Santri Nurbin: Tokoh

Hot

Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Sunday, September 8, 2019

Mengenal Kitab Safinatun Najah dan Penulisnya

September 08, 2019 0
Nama Kitab
Safinatun Najah, demikian para santri karib menyebutnya. Kadang disebut juga Safinatun Naja (tanpa “h”) atau Matan Safinatun Najah. Lengkapnya adalah “Safinatun Najah fi ma Yajibu ‘ala al-‘Abdi li Maulah” (سفينة النجاة فيما يجب على العبد لمولاه), yang berarti perahu keselamatan dalam mempelajari kewajiban hamba kepada Tuhannya. Sebagaimana namanya, kitab ini diharapkan dapat menjadi perahu yang menyelamatkan manusia dari gelombang kebodohan dan kesalahan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Kitab ini tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi masyhur pula di negara-negara lain semisal Arab, Yaman, Somalia, Ethiopia, Tanzania, Kenya, Zanjibar, Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain. Kitab ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing, seperti Indonesia, Melayu, Sunda, India, Cina, dan sebagainya.

Isi Kitab
Kitab ini berbentuk mukhtashar (ringkasan) dalam bidang fikih bagi pemula dan masyarakat awam. Sebagai sebuah karya ringkasan, kitab ini tidak menguraikan pembahasannya secara panjang lebar. Oleh karena itu, wajar jika di dalamnya tidak kita temukan sederet dalil, entah dari al-Qur’an maupun hadits Nabi.
Sajiannya yang ringkas dan tidak bertele-tele menjadikan kitab tipis ini menebarkan manfaat yang besar bagi para pembelajar, khususnya pemula dan masyarakat awam. Berkat bentuk mukhtashar inilah mereka mudah memahami dasar-dasar akidah dan fikih, bahkan mudah pula menghafalnya.
Berbeda dengan kebanyakan kitab fikih, Safinatun Najah tidak langsung memulai pembahasannya dengan masalah-masalah fikih. Tetapi, membukanya terlebih dahulu dengan pembahasan tentang pokok-pokok akidah (rukun iman, rukun Islam, dan makna kalimat tauhid), baru kemudian membahas masalah-masalah fikih, mulai dari kriteria baligh, kemudian thaharah (bersuci), shalat, dan seterusnya sampai pembahasan tentang haji dan umrah.
Kitab Safinatun Najah yang beredar saat ini memang memulai pembahasannya dari  rukun iman dan diakhiri dengan haji dan umrah. Padahal, sebetulnya, karya orisinil Syekh Salim al-Hadhrami dalam kitab tersebut hanya sampai pada pembahasan zakat. Pembahasan lainnya (puasa, haji, dan umrah) tidak sempat beliau tuliskan.
Kalau begitu, tambahan pembahasan tentang puasa, haji, dan umrah itu tulisan siapa?
Itu adalah tulisan Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Muhammad Ba’athiyyah. Syekh Nawawi menambah pembahasan tentang puasa (saat beliau menulis kitab Kasyifatus Saja, syarah kitab Safinatun Najah). Sementara Syekh Muhammad Ba’athiyyah menambah pembahasan tentang haji dan umrah (saat beliau menulis kitab Ghayatul Muna, juga syarah kitab Safinatun Najah).

Kitab Syarah dan Nazham
Walaupun tidak tebal, kitab ini sarat dengan keberkahan. Terbukti banyak ulama yang mengkajinya bahkan mengembangkannya melalui berbagai karya, baik berupa kitab syarah (penjelasan) agar semakin menyamudera kajiannya maupun manzhumah (nazham/syair) agar mudah dihafal.
Di antara karya penjelas (syarah) atas kitab ini adalah:
  1. Kasyifatus Saja Syarh Safinatin Naja (كاشفة السجا شرح سفينة النجا), yang berarti menyingkap tabir kegelapan dengan syarah kitab Safinatun Naja, karya Syekh Nawawi al-Bantani (1230 H/1813 M - 1314 H/1897 M). Beliaulah yang menambah pembahasan tentang puasa dalam kitab Safinatun Najah.
  2. Nailur Raja’ Syarah Safinatun Naja’ (نيل الرجاء بشرح سفينة النجاء), yang berarti meraih harapan dengan Syarah Safinatun Naja, karya Sayyid Ahmad bin Umar asy-Syathiri (1312 H/1895 M - 1362H/1945 M), seorang ulama besar dari Hadramaut Yaman.
  3. Nasimul Hayah ‘ala Safinatun Najah (نسيم الحياة على سفينة النجاة), yang berarti angin lembut kehidupan penjelas kitab Safinah Najah, karya Syekh Abdullah bin Awadh bin Mubarak Bukair (1314 H/1897 M - 1399 H/1979 M), seorang ulama fiqih dari Hadramaut Yaman.
  4. Inaratud Duja Syarh ‘ala Tanwiril Hija Nazhm Safinatun Naja (انارة الدجى : شرح على تنوير الحجا نظم سفينة النجا), karya Syekh Muhammad Ali bin Husein al-Makki al-Maliki, seorang ulama Mekah (1287 H 1870 M - 1368 H/1949 M).
  5. Ghayatul Muna Syarh Safinatin Naja (غاية المُنى شرح سفينة النجا), yang berarti puncak harapan penjelas kitab Safinatun Naja, karya Syekh Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah ad-Du’ani (1380 H/1960 M - sekarang), seorang ulama dari Hadhramaut Yaman. Beliaulah yang menambah pembahasan tentang haji dan umrah dalam kitab Safinatun Najah.
  6. Ad-Durrah al-Yatimah (الدرة اليتيمة), yang berarti mutiara paling berharga, karya Syekh Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah ad-Du’ani (1380 H/1960 M - sekarang). Kitab ini merupakan syarah dari kitab as-Sabhah ats-Tsaminah Nazhm as-Safinah (السَّبْحة الثّمينة نظم السَّفينة), sebuah kitab yang menazhamkan/mensyairkan kitab Safinatun Najah karya al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad (1325 H/1907 M - 1416 H/1995 M).
  7. Wasilatur Raja’ bi Syarhi Safinatin Naja (وسيلة الرجاء بشرح سفينة النجا), yang berarti jalan harapan dengan syarah kitab Safinatun Naja, karya Syekh Hasan bin Umar asy-Syirazi, seorang ulama Afrika Timur.
  8. Sullamur Raja lil Wushul ila Hill Alfazh Safinatin Naja (سلم الرجا للوصول الى حل ألفاظ سفينة النجا), yang berarti tangga harapan untuk dapat mengurai lafal-lafal dalam kitab Safinatun Naja, karya Syekh Utsman bin Muhammad Sa’id Tunkal al-Jambi al-Indunisi al-Makki (1320 H/1903 M - 1405 H/1984 M), seorang ulama Jambi yang menjadi guru besar di Mekah.
  9. Faidhul Hija ‘ala Nailir Raja karya KH. Sahal Mahfuzh (1937 M – 2014 M), Kajen Pati Jawa Tengah, Rais Aam ke-8 PBNU. Kitab ini merupakan syarah dari kitab nazham Nailur Raja Manzhumah Safinatun Naja karya al-Ustadz Abi Fauzi Muhammad Muhammad Ma’shum bin asy-Syaikh Siraj asy-Syirbuni (Cirebon).


