ads
Sunday, June 10, 2018

June 10, 2018

Abul Hasan Sari bin al-Mighlash As-Saqthi, beliau adalah murid Ma’ruf al-Karkhi dan paman dari ibu serta guru Abul Qosim Junaid al-Baghdadi. Mula-mula ia mencari nafkah dengan berdagang di pasar. Pada suatu hari, ia didatangi oleh Ma'ruf Al-Karkhi, sang guru, yang datang bersama anak yatim.
Ma'ruf berkata: "Berikanlah pakaian untuk anak yatim ini!" Ia kemudian memberikan pakaian kepada anak yatim itu, dan sang guru pun bergembira karenanya, kemudian berkata: "Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari pekerjaan ini.”
Ia lalu meninggalkan tokonya dan tidak ada yang lebih dibenci olehnya daripada kekayaan dunia, dan hal ini diakuinya sebab barokah doa Ma'ruf Al-Karkhi sang guru. Diceritakan bahwa ia berkata: ”Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar kepada Allah hanya karena ucapan al-hamdulillah yang keluar dari mulutku.”
Hal ini tentu saja banyak orang menjadi bingung dengan pernyataannya itu lalu bertanya kepadanya: ”Bagaimana itu bisa terjadi?” Ia berkata: ”Saat itu aku memiliki toko di Baghdad. Suatu saat aku mendengar berita bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api, padahal tokoku berada di pasar tersebut. Kemudian ada seseorang yang memberitahuku: ”Api tidak sampai menjalar ke tokomu”. Aku pun mengucapkan: ”Alhamdulillah!”. Selama tiga puluh tahun, aku menyesal terhadap ucapan itu, karena seolah bersyukur terhadap musibah yang menimpa orang-orang islam."
Sarri As-Saqthi berkata: "Tasawwuf adalah nama untuk tiga makna, yaitu untuk orang yang cahaya kewiraiannya tidak memadamkan cahaya ma'rifatnya, tidak berbicara tentang ilmu bathin yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan hadits, serta keramatnya tidak sampai mendorong dirinya untuk melakukan perbuatan-perbuatan haram."
Sarri As-Saqthi berkata: "Aku mengetahui jalan ringkas dan mudah untuk menuju surga, yaitu: jangan meminta-minta suatu apapun kepada orang lain, jangan mengambil apapun dari orang lain, dan hendaklah membawa sesuatu yang akan diberikan kepada orang lain".
Sarri berkata: "Wahai Tuhanku, Apabila Engkau menyiksaku dengan suatu siksa, janganlah engkau siksa diriku dengan dijauhkan darimu.”

اللهم مهما عذبتني بشيء فلا تعذبني بذل الحجاب

Sarri As-Saqthi berkata: "Aku sangat berharap agar meninggal dunia tidak di dalam kota Baghdad, karena aku sangat khawatir aku tidak diterima oleh kubur dan aku pun dihina".
Abul Qosim Junaid berkata bahwa Sarri tidak pernah terlihat tidur telentang kecuali saat menjelang kematiannya. Sarri As-Saqthi wafat pada tahun 257 H/867 M.

*)Ditulis oleh Kanthongumur
Cuplikan dari kitab "Risalatul Qusyairiyah"

0 comments: