Santri Nurbin: Kuliner

Hot

Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Sunday, May 22, 2016

Hukum Memakan Belalang (Bagian 2)

May 22, 2016

Memakan Belalang Mentah
Sumber Gambar
Belalang dan ikan merupakan hewan yang halal dimakan berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hadits tersebut Rasulullah tidak mensyaratkan harus memasaknya terlebih dahulu. Karena itulah halal memakan belalang atau ikan yang telah mati, baik dimasak dulu maupun masih mentah.

Begitu pula halal memakan daging kambing atau lainnya dalam kondisi mentah, selama kambing tersebut terlebih dahulu disembelih secara syar’i.

Hanya sebagian ulama Hanabilah yang memakruhkan memakan daging mentah.

Bagaimana Jika Memakannya Hidup-Hidup?
Dalam hal ini ada dua pendapat. Ada yang mengatakan haram dan ada pula yang mengatakan makruh (tidak sampai haram).

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh Muhadzab mengatakan:

ولو ابتلع سمكة حية أو قطع فلقة منها وأكلها أو ابتلع جرادة حية أو فلقة منها فوجهان (أصحهما) يكره ولا يحرم (والثانى) يحرم وبه قطع الشيخ أبو حامد

Jika ada orang menelan (memakan) ikan yang masih hidup, atau memotong sebagian daging ikan yang masih hidup lalu memakannya, atau menelan (memakan) belalang yang masih hidup atau sepotong darinya, maka ada dua pendapat. Pendapat yang paling shahih, hukumnya makruh dan tidak haram. Pendapat kedua, hukumnya haram. Pendapat kedua ini ditetapkan oleh Abu Hamid (Imam al-Ghazali).

Pendapat Imam al-Ghazali dikukuhi juga oleh ulama-ulama Hanafiyah dan Hanabilah.

إذا أخذ السمك حيا لم يجز أكله حتى يموت أو يمات، كما يقول الحنفية والحنابلة.

Jika ada ikan yang diambil hidup-hidup, tidak boleh langsung dimakan sampai ia mati atau dimatikan dulu. Sebagaimana ditegaskan oleh madzhab Hanafi dan Hambali.(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 5/131)

Walaupun yang disebut dalam teks di atas hanyalah ikan, senyatanya mencakup pula belalang. Karena hukum keduanya adalah sama, yakni halal bangkainya.

Terlepas dari perbedaan pendapat ini, memasaknya terlebih dahulu jelas lebih mengundang gairah; enak, gurih, dan lezat. Bisa digoreng, direbus, atau dijadikan sambal. Jadi, apa enaknya jika kita melahapnya saat masih bernyawa?!
  
Sumber Gambar


Bolehkah Memasaknya Hidup-Hidup?
Dalam hal ini, para ulama pun berbeda pendapat. Ada yang membolehkan, dan ada pula yang melarang. Maksud dari “melarang” ini pun terdapat dua pendapat; ada yang mengharamkan, dan ada pula yang memakruhkan.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja mengatakan:

يجوز قلي السمك حيا وكذا ابتلاعه إذا كان صغيرا ويعفى عما في باطنه

“Boleh menggoreng ikan hidup-hidup. Demikian juga boleh menelannya bilamana ikan itu kecil. Dan dimaafkan atas najis yang ada di dalam perutnya.”

سمعت أحمد سئل عن السمكة تلقى في النار وهي حية؟ قال: لا

“Saya mendengar Imam Ahmad ditanya tentang ikan yang dipanggang dalam kondisi masih hidup? Beliau menjawab, ‘Jangan.’” (Masail Abi Daud, 1647)

ويكره شيه حيا، لأنه تعذيب بلا حاجة، فإنه يموت سريعا فيمكن انتظار موته

Dimakruhkan untuk memanggangnya hidup-hidup. Karena berarti menyiksa binatang tanpa ada kebutuhan. Karena ikan bisa cepat mati, sehingga mungkin untuk ditunggu kematiannya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 5/131)

Dalam I’anah ath-Thalibin II/354 juga disebutkan bahwa menggoreng atau memanggang  ikan atau belalang dalam kondisi hidup hukumnya makruh. Walaupun demikian ada pula pendapat yang mengharamkannya karena dinilai menyiksa.

Tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa kemakruhan atau keharaman ini jika ikan atau belalang itu menggelepar lama (tidak segera mati) saat dimasak. Karena, yang demikian ini serupa dengan penyiksaan. Akan tetapi, jika cepat mati maka tidak apa-apa karena tidak serupa dengan penyiksaan.

Dalam sekian banyak teks, ikanlah yang sering disebut, sementara belalang jarang. Walaupun demikian, hukum keduanya selalu diposisikan sama karena dalil kehalalannya juga sama.

Sumber Gambar

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, memasak belalang yang telah mati atau dimatikan terlebih dahulu tentu lebih berperikehewanan daripada menggorengnya hidup-hidup. Andai hewan itu bisa bermain gadget seperti manusia, mungkin dia akan berkirim SMS atau BBM kepada kita; “Plisss, sedikit berperikehewananlah kepada kami!” J


Wallahu a’lam bish-shawab

Referensi:
http://library.islamweb.net
Read More

Wednesday, May 18, 2016

Hukum Memakan Belalang (Bagian 1)

May 18, 2016 36

Namanya Rifqi NH. Dia tetangga sekaligus saudara jauh saya. Sudah sangat lama saya tidak bersua muka dengannya. Beruntung saat ini ada facebook sehingga kami tetap bisa berkomunikasi dan mengetahui kabar saban hari.

Tadi pagi Rifqi berkirim pertanyaan, yang sebetulnya sudah diketahui jawabannya oleh siapa saja, termasuk Rifqi sendiri. Jadi, pertanyaan darinya senyatanya lebih berharap mendapat kemantapan hati tentang keberadaan dalilnya, apakah ada dalam al-Qur’an atau hadits Nabi.

Dalil Kehalalan Belalang
Kata al-jarad (belalang) memang termaktub dalam al-Qur’an, yakni surat al-A’raf ayat 133. Akan tetapi, kata al-jarad dalam ayat tersebut tidak ada hubungan sama sekali dengan hukum memakan belalang. Ayat tersebut hanya berkisah tentang azab Allah kepada Fir’aun dan kaumnya, salah satunya berupa belalang yang merusak lahan pertanian.

Adapun kata al-jarad yang mengungkap hukum memakannya terdapat dalam hadits Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sementara dua darah yang dimaksud adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam hadits berikut Kanjeng Nabi menyatakan bahwa beliau tidak biasa memakan belalang, tetapi tidak juga mengharamkannya.

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْجَرَادِ فَقَالَ أَكْثَرُ جُنُودِ اللَّهِ لَا آكُلُهُ وَلَا أُحَرِّمُهُ

Dari Salman ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai belalang, kemudian beliau bersabda: Mereka adalah tentara Allah terbanyak. Aku tidak memakannya dan tidak mengharamkannya. (HR. Abu Daud)

Beliau memang tidak biasa memakan belalang. Hanya beberapa kali memakannya sebagaimana terungkap dalam hadits berikut.

غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ

“Kami berperang bersama Rasulullah dalam tujuh kali peperangan, kami makan belalang.” (HR. Muslim)

Dalam redaksi lain tertulis:

غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ أَوْ سِتًّا كُنَّا نَأْكُلُ مَعَهُ الْجَرَادَ

“Kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tujuh atau enam peperangan. Kami memakan belalang bersama beliau.(HR. al-Jamaah, kecuali Ibnu Majah)


Sumber Gambar
Haruskah Disembelih Dulu?
Untuk mengonsumsi belalang tidak disyaratkan harus menyembelihnya terlebih dahulu. Hal ini telah ditegaskan oleh Kanjeng Nabi dalam hadits di atas bahwa bangkai belalang halal dimakan.

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab  mengatakan,

وَيَحِلُّ السَّمَكُ وَاْلجَرَادُ مِنْ غَيْرِ ذَكَاةٍ


“Ikan dan belalang itu halal dimakan walaupun tidak melalui proses penyembelihan.” 

***

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini. Maklum, saya menulisnya di sela-sela jam istirahat kantor. Semoga nanti malam atau lain waktu bisa melanjutkannya dengan subtema hukum memakan belalang hidup-hidup, memasaknya/memanggangnya dalam kondisi hidup, serta hukum memakan jangkrik. Semoga senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang untuk menuliskannya dalam blog sederhana ini. Aamiin...

Baca juga: Hukum Memakan Belalang (Bagian 2)

Read More

Monday, November 14, 2011

Membunuh Hewan untuk Umpan

November 14, 2011 0
Deskripsi :
Kita senantiasa dianjurkan untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam hal menyembelih atau membunuh binatang, baik ma’kul (boleh dimakan) atau ghairu ma’kul (tidak boleh dimakan). Bagi penggemar burung dan orang yang hobi memancing, jangkrik sudah menjadi bagian dari kegemarannya, karena ia sebagai salah satu jenis makanan burung atau umpan memancing. Namun dalam menyajikan jangkrik sebagai makanan atau umpan terindikasi kurang mencerminkan berbuat baik terdahadap binatang.


