10 Perkara yang Mematikan Hati & Mengakibatkan Doa Tidak Terkabul - Santri Nurbin

Hot

Sunday, October 11, 2026

10 Perkara yang Mematikan Hati & Mengakibatkan Doa Tidak Terkabul

 


Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah melewati pasar Basrah. Melihat kedatangannya, orang-orang pun berkumpul lalu menghampirinya. Mereka lalu bertanya, “Wahai Abu Ishaq (nama kun-yah dari Ibrahim bin Adham), Allah Ta'ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ [غافر: 60]،

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonanmu.” (QS. Ghafir [40]: 60).

Kami telah berdoa kepada Allah, tetapi mengapa doa-doa kami belum juga dikabulkan-Nya?”

Ibrahim bin Adham menjawab dengan sebuah nasihat yang sangat mendalam: “Karena hati kalian telah mati disebabkan sepuluh perkara.”

Mendengar jawaban itu, mereka bertanya, “Apakah sepuluh perkara tersebut, wahai Abu Ishaq?”

Beliau lalu menyampaikan sepuluh hal tersebut:

الْأَوَّلُ: أَنَّكُمْ عَرَفْتُمُ اللَّهَ فَلَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ.

1. Kalian mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-Nya.

Kalian mengenal Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajiban yang telah Dia tetapkan dan tidak menunaikan hak-Nya sebagai Tuhan yang wajib disembah dan ditaati.

 

الثَّانِي: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ النَّبِيِّ ﷺ وَلَمْ تَعْمَلُوا بِسُنَّتِهِ.

2. Kalian mengaku mencintai Nabi, tetapi tidak mengikuti sunahnya.

Kalian mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi tidak menjadikan sunah dan tuntunan beliau sebagai pedoman dalam kehidupan.

 

الثَّالِثُ: قَرَأْتُمُ الْقُرْآنَ، وَلَمْ تَعْمَلُوا بِهِ.

3. Kalian membaca Al-Qur'an, tetapi tidak mengamalkannya.

Kalian membaca ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi tidak berusaha menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, dan mengambil pelajaran dari kandungannya.

 

الرَّابِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ اللَّهِ، وَلَمْ تُؤَدُّوا شُكْرَهَا.

4. Kalian menikmati nikmat Allah, tetapi lupa bersyukur kepada-Nya.

Kalian menikmati begitu banyak karunia Allah, tetapi tidak menunaikan kewajiban untuk mensyukurinya, baik melalui hati, lisan, maupun perbuatan.

 

الْخَامِسُ: قُلْتُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ عَدُوُّكُمْ، وَوَافَقْتُمُوهُ.

5. Kalian mengakui setan sebagai musuh, tetapi justru mengikuti ajakannya.

Kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh, tetapi dalam kenyataannya, kalian mengikuti godaan dan ajakannya untuk berbuat dosa.

 

السَّادِسُ: قُلْتُمْ إِنَّكُمْ مُشْتَاقُونَ لِلْجَنَّةِ، فَلَمْ تَعْمَلُوا لَهَا.

6. Kalian merindukan surga, tetapi tidak bersungguh-sungguh meraihnya.

Kalian mengatakan bahwa kalian ingin masuk surga, tetapi tidak berusaha memperbanyak amal saleh dan ketaatan yang dapat mengantarkan kalian ke sana.

 

السَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّكُمْ تَخَافُونَ مِنَ النَّارِ، فَلَمْ تَهْرُبُوا مِنْهَا.

7. Kalian mengaku takut kepada neraka, tetapi tidak menjauhi perbuatan yang menjerumuskan ke dalamnya.

Kalian mengaku takut terhadap siksa neraka, tetapi masih melakukan kemaksiatan dan tidak bersungguh-sungguh menjauhi hal-hal yang dapat membawa kalian kepadanya.

 

الثَّامِنُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ، وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ.

8. Kalian meyakini bahwa kematian pasti datang, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Kalian mengetahui bahwa kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari, tetapi lalai mempersiapkan bekal berupa iman, amal saleh, dan tobat sebelum ajal tiba.

 

التَّاسِعُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ النَّاسِ، وَنَسِيتُمْ عُيُوبَكُمْ.

9. Kalian sibuk mencari-cari aib orang lain, tetapi melupakan aib diri sendiri.

Kalian begitu mudah melihat kekurangan dan kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa diri, memperbaiki kekurangan, dan bertobat atas kesalahan sendiri.

 

الْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ، وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ.

10. Kalian menguburkan orang-orang yang meninggal, tetapi tidak mengambil pelajaran dari kematian mereka.

Kalian mengantar jenazah, menyaksikan pemakaman, dan melihat orang-orang yang dahulu hidup bersama kalian kembali ke dalam tanah. Namun, semua itu berlalu tanpa cukup menyadarkan kalian bahwa suatu hari nanti, kalian pun akan mengalami hal yang sama.

(Kisah ini diceritakan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Ḥilyat al-Auliyā’ jilid 8, hlm. 15 dan Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn jilid 3, hlm. 38.)

 

Bagaimana Allah Mengabulkan Doa Hamba-Nya?

Bagaimana jika seseorang telah berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi apa yang dimintanya belum juga terwujud?

Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak semua doa harus berakhir dengan terwujudnya keinginan seseorang di dunia. Ada kalanya Allah memberikan apa yang diminta, ada kalanya Allah menjauhkan keburukan darinya, dan ada kalanya Allah menyimpan pahala doanya untuk kehidupan akhirat.

Dengan demikian, selama doa itu tidak mengandung dosa dan tidak ditujukan untuk memutus tali silaturahmi, seorang hamba dapat memperoleh salah satu dari tiga kebaikan berikut:

1. Allah mengabulkan apa yang diminta.

Allah memberikan kepada hamba-Nya apa yang ia mohonkan, sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya.

2. Allah menjauhkan keburukan darinya.

Mungkin ada musibah, kesulitan, atau keburukan yang tidak pernah disadarinya, tetapi Allah menjauhkannya sebagai bentuk karunia-Nya.

3. Allah menyimpan pahala doanya untuk akhirat.

Jika apa yang diminta tidak terwujud di dunia dan terjauhkan dari keburukan juga tidak tampak sebagai penggantinya, maka pahala doa itu dapat disimpan oleh Allah untuk diberikan kepadanya kelak di akhirat.

Ketiga hal tersebut merupakan bentuk kebaikan yang dapat diperoleh seorang hamba melalui doanya. Karena itu, janganlah kita tergesa-gesa menganggap doa kita sia-sia hanya karena keinginan belum terpenuhi.

Allah mengetahui apa yang kita butuhkan, kapan sesuatu baik diberikan, dan apa yang lebih bermanfaat bagi kehidupan kita. Tugas kita adalah terus berdoa, berikhtiar, memperbaiki diri, dan berbaik sangka kepada-Nya.

Jangan pernah berhenti berdoa hanya karena apa yang kita minta belum menjadi nyata. Bisa jadi, Allah sedang memberikan kebaikan dalam bentuk lain yang belum kita pahami.

Pada saat yang sama, kisah Ibrahim bin Adham mengingatkan kita agar tidak hanya memperbanyak doa dengan lisan, tetapi juga menghidupkan hati melalui ketaatan, memperbaiki akhlak, menjauhi maksiat, mensyukuri nikmat, dan memperbanyak amal saleh.

Sebab, doa bukan sekadar permintaan kepada Allah, melainkan juga wujud penghambaan, ketergantungan, dan pengakuan bahwa kita senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya.

Semoga Allah menghidupkan hati kita, membimbing kita untuk memperbaiki diri, menerima doa-doa kita dengan cara terbaik menurut ketetapan-Nya, serta mengaruniakan kebaikan di dunia dan di akhirat.

(Disadur dari Qiṣaṣun wa Ḥikāyātu Man Istujība Du‘ā’uhum, disusun oleh Syekh Dr. Muhammad al-Akhras, guru besar di University of Sharjah, Uni Emirat Arab.)

 

Referensi:

Qiṣaṣun wa Ḥikāyātu Man Istujība Du‘ā’uhum versi pdf

Qiṣaṣun wa Ḥikāyātu Man Istujība Du‘ā’uhum versi video

Qiṣaṣun wa Ḥikāyātu Man Istujība Du‘ā’uhum versi teks online

Qiṣaṣun wa Ḥikāyātu Man Istujība Du‘ā’uhum video lengkap 


No comments: