Editor vs Pengemis

"Jiaannnn.... jiannnnn... ternyata jadi editor itu cuma menang gengsi doang. Nggaya, prestise, perlente, tapi nyatanya hidup tetap aja kere," gerutu Sukarya, temenku sesama editor. Ngomel, ngedumel, sambil nendang kaleng bekas susu yang menghadang di tengah jalan. "Glonthanggggg....!" (kurang lebih suara kalengnya gitu. Tapi, untuk suara bekas susunya, kurang tau). Untung kaleng itu tidak mengenai wajah Mbok Darmi yang sedang menjajakan nasi bungkus, tempe goreng, sate usus, teh anget, jeruk anget, dan susu angetnya.

"Kenapa uring-uringan gitu, kawanku?" selidikku, tanpa mendapat respon sedikit pun dari sang editor perlente itu. "Lagi dapet, ya?" godaku, sambil terkekeh sebentar.

Seperti banteng Spanyol yang tergoda oleh warna merah, editor perlente itu langsung mendengus keras dan membelalakkan matanya ke arahku.

"Sabar, Kawan..., sabar!" aku coba menenangkan banteng Spanyol berstatus editor itu. "Tenangkan dulu pikiranmu dan jernihkan hatimu!" ucapku.

Setelah terlihat tenang dan matanya tak lagi memerah, aku lanjutkan ucapanku, "Ada apa, Kawan? Ada yang bisa kamu curhatkan ke aku? Jangan khawatir, ga' akan aku publikasikan ke dalam buku kok." (Apalagi dipublikasikan dalam buku berjudul Pandai Membaca dan Menulis Huruf Hijaiyah. Ga' mungkin banget kan?!)

Akhirnya, sang editor perlente itu mau juga menceritakan problem yang sedang mengacaukan pikirannya, menjatuhkan martabatnya, merusak profesionalismenya, dan merobek-robek keperlenteannya. Tapi, tampaknya dia masih meragukan ketulusanku untuk mendengarkan curhatnya tanpa memublikasikannya lewat buku. Dia menatapku curiga.

"Sudahlah, Kawan, jangan kau ragukan ketulusanku!" ujarku meyakinkan, "Mulailah bercerita! Aku pasti akan mendengarkan suaramu walau selirih apa pun."

Untuk mempertahankan kewibawaannya, ia menarik napas dulu dalam-dalam dan mengembuskannya lalu berdehem sejenak. Ehm! Ehm!

"Sampeyan tau pengemis yang biasa beroperasi di perempatan lampu merah itu?" tanyanya kepadaku, mulai membuka curhatnya.

"Iya. Ada apa dengan pengemis itu?"

Dia tidak segera menjawab, tapi justru menghela napas. Seolah ada beban yang harus dia bebaskan bersama helaan napas itu.

"Jiaann... dunia ini ga' bener. Dunia ini ga' adil," umpatnya. Untung dalam umpatan itu dia tidak menyebutkan semua nama nenek moyang dan kakek moyangnya di kebon binatang.

"Ada apa?" tanyaku, masih tak mengerti.

"Tau ga', pengemis itu sebetulnya tetangga depan rumahku."

"Terus?" coba aku pancing terus curhatnya.

"Eidiaaaaannnnnn tenan...! Kemarin sore dia beli dua motor baru. Warnanya kinclong-kinclong. Lajunya, mak wuuuuusssss..... wuusssss....motorku saja kalah cepat. Eidiiiiiiaaaannn... eidannnnn...!"

Sebetulnya aku terkaget, tapi mencoba sok bijak dan berusaha menyembunyikan keheranan. Aku sembunyikan serapi mungkin. "Ya, alhamdulillah dong... kita wajib bersyukur punya tetangga yang bisa beli motor baru."

"Padahal belum lama dia beli kulkas, teve, sepeda gunung, de el el. Jiaaannnnn .... Jiannn.... panas hatiku! Terbakar jenggotku! Rasanya profesiku terkoyak-koyak. Keperlenteanku terinjak-injak. Profesionalismeku dan ijazah magisterku tak lagi ada gunanya! Eidaaaannnn... Eidaannn...! Aku berhenti saja jadi editor, Bos. Percuma namaku ditulis di semua buku kalau mau beli sabun mandi saja kesusahan. Percuma! Percumaaaa! Aku mau ngemis saja seperti mereka. Lebih prospektif. Lebih menjanjikan."

"Jangan emosi begitu, Kawan. Apa kamu siap melepas sepatu kinclongmu dan menggantinya dengan sendal jepit sebelah merah sebelah hijau? Apa kamu siap menanggalkan baju necismu dengan pakaian compang-camping plus bau tengik di sekujur tubuhmu? Apa kamu siap cewek-cewek yang selama ini kamu uber-uber jadi kabur dan muntah-muntah karena tampilan jorokmu? Apa kamu siap dimarahi Kanjeng Nabi yang telah bersabda bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?"

"Bagaimana lagi, Kawan?! Dunia ini memang benar-benar tidak adil. Aneh. Edan. Aku yang perlente gini dan selalu berhadapan dengan bertumpuk-tumpuk naskah buku ga' kaya-kaya, sementara dia SD saja tidak lulus kok malah petantang-petenteng gonta-ganti motor. Belum lagi, kalo mendekati Ramadan seperti ini, Pak Kiai di kampungku selalu mengingatkan aku agar mengeluarkan zakat profesi. Ya, zakat profesi sebagai editor. Jiiaaannn Edan tenan... Kenapa orang yang gajinya cuma cukup buat udud bin ngrokok batangan ini harus dipaksa berzakat, sementara tetanggaku yang pengemis tadi kok tidak ditegur agar mengeluarkan zakat?! Memangnya Kanjeng Nabi pernah menyebut zakat editor dalam haditsnya? Tidak, kan? Jiaaannnn tidak adil!"

"Tapi, pengemis kan memang bukan profesi, Kawan?"

"Bukan profesi? Enak saja udelmu ngomong! Dengan penghasilan jutaan rupiah per bulan itu, kamu bilang pengemis bukan PROFESI?"

Aku terhenyak, terperangah, dan terkaget sampai mau pingsan ketika mendengar nominal jutaan sebagai pendapatan pengemis per bulan. "Wuixxxx... benar-benar tak ada artinya aku bila dibandingkan mereka. Benar-benar ironis!" batinku membenarkan argumentasi kawanku, sang Banteng Spanyol itu.

Naluri editorku langsung menyembul, "Wah, aku harus segera membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) nih: apa definisi PROFESI?"

"Aku ga' butuh kamusmu, Bos. Aku hanya ingin kaya. Kayaaaaa......!"

Karena tak bisa lagi membendung birahinya untuk menjadi kaya seperti sang pengemis tetangganya, terpaksa aku keluarkan jurus sok bijakku.

"Sudahlah,Kawan, terima saja takdirmu! Sebab, orangtuamu sepertinya memang tidak menghendaki kamu jadi orang kaya. Buktinya, mereka memberi kamu nama SUKARYA alias Sukar Kaya!"

"Diaaammmmppuuuuuuttttt.....!"

Wuaduh, akhirnya, umpatan khasnya keluar juga. Astaghfirullah, ternyata kalimat sok bijakku tidak mempan, justru membuatnya semakin murka.

Banteng Spanyol, sahabatku, maafkan aku. Sampai sekarang aku masih kesulitan membuka KBBI untuk mencari definisi PROFESI karena aku memang tidak sanggup membeli kamus itu. Maklum, karena harga KBBI ternyata sepadan dengan gajiku satu bulan.

Xixixixixi...


Sapen, 7 Agustus 2010


Tag : Warna-Warni
Comments
6 Comments
6 Komentar untuk "Editor vs Pengemis"

hehehee... jadi editor itu emang gak mudah *pengalaman

@Uswah Yups, begitulah nasib editro. Jasanya teramat besar, namun tak pernah bisa tenar setenar penulis yang naskahnya disuntingnya. Hehe... Aku pikir,"kalau mau belajar ikhlas, lbh baik jadi editor saja." haha..

Mbak Uswah masih jadi editor sampai sekarang?

Makanya lebih baik langsung jadi penulis aja mas, kan nanti bisa terkenal hehe

@Seagate amin amin ya Rabbal 'alamin, semoga doa mas Seagate terkabul, saya jd penulis yg produktif shgga tlsnnya trsebar dan brmnfaat buat yg laen.hehe

Hehehe... Tertawa geli aku Om,...
Fakta di lapangan... :D

Hehehe... begitulah kenyataannya ulah unik para pengemis yg sering tidak kita duga. :)

Back To Top