ads
Sunday, September 8, 2019

September 08, 2019
Nama Kitab
Safinatun Najah, demikian para santri karib menyebutnya. Kadang disebut juga Safinatun Naja (tanpa “h”) atau Matan Safinatun Najah. Lengkapnya adalah “Safinatun Najah fi ma Yajibu ‘ala al-‘Abdi li Maulah” (سفينة النجاة فيما يجب على العبد لمولاه), yang berarti perahu keselamatan dalam mempelajari kewajiban hamba kepada Tuhannya. Sebagaimana namanya, kitab ini diharapkan dapat menjadi perahu yang menyelamatkan manusia dari gelombang kebodohan dan kesalahan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Kitab ini tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi masyhur pula di negara-negara lain semisal Arab, Yaman, Somalia, Ethiopia, Tanzania, Kenya, Zanjibar, Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain. Kitab ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing, seperti Indonesia, Melayu, Sunda, India, Cina, dan sebagainya.

Isi Kitab
Kitab ini berbentuk mukhtashar (ringkasan) dalam bidang fikih bagi pemula dan masyarakat awam. Sebagai sebuah karya ringkasan, kitab ini tidak menguraikan pembahasannya secara panjang lebar. Oleh karena itu, wajar jika di dalamnya tidak kita temukan sederet dalil, entah dari al-Qur’an maupun hadits Nabi.
Sajiannya yang ringkas dan tidak bertele-tele menjadikan kitab tipis ini menebarkan manfaat yang besar bagi para pembelajar, khususnya pemula dan masyarakat awam. Berkat bentuk mukhtashar inilah mereka mudah memahami dasar-dasar akidah dan fikih, bahkan mudah pula menghafalnya.
Berbeda dengan kebanyakan kitab fikih, Safinatun Najah tidak langsung memulai pembahasannya dengan masalah-masalah fikih. Tetapi, membukanya terlebih dahulu dengan pembahasan tentang pokok-pokok akidah (rukun iman, rukun Islam, dan makna kalimat tauhid), baru kemudian membahas masalah-masalah fikih, mulai dari kriteria baligh, kemudian thaharah (bersuci), shalat, dan seterusnya sampai pembahasan tentang haji dan umrah.
Kitab Safinatun Najah yang beredar saat ini memang memulai pembahasannya dari  rukun iman dan diakhiri dengan haji dan umrah. Padahal, sebetulnya, karya orisinil Syekh Salim al-Hadhrami dalam kitab tersebut hanya sampai pada pembahasan zakat. Pembahasan lainnya (puasa, haji, dan umrah) tidak sempat beliau tuliskan.
Kalau begitu, tambahan pembahasan tentang puasa, haji, dan umrah itu tulisan siapa?
Itu adalah tulisan Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Muhammad Ba’athiyyah. Syekh Nawawi menambah pembahasan tentang puasa (saat beliau menulis kitab Kasyifatus Saja, syarah kitab Safinatun Najah). Sementara Syekh Muhammad Ba’athiyyah menambah pembahasan tentang haji dan umrah (saat beliau menulis kitab Ghayatul Muna, juga syarah kitab Safinatun Najah).

Kitab Syarah dan Nazham
Walaupun tidak tebal, kitab ini sarat dengan keberkahan. Terbukti banyak ulama yang mengkajinya bahkan mengembangkannya melalui berbagai karya, baik berupa kitab syarah (penjelasan) agar semakin menyamudera kajiannya maupun manzhumah (nazham/syair) agar mudah dihafal.
Di antara karya penjelas (syarah) atas kitab ini adalah:
  1. Kasyifatus Saja Syarh Safinatin Naja (كاشفة السجا شرح سفينة النجا), yang berarti menyingkap tabir kegelapan dengan syarah kitab Safinatun Naja, karya Syekh Nawawi al-Bantani (1230 H/1813 M - 1314 H/1897 M). Beliaulah yang menambah pembahasan tentang puasa dalam kitab Safinatun Najah.
  2. Nailur Raja’ Syarah Safinatun Naja’ (نيل الرجاء بشرح سفينة النجاء), yang berarti meraih harapan dengan Syarah Safinatun Naja, karya Sayyid Ahmad bin Umar asy-Syathiri (1312 H/1895 M - 1362H/1945 M), seorang ulama besar dari Hadramaut Yaman.
  3. Nasimul Hayah ‘ala Safinatun Najah (نسيم الحياة على سفينة النجاة), yang berarti angin lembut kehidupan penjelas kitab Safinah Najah, karya Syekh Abdullah bin Awadh bin Mubarak Bukair (1314 H/1897 M - 1399 H/1979 M), seorang ulama fiqih dari Hadramaut Yaman.
  4. Inaratud Duja Syarh ‘ala Tanwiril Hija Nazhm Safinatun Naja (انارة الدجى : شرح على تنوير الحجا نظم سفينة النجا), karya Syekh Muhammad Ali bin Husein al-Makki al-Maliki, seorang ulama Mekah (1287 H 1870 M - 1368 H/1949 M).
  5. Ghayatul Muna Syarh Safinatin Naja (غاية المُنى شرح سفينة النجا), yang berarti puncak harapan penjelas kitab Safinatun Naja, karya Syekh Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah ad-Du’ani (1380 H/1960 M - sekarang), seorang ulama dari Hadhramaut Yaman. Beliaulah yang menambah pembahasan tentang haji dan umrah dalam kitab Safinatun Najah.
  6. Ad-Durrah al-Yatimah (الدرة اليتيمة), yang berarti mutiara paling berharga, karya Syekh Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah ad-Du’ani (1380 H/1960 M - sekarang). Kitab ini merupakan syarah dari kitab as-Sabhah ats-Tsaminah Nazhm as-Safinah (السَّبْحة الثّمينة نظم السَّفينة), sebuah kitab yang menazhamkan/mensyairkan kitab Safinatun Najah karya al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad (1325 H/1907 M - 1416 H/1995 M).
  7. Wasilatur Raja’ bi Syarhi Safinatin Naja (وسيلة الرجاء بشرح سفينة النجا), yang berarti jalan harapan dengan syarah kitab Safinatun Naja, karya Syekh Hasan bin Umar asy-Syirazi, seorang ulama Afrika Timur.
  8. Sullamur Raja lil Wushul ila Hill Alfazh Safinatin Naja (سلم الرجا للوصول الى حل ألفاظ سفينة النجا), yang berarti tangga harapan untuk dapat mengurai lafal-lafal dalam kitab Safinatun Naja, karya Syekh Utsman bin Muhammad Sa’id Tunkal al-Jambi al-Indunisi al-Makki (1320 H/1903 M - 1405 H/1984 M), seorang ulama Jambi yang menjadi guru besar di Mekah.
  9. Faidhul Hija ‘ala Nailir Raja karya KH. Sahal Mahfuzh (1937 M – 2014 M), Kajen Pati Jawa Tengah, Rais Aam ke-8 PBNU. Kitab ini merupakan syarah dari kitab nazham Nailur Raja Manzhumah Safinatun Naja karya al-Ustadz Abi Fauzi Muhammad Muhammad Ma’shum bin asy-Syaikh Siraj asy-Syirbuni (Cirebon).


