Tadarus Ramadhan

Hot

Friday, September 18, 2020

Membaca al-Qur’an Tanpa Memahami Maknanya, Sia-siakah?

12:19:00 AM 0

 

Pernah mendengar teman atau kerabat Anda berkata “Buat apa baca Alquran kalau tidak paham maknanya. Mendingan gak usah baca saja kalau begitu.”? Apakah semangat Anda membaca Alquran menjadi redup lantaran merasa tidak memahami maknanya? Ataukah Anda benar-benar memutuskan berhenti membaca Alquran lantaran tidak menguasai bahasa Arab, bahasa Alquran?

Jangan pernah lakukan itu! Jangan pernah berhenti membaca Alquran. Walaupun tidak atau belum memahami makna yang terkandung di balik setiap ayatnya, kita tetap akan mendapat kebaikan dari Alquran berupa pahala, syafaat, dan sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“…karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran.” (Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Ayat tersebut memerintahkan kita membaca Alquran, tanpa menekankan adanya keharusan mengerti dan memahami maknanya. Dengan membacanya saja kita mendapatkan pahala ibadah, apalagi jika disertai dengan mengerti dan memahami maknanya ditambah lagi dengan mengamalkannya, tentu semakin melipatgandakan pahalanya.

Selain firman Allah dalam Alquran, terdapat pula hadits-hadits Nabi yang menjadi dasar anjuran dan keutamaan membaca Alquran.

1.    Bacaan Alquran sebagai Syafaat

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : " اقْرَءُوا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ)  رواه مسلم([1]

Dari Abu Umamah al-Bahili, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bacalah Alquran, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya.” (HR Muslim)

 

2.   Tercatat sebagai Manusia Paling Baik

عَنْ عُثْمَانَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري[2]

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari)

 

3.   Dibersamai Malaikat dan Mendapat Pahala

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ ، لَهُ أَجْرَانِ.[3]

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Alquran akan bersama malaikat-malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti. Sedangkan orang yang membaca Alquran dan ia terbata-bata dalam membacanya (tidak lancar), juga merasa kesulitan saat membacanya, maka ia memperoleh dua pahala[4].” (HR. al-Bukhari)

 

4.   Diangkat Derajatnya

عن عمرَ بن الخطابِ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقوامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ رواه مسلم[5]

Dari Umar bin al-Khattab, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Alquran) dan dengannya pula Allah merendahkan yang lain.” (HR. Muslim)

 

5.   Diberi Pahala Per Huruf

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ ، يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (‏راوه الترمذي([6]

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran) maka baginya satu kebaikan (pahala). Dan satu kebaikan akan dilipatkan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif itu satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi)

 

6.   Menduduki Tingkatan Surga yang Tinggi

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا (‏راوه الترمذي( [7]

Dari Abdullah bin Amr, dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dikatakan kepada pembaca Alquran, ‘Bacalah dan naiklah (ke tingkatan surga berikutnya), bacalah dengan tartil sebagaimana dulu kamu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempat kembalimu berada pada akhir ayat yang kamu baca (kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu baca).” (HR. Tirmidzi)

 

7.   Mukmin Membaca Alquran Bagaikan Buah Utrujah

عن أبي موسى الأشعريِّ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ) [8] متفق عليه([9]

Dari Abu Musa al-Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca al-Quran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca al-Quran adalah bagaikan Raihanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Orang munafik yang tidak membaca al-Quran bagaikan Hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Al-Bukhari)

 

8.   Mendapat Ketenangan, Rahmat, Malaikat, dan Disebut-sebut Namanya

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه  رواه مسلم[10]

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya.“ (HR Muslim)

 

Kesimpulannya, membaca membaca Alquran tanpa memahami maknanya tidaklah sia-sia. Kita akan tetap mendapatkan pahala dari bacaan tersebut.

Jika sekadar membacanya saja sudah tercatat sebagai ibadah, apalagi disertai pula dengan memahami artinya, tentu lebih besar lagi pahalanya. Oleh karena itu, mari kita terus belajar membaca dan memahami Alquran dengan berguru kepada guru yang memang ahli di bidang Alquran, baik tahsin maupun tafsirnya.

