Dari Sahl bin
Sa'ad as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Seorang laki-laki datang
kepada Nabi ﷺ
lalu berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang
apabila aku mengerjakannya, Allah mencintaiku dan manusia pun
mencintaiku."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersikaplah
zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud
terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu."
Hadits yang
agung ini menghimpun dua jalan menuju kebahagiaan: jalan meraih cinta Allah
dan jalan meraih cinta manusia.
Adapun jalan
menuju cinta Allah adalah dengan bersikap zuhud terhadap dunia. Zuhud
bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali atau tidak memiliki harta sedikit
pun. Zuhud yang sesungguhnya ialah ketika dunia berada di tanganmu, tetapi
tidak menguasai hatimu.
Karena itulah
orang-orang saleh dahulu berdoa:
اللَّهُمَّ
اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا، وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا
"Ya Allah,
jadikanlah dunia berada di tangan kami, jangan Engkau jadikan ia berada di
dalam hati kami."
Inilah hakikat
zuhud yang paling tinggi: dunia berada dalam genggamanmu, namun tidak menguasai
hatimu. Engkau tidak larut bergembira ketika mendapatkannya sebagaimana orang
yang menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada dunia. Sebaliknya, engkau
juga tidak tenggelam dalam kesedihan ketika kehilangannya, seolah-olah seluruh
hidupmu ikut lenyap bersamanya.
Engkau
memandang dunia sebagai sarana yang Allah titipkan untuk digunakan di jalan
yang benar. Jika Allah terus menganugerahkannya kepadamu, engkau bersyukur,
menunaikan hak-hak yang ada padanya, serta membelanjakannya untuk kebaikan,
amal kebajikan, sedekah, dan membantu sesama. Namun apabila dunia itu lepas
darimu, hatimu tidak ikut hilang bersamanya, dan keyakinanmu kepada Allah tidak
sedikit pun terguncang.
Adapun jalan
untuk memperoleh cinta manusia adalah dengan bersikap zuhud terhadap apa
yang ada di tangan mereka. Jangan memandang dengan penuh keinginan terhadap
apa yang mereka miliki. Jangan mengharapkannya. Jangan menggantungkan hati
kepada milik mereka, dan jangan menjadikan mereka sebagai tempat bergantung
untuk memenuhi kebutuhanmu.
Orang-orang
yang dekat dengan Allah pernah berkata: "Kami seperti para raja; kami
tidak meminta, dan tidak pula menolak." Mereka tidak mengharapkan apa yang
dimiliki manusia. Namun apabila kebaikan datang kepada mereka tanpa diminta,
mereka tidak menolaknya karena kesombongan.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar
hati hanya bergantung kepada Allah semata. Beliau bersabda: "Apabila
engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau memohon pertolongan,
mohonlah pertolongan kepada Allah."
Apabila
seseorang merasa cukup dengan Allah sehingga tidak bergantung kepada apa yang
dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintainya. Sebab ia tidak tamak
terhadap harta mereka, tidak memperebutkan apa yang mereka miliki, dan tidak
membebani mereka dengan berbagai kebutuhannya.
Karena itu, zuhud
bukanlah kemiskinan harta, melainkan kekayaan hati. Zuhud adalah ketika
engkau memiliki dunia, tetapi dunia tidak memiliki dirimu; ketika engkau
meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih kekal
daripada apa yang berada di tangan manusia.
Sebagaimana
sabda Rasulullah ﷺ:
"Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan
bersikaplah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan
mencintaimu."
=====
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي
النَّاسُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا
يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ».
يَجْمَعُ هَذَا الْحَدِيثُ طَرِيقَيْنِ
عَظِيمَيْنِ: طَرِيقَ مَحَبَّةِ اللَّهِ، وَطَرِيقَ مَحَبَّةِ النَّاسِ.
فَأَمَّا مَحَبَّةُ اللَّهِ، فَطَرِيقُهَا أَنْ تَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا.
وَلَيْسَ مَعْنَى الزُّهْدِ أَنْ تَتْرُكَ الدُّنْيَا، أَوْ أَلَّا تَمْلِكَ
مِنْهَا شَيْئًا، وَإِنَّمَا الزُّهْدُ أَنْ تَكُونَ الدُّنْيَا فِي يَدِكَ، وَلَا
تَدْخُلَ قَلْبَكَ.
وَقَدْ كَانَ مِنْ دُعَاءِ الصَّالِحِينَ:
«اللَّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا، وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا». وَهَذِهِ هِيَ قِمَّةُ الزُّهْدِ: أَنْ تَكُونَ الدُّنْيَا بَيْنَ
يَدَيْكَ، ثُمَّ لَا تَسْتَوْلِيَ عَلَى قَلْبِكَ؛ فَلَا تَفْرَحْ بِالْمَوْجُودِ
فَرَحَ مَنْ تَعَلَّقَ بِهِ، وَلَا تَحْزَنْ عَلَى الْمَفْقُودِ حُزْنَ مَنْ
ضَاعَتْ حَيَاتُهُ بِفَقْدِهِ.
تَنْظُرُ إِلَى الدُّنْيَا عَلَى أَنَّهَا
أَدَاةٌ سَخَّرَهَا اللَّهُ لَكَ؛ فَإِنْ دَامَتْ لَكَ شَكَرْتَ، وَأَدَّيْتَ مَا
عَلَيْكَ مِنَ الْحُقُوقِ، وَأَنْفَقْتَهَا فِي وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالْحَقِّ،
وَفِي الصَّدَقَاتِ وَمَعُونَةِ النَّاسِ. وَإِنْ ذَهَبَتْ عَنْكَ لَمْ يَذْهَبْ
مَعَهَا قَلْبُكَ، وَلَمْ يَتَزَعْزَعْ يَقِينُكَ بِاللَّهِ.
وَأَمَّا مَحَبَّةُ النَّاسِ، فَطَرِيقُهَا
أَنْ تَزْهَدَ فِيمَا فِي أَيْدِيهِمْ؛ فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَا يَمْلِكُونَ،
وَلَا تَتَشَوَّفْ إِلَيْهِ، وَلَا تُعَلِّقْ قَلْبَكَ بِمَا عِنْدَهُمْ، وَلَا
تَجْعَلْ حَاجَتَكَ إِلَيْهِمْ. وَقَدْ كَانَ أَهْلُ اللَّهِ يَقُولُونَ:
«نَحْنُ كَالْمُلُوكِ؛ لَا نَطْلُبُ وَلَا نَرْفُضُ». فَلَا يَطْلُبُونَ مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ، وَإِذَا جَاءَهُمُ
الْخَيْرُ مِنْ غَيْرِ سُؤَالٍ لَمْ يَرُدُّوهُ تَكَبُّرًا.
وَقَدْ أَرْشَدَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى
التَّعَلُّقِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ، فَقَالَ: «وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ،
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ». فَالْإِنْسَانُ إِذَا اسْتَغْنَى بِاللَّهِ عَمَّا فِي أَيْدِي
النَّاسِ، أَحَبَّهُ النَّاسُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَطْمَعُ فِي أَمْوَالِهِمْ، وَلَا
يُنَازِعُهُمْ مَا عِنْدَهُمْ، وَلَا يُحَمِّلُهُمْ حَاجَاتِهِ.
فَالزُّهْدُ لَيْسَ فَقْرَ الْيَدِ،
وَإِنَّمَا غِنَى الْقَلْبِ؛ أَنْ تَمْلِكَ الدُّنْيَا وَلَا تَمْلِكَكَ، وَأَنْ
تَرَى مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا وَأَبْقَى مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ. «ازْهَدْ
فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ
النَّاسُ».
Sumber: catatan Dr. Ali Jum’ah dalam FB-nya https://short-url.cc/1t2X6
No comments:
Post a Comment