Menganak-pinakkan Buku


Sudah saya wartakan di blog ini pada Rabu, 23 Agustus 2017, tentang Tulisan Perdana (saya)di Koran Jakarta. Satu sehari setelahnya, kabar itu langsung saya laporkan kepada Penerbit Pustaka Pelajar melalui pos.

Sebagaimana lazimnya laporan resensi, pihak penerbit biasanya akan memberikan reward kepada peresensi. Reward yang diberikan biasanya berupa buku baru. Bahkan, ada juga yang memberi penghargaan tambahan berupa sejumlah uang. Alhamdulillah, setelah saya mengeposkan surat laporan, Penerbit Pustaka Pelajar langsung merespon dengan mengirimkan reward berupa buku baru.

Sabtu, 26 Agustus 2017, paket dari Pustaka Pelajar saya terima. Isinya adalah dua buku baru berjudul Pertarungan Elite dalam Politik Lokal (Dr. Abdul Chalik; Agustus 2017) dan Korupsi: Akar, Aktor, dan Locus (Leo Agustino & Indah Fitriani; Juni 2017). 

Ini mengingatkan saya pada tradisi literasi yang saya lakoni mulai 2006 sampai 2013, sebelumnya akhirnya beristirahat total dan baru mulai lagi menulis pada bulan ini. Selama itu sudah tidak terhitung banyak buku yang saya dapatkan secara gratis. Semua bersumber dari resensi.

Bermula dari satu judul buku akan beranak pinak menjadi banyak. Satu buku menghasilkan buku baru dua judul. Dua buku diresensi lagi, jadilah empat buku. Empat buku kembali diresensi, jadilah delapan buku. Begitu seterusnya sampai akhirnya memenuhi perpustakaan pribadi.

Selain mendapatkan buku-buku baru, kita juga akan mendapatkan sejumlah uang sebagai honor dari pihak koran/surat kabar yang memuat resensi kita. Berapa besarannya? Masing-masing koran memberikan honor dengan besaran yang berbeda.

Peresensi, penerbit, dan redaktur koran, ketiganya sama-sama mendapatkan manfaat dan keuntungan dari tulisan pendek bertajuk resensi ini. Peresensi mendapat keuntungan berupa fee atau honor dari redaktur koran (kadang ditambah pula dari pihak penerbit), juga mendapat buku-buku baru dari penerbit. Adapun penerbit mendapatkan keuntungan dari ngiklan gratis di koran yang di dalamnya termuat buku terbitan mereka. Sementara bagi redaktur koran, keuntungan yang mereka peroleh adalah eksistensi dan martabat koran tersebut di mata pembaca.

Nah, masih ragukah kalian untuk meresensi?






Tag : Pustaka
Comments
22 Comments
22 Komentar untuk "Menganak-pinakkan Buku"

Ajibb ah ustadz yang satu ini,ngomong2 resensi niku nopo ustadz dalem nembe mireng, maklum bloger nekat...heeee

Lebih lengkap dan cetho-nya apa itu resensi, bisa tanyakan langsung kepada Mbah Google, Pak. Intinya, resensi itu mengupas dan mengulas buku (atau film): isinya, kelebihannya, kekurangannya, dll. :)

Wah inspirasi yang bagus pak Irham. Saya ingin bertanya, bapak mengirim resensi tersebut ke redaktur koran atas permintaan dari redaktur koran atau keinginan sendiri, pak?

Terima kasih atas inspirasi hari ini, pak :D

Keinginan sendiri, Mas. Alhamdulillah, pertama kali mengirim dan langsung dimuat. Alhamdulillah juga saya mendapat masukan dari redaktur ttg jumlah huruf/karakter maksimal; Resensi 4000 karakter, sedangkan opini 8000 karakter.

waah... seneng banget meresensi dapet buku. Bukunya jadi tambah banyak, dan pastinya tambah ilmu

Iya, Mbak. Alhamdulillah...
Kalau hadiah buku barunya sesuai bidang bacaan saya, ya saya simpan.
Kalau tidak sesuai, ya saya jual dengan harga obral (tapi sebelumnya saya resensi dl). :)

Wah keren bangett.. mau donk pa ustad saya nulis resensi.. tulisan pa ustad keren banget ini... salut buat pa ustad

Tulisan-tulisan Mbak Vika juga bagus-bagus. Lengkap. Ada tips, travelling, review film, dll. Komplit deh pokoknya.

Resensi artinya kita harus baca semua isi buku kemudian kita tuliskan secara garis besar, begitukah mas? Boleh nggak kita ikutan menilai tentang plus minusnya buku tersebut menurut pendapat kita sendiri? Atau hanya menyajikan isinya saja tanpa spoiler?

Pengen juga meresensi buku, supaya dapat hadiah buku lagi :)

Idealnya disertai dengan penilaian kita terhadap buku tersebut, Mbak, baik kelebihannya maupun kekurangannya (jika ada).

Ragu sich enggak... Cuma blelum PD aja... Gimana tuh Mas..

Nggak ragu sama gak pede itu saudaraan, Mas. 11-12 :)

Hahahhaa...
Iya jg ya...
Mimpi apa sy semalem

Meresensi buku? Bukan ragu pak, tapi saya harus belajar dulu. Secara ilmu belum memadai
Selamat buat bapak semoga semakin sukses dan sehat selalu

Hahaha.... jgn2 mimpi digigit ular, Mas. :))

Saya juga belajar kok, Mbak. Tapi, belajar sambil praktik. :)
Terima kasih doanya, ya. Aamiin..
Sukses juga buat Mbak Maya.

ini tips banget untuk beli buku dengan gratis ya, nyesel dulu lupa ikut kelas resensi buku T.T

Tak perlu menyesal, Mas. Belum terlambat kok. :)

Membuat resensi buku dapat reward buku, ini baru keren namanya.. benar-benar menganak-pinakkan buku , selamat ya pak...

Terima kasih, Kang Maman. Semoga sukses untuk kita semua, ya.

Bagus sekali pak. Semoga sukses selalu o:)

Sukses juga untuk Mas Bayu... Aamiin

Back To Top