Maafkan Kami, Pak Gundul!

Namanya Pak Tukirin atau Pak Tukiran. Orang-orang di kampungnya lebih karib memanggilnya Pak Gundul, walaupun senyatanya kepalanya tidaklah gundul. Usianya mungkin sekira 70-an tahun.

Hampir setiap bulan beliau mengunjungi rumah kami. Selain bersilaturahim, al-maqshud al-a'zham dari ke-rawuhan-nya ke rumah kami adalah untuk mengambil haknya sebagai seorang fakir. Bukankah di dalam harta kita sejatinya terselip hak bagi orang-orang fakir dan miskin? Dan, beliau adalah salah satu dari sekian banyak orang fakir yang berhak atas harta kami.

Sudah sekian bulan beliau biasa mengunjungi rumah kami. Biasanya dengan mengayuh sepeda angin tua beliau sampai kemari. Walaupun sebetulnya langkah beliau sudah tidak lagi kukuh karena memang sudah dimakan usia. Orang Jawa bilang sudah gruyah-gruyuh. Setiap kali kami minta masuk ke rumah, beliau selalu menolak dan lebih memilih duduk lesehan di teras.

Nyuwun pangapunten nggih, Mas, saya selalu merepotkan jenengan dengan meminta-minta sedekah. Ini saya lakukan karena terpaksa; karena saya sudah tidak bisa lagi bekerja, sementara anak saya masih SMP dan membutuhkan biaya sekolah. Bagi saya, lebih baik meminta daripada mencuri.” Kalimat itu yang masih saya ingat saat pertama kali beliau silaturahim kemari. Suaranya lirih, dengan napas yang tidak lagi teratur. Panjang dan tersengal-sengal.

Saat itu saya membatin, bagaimana bisa seorang kakek seusia beliau masih mempunyai anak SMP. Ternyata, beliau adalah ayah tiri (orang Jawa menyebutnya bapak sambung).

Selama Ramadhan ini, karena kesibukan ini dan itu, keberadaan beliau sempat terlewatkan. Barulah tadi sore, saat mengantarkan zakat fitrah dan sedekah kepada seorang saudara, kabar tentang beliau pun kami dapatkan.

“Tadi sore penutupan tahlilan di rumah Pak Gundul, Mas,” ujar saudara kami.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku dan Istri.

Loh, tidak tahu toh kalau Pak Gundul dipanggil Sang Yang Mahakuasa?”

“Kapan?” saya dan Istri tercekat.

“Tiga hari yang lalu.”
Innaa lillahi wa inna ilaihi raji'iun...! Maafkan kami, Pak Gundul, yang dengan dalih kesibukan Ramadhan, kami ternyata telah abai untuk memedulikan kabar panjenengan. Doa kami, semoga panjenengan husnul khatimah. Aamiin...”

#AllahuYarhamHu

Tag : Warna-Warni
Comments
12 Comments
12 Komentar untuk "Maafkan Kami, Pak Gundul!"

Seharusnya negara hadir untuk kaum atau orang-orang yang sudah sepuh. Negara wajib menyantuninya. Tapi itulah nasib di negara kita. Jika sudah tua pun tetap harus berusaha keras untuk menghidupi diri sendiri.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun

Semoga uluran tangan kita kepada mereka dicatat oleh Allah sebagai amal baik dan diridhai-Nya, ya, Mas. Aamiin

Semoga beliau husnul khatimah, ya, Mbak. Aamiin

Takutnya tua ku nanti tidak ubahnya seperti almarhum bapak gundul.

Innaa lillahi wa inna ilaihi raji'iun

Semoga Allah memudahkan kehidupan kita pada hari tua kelak, ya, Mas.

Terima kasih, Bunda Nathalia.

aamiin... baca postingan ini sy jadi teringat se2orang,ibu2 tua yg biasanya dtg ke rmh tpi skrg udah lama ga dtg,jdi kepikiran...

Semoga si ibu tersebut senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Aamiin...

Back To Top