Dalam mazhab
Syafi‘i, musafir boleh dan sah bermakmum kepada imam yang mukim. Namun,
konsekuensinya adalah musafir tersebut tidak boleh melakukan qashar dua rakaat,
meskipun dirinya sendiri masih berstatus musafir. Dia wajib menyempurnakan
shalatnya menjadi empat rakaat (itmam) pada shalat Zhuhur, Ashar, atau
Isya’.
Ini merupakan
pendapat mu‘tamad dalam mazhab Syafi‘i. Bahkan Imam an-Nawawi menyebut bahwa
jika ia mengikuti imam mukim walaupun hanya sesaat, makmum tersebut tetap wajib
itmam (empat rakaat).
Dengan demikian,
bisa kita garis bawahi bahwa apabila musafir bermakmum kepada imam mukim maka tidak
otomatis mengubah status musafir tersebut menjadi mukim. Ia tetap musafir. Yang
berubah hanyalah hukum shalatnya dalam jamaah tersebut, yaitu wajib itmam.
Contoh kasus:
- Musafir bermakmum kepada imam mukim sejak rakaat
pertama, maka ketika mendapatkan dua rakaat musafir tidak boleh menyudahi
shalatnya dengan salam. Akan tetapi, musafir tersebut harus terus mengikuti
imam sampai selesai empat rakaat.
- Musafir baru bermakmum ketika imam berada pada rakaat
ke-3, maka ketika imam salam pada rakaat ke-4, dan musafir mendapatkan 2
rakaat, musafir tidak boleh ikut salam bersama imam. Dia harus berdiri
untuk menyempurnakan empat rakaat.
- Musafir baru bermakmum ketika imam sedang tahiyat akhir
(rakaat ke-4), maka musafir tidak boleh meng-qashar shalatnya. Dia harus tetap
menyelesaikan empat rakaat.
1. Penjelasan Imam an-Nawawi dalam
kitab al-Majmū‘
وَلَا يَجُوزُ الْقَصْرُ لِمَنْ ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ،
فَإِنِ ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ أَنْ يُتِمَّ،
لِأَنَّهُ اجْتَمَعَ مَا يَقْتَضِي الْقَصْرَ وَالتَّمَامَ فَغُلِّبَ التَّمَامُ،
كَمَا لَوْ أَحْرَمَ بِهَا فِي السَّفَرِ ثُمَّ أَقَامَ.
“Tidak boleh
qashar bagi orang yang bermakmum kepada orang mukim. Jika ia bermakmum kepada
orang mukim pada sebagian dari shalatnya, maka ia wajib menyempurnakan shalat (menjadi
4 rakaat---penrjmh). Sebab, dalam dirinya terkumpul faktor yang menyebabkan
qashar dan faktor yang menyebabkan itmam (shalat sempurna 4 rakaat),
sehingga faktor itmam dimenangkan, sebagaimana seseorang yang memulai
shalat saat masih berstatus safar kemudian ia menjadi mukim.”
Kemudian Imam
an-Nawawi menjelaskan secara lebih tegas:
مَذْهَبُنَا أَنَّ الْمُسَافِرَ إِذَا اقْتَدَى
بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، سَوَاءٌ أَدْرَكَ
مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.
“Mazhab kami,
seorang musafir apabila bermakmum kepada orang mukim dalam sebagian shalatnya,
maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (4 rakaat), baik ia mendapatkan bersama
imam satu rakaat maupun kurang dari satu rakaat.”
2. Penjelasan Imam an-Nawawi
dalam kitab Raudlatut Thalibin
لِلْقَصْرِ أَرْبَعُ شُرُوطٍ: أَحَدُهَا: أَنْ لَا
يَقْتَدِيَ بِمُتِمٍّ، فَإِنْ فَعَلَهُ وَلَوْ فِي لَحْظَةٍ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.
“Qashar
memiliki empat syarat. Salah satunya adalah tidak bermakmum kepada orang yang
melakukan shalat secara sempurna (4 rakaat). Jika ia melakukannya, meskipun
hanya sesaat, maka ia wajib menyempurnakan shalat (menjadi 4 rakaat; tidak
boleh qashar).”
3. Bagaimana kalau sejak awal
musafir berniat qashar?
Misalnya
seorang musafir berkata dalam hatinya, “Saya shalat Zhuhur dua rakaat qashar
karena Allah.” Kemudian ternyata ia bermakmum kepada imam mukim. Dalam fikih Syafi‘iyah,
shalat si musafir tetap sah, tetapi niat qasharnya menjadi tidak berlaku, sehingga
ia wajib menyempurnakan shalatZzhuhur empat rakaat.
Dalam Tuḥfat al-Muḥtāj, Ibn Hajar al-Haytami
menjelaskan:
مَتَى عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ إِمَامَهُ مُقِيمٌ
لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، فَلَوِ اقْتَدَى بِهِ وَنَوَى الْقَصْرَ انْعَقَدَتْ
صَلَاتُهُ وَ لَغَتْ نِيَّةُ الْقَصْرِ بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ.
“Apabila ia
mengetahui atau menyangka bahwa imamnya adalah orang mukim, maka ia wajib
menyempurnakan shalat. Jika ia bermakmum kepadanya sambil berniat qashar,
shalatnya tetap sah, sedangkan niat qasharnya menjadi gugur atau hangus,
berdasarkan kesepakatan para ulama Ashhab (Syafi’iyah).”
Jadi, bukan
berarti shalatnya batal karena si makmum yang musafir tadi berniat qashar. Ia
tetap menjadi makmum yang sah, tetapi ketika sudah terikat dengan imam yang mukim,
maka hukum itmam mengalahkan hukum qashar.
4. Bahkan jika hanya
mendapatkan bagian akhir shalat
Misalnya imam
mukim sedang tahiyat akhir pada rakaat ke-4, lalu seorang musafir datang dan
langsung bermakmum. Ia hanya mendapatkan duduk bersama imam, bahkan tidak
mendapatkan satu rakaat pun. Menurut mazhab Syafi‘i, ia tetap harus menyempurnakan
shalatnya empat rakaat. Tidak boleh meng-qashar. Sebagaimana penjelasan imam
an-Nawawi dalam Raudlatuth
Thalibin di atas:
فَإِنْ فَعَلَهُ وَلَوْ فِي لَحْظَةٍ لَزِمَهُ
الْإِتْمَامُ.
“Jika ia (musafir)
bermakmum kepadanya (imam mukim) walaupun hanya sesaat, ia wajib menyempurnakan
(4 rakaat).”
Juga penjelasan
beliau dalam al-Majmū‘:
سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.
“Baik ia
mendapatkan satu rakaat bersama imam maupun kurang dari itu.”
5. Itulah Sunnah Abul Qasim (Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam)
عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ: كُنَّا
مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ
صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا
رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Dari Musa bin
Salamah al-Hudzali, dia berkata, “Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Makkah. Aku
bertanya, ‘Sesungguhnya apabila kami (musafir--penerjemah) shalat
bersama kalian (mukim--penerjemah), kami shalat empat rakaat. Tetapi,
apabila kami kembali ke tempat tinggal kami (berstatus sebagai musafir—penerjemah),
kami shalat dua rakaat.’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Itulah sunnah Abul Qasim shallallahu
‘alaihi wasallam.’” (Musnad Imam Ahmad no. 1862)
Dalam riwayat Muslim,
Musa bin Salamah al-Hudzali bertanya kepada Ibnu Abbas:
كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ
الْإِمَامِ؟ فَقَالَ: رَكْعَتَيْنِ، سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ ﷺ
“Bagaimana aku
(musafir—penerjemah) shalat ketika berada di Makkah apabila aku tidak shalat
bersama imam (mukim—penerjemah)?” Ibnu Abbas menjawab, “Dua rakaat, itulah
sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Shahih Muslim no.
688)
6. Seorang Musafir Shalat Maghrib
Bersama Imam Mukim, lalu Berdiri untuk Menjamak dengan Isya’
Gambaran kasusnya
begini:
a. Status saya adalah musafir, karena masih dalam perjalanan yang
memenuhi syarat qashar. Ketika masuk waktu maghrib, saya bermakmum kepada imam
mukim. Karena tidak ada qashar dalam shalat Maghrib, maka saya Maghrib 3 rakaat
bermakmum kepada imam mukim yang juga 3 rakaat. Setelah imam salam (shalat
Maghrib telah selesai), saya segera berdiri untuk melaksanakan shalat Isya’ 2
rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.
b. Saya adalah seorang musafir. Ketika masuk waktu Zhuhur, saya menunaikan
shalat Zhuhur 4 rakaat dengan bermakmum kepada imam mukim. Setelah imam salam, saya
berdiri dan melaksanakan shalat Ashar sendiri 2 rakaat qashar, dengan niat jamak
taqdim.
Apakah praktik
seperti dibolehkan?
Jawabannya adalah
boleh. Ketika bermakmum kepada imam mukim, saya mempunyai kewajiban untuk
terikat kepada imam tersebut. Sehingga manakala imam mukim shalat Zhuhur empat
rakaat maka saya pun terikat kepadanya (wajib menyempurnakan shalat Zhuhur 4
rakaat juga). Setelah shalat berjamaah itu selesai, saya tidak lagi sedang
terikat dengan imam tersebut. Status saya pun tidak berubah menjadi mukim,
tetapi tetap sebagai musafir. Oleh karenanya, hak saya sebagai musafir tetap bisa
saya ambil, yakni dengan menjamak shalat Zhuhur tadi dengan shalat Ashar.
Dalam praktik
ini, ada hal penting yang perlu diperhatikan agar dibolehkan menjamak taqdim
dengan Ashar, yaitu niat jamak taqdim harus ada ketika mengerjakan shalat yang pertama
(Maghrib atau Zhuhur), paling lambat sebelum selesai shalat yang pertama. Tetapi,
jika niat menjamak taqdim baru muncul setelah selesai salam dari shalat Zhuhur,
maka tidak sah jamak taqdimnya.
Jadi, agar
sah, saat shalat Maghrib atau Zhuhur saya harus sudah berniat jamak taqdim. Setelah
rampung dari berjamaah shalat Maghrib atau Zhuhur (bersama imam mukim) saya boleh
dan sah berdiri untuk menjamaknya dengan Isya’ atau Ashar.
Dalam hal ini
kita perlu membaca kembali syarat-syarat Jamak Taqdim dalam madzhab Syafi’i. Misalnya,
dalam Matan Safīnatun Najāh, pada fasal شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ, disebutkan:
شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةٌ:١-
الْبَدَاءَةُ بِالْأُولَى. ٢-
نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيهَا. ٣-
الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا.
٤- دَوَامُ الْعُذْرِ.
Syarat jamak
taqdim ada empat:
- Mendahulukan shalat yang pertama (Maghrib atau
Zhuhur).
- Niat jamak pada shalat pertama.
Keterangan tambahan:
niat bisa dilakukan di tengah-tengah shalat yang pertama; yang penting belum
salam dari shalat pertama.
- Muwālah (bersambung/tidak ada jeda panjang) antara
kedua shalat.
Keterangan tambahan:
ukuran jeda panjang adalah seukuran waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
shalat dua rakaat secara ringan.
- Tetap berlangsungnya uzur yang menjadi sebab
bolehnya jamak.
Keterangan tambahan:
dalam kasus yang dibahas sekarang adalah masih dalam perjalanan atau masih
berstatus sebagai musafir.
7. Bagaimana jika imamnya seorang
musafir?
Kita telah membahas
hukum musafir yang bermakmum kepada imam yang mukim. Sekarang mari kita kaji jika
yang terjadi adalah kebalikannya, yaitu mukim berstatus mukim, sedangkan
imamnya seorang musafir. Bolehkah orang yang mukim bermakmum kepada imam yang
berstatus musafir?
-
Jika imam adalah musafir
dan melakukan shalat sempurna 4 rakaat, maka makmum boleh mengikutinya hingga
akhir. Dan ini tidak menjadi persoalan karena keduanya sama-sama shalat itmam
(sempurna 4 rakaat).
-
Jika imam adalah musafir
dan melakukan shalat qashar 2 rakaat, maka makmum boleh mengikutinya. Akan tetapi,
ketika imam mendapatkan 2 rakaat dan salam, makmum yang mukim tersebut tidak boleh
ikut salam. Ia tidak boleh ikut meng-qashar shalat bersama imam. Yang harus
dilakukan oleh makmum setelah imam salam adalah berdiri dan menyempurnakan
shalatnya menjadi 4 rakaat.
Secara ringkas dan sederhana,
pembahasan di atas dalam dirangkum dalam tabel berikut:
|
Imam |
Makmum |
Hukum |
|
Mukim |
Musafir |
Musafir wajib 4
rakaat |
|
Musafir (qashar) |
Musafir |
Makmum boleh qashar
2 rakaat |
|
Musafir (qashar) |
Mukim |
Imam 2 rakaat,
makmum mukim berdiri untuk menyempurnakan 4 rakaat. |
|
Mukim |
Mukim |
4 rakaat |
Referensi:
-
Safinatun Najah
-
al-Majmū‘ 4/356–357
-
Rauḍah al-Ṭālibīn 1/381–382
-
Tuḥfat al-Muḥtāj 2/390
-
Mughnī al-Muḥtāj dalam pembahasan
syarat qashar.

No comments:
Post a Comment