Musafir Shalat Maghrib Bermakmum kepada Mukim; Bolehkah Musafir Menjamak Taqdim dengan Isya’? - Santri Nurbin

Hot

Thursday, October 1, 2026

Musafir Shalat Maghrib Bermakmum kepada Mukim; Bolehkah Musafir Menjamak Taqdim dengan Isya’?

 


Saya adalah seorang musafir. Dalam perjalanan, ketika memasuki waktu maghrib, saya mampir ke suatu masjid dan ikut berjamaah di masjid tersebut. Imamnya adalah warga setempat, bukan musafir seperti saya.

Pertanyaan:

1.     Bolehkah saya bermakmum kepada imam mukim tersebut?

2.     Bolehkah saya menjamak taqdim Maghrib dengan Isya'? Yaitu, setelah imam salam (selesai shalat Maghrib), saya segera berdiri untuk melaksanakan shalat Isya’ 2 rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.

 

Jawaban:

1. Anda (musafir) boleh dan sah bermakmum shalat Maghrib kepada imam yang berstatus mukim (bukan musafir). Anda mengikuti imam 3 rakaat sampai salam. Karena Maghrib tidak bisa di-qashar, maka tidak ada yang perlu dipersoalkan dalam hal ini. Lain halnya jika shalat Zhuhur, Ashar, atau Isya’, maka Anda harus mengikuti imam shalat 4 rakaat; tidak boleh meng-qashar menjadi 2 rakaat.

مَذْهَبُنَا أَنَّ الْمُسَافِرَ إِذَا اقْتَدَى بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.

“Mazhab kami, seorang musafir apabila bermakmum kepada orang mukim dalam sebagian shalatnya, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (4 rakaat), baik ia mendapatkan bersama imam satu rakaat maupun kurang dari satu rakaat.” (Imam an-Nawawi, al-Majmu’, 4/237).

 

2. Setelah imam salam, Anda boleh langsung menunaikan shalat Isya’ secara jamak taqdim, asalkan syarat-syarat jamak taqdim dapat Anda penuhi. Dalam hal shalat Isya’, Anda boleh melaksanakannya 4 empat rakaat, boleh pula 2 rakaat (qashar).

قَالَ أَصْحَابُنَا: وَلَوْ جَمَعَ بَعْضُ النَّاسِ قَبْلَ الْإِمَامِ مُنْفَرِدًا أَوْ فِي جَمَاعَةٍ أُخْرَى، أَوْ صَلَّى إِحْدَى الصَّلَاتَيْنِ مَعَ الْإِمَامِ وَالْأُخْرَى مُنْفَرِدًا جَمْعًا وَقَصْرًا جَازَ بِشَرْطِهِ.

“Para ulama kami berkata: Apabila sebagian orang melakukan jamak sebelum imam, baik sendirian maupun bersama jamaah yang lain; atau ia melaksanakan salah satu dari dua shalat bersama imam dan shalat yang lainnya secara sendirian dengan cara jamak dan qashar, maka hal itu diperbolehkan dengan memenuhi syarat-syaratnya.” (Imam an-Nawawi, al-Majmu’, 8/117)

Bermakmum kepada imam mukim tidak lantas membuat status safar Anda hilang atau hangus, sehingga setelah selesai Maghrib Anda masih boleh mengambil rukhsah jamak dan qashar untuk Isya’. Jadi, praktiknya, saat Maghrib Anda bermakmum kepada imam mukim 3 rakaat, kemudian melaksanakan shalat Isya’ (sendirian/munfarid atau berjamaah dengan sesama musafir) 2 rakaat qashar.

Tetapi ada syarat penting dalam mazhab Syafi‘i, yaitu menurut qaul mu‘tamad Syafi‘iyyah, Anda harus sudah mempunyai niat jamak taqdim ketika melaksanakan Maghrib, sekurang-kurangnya sebelum mengakhiri shalat Maghrib. Dalam pendapat mu‘tamad madzhab Syafi‘i, niat jamak taqdim boleh dilakukan di tengah-tengah shalat yang pertama (dalam kasus Anda adalah shalat Maghrib) dan tidak harus tepat ketika takbiratul ihram; yang penting sebelum shalat pertama selesai.

وَالْأَصَحُّ بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ: يَجُوزُ مَعَ الْإِحْرَامِ بِالْأُولَى، أَوْ فِي أَثْنَائِهَا، أَوْ مَعَ التَّحَلُّلِ مِنْهَا، وَلَا يَجُوزُ بَعْدَ التَّحَلُّلِ.

“Pendapat ashah (paling sahih) berdasarkan kesepakatan para ashhab (ulama Syafi’iyah): niat jamak boleh dilakukan ketika takbiratul ihram shalat pertama, atau di tengah-tengah shalat pertama, atau bersamaan dengan melakukan tahallul (salam) dari shalat pertama; tetapi tidak boleh setelah selesai tahallul.” (Imam an-Nawawi,  al-Majmu’, 4/255)

Selain niat jamak taqdim pada shalat yang pertama, ada beberapa syarat lain dalam kebolehan menjamak taqdim. Misalnya, dalam Matan Safīnatun Najāh, pada fasal شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ, disebutkan:

شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةٌ:١- الْبَدَاءَةُ بِالْأُولَى. ٢- نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيهَا. ٣- الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا.
٤- دَوَامُ الْعُذْرِ.

Syarat jamak taqdim ada empat:

1.     Mendahulukan shalat yang pertama.

Dalam kasus Anda adalah Anda sudah melakukan hal yang benar, yaitu mendahulukan shalat Maghrib.

2.     Niat jamak pada shalat pertama.

Dalam kasus Anda, Anda bisa berniat jamak taqdim saat takbiratul ihram shalat Maghrib, bisa juga di tengah-tengah shalat Maghrib; yang penting shalat Maghrib belum usai.

3.     Muwalah (bersambung/tidak ada jeda panjang) antara kedua shalat.

Dalam kasus Anda, segera berdiri untuk menunaikan shalat Isya’ adalah langkah yang tepat. Yang penting antara Maghrib dan Isya’ tidak ada jeda yang panjang. Berapa ukuran jeda panjang itu? Kira-kira seukuran durasi yang dibutuhkan untuk melakukan shalat dua rakaat secara ringan.

4.     Tetap berlangsungnya uzur yang menjadi sebab bolehnya jamak.

Dalam kasus Anda, saat takbiratul ihram shalat Isya’ status Anda masih musafir.

 

Dengan demikian, paling aman dalam kasus Anda adalah ketika shalat Maghrib bersama imam mukim, Anda berniat dalam hati bahwa Maghrib ini akan Anda jamak taqdim dengan Isya’. Setelah imam mukim tersebut salam, Anda segera berdiri untuk melakukan takbiratul ihram Shalat Isya’. Jika selain menjamak taqdim, Anda juga ingin meng-qashar Isya’ menjadi 2 rakaat, maka Anda harus berniat meng-qasharnya ketika takbiratul ihram untuk shalat Isya’. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

 

No comments: