Untuk Apa Menulis?


Menulislah, Maka Anda Menjadi Kaya!
Sesi Pertama *

Untuk Apa Menulis?

Menulis akan mengantarkan kita pada tujuan apa pun yang diinginkan: meraup penghasilan, mencari

popularitas, atau tujuan idealis seperti mendidik masyarakat, berdakwah, dan sebagainya. Dengan menulis, kita dapat mengubah dunia sesuai apa pun kehendak kita, menjadi lebih baik atau justru kian buruk dan terpuruk.

Sebesar apa pun gagasan Anda, jika tidak diikat dengan tulisan, maka akan mengendap begitu saja atau menguap, hingga akhirnya tidak membawa manfaat sedikit pun. Kita tidak akan pernah menjadi Muslim dan ‘Alim manakala Al-Qur’an dan Sunnah Nabi tidak pernah dituliskan. (Silakan buka kembali sejarah penulisan serta pembukuan/kodifikasi Al-Qur’an dan Sunnah Nabi!)

Hampir semua ulama salaf juga selalu disibukkan dengan tradisi literasi (membaca dan menulis). Kitab-kitab salaf (untuk tidak menyebut ‘kuning’) yang setiap hari dikaji di pesantren dan madrasah adalah buah karya kesibukan literasi mereka. Lihat pula tokoh-tokoh besar dunia semisal Al-Bukhari, Muslim, Al-Ghazali, Al-Farabi, Imam Syafi’i, dan lainnya, mereka mampu menebarkan peradaban yang mencerahkan juga disebabkan tradisi luhur menulis.

Cobalah sekarang Anda renungkan; jika seorang dai, guru, atau kiai hanya mengandalkan khutbah atau ceramah untuk berdakwah, maka seberapa besar efektivitas yang didapat? Paling-paling hanya puluhan, ratusan, atau ribuan orang yang mendengarnya. Itu pun akan menguap dan hanya tersisa 15 % dari total materi yang diberikan.

Berbeda jika mereka menulis, maka jutaan bahkan seluruh manusia di dunia akan mendapatkan siraman dakwahnya. Bahkan tulisan mereka akan terus awet dan menjadi warisan otentik untuk anak cucu sampai 10.000 turunan (tidak hanya 7 turunanJ).

So, mulailah menulis sekarang juga, maka dunia akan menjadi ‘milik’ Anda!


Jangan Kaitkan Menulis dengan Bakat!

Kerap beredar komentar bernada skeptis, “Ah, menulis itu hanya untuk orang-orang berbakat!” Benarkah demikian? Saya anjurkan Anda tak perlu mendengarkan komentar itu. Sebab, menulis tidak ada kaitannya dengan bakat. Kalaupun bakat ikut terlibat dalam aktivitas kepenulisan, paling-paling hanya 5 %. Sedangkan yang 5 % adalah faktor keberuntungan, dan sisanya (90 %) tergantung pada kesungguhan dan kerja keras kita.

Semua orang yang bisa ‘menulis’, sebetulnya ia telah menyimpan potensi besar untuk menjadi penulis. Hanya, potensi itu memang perlu dikembangkan. Ibarat pisau, untuk menjadi tajam haruslah sering diasah.

Selama duduk di bangku sekolah, sudah berapa banyak catatan yang Anda buat? Selama Anda dibuai asmara, berapa banyak surat, diary, atau SMS yang telah Anda buat? Jika kita mau membuka mata, sebetulnya sejak itulah kita telah memiliki kretivitas dan produktivitas untuk menjadi penulis.

Lagi-lagi, tergantung kesungguhan dan kerja keras kita untuk menyiasati gaya penulisan catatan-catatan tersebut dari sekadar konsumsi pribadi menjadi konsumsi umum. Nah, untuk terampil menyulap catatan-catatan tersebut menjadi konsumsi umum adalah dengan rumus ‘L’ seribu, yaitu Latihan, Latihan, Latihan, Latihan, dan …….. Latihan!

Keterampilan menulis ibarat keterampilan bersepeda atau berenang. Teori saja tidak cukup. Bahkan, tanpa tahu semua teori bisa saja seseorang dapat mengendarai sepeda atau berenang dengan baik. Sebaliknya, orang yang mengetahui teori bersepeda atau berenang tetapi tidak pernah berani mencoba mempraktikkannya, maka insya Allah ia tidak akan pernah bisa.

Jadi, ingat dan ikat baik-baik; menulis bukanlah bakat, melainkan karena kesungguhan dan kerja keras yang dilandasi cinta!


Segala sesuatu yang Anda geluti dengan cinta dan ketekunan,  kekayaan dan kepuasanlah buahnya.


Mungkinkah Menulis Membuat Kita Kaya?

Siapa bilang menulis tidak bisa menjadi profesi dan lahan subur bagi tumbuhnya daun-daun hijau bernama rezeki? Siapa bilang menulis hanya membuang-buang waktu percuma? Yakinlah bahwa menulis adalah profesi atau pekerjaan! Dan, yakinlah pula bahwa menulis adalah lahan subur untuk menjadi kaya.

Dalam ranah tulis menulis, sosok mendiang KH. Zainal Arifin Thoha (Gus Zainal) adalah idola saya. Beliau adalah kiai muda yang produktif. Lebih istimewa tak produktif untuk diri sendiri, tetapi juga berhasil mewariskan produktivitasnya kepada para santrinya di PP Hasyim Asy’ari Jogjakarta.

Hampir bisa dipastikan, setiap hari nama-nama santri beliau menghiasai media massa lokal maupun nasional. Dari tradisi menulis itulah, para santri eksis kuliah dan hidup secara mandiri. Bahkan, ada larangan keras santri menerima–apalagi meminta—wesel dari orangtua.

Suatu ketika, saya bertanya kepada seorang santri Gus Zainal berapa honor yang mereka terima dari aktivitas menulis setiap bulan. Mereka menjawab, “Alhamdulillah, Mas, pas dan seadanya.” Ternyata maksudnya adalah pas butuh biaya kuliah, ada; pas butuh buku, ada; pas pengen beli baju, ada; pas berhasrat beli macam-macam, juga ada. Bahkan pas orangtua di rumah membutuhkan biaya sekolah untuk adik-adiknya, juga ada.

Kekayaan lain yang tidak kalah nilainya adalah kekayaan hati dan pikiran. Dengan menulis dan tulisan kita dibaca orang lain, secara psikologis hati kita akan puas dan bangga. Pikiran pun semakin kaya. Ketika tulisan kita dibaca orang lain, sebetulnya kita telah menjadi kaya. Buktinya, kita bisa memberi bacaan dan pemikiran kepada orang lain. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan bawah? J Inilah yang saya sebut kaya simbolis: kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya emosi, kaya kepuasaan, dan seterusnya.



Kekayaan sejati bukan terletak pada harta duniawi, tetapi terletak pada hati.


Berapa Honor Menulis di Media Massa?

Pantaskah dan layakkah kita yang nota bene menyandang gelar ‘santri’ membicarakan uang dan kekayaan? Saru dan tidak elok?

Ah, tidak juga. Bukankah para sufi dan kiai, bahkan Nabi sendiri, tidak pernah melarang kita mencari rupiah? Bukankah Allah justru menyuruh kita menjadi orang kaya dan memiliki etos kerja yang tinggi? Tengoklah di antaranya firman-Nya dalam Q.s. Al-Jumu’ah: 10. Yang saru dan wagu itu apabila uang dan dunia menjadi tujuan utama, sementara urusan dengan Tuhan terlalaikan. Menulis adalah pekerjaan yang halal dan thayyib.

Menurut saya, sebagai sebuah profesi, tidaklah mengapa kita membincangkan persoalan ini. Tujuannya jelas, yakni memotivasi Anda (saudara seiman) agar lebih giat mencari anugerah Allah di muka bumi.

Kini, siapkan kalkulator dan silakan kalkulasi sendiri penghasilan Anda jika menjadi penulis media massa. Berikut nominalnya:

1. Cerita humor : Rp 25.000 – 100.000
2. Puisi : Rp 50.000 – 200.000
3. Resensi : Rp 50.000 – 400.000
4. Cerpen : Rp 100.000 – 400.000
5. Opini : Rp 100.000 – 1.000.000

Jika Anda produktif, Anda tinggal mengalikan nominal-nominal tersebut dengan jumlah karya Anda setiap bulan. Khusus untuk tulisan yang diminta media dari seorang pakar atau ahli di bidang keilmuan honornya lebih tinggi, sekitar Rp 2 juta – 3 juta.

Berapa Penghasilan Menulis Buku?

1. Muhammad Fauzil Adhim terang-terangan mengaku mendapatkan royalti Rp 15 juta – 25 juta per bulan dari satu buku, Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Angka itu belum termasuk buku-buku lainnya dan artikel-artikel yang tersebar di media massa. (Republika, 1 Agustus 2005)

2. Novelis Pipiet Senja mengaku memeroleh sekitar 30 juta per tiga bulan. Kalau lagi apes, serendahnya-rendahnya 5 juta per bulan.

3. Novelis Asma Nadia, menurut penuturan kakaknya, Helvy Tiana Rosa, dalam Menulis Bikin Kaya (2007), penghasilannya paling sial adalah Rp 10 juta.

4. Abrurrahman Faiz, penyair cilik kelahiran 15 November 1995, mulai dikenal publik setelah menjadi Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional (2003). Ia lalu membukukan tulisan dan puisinya, dan mengeruk royalti sebesar Rp 3 juta /bulan dari satu judul buku. Padahal buku karyanya telah terbit lima. Jadi, berapa pendapatan si kecil Faiz ini? Silakan hitung sendiri!

5. Moh. Rifa’i, penulis buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (buku yang sederhana bukan?), meraup royalti Rp 8 juta / bulan sejak tahun 1976 (terbit pertama kali) sampai sekarang. Jika ditotal= Rp 3.061.575.000

6. Habiburrahman El-Shirazy Ayat-Ayat Cinta (AAC), data dari Harian Kedautalan Rakyat (21 Juni 2008) menyebutkan bahwa AAC telah menembus angka penjualan 1 juta eks. Artinya, jika kita hitung royaltinya dengan menggunakan harga soft cover yang telah naik menjadi Rp 45. 000 / eks dan dengan royalty 10 %, maka dari satu buku (novel) ini saja penulisnya mengantongi royalty sebesar Rp. 4.500.000.000. Padahal novel Habiburrahman alias Kang Abik bukan AAC saja. Lagi-lagi, silakan Anda hitung sendiri!

7. Hilman ‘Lupus’ Hariwijaya berpenghasilan 13 juta / bulan dari satu judul catatan Si Lupus.

8. Andrea Hirata Seman Said Harun sang ‘Laskar Pelangi’ berpenghasilan lebih dari Rp 3.000.000.000 dari novel Laskar Pelangi, Rp 760.000.000 dari Sang Pemmpi, dan Rp. 546.000.000 dari Edensor. Belum ditambah royalti filmnya dan bukunya yang beredar di Brunei, Singapura, dan Malaysia. Ditambah lagi novel terbarunya, Maryamah Karpov.


Belajar kepada Andrea Hirata

Lelaki kelahiran Belitong, Provinsi Bangka Belitung, ini adalah pendatang baru di kancah kesusastraan Indonesia. Namanya mencuat lewat novel garapannya Laskar Pelangi. Tidak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Andre –begitu ia sering disapa—akan menjadi novelis yang berhasil mencuri perhatian sastrawan dalam dan luar negeri. Jangankan menulis novel, menulis sepotong cerpen pun ia belum pernah.

Ia pun sebetulnya tak begitu suka membaca novel. Seumur hidupnya baru lima novel yang ia baca. Anehnya, justru buku-buku ekonomi yang setiap hari dilahapnya. Sebab, selama kuliah ia memang mengambil spesialisasi ekonomi, utamanya ekonomi telekomunikasi.

Dalam jagat sastra Indonesia, Andre ibarat perawan jelita yang sekonyong-konyong menjadi buah bibir para perjaka. Ia muncul ke permukaan dengan membawa bendera Laskar Pelangi.

Menurut pengakuannya, ia sama sekali tak bermaksud membuat novel. Kisah dalam novel itu berasal dari kegetiran yang dialami Andre sendiri, yang kemudian ia tuangkan dalam rangkaian tulisan.

Bagaimana proses penulisannya sehingga menjadi karya yang booming? “Saat menulis, yang terpatri di otak saya adalah mengeluarkan semua yang ada dalam pikiran. Sebagai tempat curahan hati, saya pun menulis. Ternyata, menulis itu mengasyikkan dan membuat kita lupa waktu. Akhirnya, seperti sudah menjadi ritual, seusai pulang kantor saya langsung menulis. Saat saya menulis, saya tak mau tahu apakah tulisan saya itu bagus atau jelek, apakah tulisan saya itu sesuai dengan komposisi. Yang penting adalah tulis, tulis, dan tulis!” paparnya.



Agar Tulisan Tembus Media Massa
Sesi Kedua *


Plus Minus Menulis di Media Massa

Bila dibandingkan dengan menulis buku, menulis di media massa memiliki beberapa keunggulan: (1) honor tulisan cepat cair, (2) tidak membutuhkan proses yang lama, (3) potensi keterbacaannya lebih tinggi, (4), penulis lebih cepat terkenal, (5) peka terhadap persoalan kekinian masyarakat, (6) sebagai langkah awal untuk menjadi penulis buku best seller.

Kelemahannya, penulis media massa dituntut produktif dan kreatif menulis setiap hari, sementara penulis buku (sistem royalti) memungkinkan ongkang-ongkang beberapa waktu. Sebetulnya kelemahan ini bisa menjadi kelebihan bagi Anda yang berhasrat mengasah produktivitas dan kreativitas, bukan sekadar mengejar finansial.

Jalan tengah terbaiknya adalah menulis untuk kedua media tersebut (media massa dan penerbit). Dengan jalan tengah ini Anda bisa memiliki dua saluran pipa penghasilan dan tetap memiliki wawasan serta informasi yang up to date.


Memilih Bentuk Tulisan

Pada dasarnya, media massa memiliki 2 bagian besar: News (berita) dan Views (pandangan/non-berita). Berita biasanya dibuat oleh wartawan, terdiri dari Straight News (berita langsung), Soft News (berita ringan), dan Feature (berita/karangan khas).

Bagian Views-lah yang menjadi wilayah garapan kita. Bentuknya bermacam-macam: artikel opini, resensi buku, cerpen, dan masih banyak lagi. Mari kita telusuri satu per satu:

1. Opini

Yaitu tulisan atau karangan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang ada di tengah masyarakat yang ditulis dengan bahasa ilmiah popular. Dengan menulis opini, kita bebas memuntahkan kegelisahan apa pun dan bisa ‘seenaknya’ mengkritik apa pun atau siapa pun.

Yang perlu diperhatikan: (1) carilah topik yang hangat, up to date, dan sesuai visi misi media massa yang kita tuju, (2) perluas dan perdalam perspektif Anda tentang topik tersebut, (3) buatlah skektsa atau poin-poin yang akan Anda uraiakan, (4) mulailah menulis dengan emosi dan hati, (5) perhatikan EYD, (6) buatlah judul yang singkat, padat, dan memikat, (7) perhatikan word count di computer Anda, dan (8) baca ulang sebelum mengirim tulisan tersebut.

2. Cerpen dan Puisi

Anda tentu lebih tahu apa itu cerpen dan puisi. Anda tentu juga pernah atau bahkan sering membuatnya (biasanya tentang romantika dan cinta J). Yang perlu diperhatikan agar cerpan atau puisi Anda nongol di tabloid, majalah, atau koran adalah ketentuan karakter media yang kita tuju.

Kesalahan besar dalam menulis cerpen adalah memulainya dengan tulisan yang ‘ngoyo woro’, ngalor-ngidul, mendayu-dayu, dan membosankan. Pilihlah kalimat yang thas-thes dan bernas. Akan sempurna jika Anda menulisnya tidak dengan teori, tetapi dengan hati.

3. Resensi

Yaitu ulasan atau review atas suatu buku. Resensi adalah aktivitas yang menggiurkan sekaligus menguntungkan. Keuntungan resensi adalah: (1) mendapat honor dari media massa, (2) kadang juga mendapat reward tambahan uang saku dari penerbit, dan (3) bisa mengoleksi puluhan hingga ribuan buku secara gratis.

Tips meresensi: (1) pilih buku yang menarik dan up to date, (2) baca dan simpulkan beberapa halaman inti (back cover, pengantar, pendahuluan, dan halaman inti yang selaras dengan judul), (3) beri penilaian objektif terhadap apa pun terkait buku tersebut (utamanya content), dan (4) pungkasi dengan melongok word count lalu baca ulang.

4. Cerita Humor

Untuk yang satu ini, Anda tentu lebih paham dan fasih. Sebab, setiap hari bahkan setiap detik Anda tak pernah lepas dari theng-theng crit (thenguk-thenguk crito) alias ngobrol dan ngrumpi sambil mbanyol. Sayangnya, Anda kerap tidak menyadari bahwa guyonan Anda itu sebetulnya dapat menjadi lumbung rupiah. Caranya, cukup Anda tulis lalu kirimkan! Bukankah membuat orang lain tersenyum dan tertawa adalah sedekah?!


Tips Bagi Penulis Pemula

Sssttt, jangan bilang-bilang ya! Sebetulnya ini adalah tips rahasia dan sedikit kurang ‘etis’. Bagi Anda, penulis pemula, ada beberapa modal utama untuk menjadi penulis media massa: (1) jangan pernah takut dan malu untuk menulis, (2) tulislah apa pun yang ingin Anda tulis, dan (3) –Nah, ini yang benar-benar rahasia-- ‘tidak mengapalah’ Anda menerapkan strategi ATM (Ambil, Tiru, dan Modifikasi). Tetapi, jangan sekali-kali Anda menerapkan strategi ATP (Ambil, Tiru, dan Paste).


Bagaimana Jika Tulisan Kita Ditolak

Ditolak? Siapa takut?!! KH. Musthofa Bisri, Emha Ainun Najib, dan lainnya, mereka menjadi penulis ternama juga berawal dari ditolak, ditolak, dan ditolak kemudian ditolak lagi. Jika itu yang terjadi, maka: (1) jangan pernah putus asa, (2) jangan malu untuk mengirim tulisan yang lain, (3) kalau perlu Anda hubungi langsung redaksi, tanyakan nasib tulisan Anda dan apa yang harus dibenahi, (4) jangan pernah membuang selembar pun tulisan Anda yang ‘tidak laku’, tetapi kirimkan ke media lain, atau simpan lalu bongkar lagi beberapa waktu yang akan datang.

Gus Mus, Emha, dan Gus Zainal pernah bertutur bahwa tulisan mereka yang saat ini mereka publikasikan –ada beberapa—yang sebetulnya adalah produk lama yang ‘tidak laku’. Ketika mereka telah menjadi penulis terkenal, semua tulisan yang dulunya ‘sampah’ itu ternyata berubah laris manis. Inilah yang kita sebut ‘Cuci Gudang’.

Yakinlah Anda Pasti Bisa!

--------------------------------------------------------------------------
* Makalah ini saya sampaikan dalam acara Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dan Jurnalistik di MA Tajul Ulum Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, pada Selasa, 23 Desember 2008.
Tag : Pustaka
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Untuk Apa Menulis?"

Back To Top