Belajar Tidak Menyebut "Aku"

sumber gambar
Seorang ayah terlihat marah-marah kepada anaknya. Tak tahu mengapa ia marah. Yang jelas, saat itu sumpah serapah bermunculan dari bibirnya, “Dasar anak tidak tahu balas budi! Kamu bisa tumbuh besar seperti sekarang, bisa sekolah, bisa memakai baju bagus, bisa makan, dan bisa segala-galanya, semua itu karena aku, ayahmu. Tanpa aku, tidak mungkin kamu bisa seperti sekarang ini.”

Sementara itu, di tempat yang lain, seorang jutawan berkisah kepada sahabatnya, “Alhamdulillah, 75% dana pembangunan masjid dan panti asuhan itu terkucur dari uang pribadiku.”

Ada pula cerita kesuksesan seorang ustadz mengembangkan ajaran agama di suatu kampung “abangan”. Sang ustadz bertutur tentang kiat dan strateginya berdakwah di kampung tersebut. Ia berkata, “Masyarakat sini sangat mudah saya dakwahi karena strategi pertama dan utama yang saya terapkan adalah bagaimana mengambil hati mereka, barulah setelah itu saya ajarkan agama kepada mereka. Di masjid inilah saya bimbing mereka menuju jalan kebenaran.”

Coba Anda perhatikan tiga kisah yang memuat penuturan di atas. Apa yang Anda dapatkan dari ketiga kisah tersebut? Ya, benar sekali. Dalam tiga kisah di atas banyak terulang kata “saya” dan “aku”. Adakah yang salah dari pengucapan kata itu? Jawabnya adalah tidak ada yang salah. Hanya, perlu diwaspadai, jika kita memang benar-benar ingin berhati ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala serta menempati puncak posisi ikhlas, kita harus membuang jauh-jauh kata itu dari dalam hati. Sebab, ketika kata “saya” dan “aku” meluncur dari bibir, pada saat itulah sebenarnya kita telah meniadakan keberadaan Allah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dalam kisah pertama, sang ayah mengklaim bahwa anaknya bisa sekolah, makan, dan lain-lain adalah karenanya. Benarkah demikian? Apakah ia tidak menyadari bahwa anaknya bisa melakukan aktivitas apa pun adalah karena fadhal (anugerah) dari Allah Ta’ala.

Begitu juga dengan kisah kedua, sang jutawan mengklaim bahwa donatur semua bangunan itu adalah dirinya. Bangunan-bangunan itu berdiri karena kucuran dana dari uang pribadinya. Hmmm ..., tampaknya sang jutawan telah lupa bahwa donatur sejatinya adalah Allah Yang Mahakaya. Allah menjadikan ia kaya sehingga dengan mudah berderma dan menjadi penyumbang terbesar bangunan-bangunan tersebut. Begitu juga klaim bahwa uang tersebut adalah milik pribadinya, sejatinya saat itu ia telah melupakan Dzat Yang menjadikan ia kaya, yaitu Allah Ta’ala. Jadi, uang itu bukanlah milik pribadinya, melainkan sekadar titipan Allah.

Kisah ketiga pun menjadi pelajaran bagi kita. Ketika sang ustadz mengklaim bahwa dirinyalah yang sukses membimbing dan mendidik masyarakat “abangan” tersebut lewat strategi dakwahnya, tidakkah sang ustadz menyadari bahwa sejatinya kesuksesan membimbing dan mendidik masyarakat bukanlah dari dirinya, melainkan Allah-lah yang membimbing dan mendidik mereka lewat ustadz tersebut. Begitu pula ketika ia mengatakan bahwa kesuksesan itu terwujud karena strateginya berdakwah. Hmm ..., seharusnya sang ustadz membuka kesadaran bahwa sejatinya strategi itu muncul bukan dari dalam dirinya, melainkan Allah-lah yang mengajarkan strategi itu kepadanya.

Dari ketiga kisah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa di balik kata “saya” atau “aku” ternyata menyimpan benih-benih ketidakikhlasan. Benih-benih “keakuan”, egoisme, dan kesombongan. Jadi, apakah kata “saya” dan “aku” kita buang saja dari kamus bahasa agar kita mencapai puncak keikhlasan? Tentu tidak harus demikian. Yang harus kita lakukan adalah meniadakan kata tersebut dari dalam hati, bukan dari bibir kita. Insya Allah, ketika kata “saya” dan “aku” tidak lagi menguasai hati, segala sesuatu akan disandarkan hanya kepada Allah semata-mata. Saat itulah kekuatan ikhlas benar-benar mengkristal di dalam dada.

“Alhamdulillah, semua penjelasan di atas telah mencerahkan hati saya sehingga sekarang menjadi ikhlas!” Eit … hati-hati dengan kalimat ini! Klaim bahwa saya telah ikhlas (dengan adanya keakuan di sana) senyatanya justru menegaskan bahwa kita masih belum benar-benar ikhlas.

Dengan meniadakan keakuan dari dalam hati, akan terbukalah kesadaran Ilahiah bahwa kita hanyalah hamba yang lemah. Kesadaran ini merupakan pengakuan bahwa sesungguhnya manusia tidak memiliki apa pun. Manusia tidak ubahnya hanya seonggok daging dan tulang yang bergerak karena digerakkan oleh "kekuatan lain", yaitu Allah.

Karena sudah merasa sebagai hamba, konsep “pasrah, ikhlas, serta ridha” akan memenuhi ruang kalbu kita. Rasa keakuan sudah mulai pupus di sini dan dengan sendirinya rasa keakuan ini berganti dengan “bahagia dan tenang” karena Allah sudah meneteskan “iman” di dada kita. Setelah itu terbuka rahasianya, ternyata keakuan adalah akar semua penderitaan. Semakin besar keakuan semakin besar pula penderitaan, dan semakin kecil keakuan maka semakin kecil pula persoalan.


Tag : Hikmah
Comments
50 Comments
50 Komentar untuk "Belajar Tidak Menyebut "Aku""

trimakasih artikelnya tadz, ikhlas memng tidak perlu terucap, cukup dengan hati, Allah maha tahu dengan apa yang terdetik dalam hati kita, ikhlas mudah diucapkan susah diamalkan:}

seorang Ustad pernah mengatakan hal seperti ini, tetapi memang sulit meniadakan ke-Aku-an dalam percakapan, harus benar-benar bisa menjaga kata2, sulit tapi patut untuk dicoba

Muro'i El-Barezy @ Semoga dengan belajar tidak menyebut kata "aku" alias beljr melesapkan keakuan, Allah akan mmbri qt keikhlasan ya, Mas.

NF @ "aku" memang tdk mgkin qt lesapkan bgtu sj dr bibir/prckpan qt. Walopun bibir berucap "aku", tp hati sllu belajar untk meniadakan "aku". memang berat, tp patut kita latih trs menerus ya, Mbak.

memang sulit sekali.
tapi kita harus mencobanya.
sepertinya kata "saya" dan "aku" otomatis keluar begitu saja.
dan apakah anda memang ustad?

Darmawan Saputra @ Sebagaimana artikel di atas, meniadakan kata ini tentu hanya di hati, Mas. Yakni, meniadakan keakuan.
Aduh, ttg pertanyaan yg terakhir itu sy trpksa bingung smbari tersenyum,Mas,"Bagaimana mau mnjwbnya." Krn saya pribadi tdk prnah sekalipun menjuluki diri saya dg predikat itu. Jadi, prtanyaan itu lbh tepatnya ditujukn kpd Mas Muro'i El-Barezy yg menyebut-nyebut predikt itu. :-)

benar karena kata aku menunjukan kepunyaan, sedangkan semua yang di miliki kita, ada yang punya juga :)

Nice bang ;)

jangan sampai mensyirikkan Allah dengan diri sendiri.

keakuan kadang masih mendominan pada diri manusia

Manusia memang masih diperbudak dengan ke-AKU-an itu. Ke-AKU-an itu seperti meniadakan Allah, seperti tidak ada campur tangan Allah, hanya dia sendiri. Itu menurut saya sih :)

ooo . . . jadi intinya apa saja yang kita perbuat, apa saja yang kita lakukan itu kalau tidak atas izin Allah tidak akan terlaksana, jadi kita tidak boleh sombong (meng-AKU/saya) dan hanya Allah yang boleh memiliki sifat itu . . .

benar tidak . . .????

Bukan hal yang mudah untuk berbuat dengan Ikhlas atas apapun yang akan dan sedang kita kerjakan. Pergulatan hati memang ada, tetapi itulah perjuangan. Ikhlas harus kita menangkan. Mencerahkan. Thanks udah share

Sepakat dgn Bang Uzay: apa yg kita miliki di dunia ini sejatinya hanyalah titipan Allah. Dialah pemilik dan penguasa segala-galanya, trmasuk penguasa nyawa qt.

lanjutkan artikelnya sob..

Benar, Bunda. Allah adalah Dzat Yang Maha Esa, Maha Menguasai semua makhluk-Nya. Tiada sekutu bagi-Nya.

Ya, mgkin sprti itulah gmbaran kealpaan kita sebagai manusia ya, Pak.

Benar, Wuty, sprti itulah inti coretan saya di atas. Moga jadi tafakur kita semua.

leres 100%. Tdk selayaknya kita menyombongkan diri. krn sjatinya "aku" bukan apa-2 dan bukan siapa2.

Mas Gopar, makasih ya atas solusi yg diberikan untuk membenahi blog sdrhana saya ini.

Mas Asep, makasih, mas. Komntarnya Makin membuat hati saya tergetar dan tergerak tuk berjuang memenangkn pergulatan di dlm hati. makasih ya, Mas.

Oke, Mas. insya Allah di sela-sela waktu yg ada akan saya lanjutkan.

saya memahami tulisan ini supaya kita tidak sombong, bener ga ya hehe..

aku....kata yang sangat singkat tapi terdengar sombong ..itulah kata aku...aku hanya ALLAH yang pantas mengucap kan nya...karna ALLAH lah yang boleh sombong.....

yup, bener banget, Mbak diniehz. Itu salah satunya. Hendaklah kita tdk sombong/takabur, tdk mengabaikan atau bhkan menyekutukn Tuhan, & tdk mengotori hati dgn ketidakikhlasan.de el el

sepakat 100 karat, Mas. Hanya Allah-lah yg berhak menyandang sifat itu ya, Mas. Dia-lah al-mutakabbir.

Insya Allah mas...mari saling mendoakan utk melenyapkan ke 'aku'an itu dr hati kita. Amin

Makasih Mimi, dengan senang sekali. Semoga diijabahi oleh Allah swt. amin

mbah iblispun juga memakai kata "saya" ketika menolak bersujud kepada Nabi Adam, " Ana khoirun minhu...."
Berarti kalau masih banyak menggunakan kata "saya, ana, aku, gue dst..." berarti iseh keturunane mbah iblis... begitukah?hihihi.

Leres Om, benar 100%! Ingat kata "Abaa wastakbaro... ", keakuan, kesayaan, keanaan, keguean, dll itulah yg mnjadikan iblis bersombong diri (takabur). Jika kita pun sprti itu maka tak ubahnya si iblis itu: sama2 takaburnya.

. . waduch,, jadi gak baik juga ya menyebut kata saya dan aku?!? emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm,, . .

Intinya, tidak baik kalau kita merasa sombong, Mbak. org sombong itu kan selalu penuh dgn keakuan, kesayaan, dst. :-)

Om, saya izin sdh share tdi ke g+. tapi mau share ke fesbuk gak bisa.
mgkn lgsg lwt link aja.hehe

awalnya saya mengira, belajar untuk menyebut diri adalah 'saya' krena lbh sopan dri kata 'aku'. sampe dlu sekolah jg diajarin, menyebut panggilan diri semestinya gunakan kata 'saya' dan nama pribadi aja biar sopan. krena aku dilarang..hehe
setelah membca 3 kisahnya jd faham akan penggunaan dan pengucapan dua kata tsb om..

Betul banget mas...orang sombong di jahui temen..?

Belajar Tidak Menyebut "Aku.....hmmmmm...kalau nyebut nama adminnya boleh gak..?

Benar, Mas, orang sombong tak banyak kawannya. Kecuali iblis yg juga sama2 tukang sombong. :)

Hehehe... boleh... boleh...! :))

Secara kebahasaan, kata "saya" memang lebih sopan/halus daripada "aku", Hayy. Tapi, tulisan di atas tidak membincang tentang dua kata tersebut dan kata lain yang semakna dari sisi bahasa, tetapi membincangkannya dari sudut sufistik yang penuh ketawadhu'an dan jauh dari kesombongan. :)

Kayaknya setiap orang sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain ya :' sebenernya sih nggak perlu juga :'

Itu wajar, lumrah, dan manusia, Mas. Karena memang begitulah tabiat dasar manusia. Tetapi, jika tidak dikendalikan, akan melahirkan keangkuhan dan kealpaan kepada Tuhan. :)

Itulah manusia yang tidak bisa luput dari sipat ke "aku"an yang ingin menyanjung diri agar terlihat lebih di mata manusia lainnya. Tidak mudah membuang sipat tersebut, namun sudah seyogyanya kita berusaha dan memohon petunjuk Allah agar terhindar dari semua sipat yang tidak baik itu.

Manusia tidak ada apa-apanya di banding Allah . jadi jangan semena-mena dalam berucap :) karena semata-mata semua itu hanya titipan dari sang maha pencipta

Benar, Mas; memang tidak mudah menaklukkan "keakuan". Karena memang begitulah sifat dasar manusia, selalu ingin disanjung dan dipuji manusia. Tak peduli andai Allah tidak memujinya. :( Tapi, kita memang harus terus berusaha menaklukkan itu. Setidaknya meminimalisasinya.

Benar, Mas, kita hanyalah hamba yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya.

kata "aku" dan "saya" cendrung memang mengarahkan kepada kesombongan, benar mbak, kita bisa bekerja, berkarya, itu hanya karena kasih dari Allah

Benar, Mas, semua atas anugerah dan kasih dari Allah.
Terima kasih sudah berkunjung...

Meski prosesnya tidak mudah tapi kita semua harus mau belajar tentang pasrah, ikhlas, serta ridho

Sulit rasanya menghilangkan keakuan. :) Tapi wajib belajar

Benar sekali, Mbak. Untuk mencapainya dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan.
Terima kasih sudah berkunjung...

Iya, Mbak, semakin sulit dan berat perjuangan kita untuk mencapainya maka semakin tinggi pula derajat yang kita capai.

Back To Top