Refleksi Getir Menyambut "Indonesia Raya"







17 Agustus tahun ini, bangsa genap berusia 62 tahun. Selam itu pula kita selalu menggelar rutinitas dan “ritualitas” tahunan, dari upacara bendera hingga syukuran kemerdekaan. Para penghuninya, dari pemimpin hingga rakyat jelata, bahkan sampai para narapidana sangat menantikan kedatangan hari yang menjadi momentum "grasi" peringanan derita nestapanya. Dengan wajah berseri-seri dan riang gembira anak-anak negeri disibukkan dan dihibur oleh pesta permainan rakyat.

Tema-tema kemerdekaan terus berganti tahun ke tahun dan jumlahnya sebanding dengan usia kemerdekaan itu sendiri. Dengan paduan kata-kata syarat dengan nilai patriotisme dan nasionalisme yang disinari riligius, terangkailah tema bak syair pujangga. Tema-tema yang ditujukan untuk menggugah harapan dan optimisme menatap "Indonesia Raya"

Entah apa yang telah terjadi di negeri yang kaya raya ini. Kekayaan alam tidak punya korelasi dengan kesejahteraan penghuninya. Inilah negeri yang aneh tapi nyata. Dimana-mana anak negeri hanya menjadi kuli di negeri sendiri, menjadi hamba sahaya di negera tetangga.

Negeri yang dikenal damai permai seakan hanya menjadi dongeng untuk anak cucu nanti, tatkala disana sini timbul pertikaian demi pertikaian, kerusuhan dan tawuran yang menghiasi wajah negeri. Entah apa yang merasuki anak bangsa ini. Sepertinya tidak ada ikatan saudara diantara sesama, hujat-menghujat, caci-maki, sikut-menyikut, bahkan saling membunuh menjadi hal yang terbiasa. Persaingan kepentingan seringkali melahirkan persengketaan. Rasa kebersamaan sebagai warga negara lambat laun mengalami erosi. Sudah sedemikian terpurukkah nasionalisme sebagai rasa emosional bangsa ini?

Sekian tahun lamanya bangsa ini mengembara entah kemana, telah jauh menerawangi hidup mencari jati diri diatas kepribadian yang sesungguhnya. Jalan-jalan kebenaran yang dulu pernah tertanam kuat dalam diri, sekarang hanya berwujud carikan-carikan kecil yang sulit untuk difahami dan dimengerti secara utuh. Sehingga kebenaran dan keadilan ditafsirkan berbeda-beda sesuai dengan selera manusia yang menghendakinya.

Negeri yang terkenal santun dan religius, sangat menjunjung nilai-nilai ketimuran, sarat dengan keagungan adat-istiadat, memiliki tingkat toleransi yang tinggi; namun beberapa tahun terakhir kita seakan telah jauh meninggalkan nilai-nilai yang telah menjadi bagian dari jati diri bangsa yang telah mengakar. Eksperimen dari kebebasan yang dilakoni seakan telah kebablasan sehingga kita terjerumus dalam keterpurukan yang sempurna. Euforia kebebasan yang tidak dibekali dasar mental yang kuat malah membawa bangsa ke sumur tampa dasar yang gelap dengan setumpuk persoalan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Energi bangsa terlalu banyak dihabiskan untuk mengurusi pertikaian-pertikaian politik yang terjadi di tingkat elit sampai tingkat akar rumput. Saling menyalahkan dan memvonis orang lain tidak benar dan dirinya yang paling benar.

Sementara nasionalisme anak bangsa saat ini berada pada tingkat memprihatinkan. Sesama saudara saling sikut dan tendang, saling salah menyalahkan, saling bermusuhan bahkan tega untuk saling membunuh. Negeri ini sangat malu menyaksikan anak bangsa saling cakar-cakaran merebutkan kekuasaan. Namun setelah kekuasaan didapat bukan dijadikan jalan untuk membela rakyat lemah, akan tetapi kekuasaan dijadikan sebagai jalan untuk memperkaya diri dan kelompok.

Perbedaan latar belakang, apapun namanya selalu menjadi dasar pemicu perpecahan. Kita belum menyadari indahnya perbedaan seperti indahnya pelangi. Beragam etnis, suku budaya adalah anugerah Allah bagi "Indonesia Raya".

Bangsa ini sudah terlalu lelah berada dengan setumpuk persoalan yang menjadi momok; berputar-putar dalam lorong yang gelap. Jangankan berpikir bagaimana keluar dengan selamat, untuk melihat diri sendiri saja sungguh sulit, napas serasa sesak dan udara terasa panas. Begitulah gambaran jika sudah berada dalam kegelapan. Seperti kita berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa kita lakukan? Dan apakah egoisme mampu menyulap lorong yang gelap menjadi terang benderang?

Kita sama-sama adalah satu saudara, maka lepaskan segala perbedaan diantara seraya jangan pernah lupa meneguhkan persatuan untuk mengembalikan bangsa kepada kejayaan semula. Kita tidak bisa lagi saling caci, saling umpat, saling sanggah, karena semuanya harus jujur mengaku bersalah. Sebuah kesalahan kolektif, kesalahan secara bersama-sama sambil mencoba menghidupkan moral pendidikan bangsa yang mengalami kehancuran secara sempurna. Musuh bersama kita adalah kemiskinan dan kebodohan. Sedangkan saingan kita adalah bangsa-bangsa lain yang selalu mendikte dan mengatur negeri ini sehingga menjadi tidak berdaya.

Besok, bangsa kita kembali merayakan kemerdekaan. Segala aktivitas yang berhubungan dengan perayaan kemerdekaan harus dijadikan pemicu semangat, sebagaimana semangat pejuang dulu sampai tetes darah penghabisan. Sekarang dengan semangat yang ada, meskipun napas terhengah-engah, coba kita kumpulkan carikan-carikan 'nasionalisme' yang tercecer. Dengan demikian barangkali bangunan "Indonesia Raya" yang seutuhnya dapat terselamatkan dari keusangan dan keruntuhannya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-62! Semoga tetap jaya dan rakyatnya semakin sejahtera.

---------------------------------------------
Tulisan ini dipublikasikan di Koran Merapi pada Selasa, 14 Agustus 2007.

Sumber Gambar

Tag : Opini
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Refleksi Getir Menyambut "Indonesia Raya""

Back To Top