Membaca al-Qur’an Tanpa Memahami Maknanya, Sia-siakah? - Tadarus Ramadhan

Hot

Friday, September 18, 2020

Membaca al-Qur’an Tanpa Memahami Maknanya, Sia-siakah?

 

Pernah mendengar teman atau kerabat Anda berkata “Buat apa baca Alquran kalau tidak paham maknanya. Mendingan gak usah baca saja kalau begitu.”? Apakah semangat Anda membaca Alquran menjadi redup lantaran merasa tidak memahami maknanya? Ataukah Anda benar-benar memutuskan berhenti membaca Alquran lantaran tidak menguasai bahasa Arab, bahasa Alquran?

Jangan pernah lakukan itu! Jangan pernah berhenti membaca Alquran. Walaupun tidak atau belum memahami makna yang terkandung di balik setiap ayatnya, kita tetap akan mendapat kebaikan dari Alquran berupa pahala, syafaat, dan sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“…karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran.” (Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Ayat tersebut memerintahkan kita membaca Alquran, tanpa menekankan adanya keharusan mengerti dan memahami maknanya. Dengan membacanya saja kita mendapatkan pahala ibadah, apalagi jika disertai dengan mengerti dan memahami maknanya ditambah lagi dengan mengamalkannya, tentu semakin melipatgandakan pahalanya.

Selain firman Allah dalam Alquran, terdapat pula hadits-hadits Nabi yang menjadi dasar anjuran dan keutamaan membaca Alquran.

1.    Bacaan Alquran sebagai Syafaat

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : " اقْرَءُوا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ)  رواه مسلم([1]

Dari Abu Umamah al-Bahili, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bacalah Alquran, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya.” (HR Muslim)

 

2.   Tercatat sebagai Manusia Paling Baik

عَنْ عُثْمَانَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري[2]

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari)

 

3.   Dibersamai Malaikat dan Mendapat Pahala

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ ، لَهُ أَجْرَانِ.[3]

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Alquran akan bersama malaikat-malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti. Sedangkan orang yang membaca Alquran dan ia terbata-bata dalam membacanya (tidak lancar), juga merasa kesulitan saat membacanya, maka ia memperoleh dua pahala[4].” (HR. al-Bukhari)

 

4.   Diangkat Derajatnya

عن عمرَ بن الخطابِ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقوامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ رواه مسلم[5]

Dari Umar bin al-Khattab, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Alquran) dan dengannya pula Allah merendahkan yang lain.” (HR. Muslim)

 

5.   Diberi Pahala Per Huruf

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ ، يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (‏راوه الترمذي([6]

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran) maka baginya satu kebaikan (pahala). Dan satu kebaikan akan dilipatkan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif itu satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi)

 

6.   Menduduki Tingkatan Surga yang Tinggi

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا (‏راوه الترمذي( [7]

Dari Abdullah bin Amr, dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dikatakan kepada pembaca Alquran, ‘Bacalah dan naiklah (ke tingkatan surga berikutnya), bacalah dengan tartil sebagaimana dulu kamu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempat kembalimu berada pada akhir ayat yang kamu baca (kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu baca).” (HR. Tirmidzi)

 

7.   Mukmin Membaca Alquran Bagaikan Buah Utrujah

عن أبي موسى الأشعريِّ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ) [8] متفق عليه([9]

Dari Abu Musa al-Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca al-Quran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca al-Quran adalah bagaikan Raihanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Orang munafik yang tidak membaca al-Quran bagaikan Hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Al-Bukhari)

 

8.   Mendapat Ketenangan, Rahmat, Malaikat, dan Disebut-sebut Namanya

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه  رواه مسلم[10]

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya.“ (HR Muslim)

 

Kesimpulannya, membaca membaca Alquran tanpa memahami maknanya tidaklah sia-sia. Kita akan tetap mendapatkan pahala dari bacaan tersebut.

Jika sekadar membacanya saja sudah tercatat sebagai ibadah, apalagi disertai pula dengan memahami artinya, tentu lebih besar lagi pahalanya. Oleh karena itu, mari kita terus belajar membaca dan memahami Alquran dengan berguru kepada guru yang memang ahli di bidang Alquran, baik tahsin maupun tafsirnya.

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) []



[4] Satu pahala untuk bacaannya, dan satu pahala lagi untuk perjuangannya membaca hingga terbata-bata.

[9] رواه البخاري 5/ 2070 (5111)، ومسلم 1/ 549 (797)، والزيادة بين قوسين من رواية أخرى للبخاري 4/ 1928 (4772).

No comments:

Post a Comment