Kisah Singkat Thalut, Jalut, dan Nabi Dawud dalam QS. al-Baqarah ayat 246–251 - Santri Nurbin

Hot

Monday, October 19, 2026

Kisah Singkat Thalut, Jalut, dan Nabi Dawud dalam QS. al-Baqarah ayat 246–251

 


Pada masa setelah Nabi Musa, Bani Israil pernah mengalami penindasan dan terusir dari kampung halaman mereka. Mereka kemudian mendatangi nabi mereka dan meminta agar Allah mengangkat seorang raja yang dapat memimpin mereka berperang di jalan Allah. Nabi tersebut mengingatkan mereka, jangan-jangan ketika peperangan benar-benar diwajibkan, mereka justru mundur dan tidak mau berperang. Mereka menjawab dengan penuh keyakinan bahwa mereka pasti akan berjuang, sebab mereka telah diusir dari rumah-rumah mereka dan dipisahkan dari anak-anak mereka. Namun, ketika kewajiban berperang benar-benar ditetapkan, sebagian besar dari mereka justru berpaling. Hanya sedikit yang tetap teguh memegang janji mereka. (QS. al-Baqarah: 246)

Allah mengabulkan permintaan Bani Israil, dengan mengangkat Thalut sebagai raja mereka. Akan tetapi, kaumnya keberatan dengan pengangkatan tersebut. Menurut mereka, Thalut tidak pantas menjadi raja karena bukan orang kaya dan bukan kalangan bangsawan. Mereka merasa lebih berhak atas kedudukan itu daripada Thalut. Nabi mereka menjelaskan bahwa Allah sendiri telah memilih Thalut dan memberinya kelebihan berupa ilmu yang luas dan fisik yang kuat. Dengan bekal tersebut, Thalut dinilai mampu menjalankan tugas kepemimpinan, terutama untuk menghadapi peperangan. Kisah ini mengajarkan bahwa kelayakan seseorang untuk memimpin tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan atau keturunan, tetapi juga oleh ilmu dan kemampuan yang dimiliki. (QS. al-Baqarah: 247)

Untuk menghilangkan keraguan Bani Israil, nabi mereka menyampaikan tanda kebenaran pengangkatan Thalut. Tanda itu adalah kembalinya Tabut, yaitu peti yang menjadi peninggalan berharga bagi mereka, yang di dalamnya terdapat ketenteraman dari Tuhan serta beberapa peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun. Tabut tersebut dibawa oleh para malaikat. Turunnya Tabut di hadapan Thalut menjadi bukti bahwa pengangkatan Thalut memang ketetapan Allah. Dialah yang dipilih langsung oleh Allah untuk menjadi raja bagi Bani Israil. (QS. al-Baqarah: 248)

Setelah menjadi raja, Thalut berangkat bersama pasukannya untuk menghadapi musuh. Sebagian ahli tafsir mengatakan jumlah mereka mencapai 70.000 orang. Dalam perjalanan, Allah menguji ketaatan mereka melalui sebuah sungai. Thalut memberitahukan bahwa siapa pun yang meminum air sungai itu sepuasnya, bukanlah bagian dari pasukannya, kecuali orang yang hanya mengambil sedikit saja dengan tangannya. Namun, kebanyakan dari mereka tidak mampu menahan diri sehingga mereka meminum air sungai tersebut sepuasnya. Hanya sedikit yang menaati perintah Thalut. Ketika Thalut bersama pasukannya menyeberangi sungai, pasukan yang tadi meminum air sungai hingga puas tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Mereka tidak kuat lagi untuk melangkah, apalagi harus menghadapi Jalut dan tentaranya yang kuat. Mereka menganggap kekuatan musuh terlalu besar untuk dilawan. (QS. al-Baqarah: 249)

Sementara itu, Thalut dan pasukannya yang tetap setia (menurut sebagian ahli tafsir jumlahnya tidak lebih dari 310 orang), terus melangkah menuju medan perang. Mereka inilah orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat. Mereka yakin kelak di akhirat akan bertemu Allah dengan membawa pahala jihadnya. Jumlah yang sedikit tidak menyiutkan nyali dan semangat mereka. Mereka berkata, “Betapa banyak kelompok kecil yang mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Mereka menyadari bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau besarnya kekuatan fisik, tetapi juga oleh pertolongan Allah dan keteguhan iman. Ketika berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa agar Allah melimpahkan kesabaran, menguatkan langkah mereka, dan menolong mereka menghadapi kaum kafir. Doa tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan sendiri, tetapi juga memohon pertolongan kepada Allah. (QS. al-Baqarah: 250)

Dengan izin Allah, pasukan yang dipimpin Thalut berhasil mengalahkan Jalut dan tentaranya. Dalam pertempuran itu, Nabi Dawud (yang saat itu masih berusia muda) berhasil membunuh Jalut. Allah kemudian menganugerahkan kepada Dawud kerajaan dan hikmah (kenabian), serta mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. (QS. al-Baqarah: 251)

Dalam tradisi Yahudi-Nasrani, Thalut biasa disebut dengan “Saul”, sedangkan Jalut disebut dengan “Goliath”, dan nama “David” untuk menyebut Nabi Dawud. []


Ayat

 

Inti Kisah

Q.S. al-Baqarah: 246

:

Kaum Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar diberi seorang raja yang memimpin mereka berperang di jalan Allah. Namun, ketika perang diwajibkan, sebagian besar dari mereka justru berpaling dan tidak memenuhi tuntutan mereka sendiri.

 

QS. al-Baqarah: 247

:

Allah mengangkat Thalut sebagai raja. Kaumnya mempertanyakan kelayakannya, karena ia bukan orang kaya dan tidak berasal dari kalangan terpandang. Lalu dijelaskan bahwa Allah-lah yang memilihnya. Allah telah memberikan kelebihan ilmu dan kekuatan fisik kepadanya.

 

QS. al-Baqarah: 248

:

Tanda kerajaan Thalut adalah datangnya Tabut yang dibawa oleh para malaikat.


QS. al-Baqarah: 249

:

Thalut menguji pasukannya dengan sebuah sungai untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak.


QS. al-Baqarah: 250

:

Pasukan yang beriman berdoa memohon kesabaran, keteguhan, dan pertolongan Allah.


QS. Al-Baqarah: 251

:

Dengan izin Allah, pasukan yang dipimpin Thalut berhasil mengalahkan Jalut. Dawud muda yang menumbangkan Jalut. Allah lalu memberikan kerajaan dan hikmah (kenabian) kepada Dawud.




No comments: