Muqaddimah
Segala puji
bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita Rasul-Nya yang mulia. Melalui
beliau, Allah menunjukkan kepada kita agama yang benar dan jalan yang lurus.
Allah-lah yang memerintahkan kita untuk mengagungkan dan memuliakan Rasul-Nya.
Allah-lah yang mewajibkan setiap mukmin agar mencintai Kanjeng Nabi melebihi
kecintaan mereka kepada diri sendiri, anak-anak, dan orang-orang yang mereka
kasihi. Allah-lah yang menjadikan kecintaan kepada Kanjeng Nabi sebagai jalan
untuk meraih kecintaan Allah dan memperoleh karunia-Nya.
Aku bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya yang telah dianugerahi kedudukan yang agung.
Semoga
shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Kanjeng Nabi Muhammad, juga
kepada para nabi dan rasul lainnya, serta kepada keluarga beliau, para sahabat,
dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari kiamat. Amma
ba’du.
Ini adalah
sebuah risalah ringkas tentang kewajiban mencintai para nabi, yang merupakan
kewajiban bagi setiap mukallaf. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar
menjadikan kitab ini semata-mata berasal dari-Nya, karena-Nya, di jalan-Nya,
dan menuju kepada-Nya. Semoga kitab ini menjadi sebab diterimanya amal di
sisi-Nya, sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta jalan untuk meraih
derajat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.
Pasal 1
Wajib Beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi Wasallam
Setelah mengenal Allah dan beriman kepada-Nya, setiap
mukallaf wajib beriman kepada Rasulullah ﷺ
serta membenarkan segala ajaran yang beliau bawa dari sisi Tuhannya. Beriman
kepada Nabi Muhammad ﷺ
dan seluruh rasul merupakan salah satu dari enam rukun iman. Hal ini sebagaimana
diterangkan Rasulullah ﷺ
saat menjawab pertanyaan
Malaikat Jibril, dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ
وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ اَنْزَلْنَاۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
خَبِيْرٌ ٨
“Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya, dan
cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Allah Mahateliti terhadap apa yang
kamu kerjakan.” (Q.S. at-Taghabun [64]: 88)
اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ
شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ٨ لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ
وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ٩
“Sesungguhnya Kami
mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan
pemberi peringatan, agar kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, baik pagi
maupun petang.” (Q.S. al-Fath [48]: 8-9)
فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ
النَّبِيِّ الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ
لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٥٨
“Maka,
berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) nabi ummi (tidak pandai
baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya
(kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. al-A’raf
[7]: 158)
وَمَنْ لَّمْ يُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ
وَرَسُوْلِهٖ فَاِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَعِيْرًا ١٣
“Siapa yang
tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami telah
menyediakan untuk orang-orang kafir itu (neraka) Sa’ir (yang menyala-nyala).”
(Q.S. al-Fath [48]: 13)
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu (juga dari Ibnu Umar), Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا
الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي
دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى
اللَّهِ
“Aku
diperintahkan untuk memerangi manusia (kaum musyrikin muharibin/kafir harbi)
hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad
adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka
melakukan hal itu, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali
dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (H.R. al-Bukhari no.
25 dan Muslim no. 22)
Iman kepada
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wajib ‘ain (kewajiban bagi setiap
orang mukallaf). Keimanan seseorang tidaklah sempurna dalam pandangan syariat,
kecuali dengan beriman kepada beliau ﷺ. Demikian pula, keislaman seseorang tidak sah, kecuali disertai
dengan keimanan kepada beliau.
Beriman kepada
Nabi Muhammad ﷺ berarti membenarkan kenabian dan kerasulan beliau, serta
membenarkan seluruh ajaran dan berita yang beliau sampaikan dari Allah Ta’ala. Iman
tersebut terwujud dengan adanya kesesuaian antara pembenaran hati (taṣdīqul-qalb)
dan persaksian lisan (syahādatul-lisān) bahwa beliau adalah benar-benar utusan
Allah. Apabila pembenaran hati dan pengakuan lisan ini berhimpun dalam diri
seseorang, maka sempurnalah keimanan dan pembenarannya kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Hal ini
sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril. Ketika Jibril berkata,
“Beritahukanlah kepadaku tentang Islam,” Nabi ﷺ menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad
adalah utusan Allah.” Kemudian Jibril bertanya kepada beliau tentang iman, lalu
beliau menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, …sampai akhir hadits.”
Nabi ﷺ telah menetapkan
bahwa beriman kepada beliau membutuhkan ikatan/keyakinan dalam hati. Demikian
pula, Islam menuntut adanya pengucapan dengan lisan. Karena itu, bersyahadat
dengan lisan tanpa pembenaran dari hati adalah hakikat kemunafikan itu
sendiri—na‘ūdzu billāh (kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut).
Allah Ta’ala
berfirman:
اِذَا جَاۤءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَالُوْا
نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِۘ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗۗ
وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَكٰذِبُوْنَۚ ١ اِتَّخَذُوْٓا
اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنَّهُمْ سَاۤءَ مَا
كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٢ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ اٰمَنُوْا ثُمَّ كَفَرُوْا
فَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ ٣
Apabila
orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa
engkau benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar
Rasul-Nya. Dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu
benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai,
lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, sangat buruk apa
yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah
beriman, kemudian menjadi kafir, lalu hati mereka dikunci, sehingga mereka
tidak mengerti. (Q.S. al-Munafiqun [63]: 1-3).

No comments:
Post a Comment