Pertanyaan:
a. Bagaimana hukum membunuh atau memrotoli dalam keadaan hidup-hidup terhadap hewan yang digunakan sebagai umpan atau pakan burung?
b. Bagaimana hukum memancing di pemancingan umum yang semata-mata untuk hiburan, bukan untuk mengambil ikannya, dan lain sebagainya? (PCNU Kab. Blitar)


Jawaban a:
Memrotoli binatang (jangkrik) yang masih hidup untuk makanan burung adalah haram karena mengandung unsur ta’dzib (menyiksa), akan tetapi jika dibunuh terlebih dahulu lalu diprotoli maka hukumnya boleh.
Jawaban b:
Memancing di pemancingan umum yang semata-mata untuk hiburan, bukan untuk mengambil ikannya, dan lain sebagainya, hukumnya adalah haram karena tergolong menyiksa terhadap ikan.


Dasar Pengambilan Hukum:


إسعاد الرفيق ص 101
ومنها المثلة بالحيوان أي تقطيع اجزائه وتغيير خلقته وهي من الكبائر

اسم الكتاب: مسند الإمام أحمد ج 5 ص 528
حدّثنا عبدالله حدَّثني أبي حدثنا عبدالواحد الحداد أبو عبيدة عن خلف ـ يعني ابن مهران ـ حدثنا عامر الأحول عن صالح بن دينار عن عمرو بن الشريد قال: سمعت الشريد يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلّم يقول: «من قتل عصفوراً عبثاً عج إلى الله عزَّ وجلَّ يوم القيامة منه يقول: يا رب إن فلاناً قتلني عبثاً ولم يقتلني لمنفعة

صحيح ابن حبان ج 5 ص 411
أخبرنا محمدُ بنُ عبد الرحمن السَّامِي ، قال: حَدَّثنا أحمدُ بنُ حنبل ، قال: حَدَّثنا أبو عبيدة الحدادُ ، عن خَلَفِ بنِ مِهران ، قال: حَدَّثنا عامِرٌ الأحَولُ ، عَنْ صَالح بنِ دينارٍ ، عن عمرِو بنِ الشريد قال: سَمِعْتُ الشَّرِيدَ يقولُ: سمعتُ رسولَ الله يقولُ : «مَنْ قَتَلَ عُصْفُوراً عَبَثاً، عَجَّ إلى اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ يَقُولُ: يَا رَبِّ، إنَّ فلاناً قَتَلَنِي عَبَثاً وَلَمْ يَقْتُلْنِي مَنْفَعَةً

فيض القدير ج 6 ص 193
(من قتل عصفورا) بضم أوله ونبه بالعصفور لصغره على ما فوقه وألحق به تنزه المترفين بالاصطياد لا لأكل أو حاجة وفي رواية فما فوقها وهو محتمل لكونه فوقها في الحقارة والصغر وفوقها في الجثة والعظم (بغير حقه) في رواية حقها والتأنيث باعتبار الجنس والتذكير باعتبار اللفظ وحقها عبارة عن الانتفاع بها (سأله اللّه عنه) في رواية عن قتله أي عاقبه وعذبه عليه (يوم القيامة) تمامه عند مخرجه أحمد وغيره قيل: وما حقها يا رسول اللّه قال: أن تذبحه فتأكله ولا تقطع رأسه فترمى بها فما أوهمه صنيع المصنف من أن ما ذكره هو الحديث بتمامه غير صحيح وفي رواية للقضاعي وغيره من قتل عصفوراً عبثاً جاء يوم القيامة وله صراخ تحت العرش يقول رب سل هذا فيم قتلني من غير منفعة

السيل الجرار ج 4 ص 371
أقول إنما أجاز الله سبحانه لعباده صيد ما يصاد من الحيوانات والانتفاع بما ينتفع به من أهليها من أكل وغيره وجوز لهم قتل ما يقتل منها من الفواسق وما كان فيه إضرار بالعباد أو بأموالهم وأما الإغراء بينها فهو باب من أبواب اللعب والعبث وليس هو مما أباحه الله لأنه إيلام لحيوان بغير فائدة على غير الصفة التي أذن الله بها فهو حرام من هذه الحيثية وقد حرم الله العبث بالحيوان لغير فائدة كما أخرجه مسلم وغيره من حديث ابن عباس مرفوعا بلفظ لا تتخذوا شيئا فيه الروح غرضا وهكذا حديث من قتل عصفورا عبثا عج إلى الله يوم القيامة يقول يا رب إن فلانا قتلني عبثا ولم يقتلني منفعة وهو حديث مروي من طرق قد صحح الأئمة بعضها. ووجه الاستدلال بما ذكرنا وإن كان ليس بإغراء بين الحيوان أن صلى الله عليه وسلم قد نهى عن العبث الذي لا فائدة فيه والإغراء عبث لا فائدة فيه.

