Belajar Kesalehan dari Rasulullah - Santri Nurbin

Hot

Saturday, November 7, 2026

Belajar Kesalehan dari Rasulullah

 


وَأَمَّا الْعَمَلُ الصَّالِحُ فَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوْفَرَ الْخَلْقِ فِيهِ. وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ هُوَ وَصْفٌ عَامٌّ لِكُلِّ عَمَلٍ يُفِيدُ الْعِبَادَ وَالْبِلَادَ، وَيَنْفَعُ الْمُجْتَمَعَ وَالْفَرْدَ فِي الْحَالِ وَالِاسْتِقْبَالِ. وَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِمَامَ الصَّالِحِينَ وَقُدْوَةَ الْهَادِينَ. مَا مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ دَعَتِ الْأَنْبِيَاءُ النَّاسَ إِلَيْهِ إِلَّا وَقَدْ حَثَّ عَلَيْهِ وَعَمِلَ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ الْأَكْمَلِ. بَلْ وَكَثِيرٌ مِنَ الصَّالِحَاتِ الَّتِي أَغْفَلَتْهَا الْأَدْيَانُ الْأُخْرَى، جَاءَ بِهَا الْإِسْلَامُ وَنَبِيُّهُ يُنَبِّهُ النَّاسَ إِلَيْهَا، مِثْلَ النَّظَرِ فِي الْكَوْنِ، وَالِاسْتِدْلَالِ بِهِ عَلَى خَالِقِهِ، وَالِاسْتِفَادَةِ بِمَا فِي الْعَالَمِ. ثُمَّ حَثَّ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى تَعَلُّمِ الْعُلُومِ وَالصَّنَائِعِ. وَمَا الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ وَالْأَحَادِيثُ الشَّرِيفَةُ إِلَّا دَائِرَةُ مَعَارِفَ، أَوْ قَامُوسٌ شَامِلٌ لِلْأَفْكَارِ الْخَيْرِيَّةِ وَالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ. فَلْيَتَدَبَّرِ الْعَاقِلُ فِيهِمَا، وَلْيَتَمَسَّكْ بِهِمَا، كَيْلَا يَضِلَّ وَلَا يَطْغَى.

Adapun amal saleh, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang paling sempurna dalam hal tersebut. Amal saleh merupakan pengertian umum yang mencakup setiap perbuatan yang memberikan manfaat kepada manusia dan negeri, serta mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat maupun individu, baik dalam kehidupan sekarang maupun pada masa mendatang.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin orang-orang saleh dan teladan bagi orang-orang yang memberikan petunjuk. Tidak ada suatu amal saleh yang pernah diserukan oleh para nabi kepada manusia, melainkan beliau juga menganjurkannya dan mengamalkannya dengan cara yang paling sempurna.

Bahkan, banyak bentuk kebajikan yang kurang diperhatikan oleh agama-agama lain, justru dibawa dan diajarkan oleh Islam. Nabi Islam pun (Nabi Muhammad) mengingatkan manusia tentang hal-hal tersebut. Di antaranya adalah mengamati dan merenungkan alam semesta, menjadikannya sebagai petunjuk untuk mengenal Penciptanya, serta mengambil manfaat dari segala sesuatu yang terdapat di alam.

Selanjutnya, beliau juga mendorong manusia untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan atau bidang kerajinan. Al-Qur'an yang agung dan hadis-hadis yang mulia tidak lain merupakan khazanah pengetahuan atau ensiklopedia yang komplit, yang memuat gagasan-gagasan kebaikan dan berbagai amal kesalehan.

Oleh karena itu, hendaklah orang yang berakal merenungkan kandungan keduanya dan berpegang teguh kepada keduanya, agar tidak tersesat dan tidak melampaui batas.

 

وَأَمَّا زُهْدُهُ فِي الدُّنْيَا، فَيَكْفِيكَ أَنَّهُ مَاتَ فَقِيرًا، وَلَمْ يَتْرُكْ لِوَرَثَتِهِ شَيْئًا يُذْكَرُ. وَيَكْفِيكَ قَوْلُ زَوْجَتِهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ».

Adapun kezuhudan beliau terhadap dunia, cukuplah bagimu untuk mengetahui bahwa beliau wafat dalam keadaan miskin dan tidak meninggalkan sesuatu yang berarti bagi ahli warisnya. Cukuplah pula bagimu perkataan istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang dengan roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.”

 

وَأَمَّا عَدَمُ مُبَالَاتِهِ بِالْآلَامِ فِي سَبِيلِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ، فَيَكْفِيكَ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَرْبِطُ الْحَجَرَ عَلَى بَطْنِهِ لِتَخْفِيفِ أَلَمِ الْجُوعِ، وَكَانَ يَتَحَمَّلُ الشَّتْمَ وَالضَّرْبَ وَأَنْوَاعَ الْأَذَى مِنَ النَّاسِ، كَمَا حَدَثَ لَهُ ذَلِكَ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الطَّائِفِ لِدَعْوَةِ أَهْلِهَا إِلَى الْإِسْلَامِ. فَرَدُّوا عَلَيْهِ رَدًّا قَبِيحًا، وَأَمَرُوا سُفَهَاءَهُمْ وَصِبْيَانَهُمْ وَعَبِيدَهُمْ فَيَسُبُّونَهُ وَيَرْمُونَهُ بِالْحِجَارَةِ، حَتَّى سَالَ الدَّمُ مِنْ عَرَاقِيبِ رِجْلَيْهِ. وَكَانَ يَمْشِي عَلَى قَدَمَيْهِ الْمَسَافَاتِ الْبَعِيدَةَ لِلدَّعْوَةِ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَيَخْرُجُ إِلَى أَسْوَاقِ الْعَرَبِ وَبَوَادِيهَا لِيَعْرِضَ عَلَيْهِمْ دِينَهُ. فَأَيُّ تَحَمُّلٍ لِلْآلَامِ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا؟

Adapun sikap beliau yang tidak menghiraukan berbagai penderitaan dalam rangka berdakwah kepada Allah, cukuplah bagimu untuk mengetahui bahwa beliau ﷺ pernah mengikatkan batu pada perutnya untuk mengurangi rasa sakit akibat lapar.

Beliau juga menanggung cacian, pukulan, dan berbagai macam gangguan dari manusia. Hal itu antara lain terjadi ketika beliau pergi ke Thaif untuk mengajak penduduknya memeluk Islam.

Mereka menanggapi beliau dengan tanggapan yang buruk. Mereka bahkan menyuruh orang-orang bodoh, anak-anak, dan para budak mereka untuk mencaci dan melempari beliau dengan batu, hingga darah mengalir dari kedua tumit beliau.

Beliau juga berjalan kaki menempuh perjalanan yang jauh demi berdakwah mengajak manusia kepada Islam. Beliau mendatangi pasar-pasar bangsa Arab dan perkampungan-perkampungan mereka untuk memperkenalkan agama yang beliau bawa kepada mereka. Maka, ketabahan dalam menghadapi penderitaan seperti apakah yang lebih besar daripada semua itu? []

____________________________________________

 

Pelajaran Penting

1. Menjadi pribadi yang saleh dan bermanfaat

  • Amal saleh tidak terbatas pada persoalan ibadah ritual semata, tetapi mencakup pula setiap perbuatan baik yang membawa kemaslahatan.
  • Kita harus berusaha memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan lingkungan.
  • Rasulullah adalah teladan dalam menyelaraskan perkataan dengan perbuatan.
  • Sebagai pendidikan dan pendakwah, hendaknya kita tidak hanya pandai mengajak orang lain melakukan kebaikan, tetapi kita sendiri harus memulai memperlihatkan kebaikan dan membiasakannnya.

2. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan

  • Manusia tidak cukup hanya mengagumi keindahan alam, tetapi harus pula merenungkan tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta dan menggali manfaat yang terkandung di alam ciptaan-Nya.
  • Menjadikan ilmu dan keahlian sebagai sarana pengabdian dan kebermanfaatan untuk masyarakat.
  • Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan hadis sebagai pedoman nilai dan prinsip dalam mengembangkan kehidupan.

3. Menanamkan sikap zuhud terhadap dunia

  • Zuhud bukan berarti tidak boleh memiliki harta. Seseorang boleh kaya, tetapi hatinya tidak boleh diperbudak oleh kekayaan.
  • Kesederhanaan merupakan bagian dari keteladanan Rasulullah. Beliau tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran kemuliaan.
  • Kekayaan bukan tujuan utama kehidupan. Harta seharusnya menjadi sarana untuk beribadah dan memberikan manfaat kepada sesama.
  • Zuhud harus tercermin dalam sikap hati. Bukan semata-mata dari sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan dari bagaimana seseorang menyikapi dunia.
  • Memanfaatkan harta yang dimiliki untuk beribadah, membantu sesama, dan melakukan berbagai kebaikan.
  • Menyadari bahwa kemuliaan seseorang lebih ditentukan oleh iman, akhlak, dan amalnya daripada kekayaan duniawinya.

4. Bersabar dan teguh dalam memperjuangkan kebenaran

  • Dakwah membutuhkan kesabaran. Seorang pendakwah harus siap menghadapi penolakan, kritik, dan berbagai kesulitan.
  • Jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk meninggalkan kebaikan. Selama sesuatu itu benar dan bermanfaat, hendaknya tetap diperjuangkan dengan cara yang tepat.
  • Pengorbanan merupakan bagian dari perjuangan. Dakwah bukan hanya membutuhkan perkataan, tetapi juga tenaga, waktu, pikiran, dan kesungguhan.
  • Penolakan tidak harus dibalas dengan kebencian. Peristiwa Thaif memperlihatkan bagaimana Rasulullah tetap mengedepankan kasih sayang dan harapan akan datangnya petunjuk bagi manusia.
  • Dakwah harus dilakukan secara aktif. Rasulullah mendatangi berbagai kelompok masyarakat untuk menyampaikan ajaran Islam.

5. Menjadikan Al-Qur'an dan hadis sebagai pedoman kehidupan

  • Tidak cukup hanya membaca dan menghafalkan Al-Qur'an dan hadis, tetapi juga harus memahami dan merenungkan kandungannya.
  • Menjadikan keduanya sebagai landasan dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak.
  • Mengamalkan petunjuk keduanya dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
  • Berusaha agar tidak tersesat dari kebenaran dan tidak melampaui batas dalam menjalani kehidupan.

 

Jadilah pribadi yang baik lisannya, benar perilakunya, luas ilmunya, bermanfaat amalnya, sederhana hidupnya, dan kuat perjuangannya sebagaimana Rasulullah telah memberikan keteladanan kepada kita.

No comments: