Golongan Ulama yang Tertipu (8) - Santri Nurbin

Hot

Sunday, March 1, 2026

Golongan Ulama yang Tertipu (8)

 


Di dalam al-Kasyfu wat Tabyin fi Ghururil Khalqi Ajma’in (hlm. 20), al-Imam al-Ghazali mengkritik salah satu kelompok orang-orang berilmu (ulama) yang tertipu (maghrur). Mereka adalah para penceramah, dai, atau pemberi mau’izhah/tausiyah yang keluar dari manhaj (metode atau cara) berceramah yang semestinya.

Mereka lebih fokus pada banyolan-banyolan panggung dan sibuk merangkai kata-kata indah nan memukau, semisal syair-syair cinta dan sajak-sajak patah hati. Bahkan, ada pula yang gemar mengeluarkan kata-kata kotor, ngawur, dan dusta sehingga keluar dari rambu-rambu syariat.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah omong kosong. Hampa, tiada bermakna. Karena target ceramahnya tiada lain hanyalah sebatas membuat sensasi, menciptakan suasana histeris dan dramatis, memikat jamaah, dan memukau audiens.

Materi dakwah yang seharusnya sangat penting disampaikan justru hilang. Tujuan mulia dari mau’izhah/tausiyah, yang seharusnya membuat jamaah semakin bertakwa dan taat kepada Allah, justru sebatas kemeriahan acara saja. Selepas acara, tidak ada ilmu dan spirit ketakwaan yang didapatkan. Hanya hiburan, gelak tawa, dan sisa-sisa kemeriahan yang dibawa pulang.

Mereka inilah, kata al-Ghazali, sejatinya adalah setan berwujud manusia. Mereka sesat dan menyesatkan (dhallun mudhillun). Al-Imam al-Ghazali mengingatkan mereka agar berkaca kepada ulama-ulama zaman dahulu (generasi awal) dalam berdakwah dan berceramah.

Mereka (para ulama zaman dahulu) jika belum bisa memperbaiki diri sendiri, dalam ceramahnya tetap berusaha membenahi jamaahnya, juga dirinya sendiri. Apa yang keluar dari mulut mereka dalam berceramah adalah kebenaran. Bukan kebohongan. Bukan pula lelucon dan lawakan murahan.

Adapun para penceramah zaman sekarang (yang maghrur), seringkali ceramah mereka justru menjauhkan manusia dari jalan Allah, menipu manusia dengan cerita-cerita khurafat[1], membuat umat berani berbuat maksiat, dan menjadikan orang-orang semakin cinta kepada dunia.

Tidak jarang para penceramah yang maghrur seperti mereka gemar tampil di panggung dengan pakaian khas kebesaran, sarat kesombongan, dan terlihat WOW untuk dipamerkan.

Wallahu a’lam. []



[1] Khurafat adalah berita atau cerita yang dibumbui dengan kedustaan. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya khurafat adalah seorang lelaki dari Bani Udzrah, yang ditawan oleh kaum jin di masa Jahiliyah. Khurafat tinggal bersama para jin beberapa waktu. Kemudian para jin mengembalikannya ke tengah manusia. Kemudian si Khurafat ini menceritakan kisah-kisah ajaib yang ia lihat. (Orang-orang yang mendengarnya sampai menganggap cerita/kisah yang ia sampaikan adalah dusta; bohong). Maka setelah itu, orang-orang mempunyai istilah baru, yaitu ‘cerita khurafat’.” (HR. Ahmad no. 25283


No comments: