"Sabar, Mas, sabar...!"


Pernah melakukan perjalanan Jogja – Solo? Cukup banyak pengamen, kan, sepanjang perjalanan itu? Ada yang beralatkan gitar. Ada yang menggunakan ukulele. Ada pula beberapa orang yang berkreasi dengan aneka alat musik buatan mereka sendiri. Bahkan, ada pula yang hanya berbekal tutup-tutup botol yang dipipihkan menjadi icik-icik. Perkara alat musik dan vokal, itu urusan belakangan. Yang penting nyanyii.. :)

Apakah semua penumpang akan memberi uang kepada para pengamen itu? Tentu tidak. Ada yang memberi, ada pula yang tidak. Jika tidak ingin memberi, sampaikan dengan cara yang halus dan baik. Dengan begitu pengamen tidak akan tersinggung, apalagi marah. Misalnya, dengan menyorongkan telapak tangan sambil tersenyum atau berucap maaf.

Dengan cara itu pengamen paham bahwa si penumpang sedang tidak berhasrat memberi uang.

Bagaimana dengan kota lain, apakah mempunya cara yang sama untuk menolak memberi uang kepada pengamen? Mungkin lain kota lain pula caranya. Di Pulau Lombok, misalnya, --menurut cerita kawanku-- orang-orang di sana mempunyai cara berbeda untuk memperlihatkan ketidakinginan memberi uang, yaitu dengan berucap, “Sabar, Mas, sabar....”.

Dengan begitu, pengamen jadi mafhum bahwa Anda sedang tidak berhasrat memberi uang.

Nah, bagaimana jika tiba-tiba istri Anda berkata ‘Sabar, Mas, sabar...’? Apakah artinya dia sedang tidak berhasrat memberikan apa yang Anda inginkan? Wallahu a'lam...

Kata Kang Enwe, hanya istri Anda yg berhak menafsirkan dan hanya dia juga yang tahu maksudnya. ^_^ :D




Tag : Warna-Warni
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk ""Sabar, Mas, sabar...!""

Back To Top