Dalam kitabnya berjudul al-Kasyfu
wat-Tabyin (hlm.13-14), al-Imam al-Ghazali mengupas golongan ulama tertipu yang
ketiga. Mereka adalah orang-orang yang berilmu (‘alim), juga beramal shalih dan
meninggalkan kemaksiatan zhahir. Sayangnya, hati mereka kotor oleh penyakit
batin. Mereka paham betul semua jenis penyakit hati. Tetapi, karena didorong
rasa ‘ujub (bangga diri) dan waham kemuliaan di hadapan Tuhan, mereka merasa tidak
mungkin Allah mengujinya dengan penyakit hati. Menurut mereka, penyakit hati
itu hanya diujikan kepada orang-orang awam, tidak kepada orang-orang berilmu
seperti mereka.
Ketika mulai terlihat ada indikasi kesombongan
dan gila hormat dalam diri mereka, setan cepat-cepat membisikkan tipuannya.
Kata setan, indikasi yang mulai muncul itu bukan kesombongan dan gila hormat, tetapi
memang begitulah cara mereka memuliakan agama dan ilmu serta membela agama
Allah.
Misalnya, seorang ustadz ketika diundang
berceramah, beliau mengajukan syarat kepada panitia pengajian agar dijemput
dengan mobil mewah dan berceramah di atas panggung yang megah. Dalih mereka,
semua itu demi memuliakan agama dan ilmu. Apakah benar-benar demi memuliakan
agama dan ilmu? Jawabnya, bisa iya, bisa juga demi menuruti gengsi pribadi.
Apakah mereka tidak mengingat sejarah
perjuangan Rasulullah? Dengan fasilitas yang serba terbatas dan sama sekali
tidak mewah, beliau teguh dalam berdakwah. Para sahabat Nabi juga merupakan figur-figur
yang selalu rendah hati dan hidup sederhana.
Ketika ada ulama lain tersandung
masalah/kasus atau ulama tersebut dicela oleh publik, mereka tidak sedih dan tidak marah. Justru mereka bersuka cita. Dalam hati mungkin bersorak gembira, “Alhamdulillah,
ulama sainganku tersandung kasus. Dia akan dicela umat, sementara aku
akan semakin dipuji.”
Begitu juga saat mereka mendekat
kepada penguasa. Bermesraan dengan penguasa. Gemar memuji penguasa. Mereka berdalih,
semua dilakukan demi kemahlahatan umat. Apakah mereka melakukan semua itu benar-benar
demi kemaslahatan umat? Bisa iya, bisa juga tidak. Tanyakan kepada hati mereka!
Wallahu a’lam. []

No comments:
Post a Comment