Bukti Puasa Itu Penting



Dalam kitab al-Wasa’il ila Ma’rifah al-Awa’il, Imam Jalaluddin as-Suyuthi[1] menyebut bahwa orang pertama yang melaksanakan puasa adalah Nabi Adam ‘alaihissalam. Beliau berpuasa selama tiga hari setiap bulan, yakni hari ke-13 sampai ke-15 qamariah/lunar. Puasa inilah yang selanjutnya terkenal dengan sebutan puasa Ayyamul Bidh (hari putih).

Puasa ini kemudian dilanjutkan secara turun-temurun oleh Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad. Tetapi, dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa Nabi Nuh berpuasa sepanjang hari dan tahun (puasa dahr).

Para nabi yang lain juga melakukan puasa, tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Nabi Daud, misalnya, berpuasa dengan cara sehari berpuasa dan sehari berbuka. Nabi Musa berpuasa selama 40 hari 40 malam sebagai persiapan menerima wahyu di Bukit Sinai.

Nabi Sulaiman berpuasa tiga hari di awal bulan, tiga hari di pertengahan bulan, dan tiga hari di akhir bulan. Nabi Ibrahim juga terkenal gemar berpuasa, terutama ketika hendak menerima wahyu dari Allah Ta’ala. Begitu pula para nabi yang lain.

Tidak hanya para nabi dari agama samawi (langit, wahyu) yang mengajarkan puasa. Agama-agama ardhi (bumi, budaya) semisal Hindu, Buddha, Konghucu, Sikh, Shinto, dan lain-lain juga mengajarkannya. Tentu dengan cara dan tujuan berbeda.

Keberadaan puasa yang dilakukan oleh para nabi –sejak Nabi Adam– menjadi bukti bahwa ibadah ini sangat penting. Jika bukan sesuatu yang penting, tidak mungkin semua nabi menjalankannya.

Dengan berpuasa para nabi menegaskan ketakwaan mereka kepada Allah Ta’ala. Dengan berpuasa mereka mendekatkan diri kepada Sang Pencipta alam semesta. Tidak mengherankan jika di pengujung ayat ke-183 dari surat al-Baqarah Allah berfirman bahwa tujuan dari puasa adalah agar kita bertakwa kepada-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Baca juga: Memahami Pengertian Puasa

Selamat menyambut bulan puasa yang penuh berkah. Semoga Allah menganugerahkan kemudahan dan kelancaran berpuasa kepada kita semua. Aamiin...




[1] Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin al-Kamal Abu Bakr bin Muhammad as-Suyuthi. Lahir di Kairo pada 849 H./1445 M., dan wafat pada 911 H./1505 M.
Tag : Puasa
Comments
12 Comments
12 Komentar untuk "Bukti Puasa Itu Penting"

Pentingnya ibadah puasa ini sudah dari zaman Nabi pertama hngga skrg ya om, dan cara melakukan ibadah puasanya jg brbeda-beda termasuk agama lain. dan tjuannya hny satu yaitu untuk mempertebal keimanan mreka.

Selamat menyambut bulan puasa jg om, gak terasa hitungan 5 hari lg.. :) tgl 6 kan ya om.

Selain untuk ibadah, puasa juga sangat penting untuk kesehatan :)

Benar-benar tidak terasa, ternyata tinggal menghitung hari, ya, Hayy. :)

Betul banget itu, Mas. Ibarat mesin, harus diistirahatkan sejenak biar tidak rusak. Begitu, ya...

Marhaban ya Ramadhan, smg kita semua bisa mencapai tujuan puasa sbg manusia yg bertakwa, nggih Pak...

Aamiin... semoga doa Panjenengan untuk kita semua dikabulkan oleh Allah Ta'ala.

sudah tidak sabar menyambut bulan ramadhan yang penuh berkah itu

Sabar... sabar... tinggal menghitung hari kok. :)

Selamat menjalani ibadah Ramadhan. Semoga lancar sampai akhir dan diterima Allah SWT. Aamiin.

Aamiin... sama-sama, Mbak.

Mesin yang di maksud adalah mesin metabolisme ya mas tentang sistem pencernaan yang harus istirahat dan di rawat dengan cara tidak terus-menerus bekerja menggiling makanan yang kita konsumsi :) hihihi

Betul, Mas Effendi. Dengan berpuasa, alhamdulillah menjadi lebih sehat, ya, Mas.

Back To Top