Santri Nurbin: Haji

Hot

Showing posts with label Haji. Show all posts
Showing posts with label Haji. Show all posts

Monday, May 4, 2026

Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji

May 04, 2026 0

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ , اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  , حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ , حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ , رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ بِالْإِسْلاَمِ , وَلَكَ الْحَمْدُ بالْإِيْمَانِ , وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ , وَلَكَ الْحَمْدُ بِالرَّسُوْلِ مُحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَلَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا. سُبْحَانَكَ لَا نُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. اَللّهُمَّ احْفَظْ بافاك .... \ ايبو .... وَ سَائِرَ الْحُجَّاجِ وَالْعُمَّارِ, اِحْفَظْهُمْ فِي سَفَرِهِمْ، وَسَهِّلْ أُمُورَهُمْ، وَتَقَبَّلْ حَجَّهُمْ، وَارْزُقْهُمْ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا وَعَمَلاً صَالِحاً مَقْبُولاً وَتِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. اَللّهُمَّ سَلِّمِ الْحُجَّاجِ وَالْمُعْتَمِرِيْنَ فِي بَرِّكَ وَبَحْرِكَ وَجَوِّكَ، اَللّهُمَّ أَعِدْهُمْ إِلَى أَهْلِيهِمْ سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ. نَسْتَوْدِعُكَ يَا اللَّهَُ دِينَهُمْ وَأَمَانَتَهُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِهِمْ. زَوِّدْهُمُ التَّقْوَى وَاغْفِرْ ذُنُوبَهُمْ وَيَسِّرْ لَهُمُ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كَانُوا. اَللّهُمَّ يَارَبِّ يَا مَنْ تَرَى مَكَانَنَا وَتَسْمَعُ دُعَاءَنَا وَلَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِنَا, تَعْلَمُ بِشَوْقِنَا وَحُبِّنَا لِزِيَارَةِ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَاِلَى زِيَارَةِ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَزِيَارَةِ الْحَبِيْبِ الْعَدْنَانِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَبِعِزَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اُجْبُرْ بِخَاطِرِنَا اَنْ نَكُونَ مِنْ زُوَّارِ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَارْزُقْ كُلَّ مُشْتَاقٍ لِلْعُمْرَةِ اُرْزُقْهُ الْعُمْرَةَ وَكُلَّ مُشْتَاقٍ لِحَجِّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَالْوُقُوْفَ بِعَرَفَةَ. اَللّهُمَّ لَا يَخِيْبُ مَنْ دَعَاك, لَا يَخِيْبُ مَنْ دَعَاكَ. رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّنْبَا حَسَنَةً وَفِي الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .

Tulisan yang berwarna merah diisi dengan nama Bapak, Ibu, atau Saudara yang sedang dilepas keberangkatannya menuju tanah suci.
  
Inti dari doa di atas adalah:
  • Mendoakan jamaah haji agar senantiasa dijaga oleh Allah dan diberi keselamatan, kemudahan, haji yang mabrur, diampuni dosa mereka, dan ditambah ketakwaan mereka, serta dapat kembali lagi ke tanah air ke tengah-tengah keluarga mereka dengan selamat.
  • Mendoakan siapa pun yang merindukan tanah suci, tetapi belum mampu menunaikan umroh dan haji, agar diberi kemudahan menunaikan kedua ibadah tersebut.
  

Read More

Friday, October 6, 2017

Ragam Tipe Manusia Haji

October 06, 2017 2

Seorang sahabat, redaktur buletin Aulawi (sebuah buletin Jumat yang terbit di Kudus, Jawa Tengah), menghubungi saya pada 7 September 2017. Intinya dia meminta saya membuat tulisan untuk diterbitkan di buletinnya. Karena tema yang aktual hari itu adalah tahun hijriah, saya tawarkan tulisan berjudul Yang Terluputdari Hijrah Nabi. Tulisan ini semula saya tawarkan ke sebuah surat kabar di Jogjakarta, tetapi ternyata tidak (layak) dimuat. Kalah oleh (tulisan) mereka yang bergelar profesor, guru besar, dosen, atau sejenisnya. Sahabat saya menyetujui judul yang saya tawarkan itu dengan sedikit pembenahan.
Singkat cerita, saya lakukanlah proses perbaikan atas tulisan itu. Sore hari baru kirimkan ke email sang Sahabat. “Tulisan sudah saya kirim lewat email, Sob,” pesanku kepadanya via WA. Tidak lama kemudian dia meneleponku dan menyampaikan permohonan maaf karena tulisan saya sebetulnya sudah ditunggu percetakan sejak siang. Tetapi, karena tidak kunjung datang, akhirnya dia berinisiatif mencari tulisan saya yang lain, yang terserak di internet. Diambillah tulisan saya sepuluh tahun lalu di www.nu.or.id, yang saya sendiri sudah lupa dengan tulisan itu, berjudul Ragam Tipe Manusia Haji. Setelah dilakukan sedikit penyesuaian, diterbitkanlah tulisan itu di buletin Aulawi edisi ke-13 dan di http://santrimenara.com. Anda bisa mengunduh versi pdf-nya di https://drive.google.com
Berikut tulisan lengkapnya.
***

Di masa lampau, seorang haji memang selalu menjadi cerminan pribadi yang istimewa. Haji adalah seorang yang nyaris paripurna sebagai manusia. Mereka tentu pribadi-pribadi yang telah melampaui banyak hal dalam hidup baik lahir maupun batin. Baik yang terkait kebendaan maupun yang bukan kebendaan. Seorang haji, secara umum, memiliki jejak langkah melebihi jejak langkah orang kebanyakan.
Walaupun secara substansial, haji tidaklah tepat dipandang lebih tinggi daripada ibadah-ibadah lainnya. Namun secara potensial, haji bisa dinilai sebagai ibadah tertinggi, dalam artian, pengalaman haji mampu membuka peluang untuk mengantarkan seseorang kepada kesadaran ketuhanan sebagai puncak dari tujuan hidup menjadi “ibaad al-rahman” (Q.S: Al-Furqan [25]: 63-77).
Konsep “ibaad al-rahman” boleh kita istilahkan dengan mabrur, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Haji mabrur tiada balasan yang pantas baginya kecuali surga.” Tak satu pun jamaah calon haji yang tidak mengidamkan gelar itu. Meski Pemberian gelar ini adalah otoritas dan hak prerogratif Tuhan. Namun, bukan berarti manusia tidak diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merabanya. Secara konkrit, haji mabrur dapat dicandra melalui perilaku Pak Haji atau Bu Hajjah sepulang ia berhaji, apakah perbuatannya semakin baik, atau statis (tidak berubah), atau justru kian buruk.
Secara sederhana, haji mabrur dapat diartikan sebagai haji yang tidak sekadar memenuhi rukun, kewajiban, dan sunnah-sunnah haji secara teknis fiqhiyah, namun lebih dari itu berimplikasi juga pada peningkatan kualitas kesalehan baik individual maupun sosial, vertikal maupun horisontal, ibadah mahdlah maupun ibadah ijtima’yah, sekembali ke Tanah Air.
Dalam konteks kekinian dan kedisinian, relakah kita menyematkan gelar haji (mabrur) kepada beberapa orang yang berperilaku kontradiktif dengan nilai-nilai ketuhanan (god mentality) dan ajaran haji yang telah ia lakukan? Pasalnya, gelar haji yang disandang sama sekali belum berimplikasi positif terhadap perilakunya. Banyak bukti yang bisa diajukan, di antaranya masih banyak ditemukan pejabat yang bergelar haji terindikasi kasus kejahatan, seperti korupsi, pengebirian hak-hak rakyat dan sebagainya.
Menyaksikan fenomena masih kukuhnya mentalitas negatif para elit penguasa kita yang notabene mayoritas bergelar haji, tampaknya ada yang perlu dikoreksi oleh para calon haji. Bisa jadi harta yang mereka gunakan untuk berhaji adalah syubhat (masih diragukan kehalalannya) atau bahkan terang haramnya. Misalnya, hasil menindas, menipu, korupsi, atau praktik kolusi.
Kemungkinan lain yang menjadi trigger factor (faktor pemicu) tetap suburnya perilaku negatif adalah karena kesalahan niat dalam berhaji. Artinya, ibadah yang dilakukan bukan karena mencari ridla Allah (libtighai mardlatillah) yang tersimpul dalam predikat haji mabrur.
Dalam konteks inilah, setidaknya ada beberapa jenis tipikal haji yang bisa kita cermati.
Pertama, tipe haji wisata. Orang yang berhaji model ini cenderung beranggapan, tanah suci adalah objek wisata layaknya Gunung Bromo, Pantai Sanur, Menara Eiffel, Patung Liberty, Tembok Besar Cina, dan sebagainya. Tidak heran, yang dominan di alam khayalnya adalah keindahan, kenyamanan, dan fantasi hiburan.
Selain itu, yang mendesak di pikirannya ketika hendak kembali ke Tanah Air adalah oleh-oleh apa yang akan dibawa, foto-foto seperti apa yang akan dipertontonkan dan cerita-cerita dahsyat apa yang akan dikisahkan kepada sanak saudara serta tetangga. Tipe ini kerap pula disebut oleh masyarakat Jawa sebagai “Haji Mabur”. “Mabur” dalam bahasa Jawa berarti terbang, yaitu sekadar menikmati terbang atau pelesiran dengan menaiki pesawat terbang.
Kedua, tipe haji bisnis. Yakni, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Haji merupakan urusan akhirat. Karenanya, penghayatannya harus lebih berorientasi kepada kehidupan akhirat. Bagaimana bisa menghadap Allah secara ikhlas jika orientasi untung rugi materi terselip di dalam hati.
Mereka yang ditunjuk pemerintah sebagai petugas haji boleh juga kita kategorikan ke dalam tipikal ini. Tugas mereka semestinya melayani urusan jemaah haji, bukan malah mengambil kesempatan untuk berhaji. Akibatnya, banyak urusan jemaah haji yang terabaikan dan terbengkalai karena sibuk dengan ‘ibadahnya’ sendiri.
Ketiga, tipe haji politik. Yakni, haji yang lebih diorientasikan untuk meraih prestasi, prestise, dan hegemoni politik. Karena, bagaimana pun, gelar haji mampu mendongkrak status sosial seseorang. Target utama haji tipe ini adalah keterpikatan kantung suara umat Islam terhadap sosok yang sengaja ia desain menjadi seolah relijius. Biasanya, setelah ambisi politik tercapai, Pak Haji Politik ini akan kembali seperti aslinya, yaitu korup, arogan, otoriter, menindas, dan membiarkan massa pendukungnya tetap dalam belitan ekonomi, kebodohan, dan sebagainya.
Keempat, tipe haji mabrur. Tipe inilah yang dikehendaki Allah SWT. Indikasinya terlihat dari adanya peningkatan ibadah baik ritual maupun sosial, vertikal maupun horisontal, pasca berhaji.
Langkah awal dalam menggapai haji mabrur adalah meluruskan motivasi (niat) dan menanamkan keikhlasan serta ketawakkalannya semata-mata karena Allah SWT. Ciri Haji Mabrur terlihat dari Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang keluar melaksanakan haji, kemudian dia menjaga perkataannya dari hal-hal yang kotor (rafats) dan tidak berbuat kefasikan, maka ia datang ke dunia ini seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.” (HR. Bukhari)
Alangkah ruginya kita melakukan amal ibadah haji dengan bersusah payah, mengerahkan banyak pengorbanan fisik dan materi, namun kemabrurannya hilang karena kesalahan motivasi atau niat, seperti riya’ (pamer), ‘ujub (membanggakan diri sendiri), takabbur (sombong), dan sebagainya.
Untuk itu, meluruskan niat dalam haji merupakan keniscayaan. Dalam hal ini, tidak ada salahnya bila kita belajar pada Abu Yazid al-Bistami, salah seorang tokoh sufi. Abu Yazid pernah berujar, “Pada perjalanan haji yang pertama, saya hanya melihat rumah Tuhan; pada yang kedua, saya melihat rumah Tuhan dan pemilik-Nya; dan pada perjalanan haji yang ketiga, saya hanya melihat Tuhan saja.” Artinya, niat haji hanyalah karena Tuhan semata.

Semoga yang telah melaksanakan ibadah haji menjadi haji yang mabrur! Hajjan mabruura, wa sa’yan masykuura, dzanban maghfuura, wa tijaratan lan tabuur.
Read More

Sunday, May 10, 2015

Belum Haji kok Sudah Umrah

May 10, 2015 0


InsyaAllah pada Kamis, 14 Mei 2015, saya akan bertolak menuju tanah suci untuk menunaikan umrah. Bolehkah saya melaksanakan ibadah tersebut, padahal belum berhaji?

Ini adalah umrah yang pertama bagi saya, bukan biaya pribadi, melainkan hadiah atau reward dari kantor saya, DIVA Press Group. Jangan tanya saya mengapa saya mendapatkan reward itu. Itu hak prerogatif pimpinan kami, owner sekaligus CEO DIVA Press Group. Entah karena saya berprestasi, baik hati, tidak sombong, murah senyum, ganteng, suka menabung, berjenggot, atau karena alasan lain, itu hak mutlak beliau. :-) Yang jelas reward ini menjadi berkah yang wajib saya syukuri.

Kembali ke pertanyaan inti di atas, bolehkah melakukan umrah bagi orang yang belum berhaji, berikut saya sampaikan jawaban singkat.

Para ulama sepakat bahwa menunaikan umrah sebelum beribadah haji hukumnya adalah boleh dan sah, baik orang tersebut menunaikan haji pada tahun yang sama atau pada tahun-tahun berikutnya.

Diperbolehkannya menunaikan umrah sebelum haji didasarkan pada beberapa hadits shahih, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.

اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan umrah sebelum haji." (Shahih Bukhari, No. 1651)

Dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, juz 7, hal. 170 disebutkan:

أجمع العلماء على جواز العمرة قبل الحج سواء حج في سنته أم لا وكذا الحج قبل العمرة واحتجوا له بحديث ابن عمر (أن النبي صلى الله عليه وسلم اعتمر قبل أن يحج) رواه البخاري وبالأحاديث الصحيحة المشهورة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم اعتمر ثلاث عمر

Para ulama bersepakat atas dibolehkannya melaksanakan umrah sebelum menunaikan ibadah haji, baik haji tersebut dilakukan pada tahun itu atau pada tahun yang lain. Begitu juga dibolehkan melakukan haji sebelum umrah. Mereka (para ulama) berhujjah/berargumentasi dengan berpegang pada Hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan umrah sebelum berhaji (HR. Bukhari). Juga berpegang pada hadits-hadits shahih lainnya yang sangat masyhur bahwasanya Rasulullah melakukan umrah sebanyak tiga kali (selama hidup beliau).
[Ket: Tiga kali ini tidak termasuk 1x umrah yang beliau lakukan pada saat berhaji]


Dalam Syarh az-Zarqani 'ala al-Muwatha’, juz 2, hal. 352-353 juga dinyatakan:

مالك عن عبد الرحمن بن حرملة الأسلمي ) المدني الصدوق ( أن رجلا سأل سعيد بن المسيب فقال أعتمر ) بتقدير همزة الاستفهام ( قبل أن أحج فقال سعيد نعم قد اعتمر رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل أن يحج ) ثلاث عمر. قال ابن عبد البر يتصل هذا الحديث من وجوه صحاح وهو أمر مجمع عليه لا خلاف بين العلماء في جواز العمرة قبل الحج لمن شاء

Malik bin Abdirrahman bin Harmalah al-Aslami al-Madani ash-Shadduq, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Sa’id bin al-Musayyab, “Apakah aku boleh berumrah sebelum berhaji?” Sa’id menjawab, “Boleh! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah melakukan umrah tiga kali sebelum berhaji.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa hadits ini muttashil (bersambung) dari banyak jalur yang shahih. Ini adalah masalah yang disepakati oleh para ulama. Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka dalam hal dibolehkannya melaksanakan umrah dahulu sebelum berhaji bagi siapa saja yang menghendaki.

Wallahu a’lam


Read More

Saturday, May 9, 2015

Rasulullah Mencukur Gundul Kepalanya

May 09, 2015 0



Beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah, Nabi Muhammad bermimpi memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan aman. Dalam mimpi itu, terlihat beliau sedang menunaikan haji bersama para sahabat. Sebagian dari mereka ada bercukur rambut (gundul) dan sebagian lainnya bergunting (memotong sedikit).

Saat bangun tidur, beliau sampaikan mimpi itu kepada para sahabat. "Wahai para sahabatku, ketahuilah bahwa kelak mimpiku itu akan menjadi kenyataan," kata beliau Saw.

Setelah terjadi Perdamaian Hudaibiyah, ternyata kaum muslimin tidak sampai memasuki Mekah. Karenanya, orang-orang munafik memperolok-olokkan beliau.

"Ah, ternyata mimpi Muhammad bohong belaka! Kenyataannya sekarang kaum muslimin tidak bisa memasuki Mekah dan Masjidil Haram," demikian olok-olok mereka.

Allah lalu menurunkan ayat yang menyatakan bahwa mimpi Nabi pasti akan menjadi kenyataan pada tahun yang akan datang.

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Q.S. Al-Fath [48]: 27)

Beberapa tahun kemudian, apa yang pernah diimpikan Nabi itu menjadi kenyataan. Setelah kota Mekah dibebaskan, beliau dan para sahabat benar-benar bisa memasuki Mekah dan Masjidil Haram dengan aman. Sebagian dari mereka ada mencukur gundul rambutnya (halq) --termasuk Rasulullah--, dan sebagian lainnya hanya memotong sebagian rambut (taqshir, tidak gundul). Persis seperti yang beliau saksikan dalam mimpi.

Inilah yang dalam ibadah haji atau umrah disebut dengan tahallul, yakni memotong (sebagian) atau mencukur (gundul) rambut jamaah haji/umrah. Bagi laki-laki, yang lebih utama adalah mencukur gundul. Sementara bagi wanita, yang lebih utama adalah memotong sebagian rambut.

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, rahmatilah orang yang menggunduli kepalanya (dalam haji)." Sebagian sahabat bertanya, "Bagaimana dengan mereka yang hanya mencukur sebagian rambutnya, ya Rasulallah?" Rasulullah SAW menjawab, "Ya Allah, rahmatilah orang yang menggunduli kepalanya (dalam haji)." Sebagian sahabat bertanya lagi, "Bagaimana dengan mereka yang hanya mencukur sebagian rambutnya, ya Rasulallah?" Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, rahmatilah orang yang mencukur sebagian rambutnya." (HR Bukhari)


Read More

Saturday, November 26, 2011

Haji Berulang Kali

November 26, 2011 0

Deskripsi Masalah
Imam Masjid Istiqlal, KH Ali Mustofa Yaqub dalam khotbah wukuf di Arafah, Kamis (26/11) menegaskan hakikat ibadah haji, bahwa rukun Islam kelima itu merupakan kewajiban bagi mereka yang mampu cukup sekali dilakukan dalam sepanjang hayat, sebagaimana sudah dicontohkan oleh Rasullullah Muhammad SAW.

Karena itu KH Ali Mustofa Yaqub mengingatkan agar umat Islam khususnya di Tanah Air yang sangat mampu atau memiliki harta sangat banyak, melimpah, lebih memprioritaskan ibadah sosial daripada berkali-kali naik haji yang justru dapat mendorong ibadahnya menjadi makruh atau haram.

KH Ali Mustofa Yaqub, khawatir niatnya sudah bergeser dari ingin memenuhi rukun Islam kelima, melainkan berkait duniawi, misalnya mencari status, yang justru akan bisa merusak nilai ibadahnya. Apalagi jika rezeki yang didapat untuk ongkos naik haji (ONH-BPIH) diperoleh secara tidak halal.

KH Ali Mustafa Yaqub, menegaskan dalam ayat maupun hadits tidak ditemukan perintah bagi umat Islam berhaji berkali-kali. Jika ada yang melakukan demikian berarti mereka sudah dikendalikan atau diperintah hawa nafsu, atau bisikan syetan, sehingga perbuatan itu menjadi haram. Sumber: Hidayatullah.com


Pertanyaan:

a.Apakah benar haji berulang-ulang hukumnya bisa makruh atau bahkan haram?

Jawaban:

Pada dasarnya secara dzatiyah haji tidak bisa dihukumi haram atau makruh, dalam arti, keberadaan hukum tersebut karena faktor 'aridli (sesuatu di luar hukum asli). Misalnya, haji dihukumi makruh jika tanpa adanya izin dari seseorang yang wajib dimintai izin, seperti tidak ada izinnya orang tua yang membutuhkan perawatan. Dan haji dihukumi haram jika ongkos naik haji (ONH) dari harta yang haram.

Catatan : mengenai keutamaan haji sunah dan ibadah sosial (yang tidak wajib) masih menjadi polemik di kalangan para Ulama'.

& أسنى المطالب شرح روض الطالب، ج: 5 ص: 465

(ولم يفرضا في العمر إلا مرة) لخبر مسلم عن أبي هريرة { خطبنا النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا أيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا فقال رجل : يا نبي الله أكل عام : فسكت حتى قالها ثلاثا فقال النبي صلى الله عليه وسلم لو قلت نعم لوجبت ولما استطعتم } ولخبر الدارقطني بإسناد صحيح {عن سراقة قال قلت : يا رسول الله عمرتنا هذه لعامنا هذا أم للأبد ؟ فقال لا بل للأبد } .

( قوله { لوجبت عليكم ولما استطعتم } ) والحج مطلقا إما فرض عين ، وهو هاهنا أو فرض كفاية وسيأتي في السير أو تطوع ، واستشكل تصويره وأجيب بأنه يتصور في العبيد والصبيان ؛ لأن الفرضين لا يتوجهان إليهم وبأن في حج من ليس عليه فرض عين جهتين : جهة تطوع من حيث إنه ليس عليه فرض عين ، وجهة فرض كفاية من حيث إحياء الكعبة قال الزركشي وفيه التزام السؤال إذ لم يخلص لنا حج تطوع على حدته وفي الأول التزامه بالنسبة للمكلفين ثم إنه لا يبعد وقوعه من غيرهم فرضا ويسقط به فرض الكفاية عن المكلفين كما في الجهاد وصلاة الجنازة . اهـ يجاب عنه بتصويره في مكلفين لم يخاطبوا بفرض الكفاية لعدم استطاعتهم وقد أدوا فرض العين ثم تحملوا المشقة وأتوا به .

& تفسير القرطبي، ج: 4 ص: 136

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا) ـ إلى أن قال: الخامسة : إذا وجدت الاستطاعة وتوجه فرض الحج فقد يعرض ما يمنع منه كالغريم يمنعه عن الخروج حتى يؤدي الدين ولا خلاف في ذلك أو يكون له عيال يجب عليه نفقتهم فلا يلزمه الحج حتى يكون لهم نفقتهم مدة غيبته لذهابه ورجوعه لأن هذا الإنفاق فرض على الفور والحج فرض على التراخي فكان تقديم العيال أولى [ وقد قال النبي صلى الله عليه و سلم : كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت ] وكذلك الأبوان يخاف الضيعة عليهما وعدم العوض في التلطف بهما فلا سبيل له إلى الحج فإن معناه لأجل الشوق والوحشة فلا يلتفت إليه والمرا' يمنعها زوجها وقيل لا يمنعها والصحيح المنع لا سيما إذا قلنا إن الحج لا يلزم على الفور والبحر لا يمنع الوجوب إذا كان غالبه السلامة - كما تقدم بيانه في البقرة - ويعلم من نفسه أنه لا يميد فإن كان الغالب عليه العطب أو الميد حتى يعطل الصلاة فلا وإن كان لا يجد موضعا لسجوده لكثرة الراكب وضيق المكان فقد قال مالك : إذا لم يستطع الركوع والسجود إلى على ظهر أخيه فلا يركبه ثم قال : أيركب حيث لايصلي ! ويل لم ترك الصلاة ! ويسقط الحج إذا كان في الطريق عدو يطلب الأنفس أو يطلب من الأموال ما لم يتحدد بحد منصوص أو يتحدد بقدر مجحف وفي سقوطه بغير المجحف خلاف وقال الشافعي : لا يعطى حبة ويسقط فرض الحج ويجب على المتسول إذا كانت تلك عادته وغلب على ظنه أنه يجد من يعطيه وقيل لا يجب على ما تقدم من مراعاة الاستطاعة

