Intisari Buku Ḥubbun Nabī ﷺ wa ‘Alāmātuhu - Santri Nurbin

Hot

Sunday, September 20, 2026

Intisari Buku Ḥubbun Nabī ﷺ wa ‘Alāmātuhu

 


Buku setebal 103 halaman ini berjudul Ḥubb an-Nabī ﷺ wa ‘Alāmātuhu, yang berarti “Cinta kepada Nabi dan Tanda-Tandanya”. Penulisnya adalah Dr. Faḍl Ilāhī Ẓahīr,  seorang akademisi muslim asal Pakistan. Lahir pada 1947 M di Sialkot, Pakistan. Sekira 19 tahun ia berkiprah sebagai dosen di Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh, kemudian kembali ke Pakistan dan mengajar di International Islamic University Islamabad.

Gagasan pokok dari buku ini adalah kewajiban mencintai Nabi dan membuktikannya melalui perbuatan nyata. Bukan sekadar luapasan emosi cinta. Buku ini dibuka dengan suatu prinsip bahwa Rasulullah harus lebih dicintai daripada apa pun di alam raya ini. Bahkan, melebihi kecintaan kepada diri sendiri.

Struktur buku ini dibagi dalam tiga bagian utama: (1) Wajib Mencintai Nabi, (2) Buah dari Mencintai Nabi, dan (3) Bukti atau Tanda Cinta kepada Nabi.

 

Bagian Pertama: Kewajiban Mencintai Nabi

Ada banyak dalil yang menegaskan bahwa kita wajib mencintai Nabi melebihi cinta kita kepada diri sendiri, orang tua, anak, keluarga, harta, dan semua manusia. Di antaranya, diceritakan dari Abdullah ibn Hisyam, suatu ketika Nabi memegang tangan Umar ibn Khattab. Kemudian Umar berkata kepada Nabi, “Ya Rasulallah, saya mencintaimu melebihi apa pun, kecuali diri saya sendiri.” Nabi pun menanggapi, “Demi Allah, Belum. Hingga engkau mencintai aku melebihi dirimu sendiri.” Umar menjawab, “Demi Allah, sekarang saya mencintaimu melebihi diri saya sendiri.” Nabi berkata kepadanya, “Umar, sekarang (telah sempurna imanmu).”

Dalam hadits yang lain disebutkan:

لَا يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِن وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah seseorang di antara kalian beriman (dengan iman yang sempurna) hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari)

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah seorang hamba beriman (dengan iman yang sempurna) hingga aku lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim)

Di bagian ini dikemukakan pula ancaman bagi orang yang kecintaannya kepada makhluk melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

 

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ࣙاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَࣖ ۝٢٤

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.  (Q.S. at-Taubah: 24)

 

Bagian Kedua: Buah dari Mencintai Nabi

1.      Merasakan manisnya iman.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

 

“Ada tiga perkara; barangsiapa memiliki ketiganya, ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain keduanya. Kedua, hendaknya ia mencintai seseorang, dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Ketiga, hendaknya ia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci jika dilemparkan ke dalam api.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

2.      Bersama Nabi di Surga

Diceritakan ada seorang laki-laki dari Arab pedalaman datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kapankah Kiamat akan terjadi?” Beliau ﷺ bersabda, “Celaka engkau! Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak mempersiapkan apa pun untuk menghadapinya, kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Maka kami (para sahabat) bertanya, “Apakah kami juga demikian?” Beliau menjawab, “Ya.” Para sahabat sangat bergembira mendengarnya.

Mendengar sabda tersebut, Anas bin Malik berkata:

فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ.

“Kami tidak pernah bergembira karena sesuatu sebagaimana kegembiraan kami ketika mendengar sabda Nabi ﷺ: ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’ Maka aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap dapat bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku tidak memiliki amal seperti amal mereka.”

 

Bagian Ketiga: Tanda Cinta kepada Nabi

Ada banyak tanda cinta seseorang kepada Nabi, empat di antaranya disebutkan dalam buku ini, yaitu:

  • Sangat rindu untuk melihat dan membersamai Nabi (الحرص على رؤيته وصحبته ).

Cinta sejati melahirkan kerinduan untuk bertemu dan menyertai. Kerinduan orang-orang Anshar, salah satu buktinya. Ketika mendengar Rasulullah sedang berhijrah menuju Madinah, orang-orang Anshar rela menunggu kedatangan beliau setiap hari. Mereka keluar menuju daerah al-Ḥarrah dan menanti sampai panas matahari sangat menyengat. Mereka pulang setelah penantian yang panjang, kemudian kembali lagi pada hari berikutnya. Ketika akhirnya Rasulullah ﷺ benar-benar datang, meluaplah kegembiraan mereka yang luar biasa.

 

  • Kesiapan penuh untuk mengorbankan jiwa dan harta demi membela beliau ( اسْتِعْدَادٌ تَامٌّ لِبَذْلِ النَّفْسِ وَالْمَالِ دُونَهُ ).

Salah satu contoh pengorbanan sahabat yang dicatat dalam buku ini adalah kisah Thalhah bin Ubaidillah. Pada Perang Uhud, ketika keadaan sangat genting dan musuh mengepung Rasulullah, Thalhah maju melindungi beliau. Ia menggunakan tubuhnya sebagai pelindung Rasulullah, sampai-sampai jari tangan Thalhah terkena tebasan pedang dan banyak luka pada tubuhnya. Setiap kali Abu Bakrar ash-Shiddiq mengingat peristiwa Perang Uhud, ia menangis dan mengatakan,  ذَاكَ كُلُّهُ يَوْمَ طَلْحَةَ “Semua itu terjadi pada hari Thalhah."


  • Melaksanakan perintah-perintah Nabi dan menjauhi larangan-larangannya  ( امتثال أوامره واجتناب نواهيه ).

Ketika Rasulullah ﷺ mengumumkan diharamkannya khamr, para sahabat yang saat itu sedang memegang atau meminum khamr langsung menumpahkan khamr mereka. Tanpa perlu banyak tanya, apalagi memprotesnya. Kisah ini menjadi bukti bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ melahirkan ketundukan dan kepatuhan yang spontan, bukan perdebatan panjang.

 

  • Membela sunnah beliau dan mempertahankan syariat  ( نَصْرُ سُنَّتِهِ وَالذَّبُّ عَنِ الشَّرِيعَةِ ).

Setelah Rasulullah wafat, sebagian kelompok ada yang memisahkan antara shalat dan zakat. Mereka mengatakan bahwa mereka masih akan shalat, tetapi tidak mau membayar zakat. Abu Bakar menolak pemisahan tersebut dengan sangat tegas dan memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat.[]


Download Kitab Hubbun Nabi wa Alamatuhu versi pdf



No comments: