Bolehkah Musafir Bermakmum kepada Imam yang Mukim? - Santri Nurbin

Hot

Thursday, October 1, 2026

Bolehkah Musafir Bermakmum kepada Imam yang Mukim?

 


Dalam mazhab Syafi‘i, musafir boleh dan sah bermakmum kepada imam yang mukim. Namun, konsekuensinya adalah musafir tersebut tidak boleh melakukan qashar dua rakaat, meskipun dirinya sendiri masih berstatus musafir. Dia wajib menyempurnakan shalatnya menjadi empat rakaat (itmam) pada shalat Zhuhur, Ashar, atau Isya’.

Ini merupakan pendapat mu‘tamad dalam mazhab Syafi‘i. Bahkan Imam an-Nawawi menyebut bahwa jika ia mengikuti imam mukim walaupun hanya sesaat, makmum tersebut tetap wajib itmam (empat rakaat).

Dengan demikian, bisa kita garis bawahi bahwa apabila musafir bermakmum kepada imam mukim maka tidak otomatis mengubah status musafir tersebut menjadi mukim. Ia tetap musafir. Yang berubah hanyalah hukum shalatnya dalam jamaah tersebut, yaitu wajib itmam.

Contoh kasus:

  • Musafir bermakmum kepada imam mukim sejak rakaat pertama, maka ketika mendapatkan dua rakaat musafir tidak boleh menyudahi shalatnya dengan salam. Akan tetapi, musafir tersebut harus terus mengikuti imam sampai selesai empat rakaat.
  • Musafir baru bermakmum ketika imam berada pada rakaat ke-3, maka ketika imam salam pada rakaat ke-4, dan musafir mendapatkan 2 rakaat, musafir tidak boleh ikut salam bersama imam. Dia harus berdiri untuk menyempurnakan empat rakaat.
  • Musafir baru bermakmum ketika imam sedang tahiyat akhir (rakaat ke-4), maka musafir tidak boleh meng-qashar shalatnya. Dia harus tetap menyelesaikan empat rakaat.

 

1. Penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmū‘

وَلَا يَجُوزُ الْقَصْرُ لِمَنْ ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ، فَإِنِ ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ أَنْ يُتِمَّ، لِأَنَّهُ اجْتَمَعَ مَا يَقْتَضِي الْقَصْرَ وَالتَّمَامَ فَغُلِّبَ التَّمَامُ، كَمَا لَوْ أَحْرَمَ بِهَا فِي السَّفَرِ ثُمَّ أَقَامَ.

“Tidak boleh qashar bagi orang yang bermakmum kepada orang mukim. Jika ia bermakmum kepada orang mukim pada sebagian dari shalatnya, maka ia wajib menyempurnakan shalat (menjadi 4 rakaat---penrjmh). Sebab, dalam dirinya terkumpul faktor yang menyebabkan qashar dan faktor yang menyebabkan itmam (shalat sempurna 4 rakaat), sehingga faktor itmam dimenangkan, sebagaimana seseorang yang memulai shalat saat masih berstatus safar kemudian ia menjadi mukim.”

Kemudian Imam an-Nawawi menjelaskan secara lebih tegas:

مَذْهَبُنَا أَنَّ الْمُسَافِرَ إِذَا اقْتَدَى بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.

“Mazhab kami, seorang musafir apabila bermakmum kepada orang mukim dalam sebagian shalatnya, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (4 rakaat), baik ia mendapatkan bersama imam satu rakaat maupun kurang dari satu rakaat.”

 

2. Penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab Raudlatut Thalibin

لِلْقَصْرِ أَرْبَعُ شُرُوطٍ: أَحَدُهَا: أَنْ لَا يَقْتَدِيَ بِمُتِمٍّ، فَإِنْ فَعَلَهُ وَلَوْ فِي لَحْظَةٍ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

“Qashar memiliki empat syarat. Salah satunya adalah tidak bermakmum kepada orang yang melakukan shalat secara sempurna (4 rakaat). Jika ia melakukannya, meskipun hanya sesaat, maka ia wajib menyempurnakan shalat (menjadi 4 rakaat; tidak boleh qashar).”

 

3. Bagaimana kalau sejak awal musafir berniat qashar?

Misalnya seorang musafir berkata dalam hatinya, “Saya shalat Zhuhur dua rakaat qashar karena Allah.” Kemudian ternyata ia bermakmum kepada imam mukim. Dalam fikih Syafi‘iyah, shalat si musafir tetap sah, tetapi niat qasharnya menjadi tidak berlaku, sehingga ia wajib menyempurnakan shalatZzhuhur empat rakaat.

Dalam Tuḥfat al-Muḥtāj, Ibn Hajar al-Haytami menjelaskan:

مَتَى عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ إِمَامَهُ مُقِيمٌ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ، فَلَوِ اقْتَدَى بِهِ وَنَوَى الْقَصْرَ انْعَقَدَتْ صَلَاتُهُ وَ لَغَتْ نِيَّةُ الْقَصْرِ بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ.

“Apabila ia mengetahui atau menyangka bahwa imamnya adalah orang mukim, maka ia wajib menyempurnakan shalat. Jika ia bermakmum kepadanya sambil berniat qashar, shalatnya tetap sah, sedangkan niat qasharnya menjadi gugur atau hangus, berdasarkan kesepakatan para ulama Ashhab (Syafi’iyah).”

Jadi, bukan berarti shalatnya batal karena si makmum yang musafir tadi berniat qashar. Ia tetap menjadi makmum yang sah, tetapi ketika sudah terikat dengan imam yang mukim, maka hukum itmam mengalahkan hukum qashar.

 

4. Bahkan jika hanya mendapatkan bagian akhir shalat

Misalnya imam mukim sedang tahiyat akhir pada rakaat ke-4, lalu seorang musafir datang dan langsung bermakmum. Ia hanya mendapatkan duduk bersama imam, bahkan tidak mendapatkan satu rakaat pun. Menurut mazhab Syafi‘i, ia tetap harus menyempurnakan shalatnya empat rakaat. Tidak boleh meng-qashar. Sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi dalam Raudlatuth Thalibin di atas:

فَإِنْ فَعَلَهُ وَلَوْ فِي لَحْظَةٍ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

“Jika ia (musafir) bermakmum kepadanya (imam mukim) walaupun hanya sesaat, ia wajib menyempurnakan (4 rakaat).”

Juga penjelasan beliau dalam al-Majmū‘:

سَوَاءٌ أَدْرَكَ مَعَهُ رَكْعَةً أَمْ دُونَهَا.

“Baik ia mendapatkan satu rakaat bersama imam maupun kurang dari itu.”

 

5. Itulah Sunnah Abul Qasim (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam)

عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ: كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dari Musa bin Salamah al-Hudzali, dia berkata, “Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Makkah. Aku bertanya, ‘Sesungguhnya apabila kami (musafir--penerjemah) shalat bersama kalian (mukim--penerjemah), kami shalat empat rakaat. Tetapi, apabila kami kembali ke tempat tinggal kami (berstatus sebagai musafir—penerjemah), kami shalat dua rakaat.’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Itulah sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (Musnad Imam Ahmad no. 1862)

Dalam riwayat Muslim, Musa bin Salamah al-Hudzali bertanya kepada Ibnu Abbas:

كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الْإِمَامِ؟ فَقَالَ: رَكْعَتَيْنِ، سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ ﷺ

“Bagaimana aku (musafir—penerjemah) shalat ketika berada di Makkah apabila aku tidak shalat bersama imam (mukim—penerjemah)?” Ibnu Abbas menjawab, “Dua rakaat, itulah sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Shahih Muslim no. 688)

 

6. Seorang Musafir Shalat Maghrib Bersama Imam Mukim, lalu Berdiri untuk Menjamak dengan Isya’

Gambaran kasusnya begini:

a.      Status saya adalah musafir, karena masih dalam perjalanan yang memenuhi syarat qashar. Ketika masuk waktu maghrib, saya bermakmum kepada imam mukim. Karena tidak ada qashar dalam shalat Maghrib, maka saya Maghrib 3 rakaat bermakmum kepada imam mukim yang juga 3 rakaat. Setelah imam salam (shalat Maghrib telah selesai), saya segera berdiri untuk melaksanakan shalat Isya’ 2 rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.

b.     Saya adalah seorang musafir. Ketika masuk waktu Zhuhur, saya menunaikan shalat Zhuhur 4 rakaat dengan bermakmum kepada imam mukim. Setelah imam salam, saya berdiri dan melaksanakan shalat Ashar sendiri 2 rakaat qashar, dengan niat jamak taqdim.

Apakah praktik seperti dibolehkan?

