Kisah al-Ghazali Masuk Surga karena Seekor Lalat - Santri Nurbin

Hot

Tuesday, September 22, 2026

Kisah al-Ghazali Masuk Surga karena Seekor Lalat

 


Tertulis dalam Kitab Nashā’i al-‘Ibād

رُئِيَ الْغَزَالِيُّ فِي النَّوْمِ، فَقِيلَ لَهُ: مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ فَقَالَ: أَوْقَفَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ، وَقَالَ لِي: بِمَ قَدَّمْتَ عَلَيَّ؟ فَصِرْتُ أَذْكُرُ أَعْمَالِي، فَقَالَ: لَمْ أَقْبَلْهَا، وَإِنَّمَا قَبِلْتُ مِنْكَ ذَاتَ يَوْمٍ نَزَلَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى مِدَادِ قَلَمِكَ لِتَشْرَبَ مِنْهُ، وَأَنْتَ تَكْتُبُ، فَتَرَكْتَ الْكِتَابَةَ حَتَّى أَخَذَتْ حَظَّهَا رَحْمَةً بِهَا، ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: امْضُوا بِعَبْدِي إِلَى الْجَنَّةِ.

 

Al-Ghazali pernah dilihat dalam mimpi (oleh seseorang). Lalu beliau ditanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Beliau menjawab, “Allah menempatkanku berdiri di hadapan-Nya, lalu Dia berfirman kepadaku, ‘Dengan amal apakah engkau menghadap kepada-Ku?’ Maka aku mulai menyebutkan amal-amalku. Lalu Dia berfirman, ‘Aku tidak menerima amal-amal itu. Aku hanya menerima darimu satu perbuatan, yaitu pada suatu hari seekor lalat hinggap di tinta pena milikmu untuk meminumnya, sementara saat itu engkau sedang menulis. Lalu engkau menghentikan tulisanmu sampai lalat itu mengambil bagiannya, sebagai bentuk kasih sayangmu kepadanya.’ Kemudian Allah Ta‘ala berfirman, ‘Bawalah hamba-Ku ini menuju surga.’”

Dalam Nashā’i al-‘Ibād, Syekh Nawawi al-Bantani menempatkan hikayat mimpi ini dalam lingkup pembahasan hadits tentang rahmat (kasih sayang):

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى؛ اِرْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Para penyayang akan disayangi oleh ar-Rahman (Allah). Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

Lafal يَرْحَمكُمْ bisa dibaca jazm ( يَرْحَمْكُمْ )sebagai jawab dari Fi’il Amr sebelumnya, yaitu اِرْحَمُوا . Bisa juga dibaca rafa’ sebagai jumlah du’aiyah ( يَرْحَمُكُمْ).

Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa amal yang tampak kecil, tetapi lahir dari kasih sayang kepada makhluk Allah, dapat menjadi sebab datangnya rahmat/kasih sayang Allah. Oleh karenanya, jangan pernah menyepelekan amal kebaikan, sekecil apa pun itu. Karena kita tidak tahu, dari sekian amal yang kita lakukan, amal manakah yang diterima oleh Allah. Kita juga tidak mengetahui ketaatan mana yang akan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita.

 

Tercatat Pula dalam Beberapa Kitab Lain

1.   Fay al-Qadīr karya al-Munāwī (w. 1031 H).

Imam al-Munāwī mencantumkan kisah ini dalam Fay al-Qadīr Syar al-Jāmi‘ al-Ṣaghīr, jauh sebelum Syekh Nawawi al-Bantani. Redaksinya:


فَائِدَةٌ: ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ مِنْ مَشَايِخِنَا أَنَّ حُجَّةَ الْإِسْلَامِ الْغَزَالِيَّ رُئِيَ فِي النَّوْمِ، فَسُئِلَ: مَا فَعَلَ اللَّهُ بِهِ؟ فَقَالَ: أَوْقَفَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ، وَقَالَ: بِمَاذَا جِئْتَ؟ فَذَكَرْتُ أَنْوَاعًا مِنَ الْعِبَادَاتِ، فَقَالَ: مَا قَبِلْتُ مِنْهَا شَيْئًا، وَلَكِنْ غَفَرْتُ لَكَ، هَلْ تَدْرِي بِمَاذَا؟ جَلَسْتَ تَكْتُبُ يَوْمًا، فَسَقَطَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى الْقَلَمِ، فَتَرَكْتَهَا تَشْرَبُ مِنَ الْحِبْرِ رَحْمَةً لَهَا، فَكَمَا رَحِمْتَهَا رَحِمْتُكَ، اذْهَبْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ.


Sebuah faedah: Sebagian orang arif dari guru-guru kami menyebutkan bahwa Hujjatul Islam al-Ghazali dilihat dalam mimpi. Ia ditanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Ia menjawab, “Allah menempatkanku di hadapan-Nya, dan berfirman, ‘Dengan apa engkau datang?’ Aku pun menyebutkan berbagai macam ibadah. Dia berfirman, ‘Aku tidak menerima satu pun dari amal-amal itu. Akan tetapi, Aku telah mengampunimu. Tahukah engkau karena apa? Pada suatu hari engkau sedang menulis, lalu seekor lalat hinggap pada pena. Engkau membiarkannya minum tinta karena rasa kasih sayangmu kepadanya. Sebagaimana engkau telah mengasihinya, Aku pun mengasihimu. Pergilah, sungguh Aku telah mengampunimu.’” (Fay al-Qadīr : 3/8)

 

2. Fatāwā al-Khalīlī karya Muhammad bin Muhammad al-Khalīlī (w. 1147 H).

Hikayat mimpi tersebut tercatat pula dalam Fatāwā al-Khalīlī ‘alā al-Madzhab al-Syāfi‘ī, karya Muhammad bin Muhammad al-Khalīlī asy-Syāfi‘ī al-Qādirī.  Redaksinya:


