ads
Thursday, October 31, 2013

October 31, 2013
2

Syaqiq al-Balkhi[1], seorang Guru Besar sufi di daerah Khurasan[2], pernah bercerita tentang gurunya yang bernama Ibrahim bin Adham[3]. Suatu hari, sang guru (Ibrahim bin Adham) berjalan-jalan di beberapa pasar di Bashrah. Melihat kedatangan sang guru, sontak orang-orang mengerumuninya. Kemudian mereka bertanya tentang firman Allah Swt:
اُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kalian kepadaku, niscaya akan aku kabulkan untuk kalian.” (Q.S. Ghafir [40]: 60)
“Sejak dulu kami selalu berdoa kepada-Nya, tetapi mengapa Dia tidak pernah mengabulkan permintaan kami?” keluh orang-orang di pasar Bashrah itu.

Ibrahim bin Adham lalu menjawab, “Ketahuilah, wahai orang-orang Bashrah, itu karena hati kalian telah mati dari sepuluh perkara. Maka dari itu, bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan oleh-Nya?!”

Ibrahim bin Adham lalu mengurai sepuluh perkara yang ia maksud.

1.       Kalian tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan kalian dan member rezeki kalian, tetapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya. Yakni, kalian tidak beribadah dan mengabdi kepada-Nya sebagaimana Dia perintahkan kepada kalian.

2.      Kalian membaca kitab Allah, tetapi kalian tidak mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.

3.      Kalian mengaku memusuhi iblis/setan, tetapi kalian justru menjadi pengikutnya.

4.      Kalian mengaku cinta Rasul, tetapi kalian justru meninggalkan amalan-amalan dan sunnah beliau Saw. Jadilah kalian dalam kenyataannya tidak mengikuti jejak beliau.

5.      Kalian mengaku cinta surga, tetapi kalian tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang membawa kalian wushul (sampai) ke surga.

6.      Kalian mengaku takut kepada neraka, tetapi kalian tidak berhenti dari melakukan perbuatan dosa.

7.      Kalian meyakini bahwa kematian itu pasti datang, tetapi kalian sama sekali tidak menyiapkan diri untuk menyambut kematian itu dengan amal-amal shalih.

8.     Kalian begitu sibuk mengurusi aib orang lain sehingga kalian lupa kepada aib diri sendiri. Sampai akhirnya, kalian tidak melakukan usaha sedikit pun untuk menyucikan diri sendiri.

9.      Kalian memakan rezeki dari Allah Swt, tetapi kalian tidak mensyukurinya. Yakni, kalian tidak memuji-Nya dan tidak pula meningkatkan ketaatan kepada-Nya.

10.  Kalian berkali-kali mengubur orang-orang mati, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran dari kematian mereka. Kalian tidak mengingat akan datangnya kematian. Jika kalian ingat pada kematian, tentu kalian akan gemar beramal kebaikan dan benci pada amal-amal keburukan.



[1] Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim al-Azdi al-Balkhi (wafat: 149 H/810 M). Semasa nyantri atau berguru kepada Ibrahim bin Adham, Syaqiq al-Balkhi juga mengajar muridnya yang bernama Hatim al-Asham.
[2] Berdasarkan peta nationmaster, lokasi negeri ini, berada di sebelah utara Iran (Persia), Pakistan (Sijistan) maupun India (India). Sumber: http://www.islampos.com/dimanakah-letak-khurasan-2-60658/
[3] Ibrahim bin Adham bin Mansur bin Yazid bin Jabir. Dia seorang imam yang arif dan pemimpin orang-orang zuhud. Julukannya adalah Abu Ishaq al-‘Izli, ada yang mengatakan at-Tamimi, al-Khurasani, juga al-Balkhi. Dia dilahirkan di Mekah pada akhir tahun ke-100 H. Ibnu ‘Asakir dan Ibnu Katsir mengatakan bahwa Ibrahim bin Adham wafat pada 162 H. Sumber: Siyar A'lami Nubala 7/387-396;  Siarus Salafis Shalihin 3/963-973; dan al-Bidayah wa an-Nihayah 10/558-568.


2 comments:

Yayack Faqih said...

jadi adem kalo baca kaya ginian, terimakasih buat tausiyahnya

Irham Sya'roni said...

Sama-sama. terima kasih kembali. Smoga bermanfaat