Pak Ijan dan Kepala Sekolah


Sebut saja namanya Pak Yitno. Lengkapnya Drs. Suyitno Notoboto Limo, S.H., M.Hum., S.Tmj, MA., M.Pd. Ia adalah kepala sekolah (kasek atau kepsek) di suatu sekolah dasar (SD) di kota B. Di kalangan para guru, sang kasek atau kepsek ini dicurigai telah lama melakukan praktik “nakal” terhadap uang sekolah.

Hampir semua hal yang berhubungan dengan duit, dialah yang memegang uangnya. Sementara bendahara hanya formalitas. Sekadar tercantum namanya, tapi tak pernah tahu-menahu ke mana dan untuk apa saja uang itu dibelanjakan. Tahu-tahu sang kepsek menyodorkan setumpuk nota pembelian yang angkanya sungguh fantastis, tidak logis, dan berbau mark-up.

“Kenapa nggak dilaporkan kepada atasan atau siapalah yang menjadi pemimpin tertingginya sang kepsek itu?” kataku kepada seorang guru.

“Ah, selain malas terlibat dalam kasus-kasus seperti itu, kami juga agak takut Mas sama kesewenang-wenangan Pak Kepsek. Wah, bisa-bisa kami dipecat, Mas. Sudahlah, biar Tuhan sendiri yang mengurus kasusnya dan memberi balasan yang setimpal kelak di akhirat,” kesah sang guru.

“Tapi, kalau dibiarkan terus-menerus bisa berbahaya, Pak. Harus ada usaha dari Bapak dan teman-teman guru lainnya untuk menghentikannya,” ucapku, menimpali.

Memang, semua guru di sekolah itu terlihat masa bodoh dengan ulah “nakal” sang Kepsek. Mungkin juga memang takut pada risiko besar apabila mereka melaporkannya. Sepertinya hanya Pak Ijan, sang tukang kebun, yang sedikit berani kepada Kepsek. Pak Ijan memang tergolong orang yang “ndableg”, cuek, dan kalau ngomong selalu ceplas-ceplos.

Suatu hari, sang Kepsek membeli bis beton untuk pembuatan sumur dan septic tank sekolah. Dalam nota tertulis harga satuannya adalah Rp400.000,- Tapi, menurut pengamatan Pak Ijan, harganya tidak lebih dari Rp100.000 karena kualitas barang yang dibeli Pak Kepsek tergolong rendah.

Sedikit-banyak Pak Ijan memang mengetahui harga dan kualitas barang-barang bangunan karena dulu pernah bekerja sebagai tukang bangunan. Wajar jika kemudian Pak Ijan mencurigai ada praktik penggelembungan angka yang dilakukan oleh kepala sekolahnya.

***

Jam sekolah telah usai. Semua siswa kembali ke rumah masing-masing. Para guru pun bersiap pulang. Ada yang bersepeda kayuh, ada pula yang bersepeda motor. Hanya Pak Kepsek yang bermobil. Bahkan, ia sering gonta-ganti mobil mewah di sekolah.

Brrraaakkkkkkk….!!!

Tiba-tiba terdengar suara keras yang memeranjatkan. Para guru pun berhamburan ke arah suara. Ternyata suara itu bersumber dari mobil mewah Pak Kepsek yang membentur bis beton. Satu bis beton hancur berkeping-keping.

“Siapa yang seenaknya naruh bis beton di sini? Lihat, mobil saya lecet nih!” umpat sang Kepsek.

Bisa ditebak, tak ada yang berani menjawab. Semua diam. Tiba-tiba muncullah Pak Ijan sambil menyahut dengan tenang, “Untungnya itu hanya bis beton murahan, Pak. Coba kalau bis betonnya berkualitas dan benar-benar mahal, pasti yang hancur bukan bis betonnya, Pak, tapi mobil Bapak!”

Semua guru tersenyum menahan tawa. Sementara Pak Kepsek buru-buru masuk ke mobilnya sambil bersungut lalu melajukan mobilnya sekencang-kencangnya. ^_^


Diadopsi dari penuturan seorang guru
kepada penulis dengan sedikit perubahan.

gambar: roikansoekartun.blogspot.com
Tag : Kisah Lain
Comments
41 Comments
41 Komentar untuk "Pak Ijan dan Kepala Sekolah"

jadi yang berani negur pak kepsek cuma pak ijan aja ya mas....salut donk buat pak ijan, kayaknya pak kepsek ini memang harus lebih sering di tegur sama pak ijan nih, biar nggak makin menjadi-jadi kenakalan nya.

Mami Zidane @ Iya, Mami. Jadi, kesimpulannya, di sekolah itu atau bahkan juga di negeri dibutuhkan "Ijan-Ijan" yang laen agar ada yg mengontrol. hehe..

yang kaya gini nih yang merusak citra di sekolah, ada guru 'nakal' ada juga kepsek nakal.. cckck

NF @ Benar, merusak citra dan merugikan negara ya Mbak.

Memang seharusnya ada orang yang berani untuk berbuat dan mengingatkan kepada kepala sekolah, hanya saja cara pak ijan untuk mengingatkan kepala sekolah itu patut diacungi jempol hehe

mas, aku ada award buat sampeyan, silahkan ambil di blogku ya:)

Seagate @ Untung di negeri ini masih ada Pak Ijan ya, Mas. :-)

Seagate @ Hadeuuhh... maaf, rencana kemarin mau ambil awardnya, tapi blm sempet. Oke, deh, aku ambil sekarang deh Mas.

Kasihan ya sang kepsek; jika di dunia ini tidak ada yang mengingatkan, ia akan terus-menerus melakukan kesalahan. Semoga dengan sindiran Pak Ijan ia segera tersadarkan. Bila tidak, para guru harus melakukan sesuatu, malu ah... sama Pak Ijan, hehehe....

Komunitas Pendidikan Dotkom @ Benar banget. Sosok Pak Ijan memang sangat dibutuhkan. Walaupun beliau seorang tukang kebun atau cleaning service, tapi langkahnya patut diikuti.

Jadi ingat Kepsek anak nya seorang Sahabat yang menyalahkan wewenangnya.
Dilaporin para orang tua murid, sekarang jadi di Mutasi kedaerah sangat trpencil.
Nice artikel Kang, Salam

Blogspot Pemula @ Semoga pendidikan di negeri kita ini semakin maju, berkualitas, dan bersih dari sifat2 buruk seperti sang Kasek di atas ya, Kang.

wow :D kata-katanya itu loh, tepat sasaran!

Nurmayanti Zain @ Hehehe... iya, Mbak. Ketika saya mendengar langsung dari penuturan seorang guru yang terlibat langsung dalam "tragedi" itu, sontak saya langsung ketawa. Jiiiaann... pak Ijan memang dahsyat! ^_^

memang begitulah gambaran kehidupan sang pendidik kita

trims sharingnya:}

Muro'i El-Barezy @ semoga pendidikan di negeri ini tercerahkan dan dijauhkan dari praktik2 buruk seperti itu ya Mas.

hmm.. salam buat Pak Yitno yaa, mas..
titlenya banyaakk banget,, apa gak berat tuh.. hehe


salam kenal dari noorma.. ceritanya bagus..
nice :)

Saya salut dengan Pak Ijan. Sosok seperti dialah yang dibutuhkan Indonesia. Bukan para pecundang seperti para guru itu.

memang sudah lazim di Indonesia ini orang-orang masa bodoh dengan praktik nakal seorang oknum. Alasan klasiknya "itu urusan orang, jangan ikut campur"

Kunjungan siang mas
wah benar- benar bagus idenya pak ijan secara tidak langsung menegur kepada pak kepsek
hehehe

untungnya ada sindiran dari pak ijan, kalau gak ada mungkin dia gak bakal sadar dan terus berbuat yang bsa merugikan banyak orang. Yaa, gitulah kalau merasa pinter sendirian, apapun itu menganggap orang lain tdk lbh pinter dari pa kepsek... Cukup bsa di pahami kalo praktek seperti itu sudah bukan menjadi rahasia umum, terlanjur sudah menjadi budaya bangsa kita. Tau tuh masuk jadi PNS aja harus pke duit pelicin puluhan juta. Belum lagi ttg kelulusan sekolah, skripsi, masuk sekolah kepolisian, dan msh banyak lagi..##miris sekali

sebenarnya saya ingin tahu lanjutan ceritanya, setelah disindir Pak Ijan dan nggeblas dengan mobilnya, pak kasek sadar dan berubah jadi lebih baik atau tidak ya? tapi, apa pun, saya berdoa semoga ia sadar dan segera meperbaiki diri....

Waduhh salut buat Pak Ijan,watak seperti pak kepsek kok ya lumrah pada beberapa pejabat yang punya kesempatan curang ... semoga yang kita makan adalah makanan2 yang halal :)

hehe...
prof. Eko Budiharj (tanpa botolimo) pernah mengatakan kira2 begini, "saya itu kadang disebut-sebut sebagai budayawan. ah, tidak enak juga, sebab korupsi kini sudah jadi budaya."
dan sekolah, yang semestinya menjadi tempat penuh berkah telah dikotori dengan praktik-praktik nakal macam cerita manis di atas, bahkan secara berjamaah. meski jumplah yang dikorupsi barangkali tidak mencapai miliaran, tetapi karena itu dilakukan secara berkesinambungan dan istiqomah dan terjadi di mana2, maka kerugian negara bisa mencapai triliyunan.....

salam Gus IRham...

Hehehehe...makanye jangan korupsi ye...??!!

semoga pak Kepsek itu cepet2 sadar ya, sebelum mobilnya remuk bnran.. #eh.. hehehe..

Febriansyah Haq (Just Copy and Leave It!!!) @ Ini kisah nyata, asli, dan bukan fiktif, Mas. Hanya saja, demi menjaga kerahasiaan nama dan lokasi, sengaja saya kaburkan/samarkan atau saya ganti namanya, mas.

cah_kesesi_ayutea @ Hehe... itu cuma titel rekaan kok, Mbak. :-) oke, salam kenal balik ya. salam persaudaraan!

Lalu Abdul Aziz Mhd @ Semoga ada banyak Pak Ijan di negeri ini ya, Mas. amin

rizki_ris @ Kalimat Pak Ijan yang nyentil itulah Mbak yg bikin aku tertawa saat mendengar kisahnya dr seorang guru yg menuturkan peristiwa tsb. :-)

Yayack Faqih @ Kepiawaian Pak Ijan yang pandai membuat kalimat sindiran itu yg aku acungi jempol, Mas. Kalimat sindirannya singkat, sederhana, namun sangat mengena. :-)

Akhmad Muhaimin Azzet @ Informasi yg saya terima dari seorang guru di sana, sikap dan perilaku Pak Kespsek ternyata tdk berubah, Mas. Mari kita berdoa semoga dia jd lebih baik dan benar2 berkhidmah untuk kemajuan pendidikan anak bangsa.

Haya Nufus @ Nah, doa itulah yg selalu kita ucapkan, semoga makanan yg kita konsumsi dan rezeki yg kita dapatkan setiap adalah bersumber dari segala hal yg HALAL. amin

Cyberguru @ Wah, benar2 terkesima dengan ucapan Pak Eko : "saya itu kadang disebut-sebut sebagai budayawan. ah, tidak enak juga, sebab korupsi kini sudah jadi budaya." Memang ironis ya Mas apabila lembaga mulia bernama sekolah dicemari oleh praktik "nakal" seperti itu.

Fitrianto @ Hehehe... iye, Mas. Korupsi itu dose... :-)

covalimawati @ Hehehe... amin, semoga beliau cepet sadar. (sblm mobilnya ancur beneran:-)

wah tau rasa tu pa kepsek nakal.. hehe.

cerdas si tukangnya.. ga ngomong secara langsung tapi menyingung.

Peduli AlamKu @ hehehe... Kalo nakal, dijewer saja ya, Mas. Hehe

Cerita anak kost @ hehehe...iya, Mas. Sindirannya memang simpel, tp sangat menusuk ulu hati.

. . wha. . ha. . ha. . ha. . ha. . ha. . ha. . bener juga kata pak ijan. untung aja tuch hanya beton murahan. he..86x. haduchhhhhh,, para pejabat tinggi emank kayak gitu. seenak udelnya sendiri. bener kata orang^ "Orang pintar yg berjejer^ gelarnya emank banyak. tapi orang jujur hanya beberapa orang aja". smoga aja dech gak ada lagi orang kayak kepsek gitu. amieeennnn . .

♥VPie◥♀◤MahaDhifa♥ @ Hehehe... coba kalo betonnya yg bnr2 berkualitas dan mahal, pasti mobil pak kepsek tuh yg ancur ya. hehe... moga ke depan tdk ada lg yg sprti itu ya, Mbak. amin

Back To Top