Ke Mana... Ke Mana... Ke Mana... Ayu Ting Ting

sumber gambar
Sore hari hingga malam menjelang tidur adalah waktu yang aku bingkiskan secara spesial untuk keluarga. Waktu yang singkat itulah aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk bercengkerama dan bercanda bersama anak-istri. Di tengah celoteh dan tawa kami, kuselipkan pula pelajaran-pelajaran penting untuk mereka, khususnya buah hati tercinta.

Alhamdulillah, kebersamaan dan keceriaan bersama mereka mampu menjadi obat tersendiri bagiku untuk melesapkan penat setelah seharian bekerja. Ditambah lagi menu sore hari yang disajikan sang istri, hmmm... benar-benar menyalurkan energi baru untuk menaklukkan tantangan hidup selanjutnya. Bagiku, ini adalah anugerah yang sangat indah dari Allah Yang Maha Pemurah. Anugerah yang selayaknya aku syukuri dalam setiap helaan napasku. Istri yang shalihah dan dua buah hati yang lucu, shalih dan shalihah.

“Ayo, Mas Babel, kita shalat dulu,” ucapku kepada buah hati pertamaku, Muhammad Ar-Rusyda Babel Haqq, saat waktu Maghrib tiba.

“Bentar, Ba…,” sahutnya.

Kulihat ia masih sibuk menyendoki makanan dari piringnya lalu melahapnya. Karena itulah aku biarkan ia menuntaskan makannya, sementara aku melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

“Ayo, Mas Babel, buruan dihabiskan makannya. Kita shalat dulu,” ucapku sekeluar dari kamar mandi.

Sambil memainkan sendok, jagoan kecilku yang baru berusia 3 tahun itu tiba-tiba menyambut ajakanku dengan celoteh sekenanya dengan nada lagu yang cukup aku kenal: “Di mana…. Di mana…. Di mana…”

Seketika saya dan istri dibuat melongo karenanya.

“Mas Babel, nyanyi apaan sih itu? Siapa yang ngajari?” tanya istriku penuh selidik karena ia merasa tidak pernah mengajarkan lagu itu kepada si kecil Babel.

“Di tivi ada kok,” jawabnya dengan santainya.

Gubrraaaakkkksss….!! Hadeuuhh, serasa ada gempa bumi sesaat deh. “Gaswat bener nih tivi!” batinku mengutuk si kotak ajaib itu.

“Memangnya itu lagu apa toh, Ba?” tanya istriku karena dia memang tidak pernah acuh pada lagu-lagu di tivi sehingga tidak begitu hafal lagu-lagu di muka bumi ini.

“Itu lagunya Ayu Ting Ting, Sayang. Cuma Babel salah liriknya. Mestinya ‘ke mana… ke mana… ke mana… ku harus mencari ke mana…” terangku, yang kebetulan tahu bait awalnya saja.

Istriku makin heran dari mana si kecil Babel bisa dapat lagu itu, padahal dalam hal nonton tivi istriku sudah sangat selektif. Misalnya, film-film kartun, acara yang berintikan warta/berita, petualangan budaya, tentang resep-resep masakan, dan sepak bola yang dia izinkan untuk diputar. Nah, khusus untuk acara yang terakhir itu (sepak bola), kuakui bahwa akulah yang menyebarkan “virus gila bola” di tengah keluarga. Hehe…J Bahkan, untuk mengurangi nonton acara-acara tivi, istriku punya trik sendiri. Ia sengaja memutarkan video lagu anak-anak, tilawah Al-Qur’an anak-anak, atau pelajaran edukatif Pra-TK. Semua file itu dia simpan di flashdisk yang selalu menempel di peranti USB tivi, sehingga setiap saat siap diputar melalui layar tivi untuk sang buah hati tercinta.

“Tidak usah heran, Sayang,” ucapku, menyudahi keheranan istriku, “Mungkin saja pihak tivinya lalai. Waktu film kartun diputar, eee… ada selingan iklan lagunya Ayu Ting Ting yang nggak sengaja terputar. Mungkin juga Babel dapat lagu itu dari temannya atau dari tivi temannya.”
Istriku manggut-manggut mendengar penjelasanku, namun kulihat masih nyata tersisa kernyitan di dahinya pertanda keheranannya belum sirna secara sempurna. Sementara Babel tidak begitu acuh dengan obrolan saya dan Bundanya. Ia lebih tertarik melahap makanannya yang tinggal sedikit sambil sesekali menggoda adiknya, Anneswa Mahdeatul Haqq, yang duduk di atas pangkuan Bundanya.

“Sudahlah, tidak perlu berlama-lama heran, Sayang” ucapku, menutup pembicaraan. “Yang penting, anak-anak perlu diawasi dan diarahkan lagi agar tidak ‘ke mana…ke mana…’ alias salah arah dalam hidupnya. Sudah yuk, kita shalat!”
~*~
sumber gambar
Sobat blogger yang saya hormati, dari kejadian itu sebetulnya ada keresahan yang menyergap kuat hatiku terkait dengan tontonan-tontonan zaman sekarang. Saat saya kecil dulu, anak-anak seusiaku begitu akrab dengan pesan-pesan moral dari tokoh film Si Unyil. Begitu juga acara-acara yang memang dispesialkan untuk anak-anak semisal Aneka Ria Anak-Anak, Panggung Mini TVRI, Aneka Ria Anak-Anak Nusantara, Cerdas Ria, dan lain-lain. Sinetron-sinetron yang mengandung nilai-nilai pekerti pun masih sangat banyak saat itu. Sebut saja Jendela Rumah Kita, Keluarga Cemara, dan lain-lain. Akan tetapi, bagaimana kondisi sekarang? Masih banyakkah (atau masih adakah) tayangan yang layak ditonton oleh anak-anak kita?

Pun dengan lagu-lagu sekarang, mungkin anak-anak justru karib dengan “Iwak Peyek”nya Trio Macan, “Alamat Palsu”nya Ayu Ting Ting, atau lagu-lagunya Cherry Belle. Tidak hanya lirik lagunya, tetapi pakaian dan penampilan mereka pun tidak semestinya dinikmati oleh anak-anak. Bagi saya, kondisi ini cukup memprihatinkan karena anak-anak justru dijauhkan dari lagu dan tayangan mendidik yang sesuai dengan usia mereka.

Lagi-lagi, motif bisnis dan uanglah yang menyebabkan semua ini terjadi sehingga tidak ada lagi lagu seperti “Kring Kring Goes Goes”-nya Bayu bersaudara, “Semut-semut Kecil” atau “Abang Tukang Bakso”-nya Melissa, juga tidak ada lagi “Si Lumba-lumba”nya Bondan Prakoso, dan lain-lain.

Ini keresahan dan pandangan saya. Lalu, bagaimana dengan Anda?
Tag : Warna-Warni
Comments
52 Comments
52 Komentar untuk "Ke Mana... Ke Mana... Ke Mana... Ayu Ting Ting"

alhamdullilah dulu waktu Aida masih kecil belum ada ayu ting ting . . . anak2 usia 3-5th memang mempunyai ciri2 suka meniru dan memiliki imajinasi yang cukup kuat, jadi kalau anak usia 3-5/6th orang tua mampu mengarahkan anaknya ke hal2 yang luar bisa dan baik pasti nanti sich anak akan tumbuh besar jadi orang yang kreatif . . . .

Sinna Saidah Az-Zahra @ Hehe.. iya, Mbak, waktu itu belum ada Ayu Ting Ting. Adanya berita tentang bom ya. hehe... Yup, benar sekali, anak adalah peniru paling ulung. Dia bisa meniru apa pun yg didengar atau dilihatnya, baik dr orgtuanya, saudaranya, temannya, lingkungannya, juga media2 cetak & elektronik yg ada di sekitarnya ya, Mbak.

si kotak ajaib, tivi disamping bermanfaat juga bisa membuat mdharat.
pengawasan orang dalam hal ini harus lebih ekstra sehingga bisa memberikan manfaat buat buah hati..

alhamdulilah dirumah belum ada tivi....

Muro'i El-Barezy @ Di balik peristiwa dan kondisi apa pun, pasti ada hikmahnya ya, Mas. Termasuk ketika tidak ada tivi, hikmahnya adalah kita terselamatkan dari terkaman Trio Macan atau Ayu Ting Ting. hehe..

Mungkin karena di Zaman sekarang lagu untuk anak2 sudah jarang terdengar, malah lagu2 dangdut dan pop anak2 sekarang hafal menyanyikannya.
Wew, memang harus dengan Bimbingan Orang tua jika anak2 menyetel TV.

mungkin tv nya promosi ringtone yak ?

ane suka si lumba-lumba gan :D

benar, media sudah semakin meresahkan, seketat apapun menjaga tetap aja ada celah yang bikin kecolongan, kalau ga dari media bisa jadi dari teman2nya atau lihat di tempat lain. Tapi kalau pondasinya udah kuat mudah2an anak ga akan terlalu jauh melenceng, dari masih buaian sampai sudah besar anak2 tetap harus di pantau, selamat memantau :)

Destur Purnama Jati @ Amiin, wa iyyaka. Semoga Sobat Destur juga senantiasa diberi limpahan keberkahan oleh Allah swt. amin

Hanan Muhardiansyah @ Benar sekali, Mas, saat si kotak ajaib itu menyala orangtua tidak boleh membiarkan anaknya tanpa bimbingan dari ayah atau ibunya.

Febriansyah Haq (Just Copy and Leave It!!!) @ Hehehe... mungkin juga, Mas. Lagu Si Lumba-lumba pd zaman dulu memang terkenal ya, mas. tapi sayang tdk ada lagi lagu2 sprti itu, adanya Trio Macan, Jupe, de el el.

Saya juga miris liat tayangan tv sekarang mas, bahkan ndak sedikit juga anak-anak yang dipaksa "dewasa" dengan menyanyikan lagu dan lirik org dewasa, yang saya yakin mereka ndak sepenuhnya ngerti. liat aja acara musik live seperti dahsyat atau inbox atau lainnya.

Kita sebagai orang tua memang kita dituntut harus selektif untuk memberikan tayangan yang mendidik bagi anak-anak kita, dan nyatanya meskipun sangat selektif tapi nyatanya anak mas masih bisa juga nyanyi si ayu ting ting :)

NF @ benar banget, Mbak NF, memang seketat apa pun kita mengawal anak2 tetap saja celah itu selalu ada. Yg penting kita tdk putus asa dan menyerah ya, Mbak. kita hrs trs berjuang mengawal mereka agar mnjdi generasi shalih/shalihah yg berakhlak karimah. makasih ya, Mbak.

snan Nugrah Lastiko Tiko @ Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya, Mas.

Seagate @ Iya nih, Mas, makin mengkhawatirkan ya kondisinya sekarang. Walaupun begitu kita tdk boleh menyerah ya Mas. Kita harus terus meningkatkn pengawasan dan bimbingan ke anak, agar tdk mereka kebablasan kena pengaruh negatif media. Termasuk film Spongebob, yg versi Inggrisnya tu ternyta byk kata2 joroknya, Mas.jd hrs makin berhati2 nih kita

hehehehe sekarang mng jarang lagu anak2 sob..? jd wajar aja klo anak2 pd paham atawpun mengikuti lagu dewasa..? hehehehe

Masnady @ iya, Mas. Seperti yg sudah saya tulis di atas, lagu anak2, sinteron anak2, atau acara tivi yg spesial untuk anak2 sudah mulai lenyap. Mungkin karena kurang menguntungkan bg para produser kali ya, shgga wajar para produser lbh memilih lagu/film/acara yg berbau "dewasa". Tggl kita lbh cerdas mengawal dan membimbing anak2 agar lbh terarah ya, Mas.

bahaya juga tivi bos, perlu filter yang kuat untuk menangkal hal buruk yang ada di dalamnya, walau kita sudah milah milih bahkan hanya nonton acara ceramah agama namun tetap saja iklannya ada yang aneh,,
nice posting bos,,,

muarra @ Yups, sepakat banget, Mas, yg harus kita kuatkan skrg ini adalah filternya. Filter agar anak2 tdk terkena virus yg nggak2 dr tayangan tlvisi. Makasih kunjungannya ya...

tugas orang tua saat ini memang gampang-gampang susah ya, harus ekstra hati-hati, kalau tidak,tahu bagaimana akhirnya mereka-mereka itu

tayangan televisi jaman sekarang memang sudah berada di tahap yang sangat meresahkan buat kita para orangtua. Makanya saya sering melarang anak saya nonton siaran tv lokal mas.

satu-satu nya chanel yang saya perbolehkan untuk di tonton anak saya adalah cartoon network, itupun hanya sekitar 1-2 jam setiap harinya.

Thanjawa Arif @ Iya, Mas, tugas orangtua memang gampang2 susah. Tdk bisa dimungkiri bhwa masa depan anak2 ditntukan jg bgmna orgtua mengarahknnya ya, Mas. makasih atensinya, Mas.

Mami Zidane @ Dulu saya tidak pernah berpikir untuk membeli tivi, Mami. Tapi seja si kecil Babel sering melakukan sabotase terhadap komputer yg sdg saya pakai bekerja, akhirnya trpikir jg saya membelikan tivi. "Yg pntg komputer saya tdk disabotase lg," pikirku saat itu. Dlm penggunaan tivi pun sdh sgt saya perketat, ykni cuma acara tertentu atau hanya untuk memutar video edukatif untuk anak ato video tilawah. Tapi, trnyta tetap ada saja celah yg krg positif ya, Mami. Entah lwt iklan ato dr lingkungan bermainnya :-)

hampir semua ortu merasa hal yg sama mas..gmn tontonan skrg dan dg byknya channel tipi yg bs dinikmati, agak sulit mengerem hal2 yg demikian. usaha sdh maks tp mmg ga bs terbendung lg. hanya bs lbh selektif dan reaktif. thdp semuanya. apalagi saya yg jg sambi bekerja...pasrah akhirnya tanpa lepaskan kendali pd mereka.

mimi RaDiAl @ Benar, Mimi, yg pokok kita ga boleh menyerah ya, Mi. Harus tetap berjuang dan berusaha smksimal mgkin mengarahkan anak2 dlm hal konsumsi pandang N dengar mereka ya, Mi.

itulah ...ustad tantangan anak zaman sekarang,sekaligus tantangan bagi para orang tua...yaaa...kita harus berjuang bersama menentang zaman..yaaaa...hanya dengan bissmillah...

Apalagi untuk anak-anak memang kita juga harus selektif dalam pemilihan program. Jangan sampai salah untuk tontonan si kecil.

dunia hiburan sekarang memang sudah demikian adanya...sekarang tinggal kita yang harus selektif dalam mencari hiburan yang bermanfaat..salam :)

mahbub ikhsan @ Zaman memang akan terus melaju, Mas. Benar kata orgtua sy dulu, bhwa kelak kita hrs cerdas dan piawai menyikapi prkmbgan zaman, bukan mnentangnya. Pd dasarnya say jg spkat, Mas, "Bismillah...!" :-)

Terima kasih atas artikelnya.
o iya selama saya jelajah mencari ilmu dengan blogwalking, menurut saya anda memiliki kelebihan tersendiri dari situs-situs lain dan jujur potensi anda juga sangat bagus, banyak juga ilmu yang saya pelajari disini jika ada waktu saya akan berkunjung lagi.



#Semoga sehat selalu :D

Bagus Sugiarto @ Benar, Mas, sebagai orangtua, kita tdk selayaknya membiarkan anak bercengkerama dg televisi tanpa bimbingan orgtua. Kita hrs memilih scra selektif program yg pas buat mereka. Oya Mas Bagus, di blog jenengan ga ada widget follwernya ya? Padhl saya mau follow lho.

BlogS of Hariyanto @ Sepakat dengan jenengan, Pak. Kita harus lebih selektif menyajikan hiburan untuk anak2 kita di tengah riuh ragamnya jagat hiburan sekrg ini.

Darmawan Saputra @ Terma kasih kembali, Mas Darmawan. Terima kasih atas kunjungannya. Smoga bermnfaat...senang bisa berkenalan dengan Anda. Slm persaudaraan

semakin banyak pengaruh dari lingkungan dalam membesarkan anak2 kita, mas
Semoga kita selalu dalam bimbinga-Nya menjaga amanah Allah
Mas, makasih ya kunjungannya

Hariyanti Sukma @ Iya, Mbak, semoga kita selalu dlm bimbingan-Nya dlm menjaga amanah brupa buah hati tercinta. Makasih jg kunjungan baliknya.

Jaman sekarang soalnya jarang banget lagu anak2 gan, makanya yg terserap dulu lagu2 dewasa semuah

cik awi @ Betul, mas. Mungkin pra produsernya ngeliat sgla yg berbau anak2 memang kurang menguntungkan kalii. Jadinya mereka ogah2an bikin lagu anak, sintron/film anak, dll.

mencermati deretan tontonan mas irham semasa kecil, kesimpulan saya : sepertinya kita seangkatan :))

Risablogedia @ Hehehe... boleh jadi kita memang seangkatan, Mbak. Jadi ingat hiburan & tontonan masa kecil dulu ya, Mbak.

ya seperti itulah yang di cemaskan zaman sekarang. orang tua harus bener-bener selektif dalam memilah-milah audio or visual untuk anak..
kembalikan dunia anak kami.

hemm zaman sekarang sudah sangat kronis ya bang

iya betul sekali *hehe sotoy padahal belum punya :P

sekarang tontongan bisa jadi tuntunan, dan tuntungan sudah menjadi tontonan... sudah kacau dunia ini bang.

tapi pertanyaanya, itu lagunya ayu ting ting ko ente juga bisa membenarkan lirik anak ente ya, berarti ente sering denger juga nie... ngajarin ga bener dengan membenarkan lirik anaknya. heheheh.

Uzay @ semoga kita bisa mengembalikan dunia anak kita ya, Mas.

Hazndi @ ya memang seperti itulah sunnatullah terhadap perubahan zaman, Mas. Tggl bgmna kita scra cerdas menyikapinya.

NF @ hahaha... Semoga segera punya deh, Mbak. Amin.. ;-)

Cerita anak kost @ hehe bener jg ya mas skrg ni tontonan dan tuntunan makin bias ya mas.
Ttg lirik ayu ting ting,kebetulan scra alamiah saya sering dengar baik di tmpat krja ato di iklan tivi mas.jd scra alamiah jg hafal liriknya,walopun cuma bait awalnya saja.hehe... Nah, menurut cerita di atas, saya kasih tahu lirik awal yg aq hafal itu ke ISTRI, bukan ke anak, Mas.Soalnya si anak lbh memilih sibuk makan. hehe...

itulah Tv yg sellau jd no.1 dlm mennyampaikan hal2x yg baik dan kadang ada yg tdk baik. kita sebg ornag tua hars selektif dlm meilih acara buat anak2x.

Mbak Iis @ Selektif dan terus menemani/membimbing anak saat mereka bercengkerama dengan si kotak ajaib itu ya, Mbak. makasih kunjungannya, Mbak Lis.

Lagi masih in memang terkenal di mana mana. Nanti kalaw sudah bosan akan hilang dengan sendirinya. Peran orang tua dituntut untuk bisa memberikan penjelasan kepada anak anaknya. Awesome

Asep Haryono @ Terima kasih, Pak Asep, atas tambahan sarannya. Memang salah satu keterampilan yg dituntut dr orgtua adalh mampu memberikan scra arif N bijksana ttg beragam hal pd anaknya. Makasih, Pak.

Back To Top