Kontrak Politik dengan Tuhan

Apa yang Anda cermati saat menjelang pemilu tiba? Kebanyakan dari Anda tentu akan menjawab dan mengidentikkan pemilu dengan politik uang (money politic). Ya, karena memang itulah yang terjadi di negeri ini. Politik uang, suap sana-suap sini, sogok sana sogok sini, seolah menjadi ritual wajib yang mesti dilakukan.

Politik uang bisa dibilang merupakan pengejawantahan dari transaksi bisnis juga kontrak politik, karena memang ada unsur kepentingan serta untung-rugi di sana. Sang caleg (calon legislatif) memberi angpao kepada masyarakat sebesar Rp 20.000 – Rp 50.000 dan mengaspalkan jalan desa setempat, tetapi sebagai imbalannya masyarakat harus memilih sang caleg agar menjadi anggota dewan. Begitulah sedikit gambaran bisnis dan kontrak politik antara sang caleg dan masyarakat.

Ketika ditohok dengan pertanyaan, “Anda melakukan money politic, ya?” Dengan style santun mereka menjawab, “Oh, tidak! Itu bukan money politic. Itu bukan suap. Tapi murni karena kedermawanan saya. Aksi sosial saya. Benar-benar lillahi ta’ala.”

Hmmm…. Kalau memang lillahi ta’ala, kenapa hanya menjelang pemilu mereka dermawan? Semua orang, bahkan monyet pun, tidak akan percaya dengan topeng kedermawanan itu.

Saya masih ingat salah satu warta di suatu surat kabar harian di Jogja pasca-pemilu yang lalu. Warta yang sangat mengiris hati. Di sana diberitakan ada seorang caleg meminta kembali karpet yang pernah ia sumbangkan kepada masjid. Pemicunya, sang caleg marah dan kecewa karena mayoritas warga di kampung masjid itu tidak memilihnya, padahal sumbangan sudah ia gelontorkan.

Dalam hati saya mengumpat, “Uediaaannn tenan caleg iki, alias gila bener nih si caleg. Apa ia lupa bahwa harta kekayaannya itu sejatinya adalah pemberian Allah? Tetapi, mengapa kepada Allah, Sang Yang Memberi rezeki, ia justru berbuat bakhil dan zalim seperti itu?”
***



Selain dermawan, perilaku para caleg pun mendadak berubah. Sekonyong-konyong mereka menjadi manusia yang saleh dan rajin beribadah. Mereka yang dulunya jarang atau bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di masjid, secara tiba-tiba menjadi aktif atau bahkan terdepan di masjid. Mereka yang dulunya jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali sowan kepada ustadz atau kiai, seketika menjadi jadi rajin sowan ke sana kemari. Hanya dalam hitungan hari mereka mendadak menjadi dahsyat seperti itu.

Menjadi saleh memang tidaklah salah. Menjadi rajin beribadah juga bukan hal yang keliru. Justru menjadi saleh dan rajin beribadah adalah kewajiban yang harus diwujudkan. Perubahan mereka menjadi saleh dan rajin beribadah sebetulnya merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Namun sayangnya, perubahan itu kerap kali hanya berlangsung teramat singkat. Seiring dengan berlalunya masa pemilu, berlalu pula kesalehan mereka. Mereka kembali menjadi “manusia normal”. Normal yang saya maksud adalah kembali seperti sedia kala, yakni tidak lagi saleh, tidak lagi dermawan, juga tidak lagi terdepan dalam kebaikan.

Saya menyaksikan sendiri, betapa larisnya para tokoh agama dan kiai menjelang pemilihan umum itu. Mereka diburu oleh banyak orang yang mempunyai kepentingan politik. Tujuannya adalah sama, yakni minta dukungan, minta didoakan, juga minta amalan agar terpilih jadi DPR dalam pemilihan legislatif atau jadi bupati dalam pemilihan kepala daerah (pilkada).

Tidak jarang dalam aksi sowan mereka itu, dibumbui janji-janji manis, semisal kalau terpilih menjadi DPR atau bupati maka pondok pesantren atau yayasan sang kiai akan dibantu dibangun lebih megah dengan fasilitas yang serba mewah. Jika kegemaran dan kesalehan ini hanya bersifat sesaat, yakni saat pemilu saja, berarti sesungguhnya mereka tidak sedang berbuat saleh berderma dan berdoa, tetapi sedang mengajak Allah untuk berbisnis atau sekadar menjadikan Allah dalam barisan Tim Sukses sang caleg tersebut. Karena ketika sang caleg atau cabup itu berderma dan berdoa, yang terselip dalam hatinya bukanlah penghambaan yang tulus melainkan bisnis dan kontrak politik. Misalnya, terselip ucapan berikut.

  •  “Ya Allah, aku dermakan ratusan juta uangku, tapi Kamu harus menjadikan aku sebagai anggota DPR lho!”

  •  “Ya Allah, melalui shalat dan doa ini, aku mengajak-Mu untuk menandatangani kontrak kerja sama yang saling menguntungkan. Engkau untung karena aku sembah, dan aku pun untung karena Engkau pilih menjadi bupati!”

Itulah bisnis dan kontrak politik yang tidak sepatutnya diucapkan. Sebab, mustahil Allah itu membutuhkan yang lain. Allah tidak butuh apa pun dari makhluk-Nya. Tidak butuh dipuji. Tidak butuh disembah. Juga tidak butuh dibela. Karena, tanpa semua itu, selamanya Allah tetap sebagai Tuhan Yang Mahaperkasa tanpa membutuhkan apa pun dari selain-Nya.

Begitu pula ketika minta didoakan ulama atau kiai, jika hanya demi kepentingan sesaat, sesungguhnya ia tidak sedang ta’zhim kepada ulama atau kiai. Juga tidak sedang tabarukan atas doa ulama atau kiai, melainkan sekadar menjadikan ulama atau kiai sebagai kurir politik demi kepentingan kursi politiknya.

***



Sampai di sini, apakah Anda girang karena telah berhasil mengkritik perilaku para caleg atau cabup? Saran saya, janganlah girang dulu. Cobalah berintrospeksi, apakah selama ini sesungguhnya kita telah mengabdi kepada Allah dengan tulus dan ikhlas. Atau jangan-jangan kedermawanan dan kesalehan kita selama ini pun tidak jauh berbeda dengan perilaku sang caleg atau cabup itu; sama-sama sarat kepentingan sesaat dan perhitungan untung-rugi.

Bagi adik-adik yang akan mengikuti Ujian Nasional atau Ujian Akhir Sekolah, cobalah merenung, apakah doa khusyuk kalian hanya terjadi saat menjelang ujian ini? Dan, apakah dalam shalat dan doa kalian terselip ucapan ini?

  •           “Ya Allah, hari ini aku telah berdoa dan beribadah seharian kepada-Mu. Seharian berdoa dan beribadah itu sangat melelahkan lho, ya Allah. Karena itu, Kamu harus meluluskan aku dalam ujian nasional besok. Kalau tidak, awas Kamu!”

Begitu juga para pedagang yang hampir gulung tikar, petani yang sawahnya selalu puso, dan yang lainnya, cobalah pula berintrospeksi, apakah dalam kedermawanan dan kesalehan berjalan sesaat dan terselip ucapan berikut ini?

  •         “Ya Allah, setiap malam saat semua mata terpejam aku bangun untuk shalat Tahajud dan berdoa kepada-Mu. Semalaman berdoa dan beribadah itu sangat melelahkan. Karena itu, Kamu harus melancarkan perniagaanku, pertanianku, karier guru atau dosenku, dan sebagainya. Kalau tidak, berarti Kamu telah melanggar aturan bisnis dan kontrak kerja sama denganku!”

Jika kesalehan kita hanya berlangsung sesaat dan saat darurat, atau jika dalam shalat dan doa terselip kontrak-kontrak bisnis sebagaimana ucapan di atas, maka beristighfarlah karena ternyata perilaku kita pun tidak jauh berbeda dengan sang caleg atau cabup tadi. Shalat, doa, dan kesalehan-kesalehan lainnya ternyata hanya kita dudukkan sekadar media untuk berbisnis dan melakukan kontrak politik dengan Allah.

Duh, betapa zalimnya kita mendudukkan Allah setara dengan makhluk-Nya: sekadar sebagai partner bisnis atau Tim Sukses semata! Lalu di mana keikhlasan kita? Di mana ketulusan kita dalam beribadah dan berbuat saleh?

Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih. Aku memohon ampunan kepada Allah, dan aku pun bertobat kepada-Nya.

Nabi saw telah bersabda, “Barangsiapa menginginkan Allah mengabulkan doanya pada saat-­saat sempit dan sulit, hendaklah ia memperbanyak berdoa pada saat-saat lapang.” (H.R. Tirmidzi dan Al-Hakim)


Kebon Sengon, 23 Januari 2012
11.25 WIB
sumber gambar: http://rektivoices.wordpress.com
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Kontrak Politik dengan Tuhan"

Back To Top