Ketika si Kecil Menangis di Sekolah


Dulu, sebelum dan ketika hari pertama masuk sekolah, si kecil Ewa selalu berceloteh ria, “Aku senang sekolah! Besok aku mau sekolah!” Entah mengapa hari-hari setelah itu tidak pernah lagi kudengar celoteh riangnya itu. Setiap mendengar kata ‘sekolah’ atau sekadar melihat seragam sekolah, rona mukanya seketika berubah murung. “Aku tidak mau sekolah!” ucapnya, seperti ada ketakutan hebat yang ia tahan.

Aku berpikir mungkin istilah ‘sekolah’ terlalu menakutkan baginya. Karena itulah aku mencoba merayunya dengan mengganti kata ‘sekolah’ menjadi ‘tempat bermain’.

“Yuk, Baba antar ke tempat bermain bersama teman-teman, ya. Asyik, lho!” bujukku.

Tapi, si kecil Ewa tetap tidak mau. Dia mungkin tahu, mau disebut ‘sekolah’, ‘tempat bermain’, atau sebutan-sebutan lainnya, tetap saja intinya sama. Menurut cerita bundanya, bisa jadi ketakutan Ewa karena seorang teman kelasnya yang suka berulah dan berbuat kasar. Tidak hanya kepada Ewa, tetapi juga kepada anak-anak yang lain. Namun, aku tidak begitu saja yakin dengan penuturan istriku. “Mungkin ada masalah lain yang membuat Ewa tidak sesemangat dulu,” terkaku.

Pagi tadi saya antar Ewa ke sekolahnya. Benar, dia tidak mau turun dari motor. Dia pegang erat-erat tubuhku. Bahkan, saat aku coba merayunya dengan bermain di halaman sekolah, dia tetap memilih merekatkan tubuhnya kuat-kuat dalam gendonganku. Sampai akhirnya, tangisannya pun pecah saat tubuhnya berpindah ke tangan gurunya, karena aku harus meninggalkannya untuk pergi ke tempat kerjaku.

 “Akhir-akhir ini Ewa memang selalu mengawali kegiatan paginya di sekolah dengan menangis dulu. Sebentar. Tidak lama. Setelah itu dia akan diam lalu menikmati aktivitas bermain dan belajar di kelasnya,” kata istriku.

“Ewa, Sayang, Baba sangat merindukan celoteh riangmu seperti dulu. ‘Horeee… Asyik… aku mau sekolah!’ sorakmu senang setiap hari. Dulu. Aku yakin besok engkau akan kembali ceria dan berceloteh riang seperti dulu.”

Tag : Warna-Warni
Comments
10 Comments
10 Komentar untuk "Ketika si Kecil Menangis di Sekolah"

Anak anak memang sering begitu, Putri saya yang kecil pun sudah "ribut" mau sekolah. Mudah mudahan si kecil Ewa akan selalu bersemngat untuk pergi ke sekolah seperti dulu, Aminnnnnnnn

Aamiin... Makasih support dan doanya, Mas. Putri Mas Asep kelas berapa?

oooalah ndak karena kena bully khan sob....?
==========================
pakan kelinci pedaging

tangisan seorang anak adalah bahasa, bahasa itu yg harus di cari kita sbg orang tua. iya, ponakan saya juga pagi2 kalo mo sekolah mesti berantem dulu sama ibunya. kalo di bujuk lama2 juga si anak bisa juga berangkat sekolah.... semoga menjadi org tua yg bijak

Mungkin karena dikasarin temannya, Mas.

Aamiin... Terima kasih atas support dan doanya, Mas.

mungkin saja sudah keasyikan bermain waktu liburan panjang, jadi sela-sela indah sekolah sudah membuatnya lupa dan tidak suka dengan suasana sekolah dibanding suasana liburannya

Alhamdulillah, sesuai dg yg saya ceritakan di atas, Ewa suka banget sekolah. Hari pertama suka banget dan langsung berbaur dengan temannya. Sayangnya, hari pertama itu ada temannya yg jauh lebih besar suka suka mukul dan kasar. Setelah itu Ewa ketakutan/trauma.

.yang sabar ya, Baba! Ewa kan lagi adaptasi ... :)

Terima kasih, Mas. Mohon doanya semoga kembali semangat bersekolah seperti sebelumnya.

Back To Top