Jawabannya adalah boleh. Ketika bermakmum kepada imam mukim, saya mempunyai kewajiban untuk terikat kepada imam tersebut. Sehingga manakala imam mukim shalat Zhuhur empat rakaat maka saya pun terikat kepadanya (wajib menyempurnakan shalat Zhuhur 4 rakaat juga). Setelah shalat berjamaah itu selesai, saya tidak lagi sedang terikat dengan imam tersebut. Status saya pun tidak berubah menjadi mukim, tetapi tetap sebagai musafir. Oleh karenanya, hak saya sebagai musafir tetap bisa saya ambil, yakni dengan menjamak shalat Zhuhur tadi dengan shalat Ashar.

Dalam praktik ini, ada hal penting yang perlu diperhatikan agar dibolehkan menjamak taqdim dengan Ashar, yaitu niat jamak taqdim harus ada ketika mengerjakan shalat yang pertama (Maghrib atau Zhuhur), paling lambat sebelum selesai shalat yang pertama. Tetapi, jika niat menjamak taqdim baru muncul setelah selesai salam dari shalat Zhuhur, maka tidak sah jamak taqdimnya.

Jadi, agar sah, saat shalat Maghrib atau Zhuhur saya harus sudah berniat jamak taqdim. Setelah rampung dari berjamaah shalat Maghrib atau Zhuhur (bersama imam mukim) saya boleh dan sah berdiri untuk menjamaknya dengan Isya’ atau Ashar.

Dalam hal ini kita perlu membaca kembali syarat-syarat Jamak Taqdim dalam madzhab Syafi’i. Misalnya, dalam Matan Safīnatun Najāh, pada fasal شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ, disebutkan:

شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةٌ:١- الْبَدَاءَةُ بِالْأُولَى. ٢- نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيهَا. ٣- الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا.
٤- دَوَامُ الْعُذْرِ.

Syarat jamak taqdim ada empat:

  1. Mendahulukan shalat yang pertama (Maghrib atau Zhuhur).
  2. Niat jamak pada shalat pertama.

Keterangan tambahan: niat bisa dilakukan di tengah-tengah shalat yang pertama; yang penting belum salam dari shalat pertama.

  1. Muwālah (bersambung/tidak ada jeda panjang) antara kedua shalat.

Keterangan tambahan: ukuran jeda panjang adalah seukuran waktu yang dibutuhkan untuk melakukan shalat dua rakaat secara ringan.

  1. Tetap berlangsungnya uzur yang menjadi sebab bolehnya jamak.

Keterangan tambahan: dalam kasus yang dibahas sekarang adalah masih dalam perjalanan atau masih berstatus sebagai musafir.

 

7. Bagaimana jika imamnya seorang musafir?

Kita telah membahas hukum musafir yang bermakmum kepada imam yang mukim. Sekarang mari kita kaji jika yang terjadi adalah kebalikannya, yaitu mukim berstatus mukim, sedangkan imamnya seorang musafir. Bolehkah orang yang mukim bermakmum kepada imam yang berstatus musafir?

-          Jika imam adalah musafir dan melakukan shalat sempurna 4 rakaat, maka makmum boleh mengikutinya hingga akhir. Dan ini tidak menjadi persoalan karena keduanya sama-sama shalat itmam (sempurna 4 rakaat).

-          Jika imam adalah musafir dan melakukan shalat qashar 2 rakaat, maka makmum boleh mengikutinya. Akan tetapi, ketika imam mendapatkan 2 rakaat dan salam, makmum yang mukim tersebut tidak boleh ikut salam. Ia tidak boleh ikut meng-qashar shalat bersama imam. Yang harus dilakukan oleh makmum setelah imam salam adalah berdiri dan menyempurnakan shalatnya menjadi 4 rakaat.

 

Secara ringkas dan sederhana, pembahasan di atas dalam dirangkum dalam tabel berikut:

Imam

Makmum

Hukum

Mukim

Musafir

Musafir wajib 4 rakaat

Musafir (qashar)

Musafir

Makmum boleh qashar 2 rakaat

Musafir (qashar)

Mukim

Imam 2 rakaat, makmum mukim berdiri untuk menyempurnakan 4 rakaat.

Mukim

Mukim

4 rakaat

 Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:

-          Safinatun Najah

-          al-Majmū‘ 4/356–357

-          Rauḍah al-Ṭālibīn 1/381–382

-          Tuḥfat al-Muḥtāj 2/390

-          Mughnī al-Muḥtāj dalam pembahasan syarat qashar.

 

No comments: