Hukum Memakan Belalang (Bagian 1)


Namanya Rifqi NH. Dia tetangga sekaligus saudara jauh saya. Sudah sangat lama saya tidak bersua muka dengannya. Beruntung saat ini ada facebook sehingga kami tetap bisa berkomunikasi dan mengetahui kabar saban hari.

Tadi pagi Rifqi berkirim pertanyaan, yang sebetulnya sudah diketahui jawabannya oleh siapa saja, termasuk Rifqi sendiri. Jadi, pertanyaan darinya senyatanya lebih berharap mendapat kemantapan hati tentang keberadaan dalilnya, apakah ada dalam al-Qur’an atau hadits Nabi.

Dalil Kehalalan Belalang
Kata al-jarad (belalang) memang termaktub dalam al-Qur’an, yakni surat al-A’raf ayat 133. Akan tetapi, kata al-jarad dalam ayat tersebut tidak ada hubungan sama sekali dengan hukum memakan belalang. Ayat tersebut hanya berkisah tentang azab Allah kepada Fir’aun dan kaumnya, salah satunya berupa belalang yang merusak lahan pertanian.

Adapun kata al-jarad yang mengungkap hukum memakannya terdapat dalam hadits Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sementara dua darah yang dimaksud adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam hadits berikut Kanjeng Nabi menyatakan bahwa beliau tidak biasa memakan belalang, tetapi tidak juga mengharamkannya.

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْجَرَادِ فَقَالَ أَكْثَرُ جُنُودِ اللَّهِ لَا آكُلُهُ وَلَا أُحَرِّمُهُ

Dari Salman ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai belalang, kemudian beliau bersabda: Mereka adalah tentara Allah terbanyak. Aku tidak memakannya dan tidak mengharamkannya. (HR. Abu Daud)

Beliau memang tidak biasa memakan belalang. Hanya beberapa kali memakannya sebagaimana terungkap dalam hadits berikut.

غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ

“Kami berperang bersama Rasulullah dalam tujuh kali peperangan, kami makan belalang.” (HR. Muslim)

Dalam redaksi lain tertulis:

غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ أَوْ سِتًّا كُنَّا نَأْكُلُ مَعَهُ الْجَرَادَ

“Kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tujuh atau enam peperangan. Kami memakan belalang bersama beliau.(HR. al-Jamaah, kecuali Ibnu Majah)


Sumber Gambar
Haruskah Disembelih Dulu?
Untuk mengonsumsi belalang tidak disyaratkan harus menyembelihnya terlebih dahulu. Hal ini telah ditegaskan oleh Kanjeng Nabi dalam hadits di atas bahwa bangkai belalang halal dimakan.

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab  mengatakan,

وَيَحِلُّ السَّمَكُ وَاْلجَرَادُ مِنْ غَيْرِ ذَكَاةٍ


“Ikan dan belalang itu halal dimakan walaupun tidak melalui proses penyembelihan.” 

***

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini. Maklum, saya menulisnya di sela-sela jam istirahat kantor. Semoga nanti malam atau lain waktu bisa melanjutkannya dengan subtema hukum memakan belalang hidup-hidup, memasaknya/memanggangnya dalam kondisi hidup, serta hukum memakan jangkrik. Semoga senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang untuk menuliskannya dalam blog sederhana ini. Aamiin...

Baca juga: Hukum Memakan Belalang (Bagian 2)

Tag : Kuliner
Comments
35 Comments
35 Komentar untuk "Hukum Memakan Belalang (Bagian 1)"

Saya pernah juga nih terlintas pertanyaan gtu om, tpi lupa. hanya bertanya terpendam aja. kalau ikan kan udh umum byk di konsumsi. sdgkan belalang kok gak pernh saya dngar orng memakannya ya? malah saya mndengar tetangga memakan laron di peyek gtu om. hehe

Terimakasih penjelasan om irham diatas ya, lengkap bgt om.
wah lg sibuk kerja bisa nyempetin ngeblog ya om..hehe

Saya malah sering makan belalang atau kata orang sunda itu Simeut. berarti saya ga salah ya karena saya tidak menyebelihnya terlebih dahulu jadi langsung di goreng aja. hhe awalnya sih geli juga memakannya tetapi setelah mencoba ternyata enak dan gurih :)

Saya pernah makan belalang goreng, Hayy. Rasanya enak banget. Gurih dan kriukkk! :) Di Gunungkidul, DIY, buanyak banget dijual di pinggir jalan. Tentang laron, sepertinya menarik untuk saya tulis lain waktu, lalu kita diskusikan bersama, ya, Hayy.

Kalau tidak disempatkan, pasti gak jadi nulis terus, Hayy. Ini saja sudah beberapa hari libur gak nulis. Menyedihkan, kan? :(

Saya baru sekali merasakannya, Mas. Ternyata rasanya enak banget. Pedas, kriuk, dan gurih. Heheh...

Ooo jadi bokeh ya kang makan belalang.! Trims ilmunya kang. Sangat bermanfaat dan dalam kenal kang.!

ya mas, belalang dan ikan, memang tak perlu di sembelih, hal itu juga disebutkan syaikh zainuddin bin abdul aziz al malibari dalam fathul mu'in, di bab haji bagian akhir, tepatnya membahas hewan sembelihan

Makin mantap kalau sudah lihat dalilnya. Kalau berkenan, tolong dibahas tentang bekicot dan keong, Pak... Terima kasih.

Terima kasih kembali, Mas. Salam kenal juga, ya.

Leres sanget, Mas. Bahkan, Fathul Muin lebih rinci lagi memberi panduannya, ya, Mas. Malahan dalam kitab tersebut disebutkan wayukrahu dzabhu shaghirihima. Terima kasih atas tambahannya, Mas.

InsyaAllah, Bu. Semoga ada waktu, umur panjang, dan aungerah kemampuan.

Makan belalang itu enak banget kang banyak vitaminnya :D

Betul, Mas. Rasanya juga maknyusss, ya. :)

Belalang, bnyk dijual di Gunung kidul. Tp nggak mo nyoba, takut...dulu ada tmn yang lngsung alergi gatal2 n muntah. Klo laron gmn ya pak? Oh..iya kmrn itu di tv mlh ada yang kuliner an olahan jangkrik. Ktnya protein tinggi. Boleh di mkn?

karena belelang termasuk bangkai yang halal, sehingga tidak perlu disembelih

selain hanya berpendapat memang perlu dalil yang shahih

Memang ada yang bilang begitu, Mbak; kalau alergi terhadap belalang, badan bisa gatal-gatal, Tentang laron dan jangkrik, para ulama berbeda pendapat. Semoga lain waktu saya bisa menuliskannya, ya, Mbak. :)

Tentu repot kalau harus disembelih, ya, Mas. :)

Setiap pendapat memang harus selaras dengan dalil, ya, Mas. :)

datang lagu kang habisin waktu sore sebelum mandi, sambil menyapa sahabat semua

Kalau sore penampakannya tidak cuma huruf "Q", tapi muncul wajahnya juga, ya, Mas. heheh... Terima kasih, Mas Bos. :)

pengen rasain, walau pasti ada rasa geli gimana,hehe
oh jadi halal to

kira - kira ada yang jual pakai online gak ya mas,hehe
susah kalau di sumatera enggak ada mau beli

100% Halal banget, Mbak. :)
Pertama lihat saya juga punya perasaan yg sama, Mbak. Tapi, setelah melahapnya, ternyata enak. Sayangnya sampai sekarang baru sekali menikmatinya. :)

Sepertinya ada, Mbak... Coba cek di belalanggoreng[dot]com

Alhamdulillah halal mas kebetulan saya suka nih mengkonsumsi belalang karena rasanya yang enak dan lebih enak lagi kalau di gorengnya sampai kering karena renyah dan gurih sekali.

Walaupun nggak diharamin sayangnya ane belum pernah mencoba hehe

Sering menikmatinya, ya, Kang? Kalau aku baru sekali. :)

Besok dicoba deh, biar sekali-kali pernah mencicipi rasanya. :)

kalo saya udah tahu sih kalo belalang boleh dimakan...
tapi saya belum pernah nyoba, penasaran juga sih....

salam kenal dan blog nya saya follow ya...

Kapan-kapan dicoba, Mas. :)

Salam kenal kembali, Mas. Blognya juga saya folback.

Tahu kah sdr2 kenapa nabi tak makan belalang?

Back To Top