ads
Friday, January 25, 2019

January 25, 2019
10

Pujian diberikan karena ada sesuatu yang dikagumi. Namun, ada pula pujian yang diucapkan sekadar basa-basi. Bahkan, ada juga pujian dimanis-maniskan karena pamrih duniawi.
Kata Imam al-Ghazali, orang yang dipuji sebenarnya sedang dihadapkan pada dua potensi keburukan. Pertama, terjangkit penyakit hati yang berbahaya, yaitu sombong dan bangga diri (‘ujub). Kedua, terlena sehingga lupa diri. Pada titik inilah kita mesti menyadari ternyata pujian itu sejatinya adalah ujian.
Bagaimana kita menyikapinya? Segera kembalikan pujian itu kepada Dzat yang paling berhak mendapatkan pujian. Dialah Allah yang Maha Hamid (terpuji).
Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam al-Hikam mengatakan, “Jika engkau mendapat pujian, sementara engkau tidak layak atasnya, pujilah Allah sebagai Tuhan yang memang layak menyandang segala pujian.”
Lebih lanjut as-Sakandary mewejang, “Seorang mukmin jika dipuji, ia akan malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak terdapat dalam dirinya.”
Seperti ini pula yang dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq, tatkala dipuji seseorang ia justru mengadu kepada Allah, “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.”
Pujian datang tiada lain karena keburukan-keburukan kita telah ditutupi oleh Allah Ta’ala. Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita, niscaya tidak akan ada orang memuji kita. Bahkan, seandainya Allah menjadikan setiap keburukan adalah searoma bangkai, tentu tidak akan pernah ada seorang pun yang sudi duduk berdekatan dengan kita.
Abu Madyan al-Maghribi, seorang sufi kelahiran Sevilla (Spanyol), berpesan melalui al-Hikam al-Ghawtsiyah, “Siapa yang mengenali diri sendiri maka ia tidak akan tertipu oleh sanjungan manusia.” Mengenali diri bisa diejawantahkan melalui sederet pertanyaan: siapa sebenarnya kita, untuk apa kita di dunia, dan ke mana muara kita selepas mati nanti.
Bagi mereka yang cinta dunia dan lalai dengan kesejatian diri, semua madah akan membuat mereka semakin pongah. Ketika pujian didapatkan, mereka senang bukan kepalang. Tetapi, ketika tak ada yang memuji, mereka kecewa dan sakit hati. Na’udzubillah.


*) Tulisan ini dipublikasikan di Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat pada Jumat Kliwon, 25 Januari 2019, halaman 12.




10 comments:

Andie said...

Emang saya lebih suka ga dipuji daripada dipuji.. kalo dah dipuji, bawaanya beraaatt hahaha

Irham Sya'roni said...

@Andie: berat diongkos juga, ya, Mas. Hehe

Andie said...

berat tanggung jawabnya mas hahaha

Andrie Kristianto said...

Iya kadang kalau udah dipuji gitu langsung sombong dan tinggi hati.. langsung dibeber beberkan kemana mana tuh berita, ini itulah.. mending yang biasa biasa aja, dan mereka tau karya kita yaang biasa tapi dampaknya luar biasa kan, bisa memotivasi orang lain untuk bisa berkembang dan maju juga

Jhon simpel said...

Kalau saya lebih baik di uji dari pada di puji....,

Irham Sya'roni said...

@Andie: hehehe.... iya, Mas.

Irham Sya'roni said...

@Bepe: bener banget, Mas. Sepakat

Irham Sya'roni said...

@Jhon Simpel: memang berat kalau dipuji ya, Mas.

Andrie Kristianto said...

Wahhh tombol balasnya tidak berfungsi dengan baik ya mas, apa mau saya buatkan seperti milik saya di blog be-pe .blogspot.com?

Irham Sya'roni said...

@Bepe: boleh, Mas. Tapi gimana caranya...