Pandangan KH. Hasyim Asy’ari tentang Bermadzhab - Santri Nurbin

Hot

Sunday, June 7, 2026

Pandangan KH. Hasyim Asy’ari tentang Bermadzhab

 


(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ خِطَّةِ السَّلَفِ الصَّالِحِ، وَبَيَانِ الْمُرَادِ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ فِيْ هَذَا الْحِيْنِ، وَبَيَانِ أَهَمِّيَّةِ الْإِعْتِمَادِ بِأَحَدِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ. إِذَا فَهِمْتَ مَا ذُكِرَ عَلِمْتَ أَنَّ الْحَقَّ مَعَ السَّلَفِيِّيْنَ الَّذِيْنَ كَانُوْا عَلَى خِطَّةِ السَّلَفِ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُمْ اَلسَّوَادُ الْأَعْظَمُ، وَهُمْ اَلْمُوَافِقُوْنَ عُلَمَاءَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ وَعُلَمَاءِ الْأَزْهَرِ الشَّرِيْفِ اَلَّذِيْنَ هُمْ قُدْوَةُ رَهْطِ أَهْلِ الْحَقِّ وَفِيْهِمْ عُلَمَاءُ لَا يُمْكِنُ اِسْتِقْصَاءُ جَمِيْعِهِمْ مِنْ اِنْتِشَارِهِمْ فِي الْأَقْطَارِ وَالْآفَاقَ كَمَا لَا يُمْكِنُ إِحْصَاءُ نُجُوْمِ السَّمَاءَ. وَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَجْمَعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ} رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ. زَادَ ابْنُ مَاجَهْ: {فَإذَا وَقَعَ الإِخْتِلاَفُ فَعَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ} مَعَ الْحَقِّ وَأَهْلِهِ. وَفِي الْجَامِعِ الصَّغِيْرِ: {إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ أَجَارَ أُمَّتِيْ أَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلَالَة}

وَأَكْثَرُهُمْ أَهْلُ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ، فَكَانَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ شَافِعِيًّا، أَخَذَ عَنِ الْحُمَيْدِيِّ وَالزَّعْفَرَانِيِّ وَالْكَرَابِيْسِيِّ. وَكَذَلِكَ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالنَّسَائِيُّ. وَكَانَ الْإِمَامُ الْجُنِيْدُ ثَوْرِيًّا، وَالشِّبْلِيُّ مَالِكِيًّا، وَالْمُحَاسِبِيُّ شَافِعِيًّا، وَالْجَرَيْرِيُّ حَنَفِيًّا، وَالْجِيْلَانِيُّ حَنْبَلِيًّا، وَالشَّاذِلِيُّ مَالِكِيًّا . فَالتَّقَيُّدُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ أَجْمَعُ لِلْحَقِيْقَةِ، وَأَقْرَبُ لِلتَّبَصُّرِ، وَأَدْعَى لِلتَّحْقِيْقِ، وَأَسْهَلُ تَنَاوُلًا. وَعَلَى هَذَا دَرَّجَ اَلْأَسْلَافُ الصَّالِحُوْنَ، وَالشُّيُوْخُ الْمَاضُوْنَ رِضْوَانُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ.

فَنَحْنُ نَحُضُّ إِخْوَانَنَا عَوَامَّ الْمُسْلِمِيْنَ أَنْ يَتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَأَنْ لَا يَمُوْتُوْا إِلَّا وَهُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَأَنْ يُصْلِحُوْا ذَاتَ الْبَيْنِ مِنْهُمْ، وَأَنْ يَصِلُو الْأَرْحَامَ، وَأَنْ يُحْسِنُوْا إِلَى الْجِيْرَانِ وَالْأَقَارِبِ وَالْإِخْوَانِ، وَأَنْ يَعْرِفُوْا حَقَّ الْأَكَابِرِ، وَأَنْ يَرْحَمُوْا الضُّعَفَاءَ وَالْأصَاغِرَ وَنَنْهَاهُمْ عَنِ التَّدَابُرِ وَالتَّبَاغُضِ وَالتَّقَاطُعِ وَالتَّحَاسُدِ وَالْإفْتِرَاقِ وَالتَّلَوُّنِ فِي الدِّيْنِ،

وَنَحُثُّهُمْ أَنْ يَكُوْنُوْا إِخْوَانًا، وَعَلَى الْخَيْرِ أَعْوَانًا، وَأَنْ يَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا، وَأَنْ لَا يَتَفَرَّقُوْا، وَأَنْ يَتَّبِعُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَمَا كَانَ عَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْأُمَّةِ كَالْإِمَامِ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ، فَهُمْ اَلَّذِيْنَ قَدْ اِنْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى امْتِنَاعِ الْخُرُوْجِ عَنْ مَذَاهِبِهِمْ، وَأَنْ يُعْرِضُوْا عَمَّا أُحْدِثَ مِنَ الْجَمْعِيَّةِ الْمُخَالِفَةِ لِمَا عَلَيْهِ الْأَسْلَافُ الصَّالِحُوْنَ، فَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلىَ النَّارِ}،

وَأَنْ يَكُوْنُوْا مَعَ الْجَمَاعَةِ الَّتِيْ عَلَى طَرِيْقَةِ الْأَسْلَافِ الصَّالِحِيْنَ، فَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ أَمَرَنِيَ اللهُ بِهِنَّ: اَلسّمْعِ وَالطَاعَةِ وَالْجِهَادِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيْدَ شِبْرٍ، فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ}، وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: {عَلَيْكُمْ بِالْجَماعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مَعَ الْاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ. وَمَنْ أَرَادَ بُحْبُوْبَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ}.

 

(Pasal) tentang Khittah (garis besar, jalan, atau langkah) para ulama salaf shalih, maksud dari assawadul a’zham pada masa sekarang, dan pentingnya bersandar pada salah satu madzhab empat.

 

Assawadul A’zham

Apabila kamu memahami penjelasan yang telah disebutkan di pasal sebelumnya, kamu pasti akan mengetahui bahwa kebenaran hakiki berpihak pada para ulama salaf (generasi terdahulu) yang berpegang pada khittah salafus shalih. Mereka inilah assawadul a’zham. Mereka seiya sekata dengan ulama haramain (Mekkah dan Madinah) dan ulama’ al-Azhar yang mulia. Mereka menjadi panutan golongan ahlul haq (ahli kebenaran). Jumlah mereka sangat banyak, bahkan sampai tak terhitung banyaknya, karena tersebar di seluruh penjuru dunia, sebagaimana tidak bisa kita hitung banyaknya bintang di langit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan. Pertolongan Allah akan diberikan kepada jamaah, dan orang yang keluar dari jamaah akan berada dalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

Ibnu Majah menambahkan (riwayat), “Jika terjadi perbedaan pendapat, hendaklah kalian berpegang kepada assawadul a’zham.” Yakni bersama faham yang benar (haqq) dan orang-orang yang menempuh jalan kebenaran (ahlul haqq).

Di dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir disebutkan, “Sesungguhnya Allah menyelamatkan umatku dari bersepakat dalam kesesatan.”

 

Bermadzhab Adalah Jalan Para Ulama Salaf

Mayoritas dari mereka (para ulama salaf) bermadzhab, yakni mengikuti madzhab yang empat. Imam Bukhari, misalnya, adalah pengikut madzhab imam Syafi’i. Beliau merupakan murid dari Imam Humaidi, Imam az-Za’farani, dan Imam Karabisi. Demikian juga Ibnu Khuzaimah dan an-Nasa’i.

Imam Junaid adalah pengikut Imam Tsauri, Imam asy-Syibli adalah pengikut madzhab Maliki, Imam Muhasibi adalah pengikut madzhab Syafi’i, Imam al-Jariry merupakan penganut Imam Abu Hanifah (Hanafi), Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bermadzhab Hanbali, dan Imam Abul Hasan asy-Syadzili pengikut madzhab Maliki.

Karena itu, berpegang kepada satu mazhab tertentu lebih kondusif untuk mencapai kebenaran, lebih mendekatkan kepada pemahaman yang mendalam, lebih mendorong ketelitian dalam kajian dan verifikasi, serta lebih mudah untuk dipelajari dan diterapkan. Inilah yang dilakukan para salafus shalih dan para ulama pendahulu; semoga Allah meridhai mereka semua.

 

Tetap Bersaudara Walaupun Berbda Madzhab

Selanjutnya, kami mendorong saudara-saudara kami, kaum muslimin yang masih awam, agar bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Dan tidak meninggalkan dunia ini, kecuali memeluk agama Islam. Selain itu, kami menghimbau agar selalu mendamaikan orang-orang yang bertikai di antara merreka, menyambung tali persaudaraan, berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, kerabat, dan teman. Hendaknya mengetahui juga hak-hak orang yang lebih tua, serta menyayangi kaum lemah dan orang yang lebih muda.

Kami larang mereka menumbuhkan sikap saling bermusuhan, saling benci, saling memutuskan hubungan, saling dengki, bercerai berai, dan talawwun fid-din (inkonsisteni dalam beragama karena dorongan nafsu dan hasrat duniawi). [Bisa jadi lawan katanya adalah ats-tsabat ‘alad-din atau al-istiqomah fid-din]

Kami mendorong mereka agar senantiasa bersaudara, saling menolong dalam kebaikan, berpegang teguh kepada agama Allah, dan tidak tercerai-berai. Hendaknya senantiasa konsisten berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah serta apa saja yang menjadi tuntunan para ulama panutan umat, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka bersepakat melarang kita keluar dari madzhab-madzhab mereka.

Hendaknya mereka juga berpaling dari segala bentuk organisasi baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang dibangun oleh para Salafus Shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang keluar (memisahkan diri) dari jamaah maka akan berada di neraka.”

Hendaknya mereka konsisten bersama al-Jama’ah yang berjalan di atas jalan para Salaf yang shalih. Rasulullah shallallahu ‘aalaihi wasallam bersabda, “Aku perintahkan kepada kalian lima hal, yang telah Allah perintahkan kepadaku, yaitu mendengar, taat, berjihad, hijrah, dan kebersamaan (al-Jama’ah). Sesungguhnya seseorang yang berpisah dari jamaah walaupun hanya sejengkal, berarti ia telah melepaskan ikatan tali keislaman dari lehernya.”

Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berpegang teguhlah kalian pada al-Jama’ah. Takutlah kalian akan perpecahan. Karena sesungguhnya setan lebih mudah menaklukkan manusia yang seorang diri daripada dua orang yang bersekutu (apalagi berjamaah). Barangsiapa menginginkan kenikmatan hidup di surga maka tetaplah bersama al-Jama’ah.” []


Referensi: Kitab Risalah Ahlissunnah wal Jama'ah karya Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari. 

No comments: