Berkatalah yang Baik dan Jangan Bohong! - Santri Nurbin

Hot

Saturday, October 3, 2026

Berkatalah yang Baik dan Jangan Bohong!

 

Ada banyak manfaat yang dapat kita petik dari membaca sirah (sejarah, kisah, biografi, perilaku) Rasulillah, di antaranya adalah semakin memperkuat mahabbah (cinta) kepada beliau dan meneladani kebaikan-kebaikan beliau yang paripurna.

Kali ini kita akan mengkaji kitab Irsyadul Mu’minin halaman 27-28) karya KH. Muhammad Ishomuddin Hadziq (wafat 26 Juli 2003), cucu Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dari putri beliau Chodijah Hasyim + Muhammad Hadziq Mahbub.

وَأَمَّا الْقَوْلُ الْحَسَنُ، فَهُوَ الدَّعْوَةُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ بِاللُّطْفِ وَاللِّينِ، وَدَفْعُ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ، وَمُعَاشَرَةُ النَّاسِ بِوَجْهٍ طَلْقٍ وَكَلَامٍ حَسَنٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾

وَقَالَ تَعَالَى:﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾.

Adapun perkataan yang baik (al-qawl al-ḥasan) adalah mengajak manusia kepada Allah Ta‘ala, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dengan kelembutan dan sikap lunak, membalas keburukan dengan kebaikan, serta bergaul dengan manusia dengan wajah yang ramah dan perkataan yang baik.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.’” (QS. Fuṣṣilat: 33)

Allah Ta‘ala juga berfirman: “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 83)

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ قَوْلًا، وَأَحْلَاهُمْ مَنْطِقًا، يَجْذِبُ الْقُلُوبَ وَالْعُقُولَ بِفَصَاحَتِهِ وَبَيَانِهِ وَصِدْقِهِ، وَمِنْ حُسْنِ الْقَوْلِ الْإِيجَازُ فِيهِ، وَمُخَاطَبَةُ النَّاسِ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ، مَعَ مُرَاعَاةِ الْمَقَامِ. وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِنَ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الَّذِي دَعَا إِلَى اللهِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، وَجَادَلَ النَّاسَ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ، وَرَدَّ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ، حَتَّى خَضَعَتْ لَهُ النُّفُوسُ، وَانْقَادَتْ لَهُ الْقُلُوبُ، وَاسْتَرْشَدَتْ بِالْحَقِّ، وَاتَّبَعَتِ الْهُدَى فِي أَقْرَبِ وَقْتٍ.

 

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik perkataannya dan paling manis tutur katanya. Beliau mampu menarik hati dan pikiran manusia dengan kefasihan, penjelasan yang terang, dan kejujuran beliau.

Di antara bentuk perkataan yang baik adalah berbicara secara ringkas dan tidak bertele-tele, berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka, serta memperhatikan situasi dan kondisi ketika berbicara.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada Rasulullah ﷺ, yang menyeru kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, berdialog dengan manusia dengan cara yang paling baik, serta membalas keburukan dengan kebaikan?

Dengan cara itulah, hingga jiwa-jiwa tunduk kepadanya, hati-hati mengikuti ajakannya, memperoleh petunjuk melalui kebenaran, dan mengikuti jalan hidayah dalam waktu yang relatif singkat.

 

عَاشَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ فَاحِشَةٌ قَطُّ، أَوْ كَلِمَةٌ جَافَّةٌ عَلَى خَادِمٍ، فَضْلًا أَنْ تَرْتَفِعَ يَدُهُ بِالضَّرْبِ. وَقَدْ قَالَ فِيمَا رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. وَسَلَامَةُ اللِّسَانِ تَكُونُ بِتَرْكِ الْكَذِبِ، وَالْغِيبَةِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالسُّخْرِيَةِ بِالنَّاسِ، وَالْكَلَامِ الْفَاحِشِ، وَالسِّبَابِ الَّذِي يَجْرَحُ الْقُلُوبَ، كُلُّ ذَلِكَ قَدْ نَهَى عَنْهُ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

 

Nabi ﷺ menjalani kehidupan beliau tanpa pernah terdengar dari beliau perkataan keji sedikit pun, ataupun perkataan kasar kepada seorang pelayan; terlebih lagi sampai tangan beliau terangkat untuk memukul.

Beliau ﷺ juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bersabda pada Haji Wada‘: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Menjaga keselamatan lisan dilakukan dengan meninggalkan kebohongan, ghibah, namimah (adu domba), mengejek orang lain, perkataan keji, dan cacian yang melukai hati. Semua itu telah dilarang oleh Nabi kita ﷺ.

 

لَا يُوجَدُ دِينٌ وَلَا نَبِيٌّ عَظَّمَ جَرِيمَةَ الْكَذِبِ مِثْلَ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، فَإِنَّهُ مَنَعَ الْكَذِبَ حَتَّى فِي الْهَزْلِ. أَخْرَجَ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالْحَاكِمُ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ حَيْدَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ. فَظَهَرَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ لَمْ يُرَخِّصِ الْكَذِبَ؛ لِأَنَّ الْكَذِبَ يَدْعُو إِلَى الْفُجُورِ.

Tidak ada agama dan tidak ada seorang nabi yang memberikan perhatian dan peringatan begitu besar terhadap kejahatan dusta sebagaimana Nabi kita ﷺ. Beliau melarang kebohongan, bahkan dalam bercanda sekalipun.

Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim meriwayatkan dari Mu‘awiyah bin Haydah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa karenanya. Celakalah dia, celakalah dia.”

Dari sini tampak bahwa beliau tidak memberikan kelonggaran terhadap kebohongan, karena kebohongan akan mengantarkan kepada kefajiran (perbuatan dosa dan penyimpangan).[]

 

Catatan Tambahandari Penulis Blog

Tafsir QS. Fuṣṣilat [41]: 33 dan QS. al-Baqarah [2]: 83

Mari kita telaah tafsir QS. Fuṣṣilat [41]: 33 dan QS. al-Baqarah [2]: 83 dengan berbasis pada kitab-kitab tafsir. Kali ini kita mencukupkan diri pada tiga kitab tafsir saja: (1) Ḥāsyiyah al-Ṣāwī ‘alā Tafsīr al-Jalālayn (Aḥmad as-Ṣāwī al-Mālikī), (2) Marāḥ Labīd li Kasyfi Ma‘nā al-Qur’ān al-Majīd (Syekh Muḥammad Nawawī al-Jāwī al-Bantanī), dan (3) Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Ibn Katsīr).

Menafsirkan QS. Fuṣṣilat [41]: 33, as-Ṣāwī menjelaskan:

قَوْلُهُ (وَعَمِلَ صَالِحًا) أَيْ: امْتَثَلَ أَمْرَ رَبِّهِ، وَاجْتَنَبَ نَوَاهِيَهُ، وَحَيْثُ كَانَ دَاعِيًا إِلَى اللهِ، مَعَ اتِّصَافِهِ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ، كَانَ قَوْلُهُ مَقْبُولًا، وَيُؤَثِّرُ فِي الْقُلُوبِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَلَا يَكُونُ قَوْلُهُ مَقْبُولًا، وَلَا يُؤَثِّرُ فِي الْقُلُوبِ، وَلَا تَنْبَغِي صُحْبَتُهُ.

Intinya: orang yang mengajak kepada Allah sekaligus menghiasi dirinya dengan amal saleh, perkataannya menjadi lebih dapat diterima dan lebih berpengaruh pada hati. Sebaliknya, orang yang menyuruh orang lain tetapi dirinya sendiri tidak mengamalkannya, perkataannya tidak akan diterima dan kehilangan pengaruh.

Seorang ahli makrifat (mungkin Ibnu Atha’illah as-Sakandari) berkata:

لا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ.

“Janganlah bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bangkit (menuju kebaikan), dan perkataannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.”

Sementara itu, Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Marāḥ Labīd memberikan penjelasan bahwa dakwah itu bukan hanya mengatakan sesuatu yang benar, tetapi juga menghidupkan kebenaran itu pada diri sendiri. Ia mengajak orang lain kepada kebaikan, dan dirinya sendiri pun mengerjakannya.

Lebih lanjut Syekh Nawawī al-Bantanī menyebutkan empat tingkatan  orang-orang yang mengajak (berdakwah) kepada jalan Allah:

1. Dakwah para nabi

Dakwah para nabi dilakukan dengan mukjizat, hujah-hujah, dan pedang.

2. Dakwah para ulama

Para ulama menyeru manusia kepada Allah Ta‘ala dengan dalil-dalil dan argumentasi yang kuat. Mereka adalah pewaris/wakil para nabi dalam bidang ilmu. Adapun para raja/penguasa, mereka adalah wakil para nabi dalam bidang kekuasaan.

3. Dakwah para mujahidin

Para mujahidin menyeru kepada Allah Ta‘ala dengan pedang.

4. Dakwah para muadzin

Para muadzin menyeru manusia agar taat kepada Allah Ta’ala dengan menunaikan shalat.