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) []



[4] Satu pahala untuk bacaannya, dan satu pahala lagi untuk perjuangannya membaca hingga terbata-bata.

[9] رواه البخاري 5/ 2070 (5111)، ومسلم 1/ 549 (797)، والزيادة بين قوسين من رواية أخرى للبخاري 4/ 1928 (4772).

Read More

Thursday, July 9, 2020

Terlanjur Menikah pada Masa Iddah

8:27:00 AM 0

Baru sekarang ini saya tahu tentang aturan atau hukum ‘iddah. Makanya saya teringat pada
kejadian almarhumah ibu saya sekian tahun lalu. Ceritanya begini: Bapak saya meninggal. Karena ketidahtahuan ibu saya dan kami sekeluarga, belum sampai empat puluh hari ibu saya menikah lagi. Sekian lama mereka hidup berumah tangga dengan suami barunya. Tetapi sekarang ibu saya telah tiada.
Bagaimana hukumnya pernikahan ibu saya? Dan apa yang harus saya lakukan sekarang?
(Mas Abdullah Kawulane Gusti Allah- Pagi hari, 09/07/2020)

Jawaban:
‘Idaah seorang istri yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari, terhitung sejak wafatnya sang suami, sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 234. Selama masa ‘iddah tersebut sang istri tidak boleh menikah lagi, sampai habis masa ‘iddahnya. Jangankan menikah, sekadar menerima lamaran pun tidak diperkenankan.
Pernikahan yang dilakukan pada masa ‘iddah hukumnya haram dan tidak sah. Orang yang mengetahuinya wajib membatalkan pernikahan mereka atau memisahkan mereka, karena mereka tidak sah sebagai suami-istri. Jika tetap memaksa hidup bersama, berarti mereka melakukan perzinaan dan melawan ketetapan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Solusinya mereka harus dipisahkan dan dilakukan akad nikah setelah selesai masa ‘iddah.
Bagaimana jika sudah terlanjur hidup bersama dan mereka benar-benar tidak tahu tentang aturan masa ‘iddah tersebut?
Orang yang benar-benar tidak tahu tidaklah berdosa. Mereka dimaafkan oleh agama. Akan tetapi, jika kemudian tahu hukumnya, seketika mereka harus menghentikan hubungan mereka yang tidak sah itu. Mereka harus melakukan akad (baru) yang sah. Cuma, keheranan saya, apa orang sekampung atau sedesa tidak mengetahui aturan itu sama sekali.
Karena sudah terlanjur, ibu panjenengan juga benar-benar tidak tahu tentang hukum, dan apalagi saat ini beliau sudah tiada, maka berkewajiban kita saat ini adalah terus-menerus mendoakannya agar amal ibadahnya diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesalahannya diampuni oleh-Nya.[]


Read More

Monday, April 27, 2020

Fiqih Puasa Ringkas dan Praktis

2:38:00 PM 0

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ
 كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
 (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

~*~

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ،
 وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar. Betapa banyak orang bangun malam tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari bangun malamnya, kecuali hanya begadang.”
(HR. Ibnu Majah)

 ~*~

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Siapa yang dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam (masalah) agama.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)





PENGANTAR
Persatuan Remaja Masjid Sabiilunnajah (Permasa)
Ngeblak Wijirejo Pandak Bantul DIY

Ilmu sebagai lentera kehidupan yang diwariskan oleh para nabi kepada ulama bagai sumber mata air yang selalu diburu para pencintanya yang haus akan ilmu. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini ternyata berdampak pula pada suasana Ramadhan. Masjid-masjid dan mushalla-mushalla yang biasanya menggelar kuliah subuh atau kuliah tujuh menit (kultum), ceramah-ceramah agama, dan sejenisnya, kali ini terpaksa harus meniadakan semua kegiatan tersebut. Tiada lain demi menghindari madharat atau bahaya Covid-19 yang bisa saja datang secara tiba-tiba.
Begitu pula yang kami lakukan pada Ramadhan tahun ini, kajian rutin tatap muka yang biasanya kami gelar setiap malam Selasa terpaksa harus kami tiadakan. Hal ini tidak berarti bahwa semangat kami untuk mencari ilmu menjadi ciut dan surut. Pada era teknologi seperti sekarang ini, kajian tetap bisa kami lakukan walaupun tidak dengan bertatap muka. Dengan tetap mengindahkan himbauan pemerintah agar tetap #DiRumahAja, perkenankan kami hadir di rumah Anda, melalui persembahan Live Streaming Kajian Tematik Seputar Ramadhan dan Ngaji Kitab Safinatunnajah oleh Gus Irham Sya’roni dengan jadwal sebagai berikut:
A.      Kajian Tematik Seputar Ramadhan (Setiap Malam Selasa) pukul 20.30 - 21.30 WIB
1.      Senin, 27 April 2020       : Fiqih Puasa
2.      Senin, 04 Mei 2020         : Shalat Sunnah (Tarawih, Witir, dll)
3.      Senin, 11 Mei 2020         : I’tikaf & Tadarus Al-Qur’an
4.      Senin, 18 Mei 2020         : Zakat Fitrah & Idul Fitri
B.      Ngaji Kitab “Safinatun Najah” setiap pagi pukul 05.15 – 06.00 WIB (Selasa, Rabu, & Kamis)
Subscribe dan bunyikan lonceng channel Youtube Permasa berikut agar Anda tidak ketinggalan kajian:
·         https://www.youtube.com/channel/UCEH6T0r0ZKPq-_wuyqXoH9Q (PERMASA NGEBLAK)
dan
Add friend serta ikuti akun Facebook Permasa berikut:
#AyoNgajiBenUripmuAji
#NgajiWujudTresnoKanjengNabi
#NgajiRaOnoIstilahRugi
Bantul, 27 April 2020 M./04 Ramadhan 1441 H.
PERMASA NGEBLAK

PRAKATA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى فَضَّلَ بَنِى آدَمَ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ عَلَى جَمِيْعِ الْعَالَمِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ يَنَابِيْعِ الْعُلُوْمِ وَالْحِكَمِ. أَمَّا بَعْدُ.
Saya sangat mengapresiasi semangat teman-teman PERMASA (Persatuan Remaja Masjid Sabiilunnajah) dalam memakmurkan masjid dan merekatkan persaudaraan. Di tengah pandemi covid-19 yang menyebabkan kita tidak bisa bertatap muka sebagaimana biasanya, keinginan mereka untuk tetap mengaji walaupun secara online membuat saya bangga. Bahkan sangat bangga.
Sesuai permintaan teman-teman PERMASA, kajian melalui Live Streaming saya bagi dalam dua kategori, yaitu Kajian Tematik Seputar Ramadhan dan Ngaji Kitab. Tema kajian kali ini, 27 April 2020 M/04 Ramadhan 1441 H, adalah tentang Fiqih Puasa (Ringkas & Praktis). Materi ini sengaja saya susun secara ringkas tanpa banyak dalil dan narasi argumentatif, dengan tujuan agar mudah dipahami dan lebih praktis diterapkan oleh kalangan pemula dan awam.
Materi ini saya sarikan dari kitab at-Taqrirat as-Sadidah fil Masa’il al-Mufidah karya as-Sayyid al-Habib Hasan bin Ahmad al-Kaff. Selain itu, merujuk pula pada penjelasan dari beberapa kitab lain semisal Fathul Qarib karya Syaikh Ibnu Qosim Al-Ghozzi dan Fathul Mu’in karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari.
Semoga Allah mengaruniakan keistiqamahan, keridhaan, dan keberkahan kepada kita. Aaamiin...

Kidul LP Mepet Sawah, 27 April 2020 M/4 Ramadhan 1441 H
Irham Sya’roni, S.Pd.I

DAFTAR ISI

Pengantar _________________________________________________________________ 4
Prakata ____________________________________________________________________ 6
Keutamaan Puasa       _____________________________________________________ 8
Empat Hukum Puasa _____________________________________________________ 8
Syarat Sah Puasa __________________________________________________________ 10
Syarat Wajib Puasa _______________________________________________________ 10
Rukun Puasa ______________________________________________________________ 10
Kesunnahan Puasa _______________________________________________________  10
Tingkatan Puasa __________________________________________________________ 12
Kemakruhan Puasa _______________________________________________________ 12
Yang Membatalkan Puasa (Mufaththirat / Mufthirat) _________________ 12
Yang Membatalkan Pahala Puasa (Muhbithat) _________________________ 13
Qadha’ dan Fidyah ________________________________________________________ 13


Read More

Tuesday, February 25, 2020

Arbain Nawawi Hadits ke-15: Jaga Lisanmu, Muliakan Tetanggamu, dan Muliakan Tamumu.

1:32:00 PM 0


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.  )  رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ ( 
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iman yang Sempurna
Di antara kesempurnaan iman adalah dengan berkata yang baik, memuliakan tetangga, dan memuliakan tamu. Jika tidak dapat berkata yang baik, lebih baik diam.
Bagaimana jika seseorang belum atau tidak melaksanakan ketiga hal tersebut, apakah secara otomatis imannya hilang? Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fathu al-Mubin bi Syarhi al-Arba’in menjelaskan, apabila ketiga hal tersebut tidak dilaksanakan maka tidak sempurnalah iman seseorang. Ia tetap dibilang memiliki iman, namun tidak sempurna.
Al-Haitami menganalogikan dengan ucapan seorang ayah kepada anaknya, “Jika kamu benar-benar anakku, maka taatlah kepadaku.” Kalimat ini dimaksudkan oleh sang ayah untuk memotivasi dan merangsang sang anak agar selalu taat kepada ayahnya. Bisa jadi pula kalimat tersebut merupakan ancaman orang tua kepada anaknya. Jika suatu ketika sang anak tidak taat kepada ayahnya, bukan berarti ia tidak lagi disebut sebagai anak. Ia tetap menjadi anak, namun tidak sempurna tugas ia sebagai anak karena durhaka kepada orang tuanya.


Berkata yang Baik atau Diam
Lisan merupakan salah satu anggota tubuh manusia yang paling banyak menebarkan kebaikan sekaligus juga berpotensi melahirkan keburukan. Rasulullah bersabda, “Tidak akan lurus keimanan seorang hamba hingga telah lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya hingga telah lurus lisannya.” (HR. Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan, “Seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat keimanan sehingga ia menahan lisannya.” (HR. Ath-Thabrani)
Lisan yang terlalu banyak berbicara, lama-kelamaan bisa terpeleset membicarakan hal-hal yang haram, bahkan berujung melukai hati orang lain. Karena itulah Umar bin Khattab berwasiat, “Siapa yang banyak bicara, banyak pula kesalahannya. Siapa yang banyak kesalahannya, banyak pula dosanya. Siapa yang banyak dosanya, nerakalah tempat yang layak baginya.”

Muliakan Tetangga
Manusia adalah makhluk sosial. Ia butuh berinteraksi dan saling membantu. Saat dihadapkan pada masalah atau kebutuhan, orang terdekatlah yang kita mintai bantuan dan pertolongan. Dari sekian banyak orang, tetanggalah orang terdekat kita secara fisik karena rumahnya memang bersebelahan atau tidak jauh dari rumah kita. Wajar jika Rasulullah mewasiatkan agar kita senantiasa berbuat baik kepada tetangga.
Wasiat itu pula yang didapatkan Rasulullah dari Malaikat Jibril. Rasulullah bersabda,

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Malaikat Jibril tidak henti-hentinya berpesan kepadaku (agar selalu berbuat baik) kepada tetangga sampai-sampai aku mengira bahwa bahwa Jibril hendak menjadikannya sebagai ahli waris.” Yaitu mengira bahwa tetangga mendapatkan bagian warisan karena merekalah orang yang memberikan banyak bantuan.
Menyakiti tetangga menjadi salah satu penyebab kehancuran hubungan bersosial, juga menunjukkan lemahnya keimanan seseorang. Rasulullah bersabda, “Demi Allah, tidak berimah! Demi Allah, tidak berimah! Demi Allah, tidak berimah!” Seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah dia?” Rasulullah menjawab, “Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:
Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.


Muliakan Tamu
Memuliakan tamu merupakan salah satu bentuk kesempurnaan iman. Memuliakan tamu tidak sebatas menyambutnya dengan tutur kata yang baik, tetapi juga dengan sikap dan perbuatan yang menyenangkan.
Menjamu tamu merupakan kebiasaan atau sunnah Nabi Ibrahim sehingga turun-temurun dan menjadi sunnah pula bagi Nabi Muhammad. Nabi Ibrahim, dialah orang yang pertama kali melakukan perbuatan mulia menjamu tamu. Allah mengisahkannya dalam Alquran surah adz-Dzariyat ayat 24-27.
Di antara cara memuliakan tamu adalah dengan berwajah ceria, memberikan jamuan makanan yang baik sesuai dengan kemampuan, memberikan penginapan jika dibutuhkan, dan berbicara dengan pembicaraan yang baik.
Batasan waktu yang wajib dalam memuliakan tamu adalah sehari semalam, dan setelah itu hukumnya sunnah. Dan tidak seyogyanya bagi tamu berlama-lama ketika bertamu, akan tetapi ia duduk sesuai dengan keperluan. Jika telah bertamu lebih dari tiga hari, maka hendaklah ia meminta izin kepada tuan rumah, sehingga ia tidak memberatkannya.
Apabila seorang tamu hendak menginap, hendaklah tidak melebihi dari tiga hari sebagaimana ajaran Nabi Muhammad: “Jamuan hak tamu berjangka waktu tiga hari. Lebih dari itu, jamuan adalah sedekah. Tidak boleh bagi tamu menginap di suatu rumah hingga ia menyusahkan pemilik rumah.” (HR. Bukhari Muslim)


Dalil Lain tentang Berkata Baik

عن مالك بن يُخامِر قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : اِحْفَظْ لِسَانَكَ. (رواه أحمد و الترمذي و ابن ماجه و ابن عساكر)
Dari Malik bin Yukhamir, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jagalah lisanmu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu ‘Asakir)

عن سهل بن سعد الساعدي عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: من يضمَنْ لي ما بين لَحيَيْه وما بين رِجلَيْه أضمنُ له الجنَّةَ  (رواه البخاري)
Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إنَّ العبدَ ليتكلَّمُ بالكلمةِ من رضوانِ اللهِ ، لا يُلقي لها بالًا ، يرفعُ اللهُ بها درجاتٍ ، وإنَّ العبدَ ليتكلَّمُ بالكلمةِ من سخطِ اللهِ ، لا يُلقي لها بالًا ، يهوي بها في جهنَّمَ (رواه البخاري).
Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)

عن أنس بن مالك قال: قال صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: لا يَسْتَقِيمُ إِيمانُ عبدٍ حتى يَسْتَقِيمَ قلبُهُ ، ولا يَسْتَقِيمُ قلبُهُ حتى يَسْتَقِيمَ لسانُهُ ، ولا يدخلُ رجلٌ الجنةَ لا يَأْمَنُ جارُهُ بَوَائِقَهُ (رواه أحمد).
Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya hingga lurus lisannya. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (HR. Ahmad)

عن عبدالله بن عمرو قال: قال صلى الله عليه و سلم : إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ يُبغِضُ البليغَ من الرِّجالِ ، الَّذي يتخلَّلُ بلسانِه تخلُّلَ الباقرةِ بلسانِها (رواه  أحمد و أبو داود  و الترمذي).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah membenci laki-laki yang berlebihan dalam berbicara seperti sapi yang memainkan lidahnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

عن عبدالله بن مسعود قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : أكثرُ خطايا ابنِ آدمَ في لسانِه (رواه الطبراني و البيهقي ).
Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya.” (HR. Thabarani dan al-Baihaqi)

عن عبدالله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مَنْ صَمَتَ نَجَا (رواه أحمد و الترمذي و الطبراني).
Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang diam maka akan selamat.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan ath-Thabrani)

يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار
“Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟
Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata,
وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟
Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda,
هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Dia adalah dari penduduk surga.”

Dalil Lain tentang Memuliakan Tetangga

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ
“Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi dan Abu Daud)


وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari dan Muslim)

لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ
“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al-Baihaqi)

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ
“Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim)


Dalil Lain tentang Memuliakan Tamu

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”[]


Read More