Adapun karya nazham/syair atas kitab Safinatun Najah, di antaranya adalah:
KH. Ahmad Qusyairi
  1. Tanwirul Hija (تنوير الحجا), yang berarti pencerahan pikiran, karya KH. Ahmad Qusyairi bin Shiddiq bin Abdullah al-Lasimi al-Fasurwani (11 Sya'baan 1311H / 17 Februari 1894M - 22 Syawal 1392 H/28 November 1972 M), kakak Rais Aam ke-5 PBNU KH Ahmad Shiddiq. KH. Ahmad Qusyairi lahir di Lasem, Jawa tengah, kemudian hijrah dan wafat di Pasuruan.
  2. Nailur Raja Manzhumah Safinatun Naja (نيل الرجا منظومة سفينة النجا), yang berarti menggapai harapan dengan nazham kitab Safinatun Naja, karya al-Ustadz Abi Fauzi Muhammad Muhammad Ma’shum bin asy-Syaikh Siraj asy-Syirbuni (Gedongan, Cirebon) atau Kiai Ma'shum Siraj. [Saya kesulitan melacak biografi beliau. Semoga ada pembaca yang bisa membantu.]
  3. Al-Lu’lu-atuts Tsaminah (اللؤلؤة الثمينة), yang berarti mutiara berharga, karya Syekh Muhammad Ali bin Zakin Bahannan (1312 H - 1383 H), seorang ulama Tarim Yaman.
  4. As-Sabhatu Ats-Tsaminah (السَّبحة الثمينة), yang berarti baju kulit (?) yang berharga, karya al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad (1325 H/1907 M - 1416 H/1995 M).


Biografi Penulis
Kitab Safinatun Najah ditulis oleh Syekh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Sumair al-Hadhrami. Syekh Salim al-Hadhrami adalah ulama besar bermadzhab Syafi’I asal Hadramaut, Yaman. Beliau merupakan seorang pendidik yang penyabar dan sangat ikhlas, seorang qadhi yang adil dan zuhud kepada dunia, bahkan juga politikus dan pengamat militer negara­negara Islam.
Setelah mendalami berbagai ilmu agama beliau memulai langkah dakwahnya dengan berprofesi sebagai Syekh Al Qur'an. Di desanya, pagi dan sore, tak henti-hentinya beliau mengajar para santrinya dan karena keikhlasan serta kesabarannya, maka beliau berhasil mencetak para ulama ahli Al-Qur'an di zamannya.
Suatu ketika Syekh Salim diminta kerajaan Kasiriyyah Yaman agar membeli peralatan perang tercanggih pada saat itu, maka beliau berangkat ke Singapura dan India untuk keperluan tersebut. Pekerjaan beliau ini dinilai sangat sukses oleh pihak kerajaan yang kemudian mengangkat beliau sebagai staf ahli dalam bidang militer kerajaan.
Pada tahun-tahun berikutnya Syekh Salim diangkat menjadi penasihat khusus Sultan Abdullah bin Muhsin. Sultan tersebut pada awalnya sangat patuh dan tunduk pada semua saran, arahan, dan nasihat beliau. Namun sayang, pada tahun-tahun berikutnya ia tidak lagi menuruti saran dan nasihat beliau, bahkan cenderung meremehkan dan menghina. Puncaknya, karena kondisi yang semakin tidak kondusif, Syekh Salim memutuskan pergi meninggalkan Yaman. Negara yang dituju adalah India, sampai akhirnya hijrah ke Batavia (sekarang Jakarta).
Selain Safinatun Najah, kitab lain yang ditulis beliau adalah al-Fawa’id al-Jaliyyah fi az-Zajri ‘an Ta’athi al-Hiyal ar-Ribawiyyah (الفوائد الجلية في الزجر عن تعاطي الحيل الربوية).
Syekh Salim wafat di Betawi/Jakarta pada 1271 H/1855 M.[]
Pengumuman takmir Masjid al-Ma'mur Tanah Abang tentang makam yang diyakini sebagai makam Syaikh Salim

*) Saya sangat berharap semoga ada pembaca yang berkenan membantu menambah informasi-informasi penting tentang tema ini, baik berkaitan dengan karya-karya syarah atau manzhumah maupun biografi penulis-penulisnya. Matur nuwun