Adapun Ibnu Katsir menyampaikan dalam tafsirnya bahwa ayat ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang menyeru kepada kebaikan dan dirinya sendiri berada dalam petunjuk. Rasulullah adalah orang yang paling utama dalam hal tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Sirin, as-Suddi, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Ibnu Katsir juga menyebut pendapat sebagian ulama bahwa ayat ini secara khusus berkaitan dengan para muadzin. Ketika muadzin mengucapkan: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ “Marilah menunaikan shalat,” maka pada hakikatnya ia sedang menyeru manusia kepada Allah dan kepada ketaatan kepada-Nya. Karena itu, sebagian salaf seperti Ibnu Umar, Ikrimah, dan ‘Aisyah رضي الله عنهم  mengaitkan ayat ini dengan para muadzin. Bahkan, secara khusus, Rasulullah memohonkan ampunan untuk para muadzin:

 (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ) ثَلَاثًا

“Ya Allah, ampunilah para muadzin.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Adapun terhadap QS. al-Baqarah: 83, as-Ṣāwī memberi penafsiran singkat dan paddat, bahwa berucap yang baik tidak hanya ditujukan kepada sesama umat Islam, tetapi kepada semua manusia secara umum. Beliau mengaitkannya dengan hadis:

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Sementara Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Tafsir Marāḥ Labīd memberikan penjelasan bahwa perkataan yang baik adalah perkataan yang memberikan manfaat kepada orang lain. Dalam pandangan beliau, al-qawl al-ḥasan tidak hanya dinilai dari bentuk katanya, tetapi juga dari manfaatnya.

Sedangkan Tafsir Ibnu Katsīr secara eksplisit memasukkan amar ma‘ruf dan nahi munkar dengan cara yang baik merupakan bagian dari al-qawl al-ḥasan.

Ya, dalam Islam terdapat beberapa keadaan khusus ketika perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan diberi rukhsah (keringanan) demi tujuan yang dibenarkan syariat. Namun, hal ini bukan berarti kebohongan menjadi sesuatu yang bebas dilakukan.

Hadis yang sedang kita kaji dalam Irsyādul Mu’minīn perlu dipahami bersama hadis-hadis lain tentang dusta. Para ulama membahas persoalan ini dengan membedakan antara hukum asal berbohong, kebohongan untuk tujuan tercela, dan perkataan yang diberi keringanan karena maslahat yang dibenarkan.

 

Ada Bohong yang Dibolehkan

Hukum asal berbohong adalah haram. Rasulullah bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ.

“Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan menuntun ke surga. Sesungguhnya dusta menuntun kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun ke neraka.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6094; Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2607)

Akan tetapi, dalil tentang larangan dusta ini perlu dibaca bersama dalil-dalil lain yang memberikan pengecualian dalam keadaan tertentu. Di antaranya, hadits Nabi:

لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا، وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ، وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ.

“Tidak diperbolehkan berbohong, kecuali dalam tiga perkara: (1) perkataan suami kepada istrinya untuk menyenangkannya atau menjaga keharmonisan, (2) kebohongan dalam peperangan, dan (3) kebohongan untuk mendamaikan manusia.” (Jāmi‘ at-Tirmiżī, no. 1939; Sunan Abī Dāwūd, no. 4921)

Sebagian ulama memahami hadis tersebut sebagai keringanan dalam kebohongan secara literal pada batas-batas tertentu. Ulama lain menekankan agar seseorang menghindari kebohongan secara literal dan lebih memilih menggunakan tauriyah (التَّوْرِيَة), yaitu ungkapan yang memiliki makna lebih dari satu: pembicara bermaksud makna yang benar, sementara pendengar mungkin memahami makna lainnya.

Dalam hal ini, kita bisa merumuskan prinsip kehati-hatian agar tidak terjebak dalam kebohongan:

  • Jika tujuan yang baik dapat dicapai dengan perkataan yang jujur, gunakanlah kejujuran.
  • Jika terdapat keringanan yang dilegalkan oleh syariat, batasi penggunaannya sesuai kebutuhan dan tujuan yang dibenarkan.
  • Jika berkata benar akan mengakibatkan kezaliman serius, seperti membocorkan tempat persembunyian orang yang hendak dibunuh secara zalim, persoalannya tidak lagi sekadar etika berbicara, tetapi juga kewajiban melindungi jiwa.
  • Jangan menjadikan pengecualian sebagai kebiasaan untuk membenarkan dusta dalam urusan sehari-hari.[]

No comments: