Pesan KH. Nawawi Abdul Aziz Bantul

Ada beberapa peristiwa yang menyadarkan saya betapa amanah itu sangat berat. Banyak ujian dan cobaan yang terus berusaha menggoyahkan hati kita supaya menjauh dari sifat amanah lalu mendekat pada sifat khianat.


Allah SWT berfirman,

An-Nisaa: 58
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58)

Allah SWT berfirman,


Al-Ahzab: 72
“Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72).

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 27). - See more at: http://mimbarjumat.com/archives/988#sthash.XckWrftu.dpuf

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.   - See more at: http://mimbarjumat.com/al-quran-online#sthash.lzMEXC15.dpuf
Al-Anfaal: 27
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 27). - See more at: http://mimbarjumat.com/archives/988#sthash.XckWrftu.dpuf
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 27). - See more at: http://mimbarjumat.com/archives/988#sthash.XckWrftu.dpuf
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah juga mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian sedangkan kalian mengetahui." (Q.S. al-Anfal [8]: 27)




Rasulullah Saw bersabda:


آية المنافق ثلاث: إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف، وإذا اؤتمن خان
"Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat." 
 
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 27). - See more at: http://mimbarjumat.com/archives/988#sthash.XckWrftu.dpuf
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 27). - See more at: http://mimbarjumat.com/archives/988#sthash.XckWrftu.dpuf


Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.   - See more at: http://mimbarjumat.com/al-quran-online#sthash.lzMEXC15.dpuf
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.   - See more at: http://mimbarjumat.com/al-quran-online#sthash.lzMEXC15.dpuf
1. Peristiwa pertama: Pesan KH. Nawawi Abdul Aziz
Beberapa tahun lalu saya pernah diwejang oleh KH. Nawawi Abdul Aziz, pengasuh PP An-Nur Ngrukem Bantul, melalui sebuah cerita.

"Aku mau bercerita. Tolong dengarkan dulu, ya," ucap beliau ketika saya sowan ke kediaman beliau beberapa tahun lalu. Sebagai tamu sekaligus seorang santri, saya ta'zhim kepada beliau dan setia mendengarkan cerita beliau.

Beliau lalu memulai kisahnya. "Ada seorang kiai muda punya pesantren dengan 30 orang santri. Awalnya, dia sangat amanah rajin mengajar para santri itu. Tetapi, suatu hari, sang kiai muda ini mendapat undangan agar berceramah di atas panggung di suatu kota. Terpaksa dia pamit kepada para santrinya: 'Hari ini ngajinya libur dulu ya.' Sontak, para santri bersorak sorai senang."

Saat itu aku lihat ekspresi beliau yang sudah sepuh berteriak horee membuat aku tersenyum.

"Satu kali, dua kali, tiga kali, para santri selalu berteriak horeee manakala kiai muda ini pamit berceramah ke luar kota. Begitu larisnya dai panggung ini sampai-sampai job berceramah seolah tidak ada putusnya. Sampai akhirnya, ketika sang kiai muda ini meliburkan mengaji di pesantren karena dia harus berceramah lagi di luar kota, seketika para santri diam lalu mengemasi semua pakaian dan kitab mereka. Kompak mereka keluar dari pesantren itu dan tidak lagi nyantri kepada kiai muda tersebut."

Tersadarlah sang kiai muda bahwa sebagai seorang mu'allim, guru, pendidik, ustadz, dan kiai, dia mengemban amanah yang tidak ringan, yakni istiqamah mendidik para santri/anak didik. Memang secara materi duniawi, "rajin" berceramah di luar kota itu sangat menguntungkan. Bisa dapat amplop sekian rupiah, bisa semakin kesohor oleh khalayak, bisa mendapat rekanan-rekanan baru yang bisa dimanfaatkan untuk berbisnis maupun berpolitik, dan sebagainya. Tetapi, ketika "begitu rajin" berceramah ke sana-kemari dengan mengabaikan amanahnya mengurus dan mendidik para santri, tanpa ia sadari ia telah menjadi seorang yang tidak amanah (khianat). 





Sampai hari ini dan detik ini, beliau KH. Nawawi tidak menyebutkan
kepadaku siapa tokoh muda yang beliau kisahkan itu, di mana ia tinggal, dan pesantren apa yang pernah diasuhnya. Bagi saya, identitas sang lakon dalam kisah yang beliau ceritakan tidak begitu penting. Yang terpenting apa yang beliau sampaikan kepadaku sejatinya adalah wejangan yang sangat berharga melalui sebuah cerita.


--->bersambung peristiwa kedua.
Comments
4 Comments
4 Komentar untuk "Pesan KH. Nawawi Abdul Aziz Bantul"

Memang berat untuk selalu istiqomah menjaga mas, karena pasti akan ada banyak godaan yang mengiringinya, terlebih godaan masalah dunia yang terlihat manis dan hijau bagi semua mata yang memandangnya.

Terima kasih ..... Mengispirasikan sekali

Iya, Mas, bener banget. Amanah dan istiqamah itu selalu diuji dengan beragam godaan duniawi; lebih hijau, lebih manis, dan lebih memenuhi nafsu syahwat duniawi.

Terima kasih kembali, Bunda. Alhamdulillah, bermanfaat bagi saya dan pembaca semua.

Back To Top