Referensi

Read More

Monday, September 2, 2019

Mengenal Pengarang Kitab Jurumiyah

September 02, 2019 0

Kitab Jurumiyah

Para santri biasa menyebutnya “Kitab Jurumiyah”. Penyebutan ini sebetulnya merupakan penyederhanan pengucapan dari judul asli kitab tersebut, yaitu Al-Ajurrumiyah (الآجُرّومية) atau al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah fi Mabadi’ Ilm al-Arabiyyah (المقدمة الآجُرُّومية في مبادئ علم العربية).
Kitab ini sangat terkenal di kalangan pesantren karena menjadi buku wajib (textbook) tentang ilmu nahwu (gramatika Bahasa Arab) untuk tingkat dasar. Sangat diragukan kualitas kesantrian seorang apabila ia tidak mengenal atau tidak pernah mengkaji kitab ini.

Pengarang Kitab
Kitab ini memang sangat terkenal di dunia pesantren. Namun, uniknya sang pengarang kitab ini justru kurang begitu dikenal oleh para santri. Mengapa demikian? Karena tidak sedikit guru atau ustadz yang langsung mengajarkan isi kitabnya tanpa mengenalkan pengarangnya terlebih dahulu. Demi memuliakan dan mengenang sang pengarang, tradisi seperti ini perlu diubah.  Guru atau ustadz harus mengenalkan lebih dulu pengarang dan gambaran global kitab yang akan dikaji, baru kemudian dilanjutkan dengan mempelajari isinya.
Kitab Jurumiyah dikarang dan disusun oleh Syaikh ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum.[1] Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud ash-Shanhaji al-Fasi. Beliau lahir di Kota Fez (فاس), Maroko[2], pada 672 H/1273 M[3] dan wafat di kota yang sama pada 723 H/1323 M dalam usia 51 tahun.
Syaikh ash-Shanhaji mengarang kitab ini saat berada di depan Ka’bah. Suatu ketika, kitab yang sedang beliau tulis ini dihempas oleh angin. Beliau lalu berucap:
اللّهمّ إن كان خالصًا لوجهك فردّه عليّ"Ya Allah, jika kitab tersebut ikhlas (disusun) karena mengharap keridhaan-Mu, maka kembalikanlah kepadaku."
Syahdan, kitab itu pun tiba-tiba kembali lagi ke tangan beliau.
Dikisahkan pula, usai mengarang, beliau melemparkan kitab ini ke laut seraya berucap:
إن كان خالصا للّه تعالى فلا يبلّ"Jika kitab tersebut ikhlas (disusun) karena Allah Ta'ala, maka ia tidak akan basah."
Dalam bidang bahasa Arab, beliau diduga merupakan penganut madzhab Kufah. Hal ini dibuktikan, di antaranya, dengan istilah khafdh (خَفْضِ) yang beliau gunakan sebagai ganti dari jarr (جَرِّ). Namun, pendapat lain menilai bahwa Syaikh ash-Shanhaji melakukan penggabungan antara madzhab Kufah dan Bashrah.

Kitab-Kitab Syarah
Sebagai karya muqaddimah (pengantar), al-Ajurrumiyyah memuat isi yang sangat sederhana dan mendasar. Untuk mengurainya lebih dalam, dibutuhkan kitab-kitab syarah (penjelasan). Karena keberkahannya, kitab ini diulas oleh banyak ulama hingga mencapai tiga puluh kitab syarah. Selain syarah, ada pula ulama yang meringkas kitab lain menjadi untaian bait (nazham). Tidak kurang dari empat kitab yang memuat untaian bait yang bersumber dari kitab al-Ajurrumiyyah ini, di antaranya adalah ad-Durrah al-Bahiyyah fi Nazhm al-Ajurrumiyah karya Syarafuddin Yahya al-‘Imrithi.
Di antara syarah yang mengulas dan menjabarkan kitab al-Ajurumiyah adalah:

  • -          Syarh al-Ajurrumiyyah karya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan.
  • -          Syarh al-Ajurrumiyyah karya Muhammad bin Shalih al-Ustaimin.
  • -          Syarh al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah karya Abdurrahman al-Makudi.
  • -    At-Tuhfah as-Saniyyah Syarh Muqaddimah al-Ajurrumiyah karya Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid Al-Mishri.
  • -          Al-Mutammimah al-Ajurrumiyah karya Muhammad bin Muhammad Ar-Ra'ini.
  • -     Al-Kawakib ad-Durriyah syarh Mutammimah al-Ajurrumiyah karya Muhammad bin Ahmad Al-Ahdal.

Referensi



[1] Kata Ajurrum berasal dari bahasa Amazigh/Barbar yang berarti seorang fakir dan zuhud/sufi. Bagi orang Amazigh/Barbar, kata Ajurrum merupakan gelar kehormatan setingkat sayyid dalam sebutan orang Arab. Dari sinilah kitab tersebut diberi judul Al-Ajurrumiyah.
Menurut riwayat lain, nama kitab Jurumiyah diambil dari peristiwa ajaib yang dilakoni Syaikh ash-Shanhaji. Usai merampungkan karya tulisnya ini beliau meletakkannya di atas sungai yang mengalir. Jika kitab tersebut terbawa arus, berarti kitab tersebut kurang manfaat. Sebaliknya, jika tidak terbawa arus, berarti akan bermanfaat dan terus dikaji oleh manusia sampai akhir masa. Saat itulah berliau berseru kepada air, “Jurru Miyah! Jurru Miyah” (Mengalirlah, wahai air!). Anehnya, kitab tersebut bergeming, tidak terbawa arus sedikit pun. Bahkan, tintanya pun tidak luntur. Dari situlah akhirnya kitab ini masyhur dengan sebutan Jurrumiyah.
[2] Bangsa Arab menyebut negara ini dengan istilah Maghribi.
[3] Tahun 672 H/1273 M merupakan tahun wafatnya Imam Ibnu Malik, pengarang kitab Alfiyah.

Read More

Wednesday, August 28, 2019

Biografi Imam Nawawi

August 28, 2019 0
Beliau adalah seorang imam, hafal ratusan ribu hadits, ahli fiqih, dan ahli hadits. Nama lengkapnya Abu Zakariya Yahya bin Mari bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi. Lahir di desa Nawa di daerah Jauran pada tahun 631 H.
Ketika imam Nawawi masih kecil, beberapa ulama besar mendapat firasat bahwa Nawawi kecil adalah sosok yang sangat cerdas dan berpotensi menjadi orang besar. Mereka lalu memanggil orang tua Nawawi dan berwasiat kepadanya agar mengarahkan putranya tersebut untuk menghafal al-Qur’an. Sejak itulah Nawawi kecil mulai menghafal al-Qur’an. Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk membaca al-Qur’an dan menghafalnya.
Ketika berusia 19 tahun, tahun 649 H, Imam Nawawi dibawa orang tuanya ke kota Damaskus untuk belajar di madrasah ar-Rawahiah. Di madrasah tersebut Imam Nawawi berhasil menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Beliau mempelajari kitab al-Muhadzdzab karya Imam asy-Syairazi kepada Syaikh al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin Utsman al-Maghribi al-Maqdisi. Beliau adalah guru pertama Imam Nawawi dalam bidang ilmu fiqih.

Guru-Guru Imam Nawawi
Di antara guru Imam Nawawi adalah:
-          Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad al-Anshari
-          Syaikh Zainuddin bin Abd ad-Daim
-          Syaikh Imaduddin bin Abdul Karim al-Harastani
-          Syaikh Zainuddin Abi al-Baqa Khalid bin Yusuf al-Maqdisi an-Nabulisi
-          Syaikh Jamaluddin bin ash-Shairafi
-          Syaikh Taqiyyuddin bin al-Yasr
-          Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar
-          Syaikh Abu Ishaq Ibrahim bin Isa al-Muradi al-Andalusi
-          Syaikh al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin Utsman al-Maghribi al-Maqdisi
-          Syaikh Syamsuddin bin Abdurrahman bin Nuh
-          Syaikh Izzuddin al-Irbili

Murid-Murid Imam Nawawi
Di antara murid Imam Nawawi adalah:
-          Syaikh al-Khathib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fari
-          Syaikh Syihabuddin al-Ardabi
-          Syaikh Syihabuddin bin Ja’wan
-          Syaikh Alauddin al-Athar
-          Syaikh Ibnu Abi Fatah
-          Syaikh al-Mazzi

Kesungguhan Imam Nawawi
Setiap hari Imam Nawawi belajar dengan membaca 12 kitab kepada 12 guru. Dalam setiap kitab yang beliau pelajari, Imam Nawawi selalu memberi keterangan masing-masing pembahasannya, menjelaskan redaksi-redaksinya, dan menguraikan istilah-istilahnya. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Semuanya dihabiskan untuk mencari ilmu. Imam Nawawi selalu bersikap wara’ dan membersihkan diri dari segala keburukan. Tersebab itulah dalam waktu singkat Imam Nawawi berhasil menghafal banyak hadits dan berbagai macam disiplin ilmu.
Ada tiga rahasia keberhasilan Imam Nawawi dalam mencari ilmu:
1.     Imam Nawawi tidak sempat berkeluarga sehingga banyak waktu bagi beliau untuk belajar.
2.    Imam Nawawi berada di lingkungan yang mudah mengakses kitab-kitab para ulama.
3.    Imam Nawawi memiliki niat yang mulia dalam belajar, selalu bersikap wara’, zuhud, dan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang baik.
Walaupun masa hidup beliau terbilang singkat, yakni hanya 45 tahun, banyak kebaikan, keberkahan, dan karya tulis ilmiah yang beliau wariskan.

Karya-Karya Imam Nawawi
Banyak sekali karya Imam Nawawi, di antaranya adalah:
-          Syarh Sahih Muslim
-          al-Irsyad
-          at-Taqrib fi Umum al-Hadits
-          Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat
-          al-Manasik ash-Shughra
-          al-Manasik al-Kubra
-          Minhaj ath-Thalibin
-          Bustan al-Arifin
-          Khalashah al-Ahkam fi Muhimmat as-Sunan wa Qawaid al-Islam
-          Raudlah ath-Thalibin fi Umdah al-Muftin
-          Syarh al-Muhadzab
-          Riyadl ash-Shalihin
-        Hilyah al-Abrar wa Syi’ar al-Akhyar fi Talkhish ad-Da’awat wa al-Adzkar (kitab al-Adzkar an-Nawawi)
-          at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an

Wafatnya Imam Nawawi
Imam Nawawi wafat pada malam Rabu bulan Rajab tahun 672 H, dimakamkan di kampung halamannya (Desa Nawa).
Pada Kamis, 8 Januari 2015, makam Imam Nawawi dibom oleh front militan Al-Nusra (cabang Alqaidah Suriah)

Read More

Sunday, July 8, 2018

Benarkah Abu Jahal Adalah Paman Nabi?

July 08, 2018 0
 
Dalam suatu kesempatan pengajian, seorang penceramah mengatakan bahwa Abu Lahab dan Abu Jahal adalah paman Rasulullah. Seketika dahi saya mengernyit. Tampaknya ada kesalahan pehamanan penceramah tersebut terhadap tokoh Mekah yang ia sebutkan itu. Nama yang disebutkan pertama memang paman Nabi, namun nama yang kedua tidak demikian. Abu Jahal tidak memiliki hubungan darah dengan beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Siapakah Abu Jahal?
Nama aslinya adalah Amr bin Hisyam bin Mughirah bin Abdillah bin Umar bin Makhzum. Karena keceradasannya yang mengungguli orang-orang seusianya, masyarakat Mekah menjulukinya Abul Hakam, yang berarti bapak kebijaksanaan. Namun, oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dijuluki Abu Jahal, yang berarti bapak kebodohan. Nama Abu Jahal diberikan kepadanya karena dia merupakan tokoh kafir Mekah yang sangat kejam dan keji terhadap para pemeluk Islam (sahabat Nabi). Di antara kebiadabannya adalah membunuh Sumayyah binti Khayyath dengan cara menombak kemaluan perempuan mulia tersebut hingga gugur sebagai syahidah. Dialah perempuan pertama yang mati syahid dalam Islam.
Semakin sempurnalah kejahilan Abu Jahal disebabkan lima sifat tercela berikut yang melekat erat dalam dirinya, yaitu :
1- لا يعلم
2- لا يريد أن يعلم
3- لا يريد لغيره أن يعلم
4- يدعي أنه يعلم
5- ينكر على من يعلم

1. Tidak tahu,
2. Tidak mau tahu (gengsi),
3. Tidak mau orang lain menjadi tahu,
4. Mengaku diri tahu (sok tahu), dan
5. Ingkar kepada orang yang tahu (hanya membenarkan diri sendiri).
Tidak sedikit orang yang mengira --bahkan meyakini-- bahwa Abu Jahal adalah paman Nabi. Padahal senyatanya dia bukanlah paman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah salah seorang pembesar kafir Quraisy yang sangat memusuhi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sikapnya itulah dia dijuluki Fir’aunul ummah (Fir’aun-nya umat ini).

Kematian Abu Jahal
Abu Jahal tewas dalam Perang Badar. Adalah Muadz bin Amr bin Jamuh yang berhasil melukai dan memutus kaki Abu Jahal hingga pemimpin kafir Quraisy itu terjatuh. Tetapi, pada saat itu pula tangan Muadz bin Amr bin Jamuh terkena sabetan pedang milik anak lelaki Abu Jahal, Ikrimah bin Abu Jahal.
Ternyata Abu Jahal belum tewas. Muawwidz bin Afra’ yang melihat Abu Jahal masih bernyawa segera menebaskan pedangnya. Ternyata tebasan pedang Muawwidz bin Afra’ belum membuat nyawa Abu Jahal melayang. Tak jeda lama, datanglah Abdullah ibnu Mas’ud, lelaki yang dulu pernah dipukuli Abu Jahal karena membaca al-Qur’an dengan suara keras di Ka’bah. Ibnu Mas’ud mendekati tubuh Abu Jahal yang tergeletak di tanah, lalu membinasakannya seketika. Akhirnya, tewaslah pemuka kafir Mekah itu.
Saat itu Muadz bin Amr bin Jamuh berusia sekira 14 tahun, sementara Muawwidz bin Afra’ sekira 13 tahun.


Read More

Abu Lahab, Sang Paman yang Memusuhi Islam

July 08, 2018 0

Nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthallib. Sebagaimana kita tahu bahwa Abdul Muthallib adalah kakek Nabi Muhammad. Dengan demikian, Abdul ‘Uzza alias Abu Lahab adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nama kuniyah-nya[1] adalah Abu ‘Utbah[2]. Lahab berarti bersinar atau menyala. Konon ia disebut Abu Lahab karena wajahnya sangat tampan bak sinar yang menyala. Namun, ada pula yang berpendapat, karena kelak ia akan dibakar di dalam api neraka yang menyala-nyala. Istri Abu lahab bernama Arwa binti Harb bin Umayyah, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Jamil.
Saat Rasulullah lahir, Abu Lahab sangat bergembira. Saking gembiranya atas kelahiran keponakannya itu, ia bebaskan seorang budaknya bernama Tsuwaibah. Namun, saat Rasulullah diangkat menjadi nabi dan mendakwahkan Islam, Abu Lahab justru menjadi sosok terdepan yang menolaknya. Bahkan, ia dan istrinya sangat memusuhi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

تَبًّا لَكَ! أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا؟

“Celaka kamu! Apakah untuk keperluan ini engkau mengumpulkan kami?” kata Abu Lahab manakala Rasulullah mengumpulkan pendudukan Mekah untuk mengajak mereka menyembah Allah. Tak lama kemudian turunlah firman Allah surah al-Lahab atau al-Masad, yang berisi ancaman berupa api neraka yang bergolak untuk Abu Lahab dan istrinya.
Anak-Anak Abu Lahab
1.   Utbah[3]
2.   Mu’tab
3.   Utaibah[4]
4.   Durrah
Dari keempat anak tersebut hanya Utaibah yang sampai akhir hayatnya tidak mau memeluk agama Islam.

Kematian Abu Lahab
Saat terjadi Perang Badar Abu Lahab tidak mengikutinya. Ia memilih berdiam diri di rumah dan mencari orang bayaran untuk menggantikannya berperang. Ditunjuknya al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah dengan bayaran sebesar 4000 dirham.
Beberapa hari setelah Perang Badar Abu Lahab terserang penyakit ganas hingga akhirnya tewas. Selama tiga hari tak ada seorang pun yang mau mengurus jasad Abu Lahab hingga akhirnya membusuk dan berbau. Karena tidak tahan dengan aroma busuk yang menyebar hebat dari tubuh Abu Lahab, masyarakat kemudian menggali tanah dan memasukkan jasad Abu Lahab dengan bantuan kayu yang panjang. Dari kejauhan pula mereka lemparkan pasir, kerikil, dan batu ke dalam lubang tersebut untuk mengubur jasad Abu Lahab.
Bagaimana dengan kematian Arwa alias Ummu Jamil, istri Abu Lahab?
Saat ia membawa seikat kayu berduri —sebagaimana biasanya— untuk diletakkan di tengah jalan untuk merintangi perjalanan Nabi, ia beristirahat sejenak di atas sebongkah batu. Tiba-tiba ia terjengkang dan lehernya terbelit tali pengikat kayu yang dibawanya hingga ia pun tewas.




[1] Kuniyah adalah nama sapaan atau panggilan yang dimulai dengan kata “Abu”, “Ummu”, “Ibnu”, atau “Bintu”.
[2] Mengacu kepada nama anak pertamanya, ‘Utbah bin Abu Lahab.
[3] Utbah bin Abu Lahab menikah dengan sepupunya, Ruqayyah binti Rasulillah. Saat itu Ruqayyah belum mencapai usia 10 tahun. Ketika Muhammad diangkat sebagai nabi Ruqayyah menerima ajakan sang Ayah untuk memeluk Islam, sementara Utbah menolak. Abu Lahab lalu memaksa Utbah agar menceraikan Ruqayyah. Ruqayyah, yang saat itu belum sekalipun digauli oleh Utbah, akhirnya diceraikan. Lepas dari Utbah bin Abu Lahab, Ruqayyah lalu dinikahi oleh Utsman bin Affan. Saat itu mereka masih tinggal di Mekah, belum hijrah ke Madinah.
[4] Utaibah bin Abu Lahab menikah dengan Ummu Kultsum binti Rasulillah, adik dari Ruqayyah binti Rasulillah. Sebagaimana nasib kakaknya, Ummu Kultsum yang belum dijamah sedikit pun oleh Utaibah akhirnya dicerai. Setelah bercerai dan sang kakak, Ruqayyah, meninggal dunia, Ummu Kultsum kemudian dinikahi oleh Utsman bin Affan. Mereka menikah pada tahun 3 Hijriah.
Read More