Adapun karya nazham/syair atas kitab Safinatun Najah, di antaranya adalah:
KH. Ahmad Qusyairi
  1. Tanwirul Hija (تنوير الحجا), yang berarti pencerahan pikiran, karya KH. Ahmad Qusyairi bin Shiddiq bin Abdullah al-Lasimi al-Fasurwani (11 Sya'baan 1311H / 17 Februari 1894M - 22 Syawal 1392 H/28 November 1972 M), kakak Rais Aam ke-5 PBNU KH Ahmad Shiddiq. KH. Ahmad Qusyairi lahir di Lasem, Jawa tengah, kemudian hijrah dan wafat di Pasuruan.
  2. Nailur Raja Manzhumah Safinatun Naja (نيل الرجا منظومة سفينة النجا), yang berarti menggapai harapan dengan nazham kitab Safinatun Naja, karya al-Ustadz Abi Fauzi Muhammad Muhammad Ma’shum bin asy-Syaikh Siraj asy-Syirbuni (Gedongan, Cirebon) atau Kiai Ma'shum Siraj. [Saya kesulitan melacak biografi beliau. Semoga ada pembaca yang bisa membantu.]
  3. Al-Lu’lu-atuts Tsaminah (اللؤلؤة الثمينة), yang berarti mutiara berharga, karya Syekh Muhammad Ali bin Zakin Bahannan (1312 H - 1383 H), seorang ulama Tarim Yaman.
  4. As-Sabhatu Ats-Tsaminah (السَّبحة الثمينة), yang berarti baju kulit (?) yang berharga, karya al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad (1325 H/1907 M - 1416 H/1995 M).


Biografi Penulis
Kitab Safinatun Najah ditulis oleh Syekh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Sumair al-Hadhrami. Syekh Salim al-Hadhrami adalah ulama besar bermadzhab Syafi’I asal Hadramaut, Yaman. Beliau merupakan seorang pendidik yang penyabar dan sangat ikhlas, seorang qadhi yang adil dan zuhud kepada dunia, bahkan juga politikus dan pengamat militer negara­negara Islam.
Setelah mendalami berbagai ilmu agama beliau memulai langkah dakwahnya dengan berprofesi sebagai Syekh Al Qur'an. Di desanya, pagi dan sore, tak henti-hentinya beliau mengajar para santrinya dan karena keikhlasan serta kesabarannya, maka beliau berhasil mencetak para ulama ahli Al-Qur'an di zamannya.
Suatu ketika Syekh Salim diminta kerajaan Kasiriyyah Yaman agar membeli peralatan perang tercanggih pada saat itu, maka beliau berangkat ke Singapura dan India untuk keperluan tersebut. Pekerjaan beliau ini dinilai sangat sukses oleh pihak kerajaan yang kemudian mengangkat beliau sebagai staf ahli dalam bidang militer kerajaan.
Pada tahun-tahun berikutnya Syekh Salim diangkat menjadi penasihat khusus Sultan Abdullah bin Muhsin. Sultan tersebut pada awalnya sangat patuh dan tunduk pada semua saran, arahan, dan nasihat beliau. Namun sayang, pada tahun-tahun berikutnya ia tidak lagi menuruti saran dan nasihat beliau, bahkan cenderung meremehkan dan menghina. Puncaknya, karena kondisi yang semakin tidak kondusif, Syekh Salim memutuskan pergi meninggalkan Yaman. Negara yang dituju adalah India, sampai akhirnya hijrah ke Batavia (sekarang Jakarta).
Selain Safinatun Najah, kitab lain yang ditulis beliau adalah al-Fawa’id al-Jaliyyah fi az-Zajri ‘an Ta’athi al-Hiyal ar-Ribawiyyah (الفوائد الجلية في الزجر عن تعاطي الحيل الربوية).
Syekh Salim wafat di Betawi/Jakarta pada 1271 H/1855 M.[]
Pengumuman takmir Masjid al-Ma'mur Tanah Abang tentang makam yang diyakini sebagai makam Syaikh Salim

*) Saya sangat berharap semoga ada pembaca yang berkenan membantu menambah informasi-informasi penting tentang tema ini, baik berkaitan dengan karya-karya syarah atau manzhumah maupun biografi penulis-penulisnya. Matur nuwun

Referensi

0 comments: