Al-Imam al-Ghazali, dalam kitabnya al-Kasyfu
wat-Tabyin (hlm.12), mengungkap golongan ulama tertipu yang kedua. Mereka adalah
orang-orang yang mempunyai ilmu, melakukan amal kebaikan secara zhahir, dan
menginggalkan kemaksiatan yang zhahir, tetapi mereka lupa membersihkan penyakit-penyakit batin, seperti sombong, riya’, dengki, gila hormat, haus ketenaran,
dan sebagainya.
Mereka lupa pada sabda Nabi, “Riya’
adalah syirik kecil.” Mereka tidak ingat pada sabda Rasul, bahwa hasad
(dengki) itu bisa melenyapkan pahala amal sebagaimana api melahap kayu bakar. Juga
sabda Nabi, bahwa cinta harta dan gila hormat bisa menumbuhkan sifat munafiq dalam
hati sebagaimana air bisa menumbuh-suburkan sayuran.
Pun mereka melupakan firman Ta’ala:
اِÙ„َّا Ù…َÙ†ْ
اَتَÙ‰ اللّٰÙ‡َ بِÙ‚َÙ„ْبٍ سَÙ„ِÙŠْÙ…ٍۗ
“Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. asy-Syu'ara: 89)
Mereka sibuk dengan ritual zhahir,
tetapi lupa membersihkan batin. Mereka laksana orang yang sakit kudis. Dokter telah
memerintahkannya agar mengobatinya tidak hanya dari luar dengan mengoleskan
salep, tetapi juga mengobati dari dalam dengan meminum obat. Tetapi, hanya mengoleskan
salep yang ia lakukan. Sementara obatnya sama sekali tidak ia minum. Akibatnya,
hanya luarnya yang terlihat sembuh, tetapi sumber penyakitnya dari dalam tubuh tetap
ada, sehingga terus tumbuhlah penyakit kulitnya.
Begitu pula penyakit hati, jika tidak
diobati, akan meninggalkan jejak buruk pada perbuatan lahiriah kita.
Wallahu a’lam. []

No comments:
Post a Comment