Pelajaran dari Isra' dan Mi'raj


Salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup Rasulullah adalah peristiwa diperjalankannya beliau (isra’) dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi'raj) dari Qubbah As-Sakhrah (terletak sekitar 150 meter dari Masjid al-Aqsa) menuju Sidrat al-Muntaha (akhir penggapaian). Lalu, kembali lagi ke Makkah. Semuanya dilakoni hanya dalam waktu yang amat singkat: semalam. Dalam beberapa kitab tafsir ditulis: sebagian malam.

Sudah 14 abad Hijriyah peristiwa spektakuler itu berlalu. Namun, gaungnya masih terdengar hingga saat ini. Pasalnya, setiap 27 Rajab, umat Islam di seluruh penjuru dunia memeringatinya sebagai momentum kontemplasi dan refleksi, serta bagian terpenting rangkaian keberimanan mereka.


Perdebatan Tak Berujung
Di tengah maraknya peringatan Isra’ Mi’raj, senyatanya masih menyimpan sederet pertanyaan besar yang mengkristal dan menjadi perdebatan tak berujung. Di antaranya: apakah perjalanan Isra’ dan Mi’raj Muhammad itu dengan ruh saja, atau ruh dan jasad? Mengapa pula perjalanan Isra’ mesti dilakukan ke Baitul Muqaddas? Berapa kali Rasulullah Isra’ dan kapan waktu tepatnya?

Pun, tentang hakikat tujuh langit, Sidrat al-Muntaha, serta Buraq (kendaraan Muhammad ketika Mi’raj), menjadi perdebatan tak berkesudahan yang menyelimuti peristiwa sakral-transendental Muhammad. Termasuk juga pertanyaan, bagaimana ihwal Rasulullah bertemu dan melihat Tuhannya (ru'yatullah) dalam Mi'raj?

Perdebatan (perbedaan pendapat) merupakan fenomena yang lumrah. Pasalnya, Al-Qur’an memang tidak pernah membeberkan peristiwa itu secara rinci. Al-Qur’an hanya mengisahkannya secara sekilas dan global, sehingga membuka ruang penafsiran yang luas kepada siapa saja yang berhasrat menguak tabir misteri di balik Peristiwa Agung itu.

Dari itulah kemudian muncul dua kubu yang (seolah) berseberangan, yaitu kubu doktrinal dan rasional, kubu literal dan liberal, serta kubu tekstual dan kontekstual. Namun, bagaimana pun perdebatan itu terjadi, semuanya mesti berjalan ke satu tujuan, yakni peneguhan iman.

Bagi kubu rasional dan empiris, dibutuhkan kehati-hatian memaknai Isra’ dan Mi’raj. Jangan sampai ketika rasio dan dunia empirik dikultuskan, justru membuatnya ingkar dengan ‘ilm (pengetahuan) dan qudrat (kekuasaan) Tuhan yang maha menguasi rasio dan alam.

Sementara bagi para pemegang teguh pendekatan imani (para pengikut jejak keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq), peristiwa ini justru menjadi bukti bahwa 'ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu maupun ruang.

Hari ini, esok, dan kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat dengan hitungan-hitungan itu. Sebab, Dialah sang penguasa masa yang tiada pernah dipengaruhi oleh masa. Apabila Dia menghendaki sesuatu, cukup mengatakan "kun" (jadilah), “fa yakun” (maka jadilah ia). (Q.S. An-Nahl, 16: 40)

Ilmuwan kesohor Albert Einstein secara implisit tak menampik eksistensi Dzat Yang Maha itu. Ia mengatakan bahwa semua yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, dalam bahasa Al-Quran disebut Al-'Aziz Al-'Alim, yakni Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.

Manusia memang makhluk yang lemah dan serba terbatas, sehingga tidak bisa membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya."


Pelajaran Berharga
Perdebatan tak berujung yang selalu mewarnai peringatan Isra’ Mi’raj merupakan kesia-siaan, bahkan bisa saja membahayakan (keimanan). Tidakkah lebih baik jika memontem ini dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memetik hikmah yang terkandung di dalamnya. Di antaranya:

Pertama, sebagai momentum kebangkitan dan peneguhan konsistensi perjuangan. Beberapa waktu sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah dirundung kesedihan. Khadijah dan Abu Thalib yang selalu menjadi benteng penjuangan beliau meninggal dunia. Sementara tekanan fisik dan psikologis kaum kafir Quraisy semakin berat.

Dalam situasi yang mendekati titik “putus asa” inilah Allah membangkitkan Nabi dan memperjalankannya menyusuri jejak para nabi pendahulunya, kemudian dibawa menemui Tuhan di Sidrat al-Muntaha (Mustawa). Dari perjalanan itulah, Nabi menemukan kembali spirit perjuangannya untuk mendakwahkan Islam secara terbuka.

Kedua, purifikasi atau penyucian hati. Sebelum dibawa oleh Jibril, Nabi dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apa artinya? Apa hati Rasulullah kotor? Apa Rasulullah punya penyakit dendam, riya’, iri hati, dan sebagainya? Tidak! Beliau adalah hamba yang ma'shum (terjaga dari berbuat dosa).

Lantas, apa signifikasi dari purifikasi tersebut? Tak lain adalah pelajaran bagi umat Muhammad, bahwa untuk bisa mendekat dan sampai kepada Allah dibutuhkan kesucian hati.

Ritual shalat yang kita lakukan pada dasarnya adalah upaya mencapai ilahi. Hanya saja, jika tidak didukung oleh kesucian hati, maka shalat hanya akan menjadi ritual dan rutinitas tanpa arti. Hanya menggugurkan kewajiban, tapi tidak mencapai kedekatan kepada Tuhan.

Ketiga, di tengah perjalanan, Rasulullah dihadapkan pada dua pilihan: susu dan khamar. Susu merepresentasikan kebaikan, sementara khamar mewakili keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan selalu identik dengan kerugian.

Ini pula yang menjadi pilihan kita di dunia ini: kebaikan atau keburukan, manfaat atau madlarat. Beruntunglah, dengan sigap Nabi memilih susu (kebaikan dan kemanfaatan).

Keempat, perjalanan horizontal dan vertikal yang dilakoni Nabi mengisyaratkan bahwa, setiap perjalanan hidup kita hendaknya selalu diawali dan dipungkasi oleh “masjid” (sujud), yakni didasari ketaatan kepada Sang Khaliq.

Perjalanan horizontal adalah proses menuju vertikal. Kata Rasulullah, “Addunya mazra'atul aakhirah” (dunia itu adalah tempat bercocok tanam untuk akhirat). Karenanya, setiap gerak tubuh dan denyut nadi di dunia horizontal ini pada gilirannya akan berujung pada arah vertikal (Allah).Hanya kepada Allah kita menyembah, hanya kepada-Nya kita kembali, dan kepada-Nya pula kita mempertanggungjawabkan segala amalan di dunia ini.

Kelima, sekembali dari Isra’ dan Mi’raj, Nabi membawa oleh-oleh spesial: shalat, yaitu bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simbol ketaatan total hamba kepada Tuhannya. Peribadatan inilah yang akan dihisab pertama kali di akhirat kelak.

----------------------------------------
Tulisan/opini ini dipublikasikan di koran Republika pada Jum'at, 10 Agustus 2007.
Tag : Hikmah, Opini
Comments
2 Comments
2 Komentar untuk "Pelajaran dari Isra' dan Mi'raj"

baca lagi ayat isra` mi`raj dan resapi dulu, persoalan teologi kita gunakan pendekatan doktrinal, adapun pengalaman spriritual menyusul, kalau mungkin anda naik pesawat Jumbo airbus 383.., atau tanya putra mahkota arab saudi bagaimana pengalaman anda, meiliki pesawat supermewah itu, kalau Nabi Muhammad tahu, sbg. leluhurnya, maka ini akan menjadi media penyambung kala rasio dan peristiwa terbangnya nabi kita.

Kok, jadi ngelantur ke pesawat, sementara ini yang harus diimani dulu adalah bahwa perjalanan isra Mi`raj adalah jasad Muhammad dan ruhnya juga.

Terimakasih atas komentarnya. dan saya ucapkan syukron katsiron dan alhamdulillah atas dukungan opini saya. JAdi, apa yang Anda sampaikan itu justru mendukung kesejatian opini saya.
Anda tentu sudah membaca sampai tuntas. Dan Anda tentu tidak mendapati saya mengatakan bahwa Nabi mi'raj hanya dengan ruh. Dalam opini saya tersebut saya sekadar menyampaikan adanya perbedaan orang memaknai misteri-misteri itu. Dan itu, bagi saya sah-sah saja, karena memang multiinterpretasi.
Sedang kecenderungan pribadi saya, Anda bisa menangkapnya pada kalimat "Bagi kubu rasional dan empiris, dibutuhkan kehati-hatian memaknai Isra’ dan Mi’raj. Jangan sampai ketika rasio dan dunia empirik dikultuskan, justru membuatnya ingkar dengan ‘ilm (pengetahuan) dan qudrat (kekuasaan) Tuhan yang maha menguasi rasio dan alam.
Terimakasih atas masukannya, semoga diskusi ini bermanfaat bagi kita. Amin

Back To Top