Bahagia Itu Sederhana


Semua orang punya kesempatan besar untuk menikmati kebahagiaan. Sayangnya, kebanyakan orang  –termasuk saya–  lebih suka membuat syarat yang berat untuk mencapai bahagia. Bisa jadi deretan kalimat di bawah ini selalu menyesaki pikiran kita setiap hari.

Saya hanya akan bahagia jika ....
  • ... punya uang berlimpah.
  • ... punya istri supercantik.
  • ... punya suami ganteng dan tajir.
  • ... jadi tokoh terkenal dan berpengaruh.
  • ... semua orang menghormatiku.
  • ... tidak ada yang berani membantah ucapanku.
  • ... terpilih menjadi ketua RT.
  • ... bisa membawa keluargaku keliling dunia.
  • ... bisa membelikan mobil-mobilan supercanggih untuk anakku seperti yang dimiliki teman-temannya.
  • ... jika begini... jika begitu... dan seterusnya.


Semakin banyak daftar kebahagiaan yang kita syaratkan, semakin banyak pula peluang kita untuk sedih dan kecewa. Hati yang terlalu banyak mensyaratkan ini dan itu untuk mencapai bahagia, pastilah akan mudah terluka dan berduka. Kurangi syarat untuk mencapai bahagia, maka akan berkurang pula potensi stres dan kesedihan kita.


Baca juga: Motivasi Islami Dosis Tinggi (Duka dan Bahagia)

Ibnu Atha’illah as-Sakandari pernah berkata,


 لِيَقِلَّ ما تَفْرَحُ بِهِ، يَقِلَّ ما تَحْزَنُ عَلَيْهِ.
Kala berkurang apa yang membuatmu senang, maka berkurang pula apa yang engkau sedihkan.

Buatlah syarat yang sederhana, maka hati akan selalu bahagia. Dan, keberadaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang kita sembah, yang menguasai segala kehidupan kita, itulah puncak dari segala syarat kebahagiaan. Cukuplah Dia sebagai syarat kebahagiaan kita.

Manakala Allah telah menjadi syarat tertinggi untuk meraih bahagia, maka Dia akan selalu dekat dengan kita. Saat itulah hati kita akan selalu kaya dan bahagia.

Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Tidaklah kaya karena banyaknya kemewahan dunia. Tetapi, kekayaan sejati adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain, Abu Dzar menceritakan petuah Kanjeng Nabi tentang hakikat kaya.

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?’ Aku menjawab, ‘Benar.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?’ Aku kembali menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ Beliau lalu bersabda, ‘Sesungguhnya hakikat kaya itu adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban)

Begitulah, ternyata untuk mencapai bahagia sangatlah sederhana.

Wallahu a’lam

----------------
Foto: kedua anak saya, Babel dan Ewa. Bahagia tak terkira melihat mereka berdua bermain dan tertawa bersama. 
Tag : Hikmah
Comments
14 Comments
14 Komentar untuk "Bahagia Itu Sederhana"

jadi semakin banyak yang ingin kita dapatkan semakin sedikit pula yang akan membuat kita bahagia ya pak, maaf kalau saya salah menafsirkan...

Iya, Mas. Bisa dibilang begitu. :)

Kalau merunut saya bahagia itu sebenarnya simpel kang senyum dan buang semua pikiran yang akan membuat kita sedih dan kalau menurut saya bahagia itu tidak harus memiliki benda atau keinginan yang ingin kita punya atau capai tersenyum dan membuang semua pikiran yang membuat kita sedih itu saja cukup.

Bener banget, Kang Nurul. Untuk mencapai bahagia itu sangat sederhana, ya...

Mungkin saya harus banyak belajar tentang kebahagiaan kepada pak Irham sya'roni ini :) .Bahagia ku untuk saat ini hanya ingin melihat kedua orangtua saya tersenyum bangga atas apa yang saya lakukan :)

Alhamdulillah, membahagiakan kedua orang tua itu sungguh perbuatan yang sangat terpuji dan mulia, Mas. Saya jadi ingat bagaimana sosok bernama Uwais al-Qarni, baktinya kepada ibunya yang buta membuat dia disanjung oleh seluruh penduduk langit.

Mensyukuri apa yang telah di berikan...krn sebenarnya semuanya hanya wang-sinawang.. :-)

Nah ituuu... bener banget, Mbak; wang-sinawang. :)

Melihat gambar kak babel dan dek ewa kebahagiaan sederhananya itu bener" lepas ya om, itulah asyiknya masa kecil. masa kebahagiaan yg paling sederhana gak terlupakan. sampe byk jg org saat ini mengecam kalimat 'masa kecil kurang bahagia' klo menemukan temannya lagi super bahagia dgn sesuatu yg baru..

saya kdng srng sih om berandai 'duh bahagianya ya klo bisa pny uang jalan-jalan ngajakin keluarga ke pulau jawa/pulau sumbar'.. kdng fikiran itu membuat hati terasuk mkin kuat untuk mncapainya sdgkan usaha untuk mndptkan itu kendalanya ada aja. :(

Melihat anak-anak ceria itu sudah jadi kebahagiaan tersendiri, ya, Hayy. Semua susah dan sedih seketika hilang.

Moga-moga besok ada kesempatan dan rezeki lebih untuk jalan-jalan ke Jawa, Hayy. Khususnya ke Jogja. Aku siapkan gudeg, sate klathak, bakpia, atau yangko; semua khas Jogja. :)

bahagia memang sederhana, tersenyum disaat bersama dan susah senang bisa mengisi hari bersama keluarga itu sudah bahagia juga kan mang :D

Bener banget, Mas CB. Itu jadi kebahagiaan yang luaarrr biasa. Lelah pun lenyap seketika jika bisa tertawa bersama keluarga. :)

Bahagia itu ada dalam diri kita...Yang perlu kita lakukan, tentunya kita harus memiliki mindset bahagia. Tidak harus dengan menstimulasi lewat hal-hal di luar kemampuan kita. Jangan selalu melihat apa yang tidak kita miliki. Rasa tidak puas pada apa yang dimiliki membuat rasa bahagia menjadi tertunda. Bersyukur itu kuncinya.. :)

Benar sekali, Mas Sonny, kuncinya adalah bersyukur dengan apa yang kita miliki atau apa yang ada dalam diri kita. Terima kasih atas tambahannya yang lebih gamblang dan mencerahkan.
Selamat bersiap menyambut Ramadhan... :)

Back To Top