Cukup Tiga Ikan Saja

Adalah Han, seorang yang menyebabkan keheranan turis-turis yang sering datang berlibur di sungai yang mengalir jernih membelah perbukitan indah itu. Karena desa yang ia tinggali tak jauh dengan sungai itu maka Han melengkapi kebutuhan lauknya dengan memancing ikan di sungai tersebut. Namun, ikan yang dibawa pulang Han tak pernah lebih dari tiga ekor.

“Aku heran dengan apa yang bapak lakukan. Ba­pak aneh sekali!” kata seorang wisatawan suatu ketika kepadanya.

“Aneh..?” balas Han, “Apanya yang aneh?”

“Aku perhatikan sejak beberapa minggu lalu saya datang dan berkemah di tempat ini, Bapak selalu pulang hanya dengan tiga ekor ikan di tangan. Padahal, saya lihat sendiri dengan mata kepala saya, Bapak mendapatkannya lebih dari jumlah itu. Tapi, melepaskannya begitu saja.”

“Oh…itu,” kata Han. “Apakah hal tersebut aneh?” tanya Han. “Saya kira tidak kok.” Buru-buru ia men­jawab sendiri pertanyaannya.

“Iyalah…mestinya Bapak membawa pulang semua ikan yang berhasil Bapak dapatkan. Atau, menjualnya ke pasar. Kan, dengan begitu Bapak bisa cukup memper­oleh uang.”

“Ha...ha...ha...,” Han tertawa geli. “Buat apa uang? Mau membeli apa di tempat seperti ini. Alam te­lah me­nyediakan segalanya bagi kami. Dan, itu sudah cukup. Asal kita menjaganya dengan baik, alam akan bersahabat dengan kita. Makanya, cukup tiga ikan yang aku bawa pulang. Ya, karena kebutuhanku hanya sekadar itu. Aku tinggal bertiga di rumah kayu kami yang sederhana, aku, istriku, dan anakku. Sungguh, tanpa memiliki cukup uang pun, aku telah merasa kaya dan bahagia. Aku mensyukuri semua kemurahan Ilahi ini.”

Semakin terheran-heran saja wisatawan dari kota tersebut dengan kedalaman berpikir Han dan kebijak­sanaannya menjalani hidup.

***
Bersyukur setiap hari, semakin memberi kita peluang
untuk menikmati pemberian Ilahi.
***

Bersyukur dan bersyukur, itulah yang akan men­jadi­kan manusia bahagia. Menjadi kaya yang sesung­guh­nya. Syukur akan menghindarkan kita dari keingin­an rendah memiliki apa yang bukan menjadi hak kita, serakah dan rakus. Orang berharta yang masih memendam keinginan besar memiliki segalanya de­ngan cara-cara tidak terpuji, pada hakikatnya ia adalah miskin. Bagaimana dikatakan kaya kalau ternyata masih berhasrat besar pada segala macam benda. Pada­hal, andai ia telah kaya dalam arti yang sebenarnya, segala harta benda di dunia telah berada di tangannya. Seharusnya ia tak lagi berhasrat untuk itu.

Nafsu dan syahwat kebendaan akan tetap meng­goda anak manusia. Maka dalam hal ini, mereka yang mampu mengendalikan nafsu keserakahannya terhadap harta, mereka itulah golongan orang kaya yang sejati. Mereka memosisikan harta bukan sebagai tuan, tetapi merekalah tuan harta tersebut. Oleh karena itu, ukuran kekayaan bagi mereka tak lagi soal seberapa besar me­reka berhasil mengumpulkan harta dunia, tetapi se­berapa besar harta yang mereka sedekahkan.

Ukuran mereka tentang kekayaan sangat berbeda dengan yang dipakai orang pada umumnya. Dan, itu mereka dapatkan dari sabda agung kekasih mereka, “Barangsiapa tidur dengan tenang di tempat tidurnya, sehat badannya, memiliki jatah makanan pada hari itu maka ia seolah-olah merasa mendapatkan dunia dengan seluruh kenikmatannya.” (H.R. Tirmidzi)

Nah, bagaimana konsep kekayaan atau orang kaya menurut Anda?


Dikutip dari buku karya sahabat saya, Bilif Abduh, S.S.
Judul: The Power of  POSITIVE THINKING for Islamic Happy Life
Penerbit: Citra Risalah, Yogyakarta
Harga: Rp 24.000


Ingin memiliki buku tersebut? Dapatkan di Toko Buku Gramedia terdekat. Jika kesulitan, saya siap membantu mendapatkannya dan mengirimnya ke alamat Anda. Anda bisa menghubungi saya di email irhamshohiby80@yahoo.com atau via facebook Babahe Rusyda Neswa.

Gambar: cicykasih.wordpress.com
Tag : Hikmah
Comments
20 Comments
20 Komentar untuk "Cukup Tiga Ikan Saja"

selamat siang mas..
Saya selalu berdecak kagum setelah membaca post dari mas irham.
Sangant inspiratif sekali,seandainya 25 % saja penduduk di Negeri ini mencontoh si Han,pastinya akan jauh lebih baik...
Nice share mas.

@de hoppus Sebelumnya saya sampaikan makasih banyak Mas atas atensinya di blog sederhana saya. Tentang si Han, ya dia memang istimewa dan patut dicontoh. Kebersahajaannya, penghargaannya terhadap alam, ketidaktamakannya, serta rasa syukurnya, benar2 inspirasi cemerlang untuk kita teladani.

Nice story mas, penuh dengan pesan moral yang mendalam. Bersyukur itu kata kuncinya, sesuai janji Allah..lain syakartum la azidannakum, kalo kita mau syukur niscaya allah akan menambah nikmat kita :)

subhanallah....
sudahkah kita bisa menjadi semacam Han
bersyukur dan bersyukur
sungguh, inilah kunci bahagia
duhai jiwa yang senantiasa dahaga
cukuplah, saatnya bersyukur
dan bahagia selamanya

@Seagate Benar sekali, mas. bersyukur itulah yg harus kita pupuk dan selalu kita hidupkan agar Allah senantiasa menambah kenikmatan kepada kita, sebagaimana penggalan ayat yang Mas Seadate sampaikan.

@Akhmad Muhaimin Azzet "sungguh, inilah kunci bahagia
duhai jiwa yang senantiasa dahaga
cukuplah, saatnya bersyukur
dan bahagia selamanya."

Bagian inilah yang menyentil kita agar tersadar dari kekufuran kita atas nikmat2 Allah SWT. Aku suka sekali bagian itu, mas. :-)

kaya itu kuncinya ada di hati...iya kan mas irham..?

@Mami Zidane Leres sanget alias benar sekali, Mami. Kata ustadz saya, "Al-ghina ghinan-nafsi (kekayaan sejati itu adalah kekayaan jiwa/hati)." makasih kunjungan Mami di blog sederhana saya. Salam persaudaraan.

waaaa.. dihapus kok masih muncul namanya ya, hihihii...
iya nacep di hati, lha d2 malah gk perhatiin namanya, hehehe

@Bunda Hehehe... idem, saya juga tidak merhatikan. Karena ide cerita lebih mengena drpd sekadar nama. betul...?

Kunjungan dini hari mas
maaf ya baru berkunjung
manusia memang tidak pernah puas ya masdengan harta yang mereka punya
padahal pada saat meninggal tidak akan dibawa

@rizki_ris Alhamdulillah, setelah lama ga nongol, akhrnya nongol juga. hehe... **padahal aku sendiri jg lama ga blogging. Maklum, buruh, kerjaannya selalu numpuk.

Tentang ketidakpuasan manusia, yach begitulah yg namanya manusia, Mbak. Semoga kita bisa meredamnya.

mantap ni gan filosofinya, cukup tiga ikan saja. di jama sekarang sudah susah seperti itu, paradigmnya berubah. klo kita ga ngambil, ya diambil orang. akhirnya kita mengambil sebanyak banyaknya yang kita bisa bawa. akhrinya rusak lah keseimbagan alam ini, jumat yang indah dengan renungah yang mantap.

kalau di jepang sedang musim orang yang di kota pada pindah profesi menjadi petani dll kembali ke desa, karena disitulah letak kebahagiaan dapat diraih.
banyak orang yang sudah dibutakan dengan harta, jadi sulit untuk menikmati kehidupan yang sesungguhnya :)

mantebss mas...dengan bersyukur hidup akan merasa tenang, yakinlah bahwa Allah sudah membagi rezeki kepada tiap manusia sesuai dengan kadarnya...:)

@cerita anak kost Begitulah Sobat, sedikit gambaran keserakahan manusia. Semoga kita bisa terhindar darinya. Salam kenal dan salam persaudaraan, Kawan.

@HEЯRY Paragraf pertama tentang orang Jepang, sungguh menjadi pelajarn penting bagi kita yg justru membanggakan penggusuran tanah dan lahan pertanian demi berdirinya gedung2 megah.

Paragraf kedua, sungguh memancarkan pencerahan ttg bgmna menikmati hidup ini.

mantaPPP mas, makasih banyak.

@Muro'i El-Barezy Ketenangan melalui jalan bersyukur inilah yg sepertinya telah menjadi barang langka. Semoga kita bagian dari manusia2 langka tersebut. :-)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya," (Hud: 6)

Subhanallah mantap sekali... kisah yang memberi motivasi dan betapa harusnya kita bersyukur dan menjaga bumi ini.. sangaaat bagus sob :D.
salam kenal

@Asalasah Yups, benar sekali, Sob. dua kata kunci itulah yg selayaknya kita lakukan: bersyukur & menjaga alam/bumi.

Back To Top