Madun, Tarom, dan Capres Mereka

Abraham Lincoln
Willian H. Seward
Sudah ada Madun dan Tarom di samping tempat wudhu surau pinggir sawah. Muka mereka berdua tampak merah. Bisa jadi karena tersesaki oleh amarah. Maklum, ini kan hari-hari menjelang audisi pemimpin yang amanah. Wajar jika orang kampung seperti Madun dan Tarom ikut-ikutan membela idolanya. Sayang, terkadang gontok-gontokan mereka cenderung emosional dan mengesampingkan kejernihan hati dan rasional.

Ah, jangan-jangan emosi mereka yg kerap terbakar itu bukan begitu saja muncul dari diri mereka. Aku tahu Madun dan Tarom itu orang yang lugu. Bisa jadi mereka hanya ikut-ikutan pemimpin mereka atau sosok yang diidolakan mereka. Siapa yang mengidolakan Superman, sedikit atau banyak tentu akan berpolah bak superhero itu. Siapa yang mengidolakan Sinchan, tentu ulahnya tidak jauh dari Sinchan yang demen jahil itu. Ah, kasihan temanku si Madun dan Tarom itu. Bulan ini mereka sudah kehilangan kedirian mereka sendiri.

"Ada apa ini kok pada gosong begitu wajahnya? Bulan puasa itu semestinya disambut suka cita, ee kalian malah pasang muka penuh murka begitu," sapaku kpd mereka.

"Ini soal idealisme dan masa depan bangsa, Mas," jawab Madun.

Buru-buru Tarom menyergah, "Sinting sampeyan! Idealisme apa? Masa depan bangsa yang mana? Mulutmu sok manis!"

"Kurang ajar! Dasar kubumu tukang korupsi!"

"Guoblok kamu! Silakan cek di KPK, partai apa yg paling banyak koruptornya?! Nuduh orang lain sarang koruptor, tak tahunya justru partai moncongmu itu yg sesak oleh koruptor!"

Waduh, bisa terjadi perang baratayuda ini kalau tidak segera dijampi-jampi biar berhenti dari ngedumel ttg capres sana dan sini.

"Sudah... Sudah... Kok jadi kalian berdua yang malah pada ribut begitu! Memangnya kalau jago sampeyan menang, sampeyan mau diberi jabatan gitu? Waaahh... ngimpiii...! Sudahlah nggak perlu kenceng2 membela jago kalian dengan kata-kata kasar begitu. Saru! Ndak digeguyu pitek. [Tidak baik, bisa ditertawai oleh ayam]."

Seketika mereka berdua terdiam.

"Nah, begitu kan lebih tenang. Sepertinya saya harus melakukan revolusi mental kalian nih. Revolusi mental ala Nabi, kalau kalian sedang marah, ambillah air wudhu, syukur2 dilanjut shalat. Kalau sdg posisi berdiri, duduklah. Kalau sdg duduk, berbaringlah. Kalau masih marah, diam atau tinggal ngeloyor pergi. Dijamin kalian bisa menghindari aksi saling murka."

Saya lalu mengambil air wudhu, kemudian masuk ke surau untuk bercengkerama dengan Sang Yang Akaryo Jagat. Baru saja aku ucap takbirul ihram, di luar kembali terdengar debat pendukung capres; Madun dan Tarom.

"Revolusi mental itu program dari jago saya, Rom. Keren thoo?" ucap Madun bangga.

"Ndasmu kui sing keren! Bagaimana mau merevolusi mental bangsa kalau jagomu tidak bisa membenahi mental pendukungnya yang anarkis?! Lihat tu aksi penyegelan tipiwan. Apalagi ditambah tulisan "tipiwan anjing". Apa pemimpinmu meredam amarah anak buahnya seperti yg dilakukan pemimpinku? Tidak! Pemimpinmu seolah melegalkan aksi anarkis itu."

"Kalau tipiwanmu itu tidak ngebacot seenak udel penyiarnya, gak mungkin kubuku akan berbuat anarkis begitu."

"Sontoloyo! Apa kamu gak mikir, kubuku juga sering diserang media-mediamu, bahkan Wimar Witoelar menyebut kami teroris, Hendropriyono menyebut jagoku gila, Butet jg nakalnya mnta ampun. Tapi kubuku kalem, Mas. Jernih berpikir dan jernih hati. Kami hormati hak demokrasi."

"Demokrasi mbahmu kui! Jagomu itu titisan darah orde baru, bagaimana bisa kamu ngemeng demokrasi?! Pemimpin demokratis itu ya kayak jagoku; jujur, sederhana, dan merakyat."

"Pemimpinmu jujur? Hahahaa.... lihat dan buka matamu lebar-lebar tentang kasus Transjakarta! Jagomu bilang sudah lapor ke KPK, nyatanya bohong. Ditanya wartawan ttg itu, dia diam saja. Dasar pembohong! Merakyat itu baik, Dun, tp yg lebih penting lagi menyejahterakan rakyat."

"Jiaaaanggkrikkk tenan!" batinku dalam shalat. "Bikin shalatku buyar. Jadi gak khusyuk. Baru saja dikasih wejangan tentang revolusi mental ala Nabi kok malah panas-panasan lagi."

Selesai shalat cepat-cepat aku temui mereka berdua. Byuuurrrr.... aku siramkan seember air ke wajah mereka berdua.

"Aseemmm tenan kok sampeyan. Seenaknya nyiram mukaku!" gerutu Madun.

"Di tubuh kalian berdua itu ada setan, tahu!! Setan itu terbuat dari api. Api bisa padam kalau disiram air. Pahammm??" ucapku dengan suara meninggi. "Siapa pun presidennya, kalian harus legowo. Itu baru namanya demokratis dan menghormati konstitusi. Bahkan ketika Abraham Lincoln berhasil mengalahkan William H. Seward dalam pemilu presiden di Amerika, Abraham Lincoln tidak merasa sebagai pemenang. Dia justru mengajak William H. Seward untuk sama-sama membangun Amerika atas dasar mereka berdua sama-sama cinta Amerika. Nah, apa kalian berdua cinta Indonesia?"

Madun dan Tarom sejenak terdiam. Saling pandang, lalu bak paduan suara menjawab bersama, "Pasti kami cinta Indonesia, Mas."

"Kalau begitu, hari ini bolehlah kalian berkompetisi. Tapi harus berkompetisi secara sehat dan damai. Besok harus bersama-sama membangun Indonesia. Jangan ada dendam di antara kalian. Hormati dan patuhi pemimpin terpilih kalian. Aku yakin, masing-masing capres kalian tidak mengizinkan adanya permusuhan, apalagi kerusuhan. Ayo, kalian berdua salaman!
Pesanku, yen kalah ojo ngamuk, yen menang ojo umuk. [kalau kalah jangan mengamuk, kalau menang jangan sombong]."

Madun dan Tarom lalu berjabat tangan lalu berpelukan.

"Oh, mesra dan romantis nian mereka!" batinku sambil tersenyum karena melihat mereka bersalaman bukan dengan lima jari. Tarom dengan satu jarinya, sedangkan Madun dengan dua jarinya. qiqiqiqiii....

Ah, biarlah! Yang penting mereka berdua sudah bersetubuh, eh maksudku berpelukan. Begitulah hakikat kemenangan, yaitu kemenangan bangsa Indonesia. Kemenangan Indonesia Raya!


***

"Dukung mendukung adalah wajar, beda pendapatpun wajar Tapi saling membenci dan saling menyakiti tak ada gunanya bahkan merugikan kita semua,Kita harus tetap jernih, proporsional, tak boleh berlebihan menyikapi episode pilpres ini, jangan sampai merusak akhlaq, memutuskan silaturahim dan menurunkan iman. Ingat yang menjamin rizki, keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan dunia akherat adalah Alloh semata bukan presiden atau siapapu.Pilpres bisa jadi amal soleh, bila niat dan caranya benar menurut Alloh, tapi yang Maha menentukan hanya Alloh semata.Kita harus sangat siap dengan apapun takdir Alloh.. bila disikapi dengan selalu mendekat kepada Alloh, kita tak akan dirugikan sama sekali, insyaa Alloh" (Aa' Gym)

Tag : Warna-Warni
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Madun, Tarom, dan Capres Mereka"

Back To Top