Salah Tafsir Tentang Adil dalam Berpoligami

Adil, adalah salah satu syarat mutlak dalam berpoligami. Sebagaimana firman Allah swt, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Q.S. An-Nisaa` [4]: 3)

Ayat di atas menunjukkan adanya syarat berlaku adil terhadap para istri. Yang dimaksud berlaku adil di sini yaitu berlaku adil dalam perkara pembagian giliran dan nafkah. Adapun dalam hal kecintaan, syahwat, dan jima’, maka tidak wajib berlaku adil. Karena hal ini tidak akan mampu dilakukan oleh manusia. Begitu disampaikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan berpijak pada firman Allah swt:

“Dan kamu sekali-kali ridak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (Q.S. An-Nisa': 129)

Demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sementara itu, Yusuf Qardhawi mengatakan, “Dimakruhkan bagi orang yang mempunyai satu istri yang mampu memelihara dan mencukupi kebutuhannya, namun dia menikah lagi. Karena hal itu membuka peluang bagi dirinya untuk melakukan sesuatu yang haram.”

Terlepas dari polemik dan beragam penafsiran terhadap ayat tersebut, Pak Mahmudi yang sudah berpoligami tetap bertekat untuk berlaku adil terhadap kedua istrinya: Fathimah dan Hasanah. Fathimah adalah istri pertama, sedangkan Hasanah adalah istri kedua. Dan, Pak Mahmudi memang mengakui, ternyata untuk berlaku adil terhadap mereka berdua tidaklah mudah. Tidak jarang ketika Pak Mahmudi sudah berusaha sekuat tenaga untuk berlaku adil, ternyata kedua istrinya menangkapnya sebagai ketidakadilan.

Keadaan ini pula yang dialami Pak Mahmudi saat ia pergi haji bersama kedua istrinya tersebut. Saat di depan Ka’bah, dengan khusyuk Pak Mahmudi berdoa. Sementara kedua istrinya berdiri di samping kanan dan kirinya sembari mengamini doa suaminya.
Sebagai penutup doanya, Pak Mahmudi membaca doa sapu jagat:

"Robbana atina fiddun-ya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ....”
Belum selesai membaca doa tersebut, Fathimah, istri pertama, menyela: “Mas, kok hanya si Hasanah yang disebut, sedang aku nggak. Mentang-mentang dia istri muda. Ini nggak adil namanya,” ucap Fathimah ketus.

Karena bingung bagaimana menjelaskannya, akhirnya Pak Mahmudi meralat doanya:

"Robbana atina fiddun-ya hasanah wa fil akhiroti fathimah wa qina ‘adzabannar"
^_^
Tag : Warna-Warni
Comments
10 Comments
10 Komentar untuk "Salah Tafsir Tentang Adil dalam Berpoligami"

Kunjungan malam mas
waduh kalau doanya diganti faimah maknanya jadi apa mas?

@rizki_ris makasih kunjungannya Ris. klo gtiu maknanya jadi amburadul deh... hehe...cuma joke

intinya mas irham dukung poligami atau tidak mas? hehehehehe
ada rekan kerja saya poligami dengan alasan takut Zina dan selingkuh...wajajjaj

@widhi online Bagi saya, ini bukan perkara dukung-mendukung atau tolak-menolak, tapi perkara legal, sah, atau halal apa tidak.

Bagi saya, ini jelas legal, halal, dan sah. Adapun selanjutnya, bisa menjadi makruh atau bahkan haram, atau bisa hukum lain, bergantung dgn reason ('illat, alasan, atau motivasinya).

Hehehehe.... jadi saya tidak mendukung (mengampanyekan) juga tidak menolak, Mas. hehehe

Aslm mas Irham... kunjungan balik ke rumah mayamu dan trims sudah follow my virtual corner yaaa...

membaca tulsanmu membuat alisku sedikit bertaut, namun paragraf pamungkasnya sungguh membuat tawaku berderai....

no comment lagi deh untuk tulisan diatasnya, apalagi protes... hehe.. setiap insan dewasa punya hak untuk memilih langkah apa yang akan dilakukannya toh?

thanks untuk kalimat pamungkasnya yang telah mencerahkan pagiku... :)

salam kenal dan followed you back. Have a great day!

Hahahaha... Fatimeh cemburuuu :D

@alaika abdullah Makasih atas kunjungan sang jurnalis dan penulis ternama, Sobat alaika abdullah. Tentang paragraf2 awal, tak perlulah aku turut mengomentari dan memperpanjang perdebatan yang sampai detik ini seolah sengaja dibuat tdk berujung.

Yg pokok, yg perlu saya tanggapi balik, ternyata sdh menjadi fitrah manusia termasuk Fathimah memiliki rasa cemburu. Akhirnya, jadilah doa nyleneh tersebut. hahaha

@Naya Elbetawi Hahaha... semakin menegaskan bahwa Fathimah tetaplah manusia yg memiliki rasa cemburu. hehehe...

iya neh sob, jd ngeh lg tentang poligami nih...

@outbondmalang Semoga bisa dipetik ibrah atau pelajarannya ya Sob

Back To Top