& الفقه الاسلامى وأدلته، للدكتور وهبة الزحيلي، ج 3 ص 15 – 16

وقد يحرم الحج بمال حرام، وقد يكره كالحج بلاإذن ممن يجب استئذانه، كأحد ابويه المحتاج الى خدمته، والأجداد والجداد كالأبوين عند فقدهما، وكالدائن الغريم لمدين لامال له يقضي به، وكالكفيل لصالح الدائن، فيكره خروجه بلاإذنهم أي الأب والدائن. والكراهة عند الحنفية تحريمه.

وذكر المالكية والشافعية والحنفية أنه مع عصيان الحاج بمال حرام فإنه يصح الحج فرضا أو نفلا بالمال الحرام كالصلاة في الارض المغصوبة ويسقط الفرض والنفل إذ لامنافة بين الصحة والعصيان.

& وفي إنارة الدجى تأليف الشيخ محمد بن حسين المكي المالكي على شرح تنوير الحجا ، ص: 177

(فصل) في بيان حكم الحج والعمرة وشروط وجوبهما (الحج والعمرة ليسا) بفرض عين (لزما في العمر إلا مرة) وأما ما بعدها فهو: إما فرض كفاية كإحياء الكعبة كل سنة، وإما مندوب كحج الصبيان والعبيد وعمرتهم، وإما حرام إذا تحقق الضرر منه أو ظنه، وإما مكروه إذا خافه أو شك فيه.

& حاشية ابن حجر الهيتمي على الإيضاح ، ص: 8

(قوله ومن أعظم الطاعات) فيه رد لقول القاضي حسين إنه أعظمها وأفضلها إذ الأصحاب على خلافه وإن ورد في أحاديث ما يشهد له نعم حج التطوع أفضل من صلاته على ما ذكره الأذرعي وقال إنها مسألة عزيزة اهـ وفيه نظر وكلامهم كالصريح في رده إن أراد حج تطوع لا يقع فرض كفاية كحج الأرقاء والصبيان وإن أراد ما يقع فرض كفاية فلم يفضل حج تطوع صلاته بل حج فرض صلاة تطوع وهذا لا نزاع فيه ومن ثم وجهوا قول الشافعي رحمه الله الاشتعال بالعلم أفضل من الصلاة النافلة بأن الاشتغال بالعلم فرض كفاية وهو أفضل من النفل ويأتي ما ذكرته بناء على أن فرض الصدقة أفضل من فرض الحج ونفلها أفضل من نفله وهو ما يدل عليه كثير من العبارات فيما فهم منها كلام العبادي في زياداته من أن حج التطوع أفضل من صدقة التطوع وفي حديث عبد الرزاق أن عائشة رضي الله تعالى عنها سألت رسول الله r عن رجل حج فأكثر أتجعل نفقته في صلة أو عتق فقال r طواف سبع لا لغو فيه يفضل عتق رقبة وقضيته أن الحج أفضل من العتق وعليه فيكون أفضل من الصدقة إذ العتق أفضل أنواعها.

& شرح بلوغ المرام تأليف الشيخ عطية محمد سالم؛ ج: 12 ص:163

تكرار الحج أفضل من التصدق بنفقته

وقال بعض العلماء: تكرار الحج أفضل من التصدق بنفقته؛ لأن فيه منافع كثيرة؛ ولكن جاء هناك تحديد في قوله r كما في الحديث القدسي: ( لا يحل -أو لا يحق- لعبد عافيته في بدنه، وأوسعت له في رزقه، أن يهجر البيت فوق الخمس) ، إنسان مستطيع وثري، والطريق آمن، فما ينبغي أن يهجر البيت أكثر من خمس سنوات، والرسول r سماه هجراً: (أن يهجر البيت) فإذا كان يستطيع لأقل من الخمس فهو المطلوب، وإن وفاها إلى الخمس فلا ينبغي أن يتجاوزها، وهكذا الحج في العمر مرة، والنافلة لا حد لها، ولا ينبغي لمستطيع أن يجاوز الخمس سنوات، وكيف وقد جاء عنه r : ( من أراد خيري الدنيا والآخرة فليؤمنّ هذا البيت )، من أراد أن يوسع الله في رزقه فليؤمن هذا البيت، ففي الحج فوائد كثيرة. ويكفي عموم قوله سبحانه: { لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُم } [الحج:28] واتفق علماء البلاغة على أن التنكير في مثل هذا للعموم: منافع دنيوية شخصية، واجتماعية، واقتصادية، ومنافع أخروية. إذاً: الحج مرة في العمر، ونافلته لا تنحصر، ولا ينبغي تركه أكثر من خمس سنوات، والله تعالى أعلم.

