Setiap
mukallaf wajib mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
menaati sunnah beliau, dan meneladani petunjuk beliau. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ
اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١
Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan
mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)
Allah Ta’ala
juga berfirman:
قُلْ
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا ࣙالَّذِيْ
لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۖ
فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ النَّبِيِّ الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ
وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٥٨
Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu
semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia,
serta Yang menghidupkan dan mematikan. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan
Rasul-Nya, (yaitu) nabi ummi (tidak pandai baca tulis) yang beriman kepada
Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kamu
mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf [7]: 158)
Allah Ta’ala
berfirman:
فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ
لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا ٦٥
“Maka demi
Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau sebagai hakim
dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan
dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka
menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 65)
Maksudnya
adalah bahwa mereka tunduk dan patuh sepenuhnya kepada keputusan Rasulullah. Allah
Ta‘ala juga berfirman:
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا
اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
“Sungguh,
telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi
orang yang mengharap Allah dan hari Akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS.
Al-Ahzab: 21)
Muhammad bin
‘Ali at-Tirmidzi—yang dikenal dengan nama al-Hakim at-Tirmidzi, seorang sufi
dan pengarang Nawādir al-Uṣūl—menjelaskan makna ayat tersebut. Beliau
bukan Abu ‘Isa at-Tirmidzi, pengarang kitab al-Jāmi’ ash-Shahih yang
terkenal. Beliau berkata: “Keteladanan kepada Rasulullah adalah dengan
mengikuti beliau, mengikuti sunnah beliau, serta meninggalkan sikap menyelisihi
beliau, baik dalam ucapan maupun perbuatan.”
Diriwayatkan
dari al-Hasan al-Bashri bahwa ada sekelompok orang yang berkata, “Sesungguhnya
kami mencintai Allah.” Lalu Allah menurunkan firman-Nya: “Katakanlah: Jika
kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah
mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)
Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan Ka’ab bin al-Asyraf (tokoh dan penyair Yahudi Bani Nadhir) dan para pengikutnya. Mereka berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan orang-orang yang dicintai-Nya. Kami adalah orang-orang yang paling besar cintanya kepada Allah.” Lalu Allah menurunkan ayat tersebut sebagai bantahan terhadap perkataan mereka. []

No comments:
Post a Comment