Dejavu dan Kembali Kuliah



Tidak jarang apa yang kita lakoni hari ini seperti memutar ulang adegan lama yang pernah kita jalani sebelumnya. Istilah orang Perancis, dejavu. Begitu pula yang saya alami kali ini, hampir 100% persis seperti kejadian 2012.
Dejavu seperti apa yang terjadi, tak perlu dan tak elok saya ceritakan secara rinci. Cukup bagian terpenting dan patut disyukuri saja yang perlu panjenengan tahu. Apakah itu? Yaitu, skenario Allah Ta’ala yang menuntun saya untuk terus belajar di bangku perkuliahan.
Ramadhan 2012, saya resmi tidak lagi bekerja di penerbit CMG. Selanjutnya, usai lebaran, Allah menggerakkan hati saya untuk merampungkan skripsi. Setelah 4 bulan berkutat dengan skripsi, akhirnya saya pun diwisuda dan berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I). Jangan tanya mana foto saya saat wisuda, karena saat prosesi wisuda saya justru absen dan lebih memilih pulang kampung untuk melamarkan adik saya ke rumah calon mertuanya. J
Kejadian mirip pun terulang pada tahun ini dan terjadi pula pada bulan yang sama, yaitu Ramadhan. Hanya saja kejadian pada 2012 lebih humanis, elegan, dan bermartabat daripada tahun ini. Sama seperti kejadian 2012, selepas lebaran, berasa ada dorongan sangat kuat agar saya melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu S2 atau magister.
Informasi sebanyak mungkin saya kumpulkan dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Mulanya UIN Sunan Kalijaga menjadi pilihan utama saya. Namun, menjelang penutupan pendaftaran –dengan beragam pertimbangan—akhirnya saya berpindah pilihan ke Magister Studi Islam (MSI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Bagaimana proses pendaftaran di Program Pascasarjana MSI FIAI UII, berapa biayanya, apa saja tes yang harus dilalui, dan lain-lain, akan saya tuliskan untuk panjenengan semua https://fokampus.blogspot.co.id/. Semoga bermanfaat.
Tag : Warna-Warni
Comments
2 Comments
2 Komentar untuk "Dejavu dan Kembali Kuliah"

Itulah hidup kang,selalu mengulang seperti kita bicara itu dan itu yang diucapkan.

Yuppp, bener banget, Mas. :)

Back To Top