& إحياء علوم الدين تأليف الشيخ أبو حامد محمد بن محمد الغزالي، ج: 2 ص: 91

ولو خرج الى الحج وباعثه الرياء والسمعة لخرج عن كونه من أعمال الآخرة لقوله r " إنما الأعمال بالنيات " فقوله r الأعمال بالنيات عام في الواجبات والمندوبات والمباحات دون المحظورات فإن النية لا تؤثر في إخراجها عن كونها من المحظورات.

& فتاوى الأزهر، ج: 9 ص: 350

السؤال

أديت الحج مرة واحدة، ولى رغبة فى تكرار أدائه ، إلا أن هناك بعض الأمور التى تستلزم الإنفاق فيها فأيهما أفضل: الحج أو الإنفاق ؟

الجواب

من المعلوم أن الحج فرض على المستطيع مرة واحدة فى العمر، وذلك لحديث البخارى ومسلم عن أبى هريرة رضى الله عنه قال: خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال "أيها الناس ، إن الله كتب عليكم الحج فحجوا" فقال رجل : أكل عام يا رسول لله ؟ فسكت حتى قالها ثلاثا ثم قال صلى الله عليه وسلم "لو قلت نعم لوجبت ولما استطعتم " وفى رواية لأحمد وأبى داود والنسائى والحاكم عن ابن عباس رضى اللّه عنهما أن السائل هو الأقرع بن حابس ، وأن الرسول رد عليه بقوله "الحج مرة، فمن زاد فهو تطوع " . يعرف من هذا أن تكرار الحج ليس واجبا ، وإنما هو تطوع والتطوع فى كل شىء ينبغى أن يراعى فيه تقديم الأهم على المهم ، وقد تكون هناك حالات فى أشد الحاجة إلى المعونة لإنقاذ الحياة أو تخفيف الويلات ، وهنا يكون الإنفاق فيها أولى ، وبخاصة بعد أن متَّع الله سكان الحرم بنعم زادت على ما كان يصبو إليه سيدنا إبراهيم عليه السلام حين دعا ربه أن يجعل أفئدة من الناس تهوى إليهم ويرزقهم من الثمرات ، كما هو فى الآية 37 من سورة إبراهيم .

b.
Apa benar tidak ada dasar dari Al-Qur’an atau Al-Hadits yang memerintahkan haji berulang-ulang?

Jawaban:


Tidak benar.

&بلوغ المرام، تأليف الشيخ ابن حجر العسقلاني، ص: 129

وعنه رضي الله عنهما قال ( خطبنا رسول الله r فقال إن الله كتب عليكم الحج فقام الأقرع بن حابس فقال أفي كل عام يا رسول الله؟! قال: لو قلتها لوجبت، الحج مرة، فمن زاد فهو تطوع ) رواه الخمسة غير الترمذي، وأصله في مسلم من حديث أبي هريرة ].

& جامع البيان في تأويل القرآن (تفسير الطبري) تأليف أبو جعفر محمد بن جرير بن يزيد بن كثير بن غالب الآملي الطبري، ج: 3 ص:247

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (158) القول في تأويل قوله تعالى : { وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (158) }قال أبو جعفر: اختلف القرَأء في قراءة ذلك، فقرأته عامة قُراء أهل المدينة والبصرة:"ومن تَطوَّع خَيرًا" على لفظ المضيّ ب"التاء" وفتح"العين". وقرأته عامة قراء الكوفيين:"وَمَنْ يَطَّوَّعْ خَيرًا" ب"الياء" وجَزم"العين" وتشديد"الطاء"، بمعنى: ومن يَتطوع. وذُكر أنها في قراءة عبد الله:"ومَنْ يَتطوَّعْ"، فقرأ ذلك قُرّاء أهل الكوفة، على ما وصفنا، اعتبارًا بالذي ذكرنا من قراءَة عبد الله -سوى عَاصم، فإنه وافق المدنيين- فشددوا"الطاءَ" طلبًا لإدغام"التاء" في"الطاء". وكلتا القراءتين معروفة صحيحة، متفقٌ معنياهما غيرُ مختلفين - لأن الماضي من الفعل مع حروف الجزاء بمعنى المستقبل. فبأيّ القراءتين قرأ ذلك قارئٌ فمصيبٌ.[والصواب عندنا في ذلك، أن] معنى ذلك: ومن تطوع بالحج والعمرة بعد قَضَاء حجته الواجبة عليه، فإن الله شاكرٌ له على تطوعه له بما تطوع به من ذلك ابتغاءَ وجهه، فمجازيه به، عليمٌ بما قصد وأراد بتطُّوعه بما تطوع به. وَإنما قُلنا إنّ الصوابَ في معنى قوله:"فمن تطوَّع خيرًا" هو ما وصفنا، دون قول من زَعم أنه معنيٌّ به: فمن تَطوع بالسعي والطواف بين الصفا والمروة، لأن الساعي بينهما لا يكون متطوعًا بالسعي بينهما، إلا في حَج تطوع أو عُمرة تطوع، لما وصفنا قبل. وإذ كان ذلك كذلك كان معلومًا أنه إنما عنى بالتطوع بذلك، التطُّوعَ بما يعملُ ذلك فيه من حَجّ أو عمرة.

(Sail: PP. Langitan Widang Tuban)
Read More

Monday, November 14, 2011

Imunisasi balita & Vaksin Haji

November 14, 2011 0
Deskripsi
Program pemerintah berupa Imunisasi balita dan vaksin haji yang disinyalir oleh masyarakat ada bahan yang mengandung unsur babi (kami juga belum mengetahui secara medis). Imunisasi bayi dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi agar tidak rentan penyakit dan dibutuhkan oleh jama’ah haji untuk melindungi dari virus yang mungkin dapat tertular. (PCNU Kab Mojokerto)


Pertanyaan:
Bagaimana hukum Imunisasi bagi balita dan vaksin bagi jamaah haji sebagaimana deskripsi di atas?

Jawaban:
Sesuai dengan hasil pengujian yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia terhadap vaksin Mencevax ACWY nomor bets A73CA24SA (produk lama) dan nomor bets A83CA063B56 (produk baru) yang menyatakan bahwa DNA babi tidak terdeteksi pada kedua contoh vaksin tersebut, maka hukum penggunaan vaksin bagi jamah haji adalah boleh.

Catatan:
Tentang kecurigaan adanya keterlibatan enzim babi dalam salah satu bagian dari bahan pembuatan vaksin, mengharap kepada pemerintah agar dapat memproduksi vaksin sendiri, dari bahan yang tidak menimbulkan keresahan.

Dasar Keputusan:
المجموع ج 9 ص 37
(الثالثة) كل طاهر لا ضرر فيه فهو حلال الا ثلاثة أنواع وذلك كالخبز والماء واللبن والفواكه والحبوب واللحوم الطاهرة وغير ذلك لما ذكره المصنف والاجماع (وأما) الانواع الثلاثة المستثناة (فاحدها) المستقذرات كالمخاط والمني ونحوهما وهى محرمة على الصحيح المشهور وفيه وجه ضعيف حكاه امام الحرمين وغيره أنها حلال وممن قال به في المنى أبو زيد المروزى وحكم العرق حكم المني والمخاط وقد جزم الشيخ أبو حامد في تعليقه

مجموع ِشرح المهدب ج 9 ص 42
وَاتَّفَقُوا عَلَى جَوَازِ الْأَكْلِ إذَا خَافَ عَلَى نَفْسِهِ لَوْ لَمْ يَأْكُلْ مِنْ جُوعٍ أَوْ ضَعْفٍ عَلَى الْمَشْيِ أَوْ عَنْ الرُّكُوبِ وَيَنْقَطِعُ عَنْ رُفْقَتِهِ وَيَضِيعُ وَنَحْوِ ذَلِكَ , فَلَوْ خَافَ حُدُوثَ مَرَضٍ مَخُوفٍ فِي جِسْمِهِ فَهُوَ كَخَوْفِ الْمَوْتِ , وَإِنْ خَافَ طُولَ الْمَرَضِ فَكَذَلِكَ فِي أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ , وَقِيلَ : إنَّهُمَا قَوْلَانِ , وَلَوْ عِيلَ صَبْرُهُ وَأَجْهَدَهُ الْجُوعُ فَهَلْ يَحِلُّ لَهُ الْمَيْتَةُ وَنَحْوُهَا ؟ أَمْ لَا يَحِلُّ حَتَّى يَصِلَ إلَى أَدْنَى الرَّمَقِ ؟ فِيهِ قَوْلَانِ ذَكَرَهُمَا الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ ( أَصَحُّهُمَا ) الْحِلُّ , قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَغَيْرُهُ : وَلَا يُشْتَرَطُ فِيمَا يَخَافُهُ تَيَقُّنُ وُقُوعِهِ لَوْ لَمْ يَأْكُلْ , بَلْ يَكْفِي غَلَبَةُ الظَّنِّ , قَالُوا : كَمَا أَنَّ الْمُكْرَهَ عَلَى أَكْلِ الْمَيْتَةِ يُبَاحُ لَهُ أَكْلُهَا إذَا ظَنَّ وُقُوعَ مَا خُوِّفَ بِهِ , وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يَعْلَمَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يَطَّلِعُ , عَلَى الْغَيْبِ , وَجُمْلَةُ جِهَاتِ الظَّنِّ مُسْتَنَدُهَا الظَّنُّ , وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
Read More