Panduan Singkat I’tikaf (Bag. 1)


Pengertian I’tikaf
I’tikaf secara bahasa berarti menetap, tinggal atau berdiam diri. Makna secara bahasa ini kemudian dijabarkan secara syar’i sebagai aktivitas ibadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan berdiam diri di masjid pada masa tertentu dan dengan adab-adab tertentu pula. Adapun orang yang melakukan i’tikaf disebut mu’takif.


Hukum I’tikaf
Para ulama telah bersepakat bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang disyari’atkan dan disunnahkan oleh Rasulullah, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bahkan, dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah diterangkan bahwa Rasulullah selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ini semakin menegaskan bahwa i’tikaf bukanlah amalan biasa, melainkan bernilai istimewa dan luar biasa.

Hukum asal i’tikaf adalah sunnah. Akan tetapi, bisa berubah hukumnya jika ada perkara lain yang menyebabkan perubahan hukumnya.

Berikut beberapa hukum i’tikaf.
  1. Wajib: jika i’tikaf tersebut merupakan i’tikaf nadzar.
  2. Sunnah: inilah hukum asalnya. Lebih diutamakan lagi pada bulan Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir dari bulan puasa tersebut.
  3. Makruh: i’tikafnya perempuan yang lazimnya mengundang birahi kaum lelaki, seperti perempuan ABG, dan aman dari fitnah. Jika tidak aman dari fitnah, maka hukumnya haram.
  4. Haram tapi sah: i’tikafnya seorang istri tanpa izin suaminya, atau mendapat izin suaminya tetapi tidak aman dari fitnah.
  5. Haram dan tidak sah: i’tikafnya seseorang yang junub, atau perempuan yang sedang haid atau nifas.


Keutamaan I’tikaf
Ada banyak keutamaan i’tikaf, di antaranya sebagai berikut.
  1. I’tikaf merupakan wasilah (cara, perantara) yang digunakan oleh Rasulullah untuk menyambut lailatul qadar.
  2. Orang yang beri’tikaf akan mudah mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah. Bahkan, dengan beri’tikaf, seseorang selalu beruntung (berpeluang besar) menempati shaf pertama dalam shalat berjamaah.
  3. I’tikaf juga membiasakan jiwa untuk senang berlama-lama tinggal di dalam masjid sehingga menjadikan hatinya terpaut kuat kepada rumah Allah tersebut.
  4. I’tikaf sangat efektif untuk menjaga kita dari perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan.
  5. I’tikaf dapat membiasakan kita hidup sederhana, zuhud, dan tidak tamak terhadap dunia.
  6. I’tikaf juga mendorong kita agar memperbanyak berdzikir, berdoa, membaca al-Qur’an, mendirikan shalat sunnah, dan ibadah-ibadah lain.
  7. Saat i’tikaf menjadi waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) dan bertobat kepada Allah.


Waktu I’tikaf
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa i’tikaf disyari’atkan kapan saja sepanjang tahun, tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja. Adapun pada bulan Ramadhan —khususnya pada sepuluh hari terakhir— lebih sangat disyari’atkan/dianjurkan.

Adapun tentang waktu minimal i’tikaf, para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat waktu minimal untuk beri’tikaf adalah selama satu hari. Ada pula yang mengharuskan sehari semalam. Ada pula yang berpendapat cukup disebut beri’tikaf walaupun hanya beberapa saat; selama bisa disebut berdiam diri di masjid, maka bisa dibilang beri’tikaf. Pendapat terakhir inilah dipilih oleh mayoritas ulama.

Pendapat mayoritas tersebut tepat bagi para pekerja, sebagaimana kebanyakan orang sekarang. Pagi hari sampai sore hari mereka bekerja, sehingga hanya sedikit waktu malam yang bisa mereka manfaatkan untuk beri’tikaf. Bisa juga, bagi para pekerja, pada jam istirahat siang bisa mereka manfaatkan untuk beri’tikaf.

Nah, atas dasar itulah, agar senantiasa mendapatkan pahala i’tikaf, setiap memasuki masjid hendaklah berniat pula beri’tikaf. Entah memasuki masjid untuk menunaikan Shalat Isya’, Shalat Tarawih, Shalat Jum’at, atau untuk keperluan lain.
Wallahu a’lam

Tag : Lain-Lain
Comments
2 Comments
2 Komentar untuk "Panduan Singkat I’tikaf (Bag. 1)"

Bagaimana kalau sudah tarawih trus malamnya kan i'tikaf, nah trus sholat tahajud... ada g sih?

Apa maksud dari pertanyaan Mas Huda seperti dalam link ini? https://babarusyda.blogspot.co.id/2012/07/bolehkah-shalat-sunnah-setelah-shalat.html

Back To Top