وَرُؤِيَ الْغَزَالِيُّ فِي النَّوْمِ، فَقِيلَ لَهُ: مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ فَقَالَ: أَوْقَفَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ، وَقَالَ: بِمَ جِئْتَنِي؟ فَذَكَرْتُ أَنْوَاعًا مِنَ الطَّاعَاتِ، فَقَالَ: مَا قَبِلْتُ مِنْهَا شَيْئًا، لَكِنَّكَ جَلَسْتَ تَكْتُبُ، فَوَقَفَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى الْقَلَمِ، فَتَرَكْتَهَا تَشْرَبُ مِنَ الْحِبْرِ رَحْمَةً لَهَا، فَكَمَا رَحِمْتَهَا رَحِمْتُكَ؛ اِذْهَبْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ، وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.


Al-Ghazālī dilihat dalam mimpi. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Ia menjawab, “Dia menempatkanku di hadapan-Nya, lalu Dia berkata kepadaku, ‘Dengan apa engkau datang menghadap-Ku?’ Maka aku menyebutkan berbagai macam ketaatan yang telah aku lakukan. Dia berkata, ‘Aku tidak menerima satu pun dari semua itu. Akan tetapi, engkau pernah duduk menulis, lalu seekor lalat hinggap pada pena. Kemudian engkau membiarkannya minum dari tinta karena rasa kasih sayangmu kepadanya. Maka sebagaimana engkau menyayanginya, Aku pun menyayangimu. Pergilah, sungguh Aku telah mengampunimu.’ Dan Allah Ta‘ālā lebih mengetahui.” (Fatāwā al-Khalīlī: 1/61)

 

3. Barīqah Mamūdiyyah karya al-Khādimī (w. 1176 H).

Barīqah Mamūdiyyah fī Syar arīqah Muammadiyyah wa Syarīʿah Nabawiyyah fī Sīrah Amadiyyah (jilid 3 hlm. 70) karya Abū Sa‘īd al-Khādimī al-anafī juga memuat redaksi yang sama sebagaimana dalam Fatāwā al-Khalīlī. 

 

4. Jawāhir at-Taṣawwuf karya kompilasi Sa‘īd Hārūn ‘Āsyūr.

Jawāhir at-Taṣawwuf merupakan kitab modern (terbit 2002 M) yang menghimpun perkataan-perkataan yang dinisbatkan kepada Yayā bin Mu‘ādz al-Rāzī (w. 258 H). Bisa dibilang Jawāhir at-Taṣawwuf merupakan sumber sekunder modern dalam telaah hikayat mimpi al-Ghazali dan seekor lalat.

Redaksi yang ditulis Sa‘īd Hārūn ‘Āsyūr dalam Jawāhir at-Taṣawwuf (halaman 94) agak berbeda dengan literatur-literatur yang lain:


وَيُحْكَى أَنَّ حُجَّةَ الْإِسْلَامِ الْغَزَالِيَّ (تُوُفِّيَ سَنَةَ ٥٠٥ هِـ) رُؤِيَ بَعْدَ وَفَاتِهِ فِي الْمَنَامِ فِي حَالَةٍ حَسَنَةٍ، فَسَأَلَهُ مَنْ رَآهُ: بِمَاذَا غَفَرَ اللهُ لَكَ يَا شَيْخَنَا؟ هَلْ بِمُؤَلَّفَاتِكَ؟ أَوْ بِعَظَاتِكَ، أَوْ بِتَدْرِيسِكَ الْعِلْمَ لِطُلَّابِكَ، أَوْ بِعِبَادَتِكَ؟

قَالَ الْغَزَالِيُّ: لَيْسَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذَا كُلِّهِ، إِنَّمَا لِأَمْرٍ بَسِيطٍ؛ كُنْتُ جَالِسًا أَكْتُبُ، وَفَرَغَ الْمِدَادُ مِنَ الْقَلَمِ، فَهَمَمْتُ أَنْ أَغْمِسَهُ فِي الْمِحْبَرَةِ، وَلَكِنِّي تَرَاجَعْتُ لَحَظَاتٍ، فَقَدْ كَانَتْ هُنَاكَ ذُبَابَةٌ تَقِفُ عَلَى فُوَّهَةِ الْمِحْبَرَةِ لِتَشْرَبَ، فَتَمَهَّلْتُ حَتَّى طَارَتْ، فَغَفَرَ اللهُ لِي ذُنُوبِي بِسَبَبِ ذَلِكَ.


Diceritakan bahwa ujjatul Islām al-Ghazālī (w. 505 H) pernah dilihat dalam mimpi setelah wafatnya, dalam keadaan yang baik. Orang yang melihatnya dalam mimpi bertanya kepadanya, “Dengan apakah Allah mengampunimu, wahai guru kami? Apakah karena karya-karyamu? Ataukah karena nasihat-nasihatmu? Ataukah karena engkau mengajarkan ilmu kepada para muridmu? Ataukah karena ibadahmu?” Al-Ghazālī menjawab, “Bukan karena satu pun dari semua itu. Sesungguhnya karena suatu perkara yang sederhana. Aku sedang duduk menulis. Tinta yang ada pada pena telah habis, lalu aku hendak mencelupkan pena itu ke dalam tempat tinta. Akan tetapi, aku berhenti sejenak, karena saat itu ada seekor lalat yang hinggap di mulut tempat tinta, untuk minum. Maka aku menunggu sampai lalat itu terbang. Karena hal itulah Allah mengampuni dosa-dosaku.” []

No comments: