Secara leksikal/harfiah ‘Id berarti
kebiasaan, tradisi, sesuatu yang berulang, dan kembali. Sementara Fithr berarti
makan atau berbuka setelah sebelumnya berpuasa. Dengan demikian, Idul Fitri bisa
diartikan sebagai hari untuk merayakan makan dan minum setelah sebelumnya
berpuasa.
Bisa juga Idul Fitri diartikan kembalinya kita
kepada kefitrian, orisinalitas, atau asal kejadian. Dalam pemaknaan yang kedua
inilah --walaupun tentu masih banyak pemaknaan yang lain-- teramat patut bagi
kita untuk merefleksikannya.
Dalam konteks ini, ada satu pesan dari murabbi
al-ruh KH. M. Arifin Fanani, pengasuh Ma’had al-‘Ulumisy Syar’iyyah
Yanbu’ul Qur’an (MUS-YQ) Kudus, yang sangat lekat di ingatan penulis. Dalam
pesannya, beliau dhawuh, “Man nasiya al-ashla faqad dhalla, siapa yang
melupakan asalnya sungguh dia telah tersesat.”
Untuk mengingat muasal kita, bisa dilakukan
dengan cara mudik (kembali), baik mudik secara kultural, antropologis, maupun teologis.
Mudik Kultural
Secara kultural, mudik lazim dilakukan dengan
kembalinya kita ke kampung halaman untuk sungkem kepada asal kejadian
kita, yaitu bapak dan ibu. Berasal dari pertemuan mereka berdua itulah
selanjutnya kita lahir di dunia ini. Kepada mereka berdua pula kita memohon
curahan doa dan keridhaan.
Selain sungkem kepada kedua orang tua,
Idul Fitri juga menjadi momentum paling mudah untuk ngumpulke balung pisah.
Bertemu keluarga, saling silaturahim dengan kerabat dan tetangga, saling
mengunjungi kawan karib, dan saling mengenal antarsaudara.
Barangkali “hanya” dalam momentum Idul Fitri inilah
kita tergerak secara masal untuk menelisik dan merunut garis hubungan keluarga kita.
Tidak sebatas keluarga kecil, tetapi meluas hingga keluarga besar. Tidak
mengherankan jika kemudian digelarlah Halal Bihalal Keluarga Besar Simbah
Mangunkusumo, Syawalan Bani Haji Syaibani, atau Syawalan Trah Simbah Abdullah.
Tradisi ini mungkin tidak dicontohkan oleh
Kanjeng Nabi, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat sesaui
dengan dhawuh Kanjeng Nabi, “Pelajarilah nasab (garis keturunan)
kalian yang sehingga bisa membuat kalian menyambung tali silaturahim; karena
silaturahim dapat menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, melapangkan harta, dan
memanjangkan umur.” (H.R. Tirmidzi)
Mudik Antropologis
Secara antropologis, mudik dilakukan dengan
kembali menyadari bahwa kita berasal dari seorang bapak dan ibu yang sama (min
dzakarin wa untsa), yaitu Adam dan Hawa. Berasal dari mereka lahirlah
manusia di bumi ini secara berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berbeda warna kulit,
berbeda bahasa, berlainan pula adat dan budaya, bahkan juga berbeda agama.
Begitulah sunnatullah.
Firman Allah Ta’ala, “Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian
di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kalian . Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. al-Hujurat [49]: 13)
Apa pun bangsa dan suku
kita, kita adalah sama, yakni sama-sama anak-cucu Adam. Sebagai sesama manusia,
sama-sama anak-cucu Adam, menjadi keniscayaan bagi kita untuk hidup
berdampingan secara rukun dan damai. Untuk mewujudkan itu, sudah saatnya kita
menggeser sudut pandang dari “kerukunan antarumat beragama” menjadi “kerukunan
antarumat manusia”. Dengan sudut pandang ini, agama tidak akan lagi dikesankan
sebagai sumber disharmoni.
Berbeda agama adalah pilihan
pribadi, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah secara pribadi
pula. Karena itulah Allah melarang kita memaksa siapa pun memeluk Islam (Q.S. al-Baqarah
[2]: 256). Bahkan, demi terhindarnya diharmoni, Allah juga melarang kita
menghina dan memaki sesembahan mereka.
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan
yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan
melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am [6]: 108)
Mudik Teologis
Dalam term mudik kultural
dan mudik antropologis, manusia ditempatkan dalam kedudukan yang setara, baik
dari segi penciptaan, keturunan, kesukuan, dan kebangsaan. Akan tetapi, sebagai
ibad al-Rahman atau hamba Allah yang Maha Pemurah, kita mempunyai
kewajiban untuk mencapai mudik yang terpuncak, yaitu mudik secara teologis.
Mudik secara teologis bisa kita
lakukan adalah dengan cara kembali menyadari dan senantiasa menyadari asal
kejadian kita yang paling mula, yaitu al-Khaliq Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Dengan kesadaran ini, akan teguhlah hati kita untuk menghamba
kepada-Nya secara total dan penuh ketakwaan. Dalam Q.S. al-Hujurat [49]: 13, Allah
Ta’ala berfirman,“...Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kalian...”
Dalam mudik teologis ini, kita kembali
disadarkan bahwa sejatinya kita adalah makhluk Allah, hamba Allah, milik Allah,
dan kelak pun akan kembali/mudik kepada Allah. Allah tidak menciptakan kita,
kecuali agar tunduk menghamba/beribadah kepada-Nya. Dia-lah puncak tujuan hidup
kita. Dan sebaik-baik bekal untuk menuju kepada-Nya adalah adalah dengan takwa.
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik
bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)
Saat kita mudik ke kampung halaman dengan
membawa banyak bekal berupa uang, kendaraan, dan Khong Guan, sudah siapkah kita
membawa bekal yang lebih banyak untuk mudik ke kampung keabadian?
Wallahu a’lam.
*) Tulisan ini dipublikasikan di buletin Thallaba edisi 14, Syawal 1438 H/Juli 2017 M.
No comments:
Post a Comment