Majelis Taklim "Angkringan Mbok Darmi"

Pukul 11:30 WIB.
Di kantor redaksi Neo Media.


Ruangan yang semula senyap seketika riuh oleh obrolan-obrolan ringan dan canda renyah rekan-rekan kerja. Ada kepenatan yang tersisa di wajah mereka. Juga kelelahan yang tergurat di mata mereka. Maklum, sudah 3 jam lebih 30 menit sejak pukul 08:00 WIB mereka berjibaku dengan layar komputer. Menyunting naskah, menyetting dan me-layout buku, hingga mendesain cover atau sampul.

“Mau makan di mana nih?” seorang kawan melempar pertanyaan.

“Kangen Ndeso saja yuk!” usul Kang Fadhil, sang desainer cover.

“Wah… wah… wah…, Kang Fadhil ini ngajak kita kere. Tanggal tua begini malah ngajak makan di Kangen Ndeso,” cetus Mas Hadi, sambil menepuk-nepuk kantong belakang celananya yang tidak lagi gemuk.

Kangen Ndeso memang tergolong rumah makan elit. Walaupun berada di tengah perkotaan, namun desainnya sengaja dibuat khas pedesaan. Ada sungai buatan yang mengalirkan air jernih nan segar. Ada gubuk-gubuk bambu tempat para pengunjung makan dan menikmati suasana pedesaan.

Menu di sana juga terbilang lengkap dan menggoda selera. Gurameh bakar, Nila bakar, ayam kampong panggang, bebek goreng selera pedas, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan oseng-oseng kangkung, sambel terong bakar, atau sambel welut yang pedasnya nendang banget. Minumannya pun tak kalah unik. Ada jahe pandan, es beras kencur, es temulawak, asam jawa, dan lain-lain. Benar-benar mengundang selera!

Sebetulnya Kangen Ndeso memang tepat dan cocok buat kami melepas lelah setelah sekian jam bekerja. Namun, seperti yang dikatakan Mas Hadi, waktunya tidak tepat. Mana mungkin di tanggal tua seperti ini kami dapat membayar makanan yang serba mahal itu. Alih-alih makan di Kangen Ndeso, sekadar buat beli sabun mandi saja kami harus berpikir ulang seribu kali.

Kang Fadhil terdiam sejenak lalu mengedarkan pandangan kepada kawan-kawan yang lain. Dari mata dan wajah mereka dapat terbaca jelas gambaran kondisi yang sama sebagaimana diutarakan Mas Hadi: LAGI BOKEK!

Yo wes, kalau begitu kita makan di angkringan Mbok Darmi saja,” desah Kang Fadhil.

Akhirnya, kami pun maksi alias makan siang di angkringan Mbok Darmi. Cukup dengan Rp 4.000, perut jadi kenyang dan mulut pun merdeka untuk bersendawa.


***
Di angkringan Mbok Darmi.

Seperti layaknya warung makan, ada banyak lalu lintas perbincangan yang meriuhkan suasana. Dari perbincangan ringan sampai pembicaraan-pembicaraan berat. Bahkan, tidak jarang pembicaraan yang sifatnya rahasia pun dilakukan di sana. Seperti pembicaraan Mbok Darmi dengan sepasang suami-istri, siang itu. Sungguh aku tidak berniat mencuri dengar pembicaraan mereka. Tapi karena mereka duduk di bangku yang tidak jauh dariku maka secara otomatis aku bisa mendengarnya.

“Aku bingung, Mbok,” terdengar suara lirih dan tertahan dari wanita lawan bicara Mbok Darmi.

“Bingung kenapa, Zah?” tanya Mbok Darmi dengan suara lembut keibuan.

“Kemarin Paklikku nelpon mau pinjam uang 5 juta,” terang wanita yang dipanggil Zah oleh Mbok Darmi. Mungkin namanya Azizah, Faizah, Fauziah, atau Halizah. Yang pasti mustahil nama wanita cantik itu adalah Jenazah, karena jenazah artinya adalah mayat atau orang yang sudah meninggal.

Ah, sudahlah, what’s in a name? Apalah arti sebuah nama? Begitu kata sang pujangga William Shakespeare. Yang jelas dan aku dengar, Mbok Darmi memangglinya “Zah", seorang wanita yang datang ke angkringan itu dengan membawa beban hidup yang ingin ditumpahkan.

“Apa yang kamu bingungkan? Kalau memang kamu punya uang, ya sebaiknya ya dipinjami. Kalau tidak punya, ya bilang saja tidak punya,” saran Mbok Darmi.

Suami Zah yang sedari tadi banyak diam, kini ia pun ikut bersuara. “Sebetulnya ada Mbok. Kebetulan bulan ini kami dapat rezeki. Jumlahnya pas 5 juta seperti yang diharapkan Paklik saya. Tapi…” suami Zah ragu  melanjutkan.

“Tapi kenapa, Man?” sahut Mbok Darmi.

“Tapi, secara bersamaan di bulan ini ada kewajiban lain yang harus kami bayarkan, Mbok. Yang pertama membayar hutang kami kepada Pak Haji Abdullah. Dari 45 juta hutang saya, baru terbayar 12 juta. Sudah 2 tahun lalu saya hutang kepada Pak Haji buat mbangun rumah,” terang lelaki yang dipanggil Man oleh Mbok Darmi.

Sepasang suami-istri nan bersahaja itu memang terlihat kompak, harmonis, dan saling mengisi. Seusai Man memberikan penjelasan itu, Zah lalu menimpali, “Iya, Mbok, rencananya uang 5 juta itu mau kami bayarkan kepada Pak Haji, tapi setelah dapat telpon dari Paklik kemarin kami jadi bingung. Apakah uang tersebut harus kami bayarkan ke Pak Haji atau kami pinjamkan dulu ke Paklik. Masalahnya, Paklik saya itu dulu yang selalu membantu hidup saya. Giliran sekarang dia butuh bantuan, masak kami tidak bantu.”

“Ya dibagi dua saja, buat Pak Haji dan Paklikmu. Masing-masing 2,5 juta,” saran Mbok Darmi.

“Tapi masalahnya bukan cuma itu, Mbok,” sahut Zah, “Masalah yang lain juga mengusik pikiran kami. Di saat yang sama, Mas Man kepingin juga membelikan aku motor karena di rumah cuma ada satu motor. Bagaimana aku bisa pergi berbelanja atau mengantar anak-anak ke sekolah, sementara motor cuma ada satu dan itu pun dipakai Mas Man bekerja.”


“Waaaahh, kalau seperti itu masalahnya, ya gunakan rumus prioritas, Zah. Semua hal tadi memang penting, tapi dahulukanlah yang paling penting dan paling wajib untuk kamu penuhi lebih dulu. Manusia cerdas tentu akan mempertimbangkan faktor prioritas! Jadi, dahulukan bayar hutang kalian dulu! Untuk mengantar si Ipul, anakmu, ke sekolah, sementara bisa pakai sepeda onthelku dulu.” Mbok Darmi memberi petuah.

Aku yang duduk tidak jauh dari mereka membatin dalam hati, “Ternyata Mbok Darmi memang sosok orangtua yang teduh dan bijaksana. Sungguh beruntung di tengah acara makan siang, bukan hanya makanan dan minuman yang aku rasakan, melainkan juga tausiah dan petuah yang mencerahkan."

Aku lirik mereka sebentar. Ada ekspresi yang berubah dari wajah Mas Man dan Zah. Ada gejolak emosi yang tersumbat. Namun akhirnya pecah juga emosi itu. Pecah dan tumpah.

“Ya Allaah, ini tidak adil! Tidak adil!” pekik Mas Man, menumpahkan emosinya.

Buru-buru Mbok Darmi menenangkan, “Tidak adil gimana, Man? Apanya yang tidak adil? Utang itu kan wajib dibayar. Jadi, ya sudah semestinya kaulunasi dulu baru kemudian kau puaskan syahwat-syahwat duniamu, termasuk beli motor tadi.”

Zah, yang dari wajahnya dapat aku ketahui kestabilan emosinya, buru-buru menjelaskan kepada Mbok Darmi maksud dari keluhan suaminya. “Gini lho, Mbok. Mas Man ini mengumpat dan menumpahkan emosi bukan karena petuah Simbok. Tapi karena dia mengutuk ketidakadilan di keluarganya.”

“Maksudmu apa, Zah?” Mbok Darmi masih tidak mengerti.

“Ceritanya gini, Mbok,” Zah mencoba menjelaskan, “Saudara Mas Man ini kan ada enam. Dua orang kakaknya dan tiga orang adiknya, semua hidup berumah tangga dengan fasilitas dari orangtuanya. Masing-masing menguasai harta kekayaan orangtua, dari sawah, kebun salak, sampai warung makan pun dikuasai mereka. Bahkan, kendaraan yang murah sampai yang mewah juga dimiliki mereka. Sepeda angin, sepeda motor, sampai mobil, mereka kuasai semua."

"Benar apa yang dikatakan istri saya, Mbok. Sungguh ini tidak adil! Dulu aku punya dua motor. Yang satu aku beli dari keringatku sendiri, sedangkan yang satu pemberian dari orangtuaku.. Tapi, yang jatah dari orangtua sekarang malah dikuasai oleh Mas Bromo, kakakku yang pertama. Jadi sekarang cuma ada satu motor, Mbok. Zalim ini, Mbok. Zaliiimmm..."

“Weleh… weleh…, orang sudah dewasa kayak kalian ini kok ya masih memelihara iri dan dengki. Percayalah sama Simbok, kebahagiaan itu bukan karena kalian dapat fasilitas ini dan itu. Tapi kebahagiaan itu akan muncul dengan kuat kalau kalian bisa memenuhi titah dari Tuhan berupa kewajiban-kewajiban. Sebagai suami, sudah sewajibnya lelaki mencari nafkah untuk anak istrinya. Sebagai istri, sudah semestinya pula mensyukuri setiap hasil kerja keras suami. Kalau menurut kalian ini ketidakadilan Tuhan, justru menurut Simbok di sinilah letak keadilan-Nya. Allah sebetulnya akan memberi pahala yang lebih besar kepada kalian lewat cucuran keringat kalian. Andai kalian hidup suka-suka dengan pemberian atau warisan orangtua, bagaimana mungkin kalian akan mendapatkan pahala agung dari cucuran keringat itu?”

Zah dan Man terdiam. Sepertinya mereka merenungkan dan meresapi petuah Mbok Darmi. Entah mengapa, petuah Mbok Darmi menghunjam pula ke dadaku. Begitu dalam dan mengaduk-aduk pikiran.

“Zah… Man…, waktu Simbok memutuskan menikah dengan Pakdhemu, sejak itu Simbok dan Pakdhemu langsung bertekad untuk hidup mandiri tanpa harus mengharap apa pun dari kekayaan orangtua kami. Itu namanya tamak. Dosa! Sudahlah, bersihkan hati kalian. Jangan kotori dengan iri dan dengki, juga tamak. Makanlah dan penuhilah kebutuhan kalian dengan keringat kalian sendiri, pasti dijamin puas dan membahagiakan. Kalau masih ada iri dan dengki, juga tamak, hati kalian pasti akan terus-terusan sakit. Tertekan. Intinya, kamu penuhi kewajiban kalian dulu. Yang primer dulu, baru sekunder, lalu tersier.”

“Nggih, Mbok,” terdengar Zah dan Man mengiyakan dengan suara lirih. Dalm hati, aku membatin, gaul juga nih Mbok Darmi sampai tahu bahasa-bahasa ilmiah juga.

“Mulai sekarang, kalau mau mengeluh dna mengadukan kedengkian juga ketamakan kalian, langsung saja kepada Gusti Allah. Jangan asal kamu sebar-sebarkan seperti ini, apalagi ke orang lain. Bisa nambah dosa lho.”

“Orang lain siapa, Mbok?” mas Man buru-buru menyahut, "Kami kan cuma curhat kepada Simbok."

Mbok Darmi tidak langsung menjawab, tetapi dengan melempar sedikit lirikan kepadaku, Zah dan Man tentu mafhum bahwa akulah orang lain yang dimaksud. Sontak aku tersipu malu, lalu buru-buru membayar menu yang telah aku santap siang itu. Kemudian berbaur dengan teman-teman kerjaku yang menyantap menu siang mereka di bawah pohon jambu, sebelah rumah Mbok Darmi.

Benar-benar dahsyat, cukup Rp 4.000 perut ini jadi kenyang. Ditambah siraman rohani dan motivasi hidup, angkringan Mbok Darmi tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mencerahkan hati. Bermanfaat dunia dan akhirat.

Sampai cerita tentang mereka ini aku tulis, aku masih belum mengetahui nama suami Zah yang sesungguhnya. Man = Budiman, Rohman, Suparman, Superman, Batman, Siluman, atau bahkan DoraeMan.

***

Angkringan Mbok Darmi, Jum’at 20 Januari 2012
Sumber gambar: wibirama.com
Tag : Rumah Tangga
Comments
4 Comments
4 Komentar untuk "Majelis Taklim "Angkringan Mbok Darmi""

Kulo remen niki, kedah disumebarke. Ajib bnget.

Nah... Ini yang saya cari...pokokna yang berbau angkringan saya suka.. Di angkringan selalu ada obrolan.. Dan yang pasti tambah ilmu...

@Anonim Alhamdulillah, terima kasih. Semoga bisa menjadi teguran dan pengingat buat kita.

@Anonim Angkringan memang mengasyikkan sekaligus merakyat...

Back To Top