Penulis Jalanan

Judul di atas tampaknya kurang etis saya sematkan untuk lelaki dalam foto ini. Tetapi, terus terang, saya kesulitan mencari kata lain yang dapat menggambarkan kehebatan di balik kondisi tidak menguntungkan lelaki tersebut.
Saya tidak mengenal namanya. Bahkan, baru kali itu saya menjumpainya. Pagi itu, 31 Oktober 2017, saya datang ke tempat fotokopi untuk memfotokopi KTP. Tidak banyak yang antre untuk memfotokopi. Hanya dua orang; seorang bapak dan seorang ibu. Saat antre itulah saya mencium aroma (maaf) kurang sedang. Jujur, saya agak terusik dengan aroma itu. Saya coba mencuri-curi kesempatan untuk mencari tahu sumber aroma tersebut. Ternyata sumbernya berasal dari tubuh lelaki berkaus biru yang duduk mengetik di depan komputer, tidak jauh dari tempatku berdiri. 
Tempat fotokopi yang saya datangi itu, selain melayani jasa fotokopi memang menyediakan juga rental komputer. Saya perhatikan tangan lelaki itu tidak lancar mengetik. Kita sering menyebutnya "mengetik dengan sebelas jari alias satu jari telunjuk tangan kanan dan satu telunjuk tangan kiri".
Merasa janggal dengan keberadaan lelaki itu di situ, saya beringsut sedikit lebih mendekat ke arahnya demi mencuri tahu apa yang sedang dia ketik. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, saya bisa membaca hasil ketikannya. Apalagi ukuran font yang dia gunakan bukan 12pt. Mungkin 16pt atau 18pt. Sehingga dengan jelas dan tanpa kesulitan saya dapat membaca apa yang ditulisnya.
Ini rangkaian kata yang dia tulis di komputer.
         
... Fakir Miskin dan anak Terlantar
Keberadaannya cukup sempurna sebagai “PENGHIANAT DEMOKRASI, HAM serta KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Hal tersebut dapat di baca dari cara kerja PEMDA DIY dalam melakukan kegiatan kegiatan tidak manusiawi (baca PENANGKAPAN dan PENAHANAN) secara paksa tanpa alasan dan bukti kewenangan yang dapat di benarkan secara hukum
Akibatnya “rasa KEADILAN “ serta HAK HAK KOMUNITAS JALANAN tidak terpenuhi dengan baik
Sehingga da .....

Hanya sepenggal bagian itu yang sempat aku intip. Entah apa konteksnya, saya tidak tahu pasti. Saat membaca dua baris atas pertama, saya sempat salah paham. Fakir miskin dan anak terlantar kok disebut pengkhianat demokrasi? Saya lupa bahwa sebelum kata "Fakir miskin dan anak terlantar" pastilah ada deretan kata dan kalimat lain. Jelas bahwa yang dimaksud pengkhianat demokrasi bukanlah fakir miskin dan anak terlantar, melainkan orang, kelompok, atau institusi lain. 
Mengacu pada paragraf terakhir yang dia tulis, konteks tulisan itu mungkin berkaitan dengan kebijakan pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah, yang dia rasa mengusik atau bahkan mencederai hak-hak “komunitas jalanan”. Bisa jadi, pengkhianat demokrasi yang dia maksud dalam baris kedua dari atas adalah institusi ini: pemerindah daerah. Mungkin tulisan itu akan dia kirimkan ke media massa di kolom opini atau suara pembaca, saya tidak sempat menanyakannya.
Terlepas dari hal itu, bagaimana pun saya harus “angkat topi”, mengacungkan jempol, atas kemampuannya merangkai kata sehingga bobot tulisannya berasa melampaui tampilan fisik penulisnya. Ruar biasa! Memang masih terserak beberapa kesalahan penulisan dan tanda baca dalam tulisannya. Tetapi, sama sekali tidak mengurangi kekaguman saya atas kemampuannya menyuarakan isi hati ke dalam bentuk tulisan.
Hajat saya memfotokopi telah usai. Saat meninggalkan tempat fotokopi itu, saya lihat di luarnya ada kursi roda tanpa ada yang mendudukinya. Karena sudah tidak ada orang lain di tempat fotokopi itu selain lelaki berkaus biru dan si Mbak yang menjaga fotokopi, saya simpulkan bahwa salah satu dari mereka adalah pengguna kursi roda tersebut. Karena si Mbak bisa berjalan ke sana kemari secara normal, berarti tersisa satu orang yang sangat mungkin sebagai pengguna kursi roda tersebut: lelaki jalanan berkaus biru!
Subhanallah. masyaAllah. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah...

Semoga Allah senantiasa melindungimu dan memudahkan segala urusanmu, wahai saudaraku, lelaki berkaus biru! 
Comments
4 Comments
4 Komentar untuk "Penulis Jalanan"

laa hawlakuwatta illa billah, semoga si bapak berkaos biru terus sehat ya aamiiin... salut ketika ada orang disabilitas tapi terus berkarya..

sangat menginspirasi mas ustadz terutama bagi saya bloger yang gak jelas..heee

Aamiin...
Semoga si Bapak terus bersemangat dan semakin produktif berkarya, ya, Mas.

Menginspirasi buat saya juga, Mas.
Mas Mahbub ini blogger yg jelas, lho. Kan masih berjenis manusia, kan, Mas? Kalau jin, itu baru blogger yg gak jelas. :))

Back To Top