Saya adalah seorang musafir. Dalam
perjalanan, ketika memasuki waktu maghrib, saya mampir ke suatu masjid dan ikut
berjamaah di masjid tersebut. Imamnya adalah warga setempat, bukan musafir
seperti saya.
Pertanyaan:
1.
Bolehkah saya bermakmum kepada imam mukim tersebut?
2.
Bolehkah saya menjamak taqdim Maghrib dengan Isya'? Yaitu,
setelah imam salam (selesai shalat Maghrib), saya segera berdiri untuk
melaksanakan shalat Isya’ 2 rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.
Jawaban:
1. Anda (musafir) boleh dan sah bermakmum
shalat Maghrib kepada imam yang berstatus mukim (bukan musafir). Anda mengikuti
imam 3 rakaat sampai salam. Karena Maghrib tidak bisa di-qashar, maka tidak ada
yang perlu dipersoalkan dalam hal ini. Lain halnya jika shalat Zhuhur, Ashar,
atau Isya’, maka Anda harus mengikuti imam shalat 4 rakaat; tidak boleh meng-qashar
menjadi 2 rakaat.
مَذْهَبُنَا أَنَّ الْمُسَافِرَ
إِذَا اقْتَدَى بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ،
سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.
“Mazhab kami, seorang musafir apabila
bermakmum kepada orang mukim dalam sebagian shalatnya, maka ia wajib
menyempurnakan shalatnya (4 rakaat), baik ia mendapatkan bersama imam satu
rakaat maupun kurang dari satu rakaat.” (Imam an-Nawawi, al-Majmu’, 4/237).
2. Setelah imam salam, Anda boleh
langsung menunaikan shalat Isya’ secara jamak taqdim, asalkan syarat-syarat
jamak taqdim dapat Anda penuhi. Dalam hal shalat Isya’, Anda boleh melaksanakannya
4 empat rakaat, boleh pula 2 rakaat (qashar).
قَالَ أَصْحَابُنَا:
وَلَوْ جَمَعَ بَعْضُ النَّاسِ قَبْلَ الْإِمَامِ مُنْفَرِدًا أَوْ فِي
جَمَاعَةٍ أُخْرَى، أَوْ صَلَّى إِحْدَى الصَّلَاتَيْنِ مَعَ الْإِمَامِ
وَالْأُخْرَى مُنْفَرِدًا جَمْعًا وَقَصْرًا جَازَ بِشَرْطِهِ.
“Para ulama kami berkata: Apabila
sebagian orang melakukan jamak sebelum imam, baik sendirian maupun bersama
jamaah yang lain; atau ia melaksanakan salah satu dari dua shalat bersama imam
dan shalat yang lainnya secara sendirian dengan cara jamak dan qashar, maka hal
itu diperbolehkan dengan memenuhi syarat-syaratnya.” (Imam an-Nawawi, al-Majmu’,
8/117)
Bermakmum kepada imam mukim tidak lantas
membuat status safar Anda hilang atau hangus, sehingga setelah selesai
Maghrib Anda masih boleh mengambil rukhsah jamak dan qashar untuk
Isya’. Jadi, praktiknya, saat Maghrib Anda bermakmum kepada imam mukim 3 rakaat,
kemudian melaksanakan shalat Isya’ (sendirian/munfarid atau berjamaah
dengan sesama musafir) 2 rakaat qashar.
Tetapi ada syarat penting dalam
mazhab Syafi‘i, yaitu menurut qaul mu‘tamad Syafi‘iyyah, Anda harus sudah
mempunyai niat jamak taqdim ketika melaksanakan Maghrib, sekurang-kurangnya
sebelum mengakhiri shalat Maghrib. Dalam pendapat mu‘tamad madzhab Syafi‘i, niat
jamak taqdim boleh dilakukan di tengah-tengah shalat yang pertama (dalam kasus
Anda adalah shalat Maghrib) dan tidak harus tepat ketika takbiratul ihram; yang
penting sebelum shalat pertama selesai.
وَالْأَصَحُّ
بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ: يَجُوزُ مَعَ الْإِحْرَامِ بِالْأُولَى، أَوْ فِي
أَثْنَائِهَا، أَوْ مَعَ التَّحَلُّلِ مِنْهَا، وَلَا يَجُوزُ بَعْدَ التَّحَلُّلِ.
“Pendapat ashah (paling sahih)
berdasarkan kesepakatan para ashhab (ulama Syafi’iyah): niat jamak boleh
dilakukan ketika takbiratul ihram shalat pertama, atau di tengah-tengah shalat
pertama, atau bersamaan dengan melakukan tahallul (salam) dari shalat pertama; tetapi
tidak boleh setelah selesai tahallul.” (Imam an-Nawawi, al-Majmu’, 4/255)
Selain niat jamak taqdim pada shalat
yang pertama, ada beberapa syarat lain dalam kebolehan menjamak taqdim. Misalnya,
dalam Matan Safīnatun Najāh, pada fasal شُرُوطُ جَمْعِ
التَّقْدِيمِ,
disebutkan:
شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةٌ:١-
الْبَدَاءَةُ بِالْأُولَى. ٢-
نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيهَا. ٣-
الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا.
٤- دَوَامُ الْعُذْرِ.
Syarat jamak taqdim ada empat:
1.
Mendahulukan shalat yang pertama.
Dalam kasus Anda adalah Anda sudah melakukan
hal yang benar, yaitu mendahulukan shalat Maghrib.
2.
Niat jamak pada shalat pertama.
Dalam kasus Anda, Anda bisa berniat jamak
taqdim saat takbiratul ihram shalat Maghrib, bisa juga di tengah-tengah shalat Maghrib;
yang penting shalat Maghrib belum usai.
3.
Muwalah (bersambung/tidak ada jeda panjang) antara kedua shalat.
Dalam kasus Anda, segera berdiri
untuk menunaikan shalat Isya’ adalah langkah yang tepat. Yang penting antara
Maghrib dan Isya’ tidak ada jeda yang panjang. Berapa ukuran jeda panjang itu?
Kira-kira seukuran durasi yang dibutuhkan untuk melakukan shalat dua rakaat
secara ringan.
4.
Tetap berlangsungnya uzur yang menjadi sebab bolehnya
jamak.
Dalam kasus Anda, saat takbiratul
ihram shalat Isya’ status Anda masih musafir.
Dengan demikian, paling aman dalam
kasus Anda adalah ketika shalat Maghrib bersama imam mukim, Anda berniat dalam
hati bahwa Maghrib ini akan Anda jamak taqdim dengan Isya’. Setelah imam mukim
tersebut salam, Anda segera berdiri untuk melakukan takbiratul ihram Shalat
Isya’. Jika selain menjamak taqdim, Anda juga ingin meng-qashar Isya’ menjadi 2
rakaat, maka Anda harus berniat meng-qasharnya ketika takbiratul ihram untuk shalat
Isya’. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
No comments:
Post a Comment