Di dalam al-Kasyfu
wat Tabyin fi Ghururil Khalqi Ajma’in (hlm. 20), al-Imam al-Ghazali mengkritik
salah satu kelompok orang-orang berilmu (ulama) yang tertipu (maghrur). Mereka
adalah para penceramah, dai, atau pemberi mau’izhah/tausiyah yang keluar
dari manhaj (metode atau cara) berceramah yang semestinya.
Mereka lebih fokus
pada banyolan-banyolan panggung dan sibuk merangkai kata-kata indah nan memukau,
semisal syair-syair cinta dan sajak-sajak patah hati. Bahkan, ada pula yang gemar
mengeluarkan kata-kata kotor, ngawur, dan dusta sehingga keluar dari rambu-rambu
syariat.
Kata-kata yang
keluar dari mulutnya hanyalah omong kosong. Hampa, tiada bermakna. Karena target
ceramahnya tiada lain hanyalah sebatas membuat sensasi, menciptakan suasana
histeris dan dramatis, memikat jamaah, dan memukau audiens.
Materi dakwah
yang seharusnya sangat penting disampaikan justru hilang. Tujuan
mulia dari mau’izhah/tausiyah, yang seharusnya membuat jamaah semakin bertakwa
dan taat kepada Allah, justru sebatas kemeriahan acara saja. Selepas acara,
tidak ada ilmu dan spirit ketakwaan yang didapatkan. Hanya hiburan, gelak tawa,
dan sisa-sisa kemeriahan yang dibawa pulang.
Mereka inilah,
kata al-Ghazali, sejatinya adalah setan berwujud manusia. Mereka sesat dan
menyesatkan (dhallun mudhillun). Al-Imam al-Ghazali mengingatkan mereka
agar berkaca kepada ulama-ulama zaman dahulu (generasi awal) dalam berdakwah
dan berceramah.
Mereka (para
ulama zaman dahulu) jika belum bisa memperbaiki diri sendiri, dalam ceramahnya tetap
berusaha membenahi jamaahnya, juga dirinya sendiri. Apa yang keluar dari mulut
mereka dalam berceramah adalah kebenaran. Bukan kebohongan. Bukan pula lelucon dan
lawakan murahan.
Adapun para penceramah
zaman sekarang (yang maghrur), seringkali ceramah mereka justru menjauhkan
manusia dari jalan Allah, menipu manusia dengan cerita-cerita khurafat[1],
membuat umat berani berbuat maksiat, dan menjadikan orang-orang semakin cinta
kepada dunia.
Tidak jarang
para penceramah yang maghrur seperti mereka gemar tampil di panggung
dengan pakaian khas kebesaran, sarat kesombongan, dan terlihat WOW untuk
dipamerkan.
Wallahu a’lam.
[]
[1] Khurafat
adalah berita atau cerita yang dibumbui dengan kedustaan. Dalam hadis yang
diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha, bahwa Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya khurafat adalah seorang
lelaki dari Bani Udzrah, yang ditawan oleh kaum jin di masa Jahiliyah. Khurafat
tinggal bersama para jin beberapa waktu. Kemudian para jin mengembalikannya ke
tengah manusia. Kemudian si Khurafat ini menceritakan kisah-kisah ajaib yang ia
lihat. (Orang-orang yang mendengarnya sampai menganggap cerita/kisah yang
ia sampaikan adalah dusta; bohong). Maka setelah itu, orang-orang mempunyai
istilah baru, yaitu ‘cerita khurafat’.” (HR. Ahmad no. 25283

No comments:
Post a Comment