محاضرات الأدباء ومحاورات الشعراء والبلغاء لأبي الفرج الأصفهاني في الحد الرابع والعشرون في الحيوان
النهي عن المثلة بالحيوان والحث على تحسين الذبح: قال النبي صلى الله عليه وسلم: لعن الله من يمثل بالحيوان، ونهى أن تصبر البهيمة وأن يؤكل لحمها إذا ضرب. وقال أيضاً: لا تتخذوا الروح غرضاً. وقال: إن الله كتب الإحسان في كل شيء، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة، وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته.

الحواشي المدنية ج 1 ص 30
(قوله ولا يجرح) اعتمده الشارح في كتبه وعبر في حاشيته على تحفة بقوله ولا يجوز امتحانها بشق بعض أجزائها خلافا للغزالي ومن تبعه على كثرتهم إلى آخر ما أطال به، وفي الإمداد: اللائق بقاعدة تحريم المثلة إلا الدليل انه لا يجوز جرحه مطلقا.

اسعاد الرفيق، ج 2 ص 131
ومنها اتخاد الحيوان غرضا بالمعجمة ما ينصبه الرماة ويقصدون اصابته من نحو قرطاس لقوله عليه الصلاة والسلام لعن من اتخذ شيئا فيه الروح غرضا ، وقول ابن عمر رضي الله عنه وقد مر بفتيان نصبوا طيرا أو دجاجة يترامونها فلما رأوه تفرقوا: من فعل هذا؟ لعن الله من فعل هذا ان رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن من اتخذ شيئا فيه الروح غرضا
Read More

Saturday, October 14, 2006

Hukum Makan Semut

October 14, 2006 0
Perkenankan kami menanyakan suatu hal yang sangat mengganjal dalam benak kami, yaitu: apa
hukumnya makan semut yang tercampur dalam makanan? Atas penjelasannya kami ucap terima kasih.
Awi-Semarang

Mayoritas ulama mengatakan bahwa hewan yang dilarang membunuhnya, maka dilarang juga mengkonsumsi atau memakannya. Seperti hadist yang melarang membunuh katak ditafsirkan bahwa itu juga mengindikasikan larangan memakannya. Maka para ulama sepakat melarang makan katak.

Dalam hadist riwayat Ibnu Abbas Rasulullah s.a.w. melarang membunuh empat jenis hewan melata, yaitu semut, lebah, burung hud-hud dan burung sejenis jalak (HR. Abu Dawud). Khatabi dan Baghawi menegaskan bahwa semut di sini bukan semua jenis semut, tapi semut Sulaimaniyah, yaitu semut besar yang tidak membahayakan dan tidak menyerang manusia. Adapun semut-semut kecil yang kadang termasuk wabah dan mengganggu serta menyerang manusia, maka boleh dibunuh. Imam Malik mengatakan makruh hukumnya membunuh semut yang tidak membahayakan.

Namun meskipun boleh membunuh semut, tapi sebaiknya mebunuh semut dengan cara tidak membakarnya, karena ada hadist yang menegaskan bahwa yang berhak menyiksa dengan api adalah Tuhan api (HR. Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud).

Bagaimana dengan semut yang kadang masuk di makanan kita? Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj, Syarah Minhaj (40/403) karangan Imam Zakariya al-Anshori dijelaskan bahwa apabila semut jatuh ke madu kemudian madu itu dimasak, maka boleh memakan semut tadi bersama madu, tetapi kalau jatuh di daging yang memungkinkan memisahkan bangkai semut tadi, maka tidak boleh memakannya dan harus dipisahkan dari daging yang dimasak. Sangat jelas, alasan diperbolehkan makan bangkai semut bersama makanan yang tercampur adalah karena sulit memisahkannya, sejauh bisa dipisahkan dan mungkin untuk mengeluarkannya dari makanan, maka harus dilakukan dan tidak boleh memakannya. Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin (1/438) juga menegaskan bahwa apabila semut atau lalat terjatuh ke dalam periuk makanan, maka tidak harus menumpahkan dan membuang semua makanan yang ada dalam periuk makanan tadi, karena yang dianggap menjijikkan adalah fisik bangkai semut atau lalat tadi, sejauh keduanya tidak mempunyai darah maka tidak najis, ini juga menunjukkan bahwa larangan makan keduanya karena dianggap menjijikkan.

Sumber Gambar

Read More