِ

“Menjaga lisan dari kemaksiatan itu lebih penting daripada bertasbih.”

Dari dhawuh (perkataan) al-Imam al-Ghazali ini bisa kita ambil konklusi/simpulan tentang peringkat orang mukmin berkaitan dengan lisannya:

1.   Tingkatan tertinggi: Lisannya rajin berdzikir & tidak pernah “nyinyir”.

2.   Tingkatan kedua: Lisannya jarang berdzikir, juga tidak pernah “nyinyir”.

3.   Tingkatan ketiga: Lisannya rajin berdzikir, tetapi juga doyan “nyinyir”.

4.   Tingkatan paling bawah: Lisannya tidak pernah berdzikir, hobinya cuma “nyinyir”.

Wallahu a’lam. []



No comments: